Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
MENGKHAWATIRKANNYA


__ADS_3

POV : ANGGA


Jadwal hari ini adalah ujian praktek olahraga bagi kelas sebelas IPA. Itu artinya, aku akan bertemu dengan Hana.


Hana.


Hana.


Hana.


Gadis itu diam-diam sudah mencuri perhatianku. Diam-diam juga aku mulai merindukannya. Terasa berbeda kalau sehari saja aku tak melihatnya. Terasa ada yang kurang kalau sehari saja aku tak mendengar suaranya.


*Ahh.. ini gila.


Sejak kapan seleramu berubah menjadi penyuka bocah seperti Hana*?


Tidak. Hana bukan bocah. Dia remaja. Remaja labil, keras kepala, ceroboh.


Sejak hari dimana aku mengantarnya pulang, aku belum pernah berbicara lagi dengan Hana. Hanya sesekali berpapasan, itupun Hana selalu menghindar. Atau saat aku bertugas mengawasi kelasnya saat ujian, Hana selalu diam. Tak banyak bicara seperti biasanya. Hana juga tak pernah melihatku.


"Hana, tolong ambilkan kertas untuk penilaian dimeja saya," perintahku pada Hana yang sedang duduk di bangku pinggir lapangan bersama teman-temannya.


"Baik, Pak," jawabnya lalu pergi dari hadapanku tanpa protes sedikitpun.


Hahh! Padahal aku ingin sekali melihatnya mengerucutkan bibirnya. Atau mendengarkan ocehan protesnya.


"Kamu ambilkan bola basket, bola voly, dan juga alat yang lain yang digunakan untuk ujian," perintahku selanjutnya setelah Hana menyerahkan kertas penilaian kepadaku.


Ku dengar dia menghembuskan nafas kasar. Lagi, tak ada protes sama sekali. Hana langsung berbalik badan dan berjalan menuju gudang sekolah.


Baiklah, Hana. Ayo kita lihat sampai kapan kamu akan bertahan dengan sikap diammu itu.


Dari jauh aku melihat Hana begitu kerepotan membawa beberapa bola basket. Dalam hati aku tertawa melihat bola-bola yang jatuh bergantian dan membuat Hana kelimpungan untuk mengumpulkan dan membawanya. Aku yakin dalam hatinya menggerutu dan bibirnya berdecak sebal.


Dalam hati aku tersenyum sinis saat ku lihat Denis berusaha membantu Hana.


Denis. Anak itu, ku dengar beberapa Minggu lalu dia menyatakan cinta kepada Hana. Aku mendengarnya dari beberapa siswa yang berkumpul dan membicarakan tentang Hana dan Denis saat aku lewat didekat mereka.


Aku tak tahu pasti apakah Hana menerima Denis atau tidak. Tapi dapat aku lihat dari sikap Hana yang terlihat malu-malu saat berbicara dengan Denis.

__ADS_1


Setelah ujian praktek basket dan voly, kini waktunya untuk ujian lompat jauh. Arena lompat jauh ada dua. Berarti dua anak bisa maju berbarengan dan akan lebih cepat selesai. Aku memperhatikan nama-nama siswa yang sesuai abjad. Nama Denis dan Hana berurutan, itu artinya berdua akan maju bersama.


"Amara Fika dan Andika Kurniawan," panggilku pada pemilik absen pertama dan kedua. Berlanjut ketiga dan keempat setelah mereka menyelesaikan ujiannya. Sampai..


"Denis Maulana dan Farhana Aghnia," beberapa saat menunggu tak ada salah satu dari mereka atau dua-duanya yang mendekat.


"Hey, yang dibawah pohon mangga!! Mau ujian apa mau pacaran!?"


Mereka berdua tergagap mendengar bentakan dariku. Sebenarnya sudah sejak tadi aku memperhatikan mereka. Tertawa haha hihi berdua dibawah pohon mangga seperti orang pacaran.


Dengan sedikit menunduk mereka berdua berjalan ketempat lompat jauh. Mungkin malu kepergok sedang pacaran di saat ujian. Memang memalukan. Dua bintang kelas itu memberi nilai buruk pada diri mereka sendiri.


"Kalau mau pacaran, tidak usah sekolah. Sana, pacaran diluar, jangan disekolah. Apalagi waktu ujian, memalukan!!"


