
Ujian nasional akan dilaksanakan tiga minggu lagi. Les privat Hana yang sebelumnya hanya satu setengah jam saja, kini sudah bertambah menjadi dua jam. Meskipun hanya bertambah setengah jam dari sebelumnya, hal itu tetap membuat Hana merasa bosan.
Di sekolah sudah belajar habis-habisan, sepulang sekolah masih harus les selama dua jam.
Komunikasinya dengan Angga juga baik-baik saja. Mereka memutuskan untuk tidak terlalu sering berhubungan. Mengingat Hana yang selalu diawasi, juga sedang berkonsentrasi mempersiapkan ujiannya.
My Angga : Hari ini jadwal les, kan?
Tanya Angga di pesan WhatsApp. Hana sudah berada di depan rumah Devina.
Me : Iya, Mas. Ini udah di depan rumah kak Devina. Hana belajar dulu, ya?
My Angga : oke. ❤️
Hana memasukkan ponselnya kedalam tas. Kemudian mengetuk pintu rumah Devina dan masuk ke dalamnya setelah Denis mempersilahkan Hana untuk masuk.
***
Angga memijat pangkal hidungnya pelan. Pikiran Angga benar-benar buntu. Ayahnya benar-benar akan menjodohkannya dengan Rumi. Pertunangan mereka akan dilaksanakan empat minggu lagi. Itu berarti setelah Hana ujian.
Lalu bagaimana cara Angga untuk menjelaskan pada Hana?
Angga berpikir apakah Hana bisa menerima kenyataan ini? Seperti dirimu yang sangat-sangat terpaksa untuk menjalankannya.
Entah kenapa Angga tak bisa membantah ucapan ayahnya. Sejak dulu apapun yang Angga lakukan harus dengan persetujuan Rajiman. Dan juga apapun yang Rajiman putuskan, Angga harus menurutinya.
Begitupun kepada kedua kakak Angga. Rajiman selalu mengatur kehidupan anak-anaknya.
Tapi kalau kedua kakak Angga saja bisa menentukan sendiri siapa jodoh mereka, kenapa Angga tidak?
Alasannya hanya satu. Balas budi.
Ahh.. Angga bosan.
Bukankah kalau sudah mengucapkan terimakasih dan Angga rela bekerja di bawah pimpinan Ratno itu sudah cukup untuk berbalas budi?
Kenapa perihal jodoh juga harus digunakan untuk ajang balas budi?
Bukankah ini berlebihan?
🌹🌹🌹
Waktu terus berlalu. Tak terasa hari ini adalah hari pertama akan dilaksanakan ujian nasional. Hana dan teman-temannya merasa begitu deg-degan. Takut kalau jawaban yang mereka tuliskan nanti tidak memuaskan.
Tapi mereka akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Selama ini mereka sudah belajar dan berusaha semaksimal mungkin. Mereka yakin pasti Allah akan memperhitungkan usaha mereka.
Setengah jam sebelum masuk ke dalam ruang ujian, Hana masih saja menatap ponselnya. Berharap ada satu pesan yang masuk dari Angga untuk memberinya semangat
Sudah berhari-hari hubungan mereka memburuk. Angga jarang menghubungi Hana. Bahkan ponselnya lebih sering tidak aktif saat Hana mencoba menghubunginya. Semua pesannya pun tak pernah dibalas oleh Angga.
Hal itu membuat Hana kepikiran dan tak tenang. Tapi Hana tak bisa apa-apa selain berdoa dan menunggu. Berdoa agar Angga baik-baik saja dan juga menunggu Angga menghubunginya lagi.
Merasa tak ada tanda-tanda Angga akan menghubunginya, Hana memutuskan untuk mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Kemudian Hana memilih bergabung dengan teman-temannya.
Tanpa Hana tahu, saat ponsel Hana mati, di saat itulah Angga mencoba menelepon Hana berharap semoga masih ada kesempatan untuk menyemangati Hana. Namun ternyata Angga sudah terlambat.
***
Selama ujian berlangsung empat hari, selama itu pula Hana tak pernah mengaktifkan ponselnya. Pikirannya pun ia fokuskan hanya untuk menghadapi ujian.
Ketika Hana mulai teringat akan Angga, Hana mengalihkan pikirannya dengan kegiatan yang lain. Menonton tv untuk refreshing, atau bersepeda santai keliling lapangan di samping desanya.
Angga pernah mencoba menghubungi Hana lewat Ikhsan, tapi Hana tak memperdulikannya. Hana beralasan kalau ia ingin berkonsentrasi terlebih dahulu untuk menghadapi ujian.
