
POV : ANGGA
Saat Hana mengatakan kalau Ikhsan akan menetap di Karanganyar lagi, aku juga merasa sedikit was-was. Bagaimana kalau Ikhsan tidak mengijinkan aku memacari adiknya. Padahal kan aku dan Hana sudah saling menyayangi.
Tapi aku mencoba tetap tenang saat Hana berkali-kali mengatakan bahwa ia takut. Kalau aku ikut panik, Hana akan semakin takut menghadapi kakaknya.
Saat bertemu dengan Ikhsan, awalnya dia sangat judes kepada Hana. Memang seperti seorang kakak yang begitu marah saat tahu adiknya pacaran. Tapi saat berbicara denganku, Ikhsan terlihat begitu santai bahkan sesekali kami tertawa bersama.
Ikhsan hanya bertanya tentang keseriusanku. Meminta aku untuk menjaga Hana, tak menyakiti hati Hana dan bersabar menyikapi sikap dan sifat Hana yang kadang masih kekanak-kanakan.
Tenang, Ikhsan. Aku sudah cukup terbiasa dengan sikap Hana.
Aku menyanggupinya dengan pasti. Apalagi Pak Anang dan Bu Widia menyaksikannya langsung. Aku sudah seperti seorang laki-laki yang melamar pujaan hatinya.
Angga, Hana masih sekolah. Ingat itu!
Kini, sudah dua bulan setelah pertemuanku dengan Ikhsan. Aku sudah biasa berkunjung ke rumah Hana. Bagi Ikhsan, hal itu tak masalah asalkan aku tidak berbuat macam-macam pada adik kesayangannya itu.
Hubunganku dengan Hana juga semakin hangat saja meskipun masih harus backstreet. Hebat bukan? Hampir empat bulan pacaran tapi tak ada yang mengetahuinya sama sekali kecuali keluarga Hana.
Tapi yang aku pikirkan saat ini adalah kenyataan bahwa sebentar lagi kami akan menjalani LDR. Long Distance Relationship. Hana belum mengetahui tentang hal ini. Aku masih berpikir bagaimana cara untuk mengatakan semuanya pada Hana.
Padahal, aku akan pindah sekitar dua Minggu lagi. Tepat saat liburan tengah semester dimulai. Ujian tengah semester sedang dilaksanakan seminggu yang lalu. Dan masih tersisa satu Minggu lagi.
"Kamu sudah pikirkan baik-baik, Ga?" Tanya Satria sambil menatapku. Aku mengangguk pasrah.
"Hana sudah tahu?"
Aku menggeleng lemah. "Aku belum nemuin cara untuk bicara sama dia, Sat," ucapku lemah lalu mengusap wajahku kasar dengan kedua tanganku.
"Menurut aku, lebih baik kamu cepat kasih tahu Hana. Kalau nanti Hana tahu dari orang lain. Hana akan semakin marah sama kamu," usul Satria.
Aku juga berpikir sama dengan apa yang Satria pikirkan. Kalau Hana sampai tahu dari orang lain, Hana pasti akan lebih marah.
"Lalu rencana kamu yang mau ambil S2 gimana?" Tanya Satria kemudian.
"Belum tahu lagi soal itu. Mungkin belum untuk tahun ini." Satria mengangguk mengerti.
***
POV : HANA
Ujian tengah semester telah usai. Aku bersyukur tak ada pelajaran yang harus aku ulangi. Termasuk pelajaran olahraga. Yang praktek maupun tertulis. Meskipun pengampu pelajaran olahraga adalah pacarku sendiri, Mas Angga cukup profesional. Mas Angga akan memberikan nilai yang kooperatif untukku. Kalau aku salah, ya salah. Kalau nilaiku jelek, ya jelek. Tak ada tambahan nilai dengan alasan "aku pacar Mas Angga".
Aku sedang berada di kantin sekolah bersama teman-temanku. Sepeti biasa, Karina dan Lila. Ditambah lagi dua buntut si Indra dan Denis. Mereka masih setia menjadi pengikut kami.