Denis mengangkat wajahnya, "kami tidak pacaran, Pak!" Denis mengelak.


Anehnya, Hana tetap diam. Tak banyak bicara seperti biasanya ketika aku berkata judes kepadanya.


"Jangan banyak alasan. Cepat lakukan tugas kalian atau kalian saya beri nilai lima."


Tanpa menjawab lagi mereka berdua langsung memposisikan diri.


Kesempatan membuat lompatan terjauh sebanyak tiga kali. Denis berhasil mencapai batas jarak dilompatanny yang pertama.


"Sekali lagi!" Perintahku lagi setelah Hana menyelesaikan lompatan yang kedua.


"Tapi ini udah mencapai batas, Pak. Kenapa saya harus mengulang?" Ucapnya memelas.


Akhirnya kamu membantah ku, Hana..


"Ulang atau nilai kamu lima."


Hana melihat kearah Denis. Dari ekor mataku, aku dapat melihat Denis mengangguk meyakinkan. Teman-temannya pun ikut meyakinkan Hana.


Sebenarnya aku melakukan ini karena ingin nilai Hana lebih tinggi lagi. Semakin jauh jarak jatuhnya dari batas yang ditentukan, semakin tinggi juga nilainya.


Bruuukkk


"Aduuhh," aku terkesiap melihat Hana yang terjatuh dan memegangi pergelangan kakinya. Denis dan teman-teman Hana sudah mendekatinya.

__ADS_1


"Hiks.. Sakit, La," rintihnya.


Aku ikut mendekat. Yang lain memberiku ruang untuk duduk disebelah Hana.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Kaki Hana.."


"Bantu berdiri, Rin!" Hana memotong ucapan Lila yang akan menjawab pertanyaanku dengan meminta bantuan pada Karina untuk berdiri.


Aku ingin membantunya berdiri tetapi Hana justru meraih tangan Denis yang juga ingin membantunya.


Sial. Aku dipermalukan didepan teman-temannya.


"Bawa ke UKS saja. Biar diobati petugas disana. Yang lain, kita lanjutkan ujiannya!"


🌺🌺🌺


Keesokan harinya, aku melihat Hana yang berjalan seorang diri dengan sedikit pincang. Sejak kemarin aku tak berhenti memikirkan dan mengkhawatirkan keadaannya. Aku merasa bersalah karena telah membuat Hana terjatuh sampai kakinya terkilir.


Kemarin aku sempat pergi ke UKS. Niat hati untuk melihat keadaannya. Tapi hanya ada petugas UKS, Bu Dian, yang ada disana. Saat kutanya dimana Hana, dia berkata kalau Hana sudah diantarkan pulang oleh temannya.


Aku juga bertanya bagaimana dengan kakinya. Bu Dian bilang kaki Hana hanya terkilir. Dua tau tiga hari lagi pasti akan membaik dan bisa berjalan seperti biasa.


Sepertinya Hana menyadari kalau aku memperhatikannya sejak tadi. Itu sebabnya Hana menghentikan langkahnya dan berbalik badan lalu berjalan kearah gudang. Aku tahu dia menghindari aku. Tapi sepertinya dia tak sadar kearah mana dia melangkahkan kakinya.


Aku berjalan menuju gudang dengan jalur yang berbeda. Jangan salah paham! Aku hanya ingin meminta maaf kepadanya dan juga menanyakan bagaimana dengan kakinya. Bukan untuk berbuat macam-macam, apalagi Hana adalah muridku sendiri. Aku masih punya malu dan masih ingin mengajar disekolah ini.


Hana berdiri bersandar pada dinding. Dia belum menyadari keberadaan ku. Suasana begitu sepi karena siswa masih menjalani ujian praktek. Mungkin Hana sudah selesai.


Kressss..


Ahh, sial. Aku menginjak daun jati yang kering dan membuat Hana kaget. Dia menoleh.


"Bapak mau ngapain!!?"


🌺🌺🌺


**maafkan baru bisa up. anak sakit dan rewel. jadi baru bisa nulis sekarang. Alhamdulillah anak sudah sehat meskipun rewelnya masih 😁

__ADS_1


ini aja ngetiknya pas dia bobok. buru-buru banget. jadi harap maklum kalau ada typo nya πŸ€—πŸ™


jangan lupa like nya yaaa.. 🀩🀩**


__ADS_2