Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 44


__ADS_3

Baru saja Hana keluar dari gerbang sekolah, matanya dikejutkan dengan kehadiran Angga yang duduk bersandar pada mobilnya. Satu tangan Angga berada didalam saku celananya. Penampilannya kali ini terlihat sangat tampan. Membuat perempuan yang melihat berteriak histeris.



"Pak Angga ganteng banget, sih, Na!" Pekik Karina kegirangan.


"Ya Allah.. Kasih satu aja buat Lila yang begini," ucap Lila mendramatisir.


Sedangkan Hana memekik dalam hati, "ya ampun.. Pengen Hana laminating aja Mas Angga."


"Samperin sana!" Karina menyenggol lengan Hana pelan.


"Ya ampun.. Pak Angga....!!!" Baru saja Hana melangkah, Vera sudah mendahuluinya dengan berlari menghampiri Angga. Hana memutar bola matanya.


'Dasar perusuh!' gerutunya dalam hati.


"Pak Angga makin ganteng, deh!" Seru Vera kegenitan. Membuat Hana jengah melihatnya.


Yang membuat Hana sedikit senang, Angga tak menanggapi Vera sama sekali. Angga hanya sesekali tersenyum tipis kepada Vera.


"Pak Angga apa kabar?" Suara Vera dibuat semanis mungkin.


"Baik. Saya mau ke Hana dulu," tanpa menunggu jawaban Vera, Angga meninggalkan Vera dan berjalan menuju tempat Hana berdiri. Tak peduli dengan Vera yang menggerutu tak terima karena Angga yang bersikap cuek padanya.


"Hay!" Sapa Angga manis kepada Hana.


"Pak Angga apa kabar?" Bukan Hana yang menjawab, tapi Lila.


"Baik, Alhamdulillah," jawab Angga sambil tersenyum ramah.


"Pak Angga apa kabar? Makin ganteng, ih," sapa Shinta yang baru saja datang.


Pak Angga lama nggak keliatan?


Pak Angga sehat?


Bapak apa kabar?


Bapak makin ganteng.


Pak Angga kerja dimana?


Bla bla bla.. Masih banyak pertanyaan yang keluar dari teman-teman Hana ataupun adik-adik kelasnya.


Baiklah, Hana pusing sendiri. Hana memilih menepi membiarkan yang lain mewawancarai Angga terlebih dahulu.


Hana berdiri bersandar pada tembok sekolah dengan bersedekap. Hana hanya bisa meringis melihat Angga yang dikerumuni oleh anak-anak yang lain.


"Sudah?" Tanya Hana saat Angga menghampirinya. Hana hanya melirik Angga sebal.


"Disudahi.. Soalnya ada yang lebih penting," jawab Angga sembari tersenyum lembut. Hana menanggapinya dengan memutar bola matanya jengah.


"Ikut Mas, yuk!" Ajak Angga sambil berusaha meraih tangan Hana. Hana tak menolak.


"Hana nunggu Mas Ikhsan," Hana menahan langkah Angga yang akan membawanya pergi.


"Mas udah bilang sama Ikhsan. Nanti Mas antar kamu ke tempat Ikhsan. Tapi kita harus bicara dulu."


Hana menurut saja saat Angga menggandeng tangganya menuju mobil Angga. Angga membuka pintu mobil dan mempersilahkan Hana untuk masuk.


Mereka berdua hanya diam disepanjang perjalanan. Tak ada yang berniat untuk bicara meskipun sebenarnya mulut Hana sudah terasa gatal ingin menanyakan siapa wanita yang mengangkat teleponnya beberapa hari yang lalu.


"Bakso dulu, ya?" Angga menawari. Hana mengangguk menyetujui.

__ADS_1


Seperti biasa, Hana selalu menambahkan sambal yang luar biasa banyaknya. Angga meringis ngilu melihatnya.


"Jadi?" Tanya Angga setelah melihat Hana telah menyelesaikan acara makannya. Hana yang masih sibuk meredakan rasa panas pada mulutnya menatap Angga bingung.


Hana menyeruput es jeruknya sampai tandas sebelum menjawab pertanyaan Angga. "Ada. Mama sama Papa..." Suara Hana menggantung.


"Mas sudah tahu," Hana memicingkan matanya. "Dari Ikhsan. Maaf kalau sikap Mas membuat keluarga kamu nggak nyaman," sela Angga yang merasa bersalah.


"Hana nggak tahu, sih, Mas, sejauh mana orang-orang membicarakan keluarga Hana, terutama Hana. Saat Papa dan Mama mengatakan kita harus break untuk sementara waktu, Hana nggak bisa membantah. Hana nggak bisa apa-apa tanpa Papa dan Mama. Hana harap Mas mengerti."


