Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 22


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.45 WIB. Tapi mata Hana masih enggan untuk terpejam. Pikirannya melayang memikirkan ucapan Angga yang tiba-tiba menyatakan perasaannya.


Bagi Hana terlalu cepat. Baru saja pagi tadi mereka berbaikan, kini Angga sudah mengatakan kalau Angga menyayangi Hana.


Perasaan Hana kini terasa bercampur aduk. Antara takut, senang, deg-degan tak karuan.


Takut kalau pihak sekolah lama-lama akan tahu kedekatan antara mereka.


Senang rasanya kalau guru idola satu sekolah itu menaruh hati padanya. Diantara siswi yang cantik, Hana yang mampu memikat hati guru idola tersebut.


Merasa deg-degan, bagaimana Hana harus bersikap kalau besok bertemu dengan Angga?


Untuk bersikap seperti biasa itu tidak mungkin bisa. Rasa sungkan itu pasti ada. Karena kenyataannya memang mereka memiliki sesuatu yang lebih dari sekedar guru dan murid.


Sebelumnya belum sampai tahap "pacaran". Karena Hana belum memberikan jawaban apapun. Angga sendiri pun tak menuntut jawaban dari Hana. Bagi Angga, cukup Hana mengetahui perasaannya. Itu sudah cukup. Entah bagaimana Hana akan menyikapinya, itu bukan masalah bagi Angga.


'Yang penting Hana tidak dekat-dekat dengan yang lain,' pikir Angga.


***


Benar dugaan Angga dan Hana. Hari-hari yang mereka lalu terasa lebih canggung. Hana mendadak menjadi seorang yang pendiam ketika bertemu dengan Hana dikelas maupun diluar kelas.


Tentu saja hal itu begitu menarik perhatian teman-teman Hana. Hana yang biasa cerewet, mendadak tiba-tiba diam saat ada Angga. Hana yang biasanya ceplas-ceplos, kini lebih bisa mengontrol mulutnya, ucapannya dan emosinya ketika berhadapan dengan Angga.


Bersyukur hal itu tak membuat teman-teman Hana curiga. Mereka tak menyadari bahwa ada yang lain dari Angga dan Hana.


***


Hari ini adalah hari pelepasan jabatan anggota OSIS yang lama dan juga pelantikan anggota OSIS yang baru. Masa jabatan Rasyid dan anggotanya berakhir dua bulan setelah mereka naik ke kelas 12. Itu berarti sudah dua bulan juga Angga mengatakan perasaannya pada Hana.


Dan sampai saat ini pula, tidak ada yang berubah dari status hubungan mereka. Hanya saling memberi perhatian lewat pesan WhatsApp. Sering teleponan kalau malam Minggu. Dan kembali bersikap selayaknya seorang guru dan murid ketika berada di sekolah.


Sebagai perempuan, tentu saja Hana merasa hatinya berbunga-bunga. Perlahan rasa sayang itu ada meskipun terkadang Angga masih bersikap menyebalkan.


"Nissa, Febri, kalian duluan, ya? Jas almamater ku ketinggalan di kelas," ucap Hana pada kedua temannya.


"Jangan lama-lama ya, Na! Semua sudah pada ngumpul di aula. Acaranya udah mau dimulai," jawab Febri.


Hana berjalan cepat menuju kelasnya yang berada dilantai dua di gedung B. Sedangkan aula berada di gedung C, samping gedung B.


Cukup jauh dan cukup melelahkan bagi Hana. Sesekali Hana berhenti untuk mengatur napasnya yang tersengal.


"Ehh... Lepasin!" Teriak Hana saat merasa tangannya ditarik oleh seseorang dan dibawa masuk kedalam kelas yang kosong. "Pak Angga!!??" Hana memekik tertahan. "Bapak ngapain disini?" Tanya Hana pelan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Takut ketahuan.


Angga tidak menjawab. Tangan kirinya ia tumpukan pada pintu yang tertutup, tepat di samping kepala Hana. Wajahnya hanya berjarak sepuluh senti dengan wajah Hana. Hal itu membuat Hana gugup dan tangannya terasa gemetaran.


"P.. Pak, Pak Angga mau ngapain?" Tanya Hana dengan suara bergetar.


"Menurut kamu?" Tanya Angga lirih. Membuat Hana semakin ketakutan. Hana merasa lututnya lemas, sepertinya tak sanggup lagi untuk menahan tubuhnya.