Ujian di hari terakhir telah usai. Hana dan teman-temannya serempak mengucapkan syukur karena keberhasilan mereka melewati empat hari yang menjadi penentu kelulusan mereka. Kini, mereka tinggal menunggu hasil dari usaha mereka.
__ADS_1
"Plaza, yuk," ajak Karina sambil memasukkan alat tulisnya ke dalam tas.
"Boleh. Kalian duluan, ya? Aku udah janjian sama kak Devina mau ngembaliin buku," jawab Hana.
Karina dan Lila mengangguk. Kemudian mereka berpisah di parkiran.
Hana mengendarai motornya dengan perasaan yang tidak tenang. Hana tak tahu apa yang membuatnya merasa tidak tenang. Yang pasti, Hana merasa sesuatu akan terjadi pada dirinya.
Dengan pelan Hana mulai memasuki gerbang perumahan Devina. Kemudian menghentikan motornya didepan rumah Devina.
Tok tok tok..
"Assalamualaikum," seru Hana sambil mengetuk pintu rumah Devina. Tak lama kemudian pintu rumah Devina terbuka menampakkan seorang wanita paruh baya. Ibu dari Devina.
"Waalaikumsalam. Ada nak Hana. Mau cari Devina?" Tanyanya. Hana mengangguk dan tersenyum. "Sebentar, ya? Devina di kamar. Ibu panggilkan dulu," lanjutnya.
"Iya, Bu," jawab Hana.
Devina keluar dengan penampilan yang begitu rapi.
"Kak Devina mau pergi?" Tanya Hana penasaran.
"Iya. Kakak mau pergi beli cincin buat tunangan besok malam minggu. Sebentar lagi calon tunangan kakak mau jemput," jawab Devina sambil tersenyum. Pipinya merona mengingat perihal pertunangannya.
"Wah.. Selamat, ya, kak. Hana ikut senang," ucap Hana dengan tulus. Matanya berbinar mendengar kabar pertunangan Devina dan kekasihnya.
Tak lama setelah itu terdengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah Devina.
"Nah itu dia," ucap Devina sambil menunjuk mobil tersebut. Membuat Hana menoleh ke arah mobil Daihatsu Ayla berwarna kuning cerah.
Hana menunggu sosok yang akan keluar dari mobil tersebut. Satu menit, dua menit, dia tak kunjung keluar. Baru di menit ke lima pintu mobil tersebut terbuka.
Senyum yang Hana tunjukkan meredup begitu saja saat melihat siapa sosok laki-laki yang keluar dari mobil tersebut.
"Hana nggak apa-apa?" Tanya Devina panik.
"Eh, enggak, kak. Nggak apa-apa," jawab Hana sambil memunguti buku-buku tersebut. Hana berusaha menampakkan senyumnya meskipun mulutnya terasa berkedut ingin menangis.
"Hana, kenalkan ini Mas Angga, calon tunangan kakak. Eh, tapi pasti kamu sudah kenal kan, ya? Dulu dia guru di SMA kamu dan Denis," ucap Devina dengan ceria. Tak tahu saja saat ini hati Hana terasa seperti di iris-iris pisau tajam.
Dengan bergetar, Hana mengulurkan tangannya untuk menyalami Angga. Matanya menatap tajam ke arah Angga. Tak ada air mata disana. Yang ada hanyalah tatapan amarah dan kecewa.
"Selamat, Pak Angga. Semoga acaranya lancar."
Sungguh, Hana ingin berlari pergi saat itu juga. Tapi Hana masih cukup kuat untuk menciptakan sandiwara seolah mereka tak ada hubungan apapun.
"Terimakasih," jawab Angga dengan menerima uluran tangan Hana untuk bersalaman.
Tak ingin berlama-lama berhadapan dengan Angga dan Devina, Hana segera menyelesaikan urusannya dan berpamitan untuk pulang tanpa menoleh sedikitpun ke arah Angga dan Devina.
Hana pergi bersama hatinya yang telah hancur berkeping-keping tak bersisa. Deraian air mata turun bersama derasnya hujan yang tiba-tiba saja turun membasahi bumi.
***
Angga tak dapat berkata-kata lagi setelah kejadian yang menimpa hubungannya dan Hana. Ia tak menyangka bahwa Devina yang Hana maksud sama dengan Devina yang ia kenal. Devina Harumi.
Dulu semasa SMA dia lebih senang dipanggil dengan nama Rumi. Entah apa yang membuatnya merubah nama panggilannya menjadi Devina.