"Mas mengerti, Na. Yang Mas nggak ngerti adalah kenapa kamu malah diam dan tidak membicarakan ini sama Mas?"


"Hana nggak tahu harus bagaimana bilangnya sama Mas Angga," Hana menunduk. Menyatukan dua jari telunjuknya sebagai tanda bahwa Hana sedang merasa bersalah.


"It's oke. Lupakan saja! Mas paham, kok. Mas juga akan berusaha memperbaiki kesalahan Mas didepan orangtua kamu. Kalau perlu Mas akan menikahi kamu setelah kamu lulus nanti."


Hana menatap mata Angga mencoba mencari kebohongan disana. Namun tidak ada. Mata Angga mengatakan kalau apa yang Angga katakan, adalah isi hati Angga. Hana senang, namun hatinya bimbang. Satu pertanyaan masih berputar di kepalanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Angga yang melihat Hana terlihat ragu akan pengakuan Angga.


"Beberapa hari yang lalu, Hana telepon Mas Angga."


"Hah? Kapan?" Tentu saja Angga terkejut. Angga merasa tak pernah mengangkat telepon dari Hana. Beberapa hari ini Angga juga terlalu sibuk sehingga tidak sempat mengecek panggilan yang masuk pada ponselnya.


"Beberapa hari yang lalu. Siang hari, tapi...... Yang ngangkat perempuan."


"Perempuan?" Tanya Angga memastikan. Hana mengangguk membenarkan.


Angga berpikir siapa perempuan yang lancang mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya. Mencoba mengingat-ingat dengan siapa Angga makan siang dengan seorang perempuan.


Setelah beberapa menit, Angga baru menyadari bahwa beberapa hari yang lalu Rumi datang dan mengajaknya makan siang bersama. Setelah itu Angga berpamitan untuk pergi ke toilet tanpa membawa ponselnya.


"Kamu lancang, Rumi!" Maki Angga dalam hati.


"Oh, dia.. Dia teman Mas, Na. Iya, teman Mas," Angga tergagap dibuatnya. Membuat Hana semakin ragu dengan kejujuran Angga. Hana merasa memang ada yang sedang Angga tutup+tutupi.


Hana berpura-pura bersikap acuh dengan penjelasan Angga. Berekspresi seolah ia percaya dengan penjelasan yang Angga berikan. Cepat atau lambat pasti Hana akan mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


***


Hana berdiri dengan melipat kedua tangganya diatas dada melihat Ikhsan yang berkutat dengan komputer tanpa memperdulikan Hana meskipun Ikhsan sudah melirik Hana sebentar.


"Angga mana?" Justru Angga yang ditanyakan oleh Ikhsan.


"Masih diluar," jawab Hana pendek lalu melangkahkan kakinya menuju sofa yang berada diruang kerja Ikhsan. Mengambil posisi rebahan. Nyaman. Tak butuh waktu lama, Hana sudah tertidur dan berkelana di alam mimpi.


Angga masuk tak lama setelah Hana tertidur. "Hana tidur?" Tanya Angga pada Ikhsan.


"Hmm. Dia kan pellor. Asal nempel pasti molor," bukannya menjawab dengan hal-hal baik tentang Hana, Ikhsan justru membeberkan aib Hana yang satu itu.


Angga berjalan mendekati Hana. Sebelumnya Angga mengangkat kursi yang berada didepan meja Ikhsan untuk dibuat duduk didepan Hana. Angga memperhatikan lekat-lekat wajah Hana yang tertidur pulas.


"Jangan dekat-dekat!" Ikhsan memperingatkan. Fokus Ikhsan masih pada komputernya, namun bisa melihat apa yang Angga lakukan.


"Papa sama Mama kalian masih ngrestuin aku sama Hana apa nggak ya, San?" Tanya Angga. Tangan Angga memegang tangan Hana tanpa memperdulikan peringatan dari Ikhsan.


"Sebenarnya Papa sama Mama itu ngrestuin kalian, Ga. Cuma kali ini kalian harus break dulu. Atau kalau nggak ya backstreet, lah! Jangan main ke rumah dulu. Tetangga udah ngomongin Hana yang enggak-enggak. Mama sama Papa nggak enak dapat teguran dari para tetangga," jelas Ikhsan. Angga mengangguk mengerti.


Ujian cinta Angga dan Hana begitu banyak. Dari yang harus LDR, orangtua Hana yang maunya Angga dan Hana break dulu. Belum lagi dengan kemauan orangtua Angga yang menginginkan Angga untuk bertunangan dengan Rumi.