Melihat wajah Hana yang semakin imut saja saat ketakutan seperti ini, membuat Angga semakin gemas. Rasanya Angga ingin mencium pipi merah menggemaskan itu. Tapi Angga masih tahu tempat, dan juga tak ingin meracuni pikiran Hana yang masih polos.


"Ja.. Jangan, Pak," Hana semakin gugup.


"Jangan apa?"


Diluar dugaan, mata Hana terlihat berkaca-kaca ingin menangis. Tak lama, jatuhlah air mata Hana. Hana menangis karena ketakutan. Takut kalau Pak Angga-nya yang ia kenal dengan sangat baik akan berbuat macam-macam.


Angga yang melihat itu buru-buru menjauhkan dirinya dari Hana.

__ADS_1


"Hana? Maafkan saya. Saya tidak bermaksud apa-apa." Ucap Angga panik yang kini melihat Hana yang kini berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Hana?" Suara Angga menjadi lebih lembut.


"Bapak jangan macam-macam!" Pinta Hana dengan suara parau karena menangis.


"Iya, saya minta maaf, ya? Tadi saya cuma mau mengembalikan jam tangan kamu yang tertinggal di distro kemarin," jawab Angga sambil memberikan jam tangan Hana. "Maaf, ya?" Hana mengangguk.


Kemarin memang Hana pergi ke distro milik Angga. Dan sempat menumpang ke kamar mandi. Melepas jam tangannya dan diletakkan di atas meja diruang kerja Angga.


"Saya keluar dulu, Pak," pamit Hana sambil membersihkan jejak air mata di pipinya.


"Sekali lagi saya minta maaf, ya?" Hana mengangguk lagi, lalu keluar dari ruang kelas tersebut.


***


"Kamu lama banget, sih?" Bisik Nissa pelan saat Hana baru saja duduk disampingnya. Acara sudah dimulai, saat ini Bapak Kepala sekolah sedang memberikan sambutan.


"Maaf. Tadi kebelet," jawab Hana pendek. Setelah itu kembali memusatkan perhatian ke arah panggung.


***


Acara telah selesai, serah terima jabatan sudah dilakukan sejak tadi. Setelah acara, para siswa dibebaskan dari KBM. Jadilah mereka bisa pulang lebih awal. Sesuatu yang sangat membahagiakan bagi seorang pelajar.


"Hana!"


Merasa namanya dipanggil, Hana memutar kepalanya ke arah sumber suara. Ada Denis yang baru saja keluar dari dalam kelas dengan tas dipunggungnya berlari pelan menghampiri Hana.


"Ada apa?" Tanya Hana.


"Pulang bareng, yuk?" Ajak Denis dengan senyuman mengembang di bibirnya. Lesung pipi di pipi sebelah kanannya muncul dengan sempurna saat Denis tersenyum.


"Ciyee.. Hana!" Goda Karina dan Lila.


"Apaan, sih?" Hana mendelik ke Karina dan Lila. Malu.


"Kamu mau?" Tanya Denis memastikan.


"Emm.. Kan rumah kita enggak searah," jawab Hana mencoba mencari alasan. Hana tidak mau memberikan harapan pada Denis yang sampai saat ini sudah menyatakan cinta kepadanya sebanyak lima kali. Hana takut kalau Hana menerima tawaran Denis, Denis akan mengira kalau Hana memberikan harapan pada Denis.


"Kebetulan aku mau ke UNS, sekalian gitu,"


"Tapi.. Aku udah janji sama mereka berdua, mau cari buku," jawab Hana dengan menunjuk kedua sahabatnya yang berdiri di sampingnya.


"Memangnya kita mau cari buku?" Dengan polosnya, Lila menghancurkan alasan yang sudah Hana buat.


Hana tersenyum kikuk. Malu.


Tangan kanannya mencubit telapak tangan Lila kecil, tapi sakit. Membuat Lila mengerang, "aww.. Sakit, Na!"


Karina yang menyadari bahwa Hana enggan dengan ajakan Denis dengan mencari berbagai alasan, menepuk jidatnya pelan melihat begitu kepolosan Lila yang tak mengenal situasi dan kondisi. Tidak bisa diajak bekerja sama.


"Jadi, mau ya Hana?" Bujuk Denis.