Haha.. Apaan, sih?
Tapi memang benar, mereka itu selalu ikut kemanapun kita pergi. Kecuali saat ke toilet dong, ya...
"Kalian udah dengar kabar terbaru belum?" Celetuk Indra tiba-tiba. Dia sudah seperti pemilik akun Mak lambe-lambe yang update sekali soal gosip.
__ADS_1
"Apaan?" Tanya Lila.
"Pak Angga mau pindah,"
Uhukk uhukkk..
"Are you okay, Hana?" Tanya Karina sambil memberiku segelas air putih. Satu tangannya menepuk punggungku pelan.
"Oke. Cuma kaget aja," jawabku sambil tersenyum tipis menutupi keterkejutan ku.
Mas Angga mau pindah? Kenapa dia enggak bilang apa-apa sama aku?
"Pindah kemana, Ndra?" Tanya Lila penasaran. Diam-diam aku menunggu jawaban Indra.
"Enggak tahu. Aku cuma dengar tadi para guru lagi pada ngomongin itu di kantor waktu aku ngumpulin kertas jawaban."
Kamu jahat, Mas. Kenapa hal sebesar ini aku bisa enggak tahu? Kamu anggap apa aku, Mas?
"Aku ke toilet dulu," aku beranjak tanpa menunggu jawaban mereka.
Sungguh, aku hanya ingin menangis dan mendatangi mas Angga untuk meminta penjelasan atas ini semua.
Kenapa kamu enggak bilang sama aku, Mas?
Aku menangis tanpa suara di toilet sekolah. Sengaja agar tak terdengar oleh siswa lain yang keluar masuk toilet.
Setelah puas menangis, aku mencuci wajahku untuk menghilangkan jejak air mata di wajah dan mataku. Tapi tetap saja, mata dan hidungku yang sudah berwarna merah tak mampu menutupi semuanya.
Dalam perjalananku kembali ke kantin, aku berpapasan dengan Mas Angga dan Pak Satria. Kalau biasanya aku menyapanya atau tersenyum manis kepadanya, kali ini aku hanya menatapnya datar tanpa ekspresi.
Drrrtt drrrtt..
Ponselku bergetar. Notifikasi pesan WhatsApp masuk.
My Angga : Kamu kenapa sayang?
Aku tak ingin membalasnya. Aku menutup kembali aplikasi pesan singkat itu. Lalu memasukkan kembali ponselku ke dalam saku.
Tak lama kemudian, ponselku bergetar lagi.
My Angga : Sayang, jelaskan sama Mas, kamu kenapa.
My Angga : Hana, please! Jangan diamkan Mas seperti ini
My Angga : Pulang nanti Mas antar
My Angga : Hana, balas pesan Mas.
Satupun pesannya tak ada yang aku balas. Aku juga tak menghampiri mobil Mas Angga saat pulang sekolah meskipun aku tahu mobilnya sudah menungguku ditempat biasa.
Aku lebih memilih meminta Karina mengantarku pulang. Sengaja melewati mobil Mas Angga agar Mas Angga tahu saat ini aku sedang tak ingin berbicara dengannya.
__ADS_1
Katakanlah aku egois. Harusnya aku menemui Mas Angga dan mendengarkan penjelasannya. Tapi aku masih merasa marah dan kecewa. Aku tak mau menemuinya.
***
Sudah tiga hari aku mendiamkan Mas Angga. Mas Angga juga hampir tak pernah berhenti menghubungiku meskipun aku tak meresponnya.
Mas Angga sempat mengatakan ingin datang kerumah, tapi kesibukannya membuatnya tak punya waktu untuk itu.
"Hana, bisa kita bicara sebentar?" Tanyanya tapi tak ku hiraukan. Aku bertemu dengannya saat aku berjalan menuju parkiran sekolah untuk pulang bersama Karina.
"Hana?" Panggilnya sekali lagi. Aku masih setia dengan sikap diamku.
