Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 29


__ADS_3

Seperti kucing yang takut ketahuan karena mencuri ikan, aku berjalan mengendap-endap menuju mobil Mas Angga yang sudah terparkir manis didepan halte bus. Membuka pintu mobil dengan cepat lalu masuk kedalamnya.


"Maaf, ya? Jadi kayak kucing begitu harus sembunyi-sembunyi," ucap Mas Angga sambil tertawa pelan.


"Sudah resiko," jawabku pasrah dan menarik napas lalu menghembuskannya keras.


"Maaf," ucapnya manis sambil menatapku, tangan kirinya memegang lembut tanganku.


"It's oke," aku tersenyum. Dan Mas Angga mulai menjalankan mobilnya.


Tiba-tiba saja teringat dengan ucapannya saat di kantin tadi siang. Bisa-bisanya Mas Angga mengatakan kalau baru saja jadian dengan pacarnya. Semoga saja teman-temanku tak ada yang curiga denganku karena langsung tersedak saat mendengar ucapan Mas Angga.


"Ada sedang kamu pikirkan?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.


"Ada. Mas Angga kenapa pakai bilang didepan teman-teman Hana kalau habis jadian, sih?"


"Emang kenapa?" Tanyanya tak merasa bersalah.


"Mas Angga enggak ingat tadi aku sampai tersedak begitu? Kan aku kaget. Takut juga kalau mereka sampai tahu," omelku tak suka.


"Maaf, ya?"


Perasaan dari tadi minta maaf terus. Sudah seperti lebaran saja.


"Sudah bilang ke Mama kalau pulangnya diantar calon menantu," ujarnya dengan kepedean yang sempurna.


"Sudah," Mas Angga tersenyum. "Pasti di grup bakalan ramai, deh," gumamku pelan.


"Nanti kirim screenshoot percakapannya, ya? Jadi pengen tahu obrolan mereka tentang orang ganteng ini," ucapnya jumawa.


Aku memutar bola mata jengah. Semenjak kami dekat, kenarsisan Mas Angga naik berkali-kali lipat.


"Kurang-kurangin narsisnya, Pak guru."


Mas Angga tertawa keras mendengar ucapanku.


***


Sesampainya di rumahku, Mas Angga berbincang sebentar dengan Mama dan papa. Mama dan papa sudah melirikku sejak tadi. Aku yakin setelah ini mereka akan mendudukkan aku sebagai terdakwa.


Aku mengantar Mas Angga sampai ke mobilnya. Sebelum masuk ke mobil, Mas Angga menyodorkan tangannya. Membuatku reflek menyalami dan mencium tangannya. Manis, kan? Seperti seorang istri yang mengantarkan suaminya pergi berkerja.


Huss! Masih kecil, Hana! Sekolah dulu!


Aku berjalan masuk ke dalam rumah. Memperhatikan kanan dan kiri memastikan tidak ada Mama dan papa. Aman. Mereka tak terlihat sama sekali.


Aku berlari menaiki tangga menuju kamarku. "Eh, Mama, papa?" Aku meringis mendapati mama dan papa ternyata berdiri di tangga paling atas. Sorot mata mereka berdua seolah meminta penjelasan. Aku menggaruk hidungku yang tak gatal. "Hana mandi dulu, deh, nanti Hana ceritain semuanya," aku mencoba bernegosiasi.


Mama dan papa saling berpandangan dan berbicara lewat mata. Eh, memang bisa?


Tak lama kemudian mereka mengangguk bersama. Bergeser ke kanan dan ke kiri memberi jalan untukku. Dengan cepat aku berlari ke kamar dan menutup pintunya.


"Jadi?" Tanya papa setelah makan malam selesai. Aku duduk di karpet sedangkan mama dan papa duduk diatas sofa.


Maafkan Ijah tuan, nyonya!


"Jadi.... Kita... Kita pacaran," aku menunduk dan menutup mataku rapat-rapat dan menggigit bibir bawahku.


Papa dan Mama menghela napas bersama. Kompak banget, sih, mereka?


"Sejak kapan?" Tanya mama.


"Kemarin."


"APAA!!!??"


Tuh, kan, bisa bareng lagi. Alam bawah sadar mereka sudah menyatu sepertinya. Semuanya serba bisa kompak.


"Kamu mau mama sama papa mengijinkan pacaran atau tidak?"


Eh, pertanyaan mama kenapa begitu? Kira-kira itu pancingan untuk hal yang bagaimana, ya?


"Emm.. terserah Mama sama papa aja," jawabku pasrah.


"Papa sih sebenarnya enggak suka kalau kamu pacaran. Apalagi masih sekolah dan sebentar lagi ujian. Tapi karena papa sudah percaya sama Angga, apalagi dia itu guru kamu dan juga teman kakak kamu, papa ijinkan. Tapi..."


Aku berbinar mendengar ucapan papa. "Tapi apa Pa?" Tanyaku tak sabar.

__ADS_1


"Kamu harus bisa pertahankan prestasi kamu," ucap papa pada akhirnya.


Mendengar hal itu aku langsung berdiri dan memeluk Mama dan papa. Menciumnya pipi mereka bergantian sambil mengucapkan terimakasih.