***


Angga berjalan pelan menuju ruang BP. Baru saja Angga keluar dari toilet. Berjalan sambil mengancingkan lengan kemejanya. Saat Angga mendongak, tak sengaja matanya melihat Hana berjalan beriringan dengan Denis.


"Aku nanti antar kamu sampai depan rumah, ya?" Ucap Denis. Meskipun tidak begitu keras tapi Angga masih bisa mendengarnya.

__ADS_1


"Enggak perlu. Sampai depan gang aja. Aku enggak enak dilihat tetangga," jawab Hana enggan.


Angga yang mendengarnya merasa terbakar cemburu. Meskipun tidak ada ikatan apapun antara dirinya dengan Hana, tapi ia tak mau Hana dekat dengan laki-laki lain. Apalagi Denis yang sudah jelas menyukai Hana.


"Ehm! Hana!"


Panggilan dari Angga membuat Hana dan Denis menoleh ke belakang melihat Angga yang sudah berdiri dibelakang mereka.


"Ya, Pak?" Jawab Hana dengan sorot mata terkejut.


"Ke ruangan saya dulu sebelum pulang. Ada hal yang harus saya bicarakan," ucap Angga datar.


Hana tersenyum tipis mendengar ucapan Angga. Senyum yang tidak disadari oleh Angga dan Denis. Lega dan bersyukur Angga telah menyelamatkannya. Hana yakin bahwa Angga mendengar ucapan Denis yang akan mengantarnya pulang.


"Siap, Pak," jawab Hana cepat. "Maaf ya, Denis. Kamu pulang dulu aja," lanjutnya berbicara pada Denis.


"Aku tungguin kamu enggak apa-apa kok, Na," Denis masih tak menyerah.


"Kami akan berbicara agak lama, Nis. Kami harus membahas laporan terakhir yang Hana buat untuk kegiatan OSIS," sekali lagi, Angga menyelamatkan Hana.


"Lain kali aja, ya, Nis,"


Meskipun dengan berat hati, Denis mengangguk dan melihat dengan perasaan nelangsa kepergian Angga dan Hana. Usahanya mendekati Hana, gagal untuk yang kesekian kalinya.


***


Perasaan Hana tak karuan. Hana bersyukur bisa lepas dari niatan Denis yang ingin mengantarnya pulang. Tapi Hana kembali harus menghadapi Angga. Hana masih ingat kejadian tadi pagi di kelas kosong saat Hana berniat untuk mengambil jas almamaternya.


Meskipun Angga sudah meminta maaf dan berkata bahwa tidak berniat untuk macam-macam, tapi hati Hana masih merasa was-was. Hana berdoa dalam hati agar tidak ada setan yang lewat yang menghasut pikiran Pak Angga-nya.


"Aww," Hana mengusap dahinya setelah menabrak tubuh tinggi kekar yang berhenti tiba-tiba didepannya.


"Makanya kalau jalan jangan sambil melamun," ucap Angga yang terkekeh pelan sambil mengacak-acak rambut Hana. Gemas.


Satu hal yang baru saja Hana sadari, ternyata Hana dan Angga sudah berada di ruang BP. Karena asyik menata hati, Hana tak menyadari kapan dia masuk ke ruangan itu.


"Baru sadar?" Tanya Angga.


Hana hanya tertawa tipis menanggapinya. "Bapak mau bicara apa tadi?" Tanyanya.


"Kita lagi berdua, panggil dengan panggilan sepeti biasanya," protes Angga. "Aku cuma cari alasan biar kamu enggak pulang bareng Denis," Angga berjalan menuju kursi yang berada dibalik meja kerjanya. "Enak saja mau boncenging gebetan orang."


Untuk kalimat yang terakhir, Angga mengucapkannya dengan lirih. Nyaris tak terdengar oleh Hana.


"Mas Angga bilang apa tadi?"


"Enggak bilang apa-apa."


Hana tersenyum simpul. Meskipun Angga tak mengakui apa yang baru saja ia ucapkan. Tapi bukan berarti Hana tidak mendengarnya.


Dasar gengsian!!


🌹🌹🌹


Yuhuuu.. update nih 😍


maapkan kalo gaje yaaa 🤭


aku udah gak gantungin kek jemuran lagi yaa.. udah aku angkat, takut kehujanan. apaan, sih!! 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2