"Hana itu di panggil Pak Angga. Kayaknya penting," bisik Karina.
"Udah biarin aja," jawabku acuh.
Tiba-tiba saja Mas Angga mencekal tanganku kemudian menarikku menuju mobilnya. Hal itu disaksikan hampir seluruh siswa yang masih berada di area sekolah.
Aku mencoba meronta agar Mas Angga melepaskan tanganku. Langkahku terseok menyeimbangi langkahnya yang lebar. Tapi Mas Angga tak peduli. Mas Angga terus menarikku meskipun aku mengatakan bahwa tanganku terasa sakit karena genggamannya yang begitu kuat.
Mas Angga membuka pintu mobil dengan kasar. Menyuruhku masuk segera kemudian menutup pintunya dengan keras saat aku sudah duduk didalamnya.
Aku menangis atas sikap kasarnya kepadaku. Masih ku lihat para siswa berjajar sambil berbisik dan melihat ke arah mobil Mas Angga. Tapi Mas Angga tak peduli. Dengan cepat dia meninggalkan area sekolah bersama gosip panas yang akan meramaikannya.
***
Mas Angga menjalankan mobilnya ke arah timur, arah Tawangmangu dengan kecepatan tinggi. Sejujurnya aku merasa takut kalau Mas Angga ngebut seperti ini. Mas Angga juga tahu akan hal itu. Tapi sepertinya Mas Angga memang sengaja melakukannya. Aku tak berani protes. Sepanjang perjalanan kami diam.
Mas Angga menghentikan mobilnya di area perkebunan karet. Jangan pikir tempatnya sepi. Perkebunan karet masih berada di pinggir jalan dan banyak mobil atau motor yang berlalu lalang.
"Masih sakit?" Mas Angga mencoba meraih tanganku tapi aku menepisnya dengan kasar. "Maaf," ucapnya kemudian.
"Kamu marah karena kamu pasti sudah mendengar kabar yang beredar. Maaf kalau Mas belum mengatakan hal ini sama kamu," Mas Angga mulai menjelaskan. Aku tak menatapnya sama sekali.
"Aku kecewa, Mas," Ucapku sambil menahan tangis. "Aku kecewa sama Mas Angga." Tak dapat ku tahan lagi. Tangisku pecah saat itu juga.
"Kenapa hal sebesar ini aku harus tahu dari orang lain? Kamu anggap apa aku, Mas? Kamu sama sekali enggak cerita sama aku, tiba-tiba aku dengar dari orang lain kalau kamu mau pergi." Teriakku penuh emosi. Mas Angga diam, karena memang dia bersalah.
"Kamu jahat, Mas. Kamu jahat! Aku benci sama kamu!" Aku memukul dadanya sebagai pelampiasan. Mas Angga memegang kedua tanganku lalu memelukku erat. Aku mencoba meronta tapi tenagaku tak cukup kuat untuk melawannya. Akhirnya, aku pasrah dalam pelukannya.
"Maafkan, Mas, Hana. Maafkan, Mas."
Aku menangis sesenggukan di pelukannya. Mencoba meluapkan emosi yang beberapa hari ini aku pendam.
"Aku mendukungmu dalam setiap keputusanmu, Mas. Aku mendukungmu kalau ini semua jalan untukmu meraih kesuksesanmu. Aku hanya kecewa karena aku mendengarnya dari orang lain, bukan dari Mas Angga sendiri."
Kurasakan pelukan Mas Angga semakin erat. Mas Angga juga turut menangis dan berulang kali mengucapkan kata maaf. Kami menangis bersama. Saling mengungkapkan rasa lewat air mata.
Aku merasa Mas Angga begitu menyayangiku. Aku bersyukur dengan adanya Mas Angga dalam hidupku.
πΉπΉπΉ
__ADS_1
**maaf ya harus sedih-sedih dulu. boleh keroyok author kok. hiks ππ π€
author juga ikut nyesek pas nulisnya. ππ**