Sejak Hana mengatakan kalau guru les-nya bernama Devina, Angga merasa tidak asing dengan nama tersebut. Kini, baru Angga tahu kalau Devina yang Hana kenal, itu adalah Rumi yang akan bertunangan dengannya.
Hubungannya dengan Hana kini telah hancur. Angga yakin Hana tak akan memaafkannya. Hana akan pergi darinya.
Tidak! Angga tidak menginginkan hal itu.
Lalu bagaimana dengan pertunangannya dengan Rumi?
__ADS_1
Manakah yang harus ia korbankan? Perasaan Hana atau kedua orangtuanya?
"Yang ini bagus nggak, Mas?" Tanya Devina, atau Rumi. Sedangkan Angga masih diam tak menanggapi. Angga sibuk sendiri dengan pikirannya.
"Mas Angga?" Panggilnya lagi membuyarkan lamunan Angga.
"Eh, iya? Gimana?" Angga gelagapan.
"Bagus yang mana?" Tanya Devina sambil menunjukkan dua pasang cincin.
"Terserah kamu saja!" Jawab Angga sekenanya.
🌹🌹🌹
Hana menghentikan motornya di pinggir alun-alun Karanganyar. Hana merasa tak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanannya. Matanya yang basah membuat pandangan Hana kabur dan menjadi tidak fokus. Hana memutuskan untuk berhenti. Dia masih waras untuk tidak membahayakan dirinya sendiri.
"Kamu jahat, Mas! Kamu jahat!" Teriak Hana di sela tangisnya. Tak peduli dengan tatapan beberapa orang yang lewat di depannya.
"Aku salah apa sama kamu, Mas? Kamu tega sama aku! Aku salah apa?"
Lama Hana menangis. Hana mendongakkan wajahnya saat merasakan sebuah tepukan di bahunya.
"Rasyid?" Ucap Hana sambil menghapus air matanya.
"Kamu ngapain disini sambil nangis begini?" Tanya Rasyid yang kini sudah duduk di samping Hana.
Bukannya menjawab, tangis Hana justru semakin keras dan membuat Rasyid bingung sendiri. Apalagi tatapan orang-orang yang berlalu lalang yang menatap mereka dengan tatapan penuh selidik.
"Kok malah makin keras, sih? Malu dilihatin orang-orang. Nanti di kira aku ngapa-ngapain kamu."
"Boleh pinjam hp kamu nggak?" Hana berucap.
"Ini," jawab Rasyid sambil menyodorkan ponselnya.
Hana mulai membuka ponsel Rasyid kemudian menelepon Karina.
"Halo?" Ucap Hana saat Karina mengangkat.
"Halo. Hana? Ini Hana? Kenapa bisa pakai nomor Rasyid?" Karina memberondong Hana dengan berbagai pertanyaan.
"Karina bisa ke alun-alun? Tolong, ya?" Pinta Hana sambil terus menangis.
"Iya, bisa. Aku sama Lila kesana sekarang."
Setelah sambungan terputus, Hana mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya sambil mengucapkan terimakasih.
"Kamu kenapa, sih?" Rasyid masih saja penasaran.
"Bisa nggak jangan tanya dulu?"
Rasyid menghembuskan napas pelan. Baiklah, mungkin Hana memang tak ingin membagi kesedihannya kepada Rasyid.
***
Hana masih saja menangis saat Karina dan Lila mengantarnya pulang. Motor Hana dikendarai Lila, sedangkan Hana dibonceng oleh Karina.
Karina dan Lila merasa bingung melihat Hana yang hanya menangis tanpa berniat untuk bercerita. Hana hanya minta untuk ditemani sampai ia lelah menangis.
Mau tak mau, Karina dan Lila menemani Hana sampai Hana tertidur. Mungkin karena terlalu lelah menangis, pikir mereka berdua.
Keberadaan Karina dan Lila pun berujung dengan habisnya stok cemilan di lemari es milik Hana. Mulai dari brownies cinta dua rasa yang sebelumnya masih utuh. Beberapa cemilan kemasan dan juga wafer coklat yang juga telah tandas isinya.
Melihat Hana yang tertidur, membuat Karina dan Lila saling berpandangan. Kalau ditinggal pulang, mereka kasian pada Hana. Kalau ditunggu, entah sampai kapan Hana akan tertidur. Bisa-bisa mereka akan ikut tertidur juga sampai pagi dirumah Hana.
🌹🌹🌹
__ADS_1