
"Jangan nangis," Angga memberanikan diri untuk menyentuh punggung tangan Hana yang berada diatas meja. "Aku sudah berjanji kalau aku tidak akan membuat kamu menangis."
Hana menarik tangannya kemudian menghapus air matanya. Hana mendongak dan menatap mata Angga lekat.
"Boleh enggak aku meluapkan amarahku?"
Angga mengangguk cepat. "Boleh. Katakan apa yang ingin kamu katakan. Mas terima apapun yang akan kamu ucapkan."
Hana menoleh ke kanan dan ke kiri. Pengunjung rumah makan begitu banyak. Tidak mungkin Hana akan teriak meluapkan kekesalannya disini. Malu.
"Jangan disini."
Angga terkekeh pelan. Kemudian menarik tangan Hana dan mengajaknya keluar dari rumah makan. Hana menurut saja saat Angga membawanya masuk ke dalam mobil Angga.
"Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan, Na." Ucap Angga setelah keduanya duduk di dalam mobil.
Hana kembali melanjutkan aksi menangisnya. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutup wajahnya yang beruraian air mata.
"Mas Angga jahat! Mas Angga tega ngelakuin itu semua sama aku! Mas Angga nggak mikirin perasaan aku!"
Angga diam. Ia tak ingin menyela apa yang Hana ucapkan karena dirinya memang bersalah.
"Aku sakit hati, Mas. Aku marah, aku benci, aku nggak mau lagi lihat Mas Angga," Hana berhenti untuk menetralkan nafasnya yang memburu.
"Sampai aku harus pergi biar aku bisa lupa sama Mas Angga. Hiks.. hiks.. Tapi nggak bisa, Mas. Aku nggak pernah bisa ngelupain Mas Angga."
Sebenarnya Angga ingin memeluk Hana. Tapi sekali lagi Angga mencoba menghargai Hana. Menggandeng tangan Hana saja sudah membuat Angga merasa bersalah. Apalagi kalau sampai Angga memeluknya.
Sekali lagi, Angga menggenggam erat kedua tangan Hana. "Maafkan Mas, Na. Maafkan, Mas!" Angga menciumi kedua tangan Hana. "Mas bodoh karena Mas menyakiti kamu. Mas yang nggak punya pendirian. Mas salah. Mas minta maaf, Hana. Ijinkan Mas untuk menghapus luka yang pernah Mas torehkan di hati kamu."
Hana diam tak tahu harus menjawab apa. Hana tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau pada kenyataannya memang dia masih mencintai Angga. Dulu ia selalu berharap agar mereka bisa bersama sampai tua nanti. Meskipun Hana sempat mengubur dalam-dalam keinginannya itu dan lebih memilih pergi ke Surabaya.
Namun, inikah pertanda bahwa Tuhan mengabulkan doanya dulu? Benarkah bahwa takdir menyatukan mereka kembali?
"Hana, will you marry me?"
πΉπΉπΉ
"Cantik banget, sih?"
"Iya. Kan cewek, udah pasti cantik."
"Punya siapa, sih?"
"Punya Mas lah.."
Keduanya pun tertawa bersama. Sesekali saling mencium pipi.
Hana memutar bola matanya. Ia merasa jengah melihat kedua manusia yang sedang asyik pacaran dan tak tahu tempat.
"Woy, dikamar sana! Main nyosor aja." Hana menginterupsi keduanya saat Ikhsan berusaha mencium bibir Kinan.
Ya, Ikhsan dan Kinan sedang asyik berpacaran didepan TV di ruang keluarga. Kedua orangtua mereka sudah pasti bekerja. Dan Hana tidak pergi ke rumah sakit hari ini.
Kinan tersenyum kikuk lalu melepaskan tangan Ikhsan yang melingkar di perutnya dengan paksa. "Sini, duduk sini, Na!" Ucapnya sambil menepuk sofa kosong disampingnya. Namun Hana lebih memilih duduk di karpet. Lebih nyaman untuk selonjoran.
"Percaya, sih, pengantin baru. Tapi tahu tempat, dong!" Gerutu Hana sambil mengupas kulit kacang lalu memasukkan kacangnya ke dalam mulutnya.
"Bilang aja iri. Jomblo mah biasa kayak gitu." Ikhsan menjawab dengan iseng.