Angga memandang lekat-lekat wajah Hana yang begitu natural ketika tertidur. Perasaan Angga berkata bahwa mereka harus berjuang untuk hubungan mereka. Jodoh memang ditangan Allah, tapi Angga selalu berdoa agar Hana yang kelak menjadi ratu di rumah tangganya kelak.


***

__ADS_1


Angga menyempatkan waktunya untuk mengunjungi kedua tempat usahanya sebelum kembali ke Wonogiri. Angga hanya mendapatkan ijin satu hari saja untuk bisa pulang ke Karanganyar.


Angga memutuskan untuk tidak mampir kerumahnya. Ia merasa malas untuk pulang karena sudah pasti ayahnya akan menyinggung hal yang sama. Tentang balas budi dan juga perjodohan.


Dalam perjalanan kembali ke Wonogiri, ponsel Angga berdering. Nomor ayahnya tertera disana. Ingin rasanya Angga tak mengangkatnya, namun ia juga tak ingin menjadi anak yang kurang ajar mengabaikan orangtuanya.


"Assalamualaikum, Pak?" Sapa Angga sambil memasang headset di telinganya.


"Waalaikumsalam. Kamu pulang ke Karanganyar? Kenapa tidak pulang ke rumah?" Tanya Rajiman tanpa basa-basi.


Angga menghembuskan napas kesal. Sudah pasti ayahnya mengetahui bahwa Angga pulang ke Karanganyar dari Ratno. Angga menggelengkan kepalanya pelan. Sebenarnya apa drama yang sedang mereka ciptakan? Sampai hal sekecil itupun sampai Ratno katakan pada Rajiman.


"Hanya mengecek distro Angga, Pak. Cuma dapat ijin sebentar," Angga beralibi.


"Alasan saja kamu. Bilang saja kamu tidak mau bertemu dengan bapak. Pak Ratno pasti tidak keberatan kalau kamu meminta ijin lebih lama lagi."


"Angga lagi nyetir, Pak. Dilanjut nanti, ya? Assalamualaikum," putus Angga cepat. Dengan cepat pula Angga mematikan ponselnya.


Sikap Angga tentu saja membuat Rajiman merasa geram. Sebagai ayah, Rajiman merasa tak dihargai sama sekali.


"Anakmu, Ning. Itu akibatnya karena kamu terlalu memanjakannya," ucap Rajiman menyalahkan istrinya. Selalu saja seperti itu. Setiap kesalahan selalu dilimpahkan kepada Ningsih. Rajiman selalu ingin menang sendiri dan setiap ucapannya harus dituruti.


Ningsih hanya diam terpaku sambil menatap kepergian Rajiman memasuki kamar dan meninggalkan Ningsih diruang tamu.


***


Hana mengerjapkan matanya pelan. Entah sudah berapa lama Hana tertidur, yang pasti Hana merasa tubuhnya terasa pegal karena hanya tertidur diatas sofa.


Hana menatap ke sekelilingnya. Tidak ada Ikhsan maupun Angga diruang kerja Ikhsan. Kemudian Hana melihat jam dinding, pukul 18.00 WIB. Hana datang ke tempat kerja Ikhsan jam 14.30. Itu berarti dirinya sudah tertidur selama tiga setengah jam. Luar biasa.


"Kamu tidur apa semaput (pingsan), to?" Tanya Ikhsan yang baru saja masuk dan membuat Hana terkejut.


"Ngagetin, ih. Mas Angga mana?"


"Udah balik. Kamu, sih, tidur terus!"


"Balik?" Tanya Hana memastikan. Ikhsan mengangguk menanggapi. "Dia nggak pesen apa gitu?" Tanya Hana lagi.


"Ada," Ikhsan membuka lacinya. Kemudian mengeluarkan sesuatu yang berbentuk bulat berlapis beludru berwarna merah. Kemudian menyerahkan kepada Hana.


"Dia nitipin ini," ucapnya.


Hana merasa bingung. Untuk apa Angga memberinya benda seperti itu. Hana dibuat terperangah saat membukanya. Didalamnya, ada sebuah cincin dengan bentuk dua buah bunga dan memiliki permata berwarna merah muda dan putih.



Ada secarik kertas juga didekat cincin tersebut.


Wait me! I will marry you..


***Angga


🌹🌹🌹*


Entah kapan terakhir update. semoga pembaca masih minat buat baca 😁


pikiran akhir-akhir ini nggak fokus. kepikiran terus sama musibah di bumi ini.


akhirnya memang harus merilekskan pikiran terlebih dahulu. baru bisa nulis.


stay save semuanya. kondisikan hati dan pikiran tetap bahagia agar imunitas tubuh kita tetap kuat.


love you all 😘😘**

__ADS_1


__ADS_2