***


Jam 21.00 aku sudah selesai belajar. Seperti janjiku pada Mama dan papa, aku akan mempertahankan prestasiku. Jadi waktunya belajar, ya harus belajar. Mau teleponan dengan Mas Angga kalau sudah selesai belajar. Mainan ponsel kalau sudah selesai belajar.


Aku memencet tombol power pada ponselku. Aku sengaja mematikannya karena tak ingin terganggu dengan suara-suara notifikasi yang masuk. Paling banyak notifikasi grup WhatsApp.


Aku merasa heran saat melihat grup kelas 12 begitu ramai, mencapai 100 pesan. Lagi bahas apa, sih?


Kelas 12 Kompak Selalu


Karina : #HariPatahHatiSekolah😭


Lila : #HariPatahHatiSekolah😭 2


Rini : Kenapa, sih?πŸ€”


Metha : Ada apa, sih, gaes?πŸ™„


Shinta : Woy @Karina @Lila kasih penjelasan dong!πŸ˜‘


Indra : Pak Angga udah punya cewek. πŸ˜‚


Vera : APAA!!?? SERIUS KAMU??? 😭😭


Zikri : 🀣🀣


Denis : 😹😹


Nissa : Alhamdulillah 😍😜


Lila : NISSAA!! πŸ‘Š


Nissa : 🀭🀭


Diva : NOO!!! 🀬🀬


Amel : Vera??? Apa kabar hati kamu? 🀭


Shinta : Guru ganteng SOLD OUT πŸ™…


Vera : Ceweknya siapa?


Lila : Kita enggak tau. Pak Angga enggak bilang siapa ceweknya.


Metha : Janur kuning belum melengkung kan, gaes? πŸ˜‚πŸ€­


Rini : Sikaattttt!!! πŸ˜‚πŸ˜‚


Karina : Hana mana Hana? @HanaAghni


Indra : @HanaAghni belajar. Dia mah pinter. Kerjaannya belajar mulu. 😍


Aku menscrool percakapan mereka sampai ujung bawah. Aku tertawa terbahak saat membaca pesan dari Fahmi.


Fahmi : @Indra besok siapin ember, ya! Siapa tau mau pada nangis di depan ruang BP. πŸ˜…


Sandy : Setuju sama @Fahmi πŸ˜‹


Reno : Setuju sama @Fahmi πŸ˜‹ #2


Denis : Setuju sama @Fahmi πŸ˜‹ #3


HanaAghni : Setuju sama @Fahmi πŸ˜‹ #4


Vera : @HanaAghni kurang asem kamu!


HanaAghni : 🀣🀣😜😜


Karina : Hana giliran keluar, resek nya juga keluar. πŸ™„


Aku menutup grup. Sebelumnya aku sudah menscreenshoot seperti permintaan Mas Angga. Ku Kirimkan semuanya, biar pusing bacanya. Haha.


Sudah centang biru, itu artinya sudah di baca oleh Mas Angga. Mas Angga pasti sangat serius membacanya. Mungkin sudah seperti orang yang sedang mencari kutu.

__ADS_1


Setelah sekian lama, Mas Angga membalas pesanku dengan emoticon ngakak.


My Angga's Calling..


"Assalamualaikum," ucapku setelah menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel pada telingaku.


"Waalaikumsalam, sudah belajar?"


"Sudah, dong."


"Ini lagi ngapain?"


"Tiduran aja, sih, Mas. Udah mulai ngantuk juga," ucapku tak enak karena kami baru sebentar teleponan seperti ini.


"Tidur aja kalau gitu," perintahnya.


"Mas Angga belum ngantuk?" Aku bertanya.


"Belum. Nunggu kamu tidur dulu,"


Aku senyum-senyum sendiri mendengarnya. Kenapa kamu sweet banget, sih, Mas?


"Mas nyanyi buat kamu biar cepet tidur."


"Emang bisa?" Tanyaku tak percaya.


"Ya bisa-lah. Angga apapun bisa," seperti biasa, kenarsisannya muncul dengan cepat.


"Dengerin, ya?" Perintahnya.


"Nanti kalau Hana tertidur enggak apa-apa, ya?"


"Iya,"


Mas Angga mulai bernyanyi.


Hanya dirimu yang ku cinta


Tak kan membuatku jatuh cinta lagi


Aku merasa.. Kau yang terbaik untuk diriku


Ya ampun! Suaranya benar-benar membuatku meleleh.


Kenapa suara Mas Angga bisa semerdu ini, sih?


Walau ku tau kau tak sempurna


Tak kan membuat aku jauh darimu


Apa adanya, ku kan setia kepadamu.


Suara merdunya membuat rasa kantukku menguat. Tapi aku masih ingin mendengarkan suaranya.


*Tuhan jagakan dia, dia kekasihku


Kan tetap milikku


Aku sungguh mencintai


Sungguh menyayangi


Setulus hatiku*


"Hana?" Panggilnya setelah selesai bernyanyi.


"Iya, Mas?" Jawabku setengah sadar. Aku sudah benar-benar mengantuk.


"I love you," ucapnya manis.


"Love you too, Mas,"


Setelah itu aku tak mendengar apapun lagi. Gelap.


🌹🌹🌹


**aku mau kasih yang seneng-seneng dulu. baru jadian, biar nikmatin kembang-kembangnya dulu. πŸ˜‚

__ADS_1


updatenya malam-malam. demi siapa? demi kalian semua.😍😘


like dan votenya plisss. πŸ€—**


__ADS_2