"Mas..." Kinan memberi kode agar tak lagi iseng pada Hana. Ikhsan menurut saja. Ibarat ular, Kinan adalah pawangnya Ikhsan. Hanya Kinan yang bisa mengendalikan Ikhsan. Cinta, sih.
"Rasyid gimana keadaannya? Tumben kamu nggak ke rumah sakit?" Tanya Kinan kemudian.
"Alhamdulillah semakin baik, Teh. Hana lagi capek, Teh. Pengen dirumah dulu."
__ADS_1
"Kalau Angga gimana?"
Uhukk uhukkk! Hana tersedak kacang mendengar pertanyaan Ikhsan tentang Angga. Hana jadi teringat ucapan Angga kemarin yang mengajaknya menikah.
"Minum, Na!"
"Terimakasih, Teh." Hana menerima gelar berisi air putih yang di ulurkan Kinan.
"Ditanya soal Rasyid biasa aja. Kenapa pas ditanya soal Angga bisa tersedak begitu?"
Hana diam tak ingin menanggapi Ikhsan. Walaupun sebenarnya Hana ingin menceritakan kejadian kemarin bersama Angga.
"Emang beneran udah siap nikah?"
Hana membulatkan matanya. Kalau seperti ini, sudah pasti Angga mengatakan semuanya pada Ikhsan.
"Siapa yang mau nikah?" Hana berpura-pura tak tahu. Meskipun usahanya sia-sia karena Hana tak pernah bisa berbohong jika didepan Ikhsan.
"Usaha kamu sampai kamu pergi ke Surabaya sia-sia, dong?" Goda Ikhsan iseng. "Terus gimana sama Rasyid?"
"Mas kan tau aku nggak ada apa-apa sama Rasyid.."
"Tapi usaha Rasyid itu besar loh buat kamu?"
"Ya gimana? Hati kan nggak bisa dipaksa!"
"Berarti serius, nih, kamu udah terima Angga?"
Hana diam tak tau harus menjawab apa. Hubungannya dengan Angga memang sudah membaik. Tapi Hana belum menjawab pertanyaan Angga yang mengajaknya menikah.
Kalau ditanya apakah Hana sudah siap untuk menikah? Hana selalu siap. Baginya jodoh itu rahasia Allah. Kapanpun akan Allah datangkan, Hana selalu siap selama kedua keluarga saling memberi restu.
Tapi Hana masih ingin menata hatinya terlebih dahulu. Juga ingin melihat Angga berusaha meyakinkan hatinya.
Hana teringat percakapannya dengan Angga kemarin.
"Hana, will you marry me?"
Tak ingin berlama-lama menatap Angga, Hana lebih memilih memalingkan wajahnya melihat ke arah lain.
"Kamu nggak mau?" Tanya Angga karena Hana tak menjawab pertanyaannya.
Hana menarik napas dalam kemudian menghembuskannya pelan. "Apa nggak terlalu cepat, Mas?"
"Bukannya lebih cepat lebih baik? Kamu belum siap?"
Hana diam. Diamnya Hana membuat Angga tersenyum maklum. Mungkin memang Angga harus berusaha lebih keras lagi untuk menaklukan kembali hati Hana.
Tak ada obrolan lebih sampai Hana berpamitan untuk pulang. Awalnya Angga ingin mengantarnya. Namun Hana menolak secara halus dan mengatakan bahwa ia membawa motor sendiri.
"Kamu itu harus punya pendirian, Na. Rasyid kamu kasih harapan, ini Angga ngajak nikah kamu juga nggak jawab apa-apa. Itu namanya juga ngasih harapan." Ucapan Ikhsan menarik Hana dari lamunannya.
"Aku nggak ngasih harapan ke Rasyid, Mas. Dia tau aku masih sayang sama Mas Angga. Eh?" Hana reflek menutup mulutnya dengan tangannya karena sudah mengatakan bahwa dia masih menyayangi Angga didepan Ikhsan.
"Alamat! Jadi punya bahan baru buat ngebully aku!" Gumam Hana pelan. Sedangkan Ikhsan sudah tertawa lepas menertawakan kepolosan Hana.
"Tertawanya puas banget, Mas!"
"Adududuh.. Sakit, sayang," cubitan Kinan di pinggang Ikhsan berhasil menghentikan tawa Ikhsan.
"Iseng banget, sih, sama adiknya sendiri. Bukannya dikasih solusi," Kinan mengomelinya. Setelah menikah, sifat cerewet Kinan bisa keluar dengan sendirinya.
"Ampun, sayang."
Kini, giliran Hana yang tertawa lepas melihat kakaknya tak berkutik sama sekali ketika Kinan sudah menjinakkannya.
__ADS_1
πΉπΉπΉ
Sabtu sore, Hana berjanji pada Karina dan Lila untuk bertemu disalah satu cafe di Karanganyar. Hampir sebulan Hana libur, baru kali ini ia bisa pergi berjalan-jalan. Selain karena disibukkan dengan pernikahan Ikhsan dan Kinan, Hana juga terus menjaga Rasyid yang sudah dua minggu berada di rumah sakit.
Pertemuan mereka sama seperti pertemuan sahabat yang lama terpisah seperti biasanya. Dari mulai saling bertanya kabar, Lila yang memarahi Hana habis-habisan karena pergi tanpa pamit. Selalu ada kehebohan yang tercipta ketika ketiga gadis tersebut bersama.
Berfoto bersama tentu tidak akan pernah ketinggalan. Sepertinya itu sudah menjadi hal yang wajib ketika kumpul bersama.
Hana mengunggahnya di story WhatsApp dengan caption,
"Akhirnya bertemu dengan mereka π€π€"
Hana tak lagi fokus pada ponselnya karena ingin menikmati waktu bersama kedua sahabatnya. Sebenarnya tidak fokus karena ponselnya yang diatas meja terus saja bergetar.
"Itu hp kamu nyala terus dari tadi. Lihat dulu, siapa tahu penting!" Saran Karina.
Hana mengangguk kemudian mengambil ponselnya. Banyak pesan yang masuk tapi lebih banyak dari grup WhatsApp.
Tapi ada dua nama yang membuat Hana tertarik untuk membukanya.
Rasyid : "Dua hari nggak kesini, ternyata lagi sama geng rempong. ππ βοΈ"
Hana : "Mereka yang rempong, aku enggak. π π Besok aku kesana. π"
Satu lagi dari nama kontak yang baru beberapa hari ini ia simpan.
Mas Angga : "Nggak ngajak Mas, nih?"
Hana : "No! This is girls day out. π"
Hana tersenyum sendiri membaca pesan dari Angga dan juga pesan balasan darinya untuk Angga. Membuat Karina dan Lila saling bertatapan. Bingung.
Mas Angga : "Lagi dimana? Mas susul, ya?"
Hana : "Jangan, Mas. Sudah ku bilang ini girls day out.π"
Mas Angga : "Oke. Tapi besok kita jalan, ya?"
Hana : "Enggak janji. π"
Karina dan Lila gemas sendiri melihat Hana. Karina memberi usul untuk membuka pesannya karena takut ada yang penting. Tapi Hana justru senyum-senyum sendiri seolah dunia adalah miliknya sendiri.
"Hana, sehat?" Lila bersuara.
"Eh, aduh.. Maaf, ya? Jadi asyik sendiri, kan?" Ucap Hana merasa tak enak.
"Udah biasa!" Ucap Karina sinis. Tapi ia tahu bahwa itu hanyalah candaan semata. Lila dan Hana tertawa pelan.
"Tapi, Na, serius kamu nggak ada hubungan apa-apa sama Rasyid?"
"Enggak, La. Kita cuma sahabat dari dulu sampai sekarang."
"Kamu nggak ada niat buat terima dia?"
"Ya gimana mau terima yang lain kalau hatinya aja masih dibawa Pak Angga!" Celetuk Karina membuat Hana melemparnya dengan kentang goreng yang sebelumnya ingin Hana masukkan ke dalam mulutnya.
"Karina, ih, kalau ngomong suka bener!" Protes Lila namun tujuannya untuk menggoda Hana. Hana merengut kesal seolah tak suka meskipun sebenarnya apa yang Karina ucapkan itu benar.
"Ish.. Kenapa mendadak kangen sama Mas Angga, ya?" Gumam Hana dalam hati.
πΉπΉπΉπΉ
Pendek aja.. udah mentok ini nggak bisa mikir lagi ππ
Siapa yang nggak sabar nunggu hana-angga nikah? eh, dibuat nikah apa nggak ya? ππ
__ADS_1
Mudah-mudahan besok bisa up. tapi nggak janji ππ