Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 57


__ADS_3

Kaki Hana terasa berat untuk melangkah menuju ruang ICU tempat Rasyid di rawat ditemani oleh Ikhsan. Hana tak pernah menyangka kalau pada akhirnya Rasyid akan mengalami ini semua.


Hana begitu merasa bersalah. Kata seandainya, dan andaikan kini begitu menguasai pikirannya. Andaikan Rasyid tak pergi menjemputnya, andaikan dia bisa tegas menolak saat Rasyid akan menjemputnya. Bahkan seandainya Hana bisa menolak keinginan Rasyid untuk berkenalan dengan keluarganya pasti semua ini tidak akan terjadi.


Harusnya Hana bisa tegas dengan perasaannya sendiri. Bukan maksud Hana untuk memberi harapan pada Rasyid karena memang Rasyid tahu siapa yang masih menjadi penghuni hatinya. Tapi Hana masih tak paham kenapa masih saja Rasyid memintanya untuk berkenalan dengan keluarganya. Bukankah lebih baik Rasyid mencari gadis lain yang mencintai dia dan pantas untuk dia ajak untuk bertemu keluarganya?


Sebenarnya banyak yang ingin menjadi perempuan istimewa untuk Rasyid. Mulai dari adik tingkat, teman seangkatan bahkan dari kakak tingkatnya di kampus juga tak sedikit.


Siapa yang tak mengenal Rasyid? Sudah tampan, murah senyum, baik, dan juga cucu pengusaha kaya di Surabaya. Di masa SMA mungkin Rasyid bisa menutupi latar belakang kehidupannya. Tapi ketika di Surabaya, tanpa ia menjelaskan pun semua orang dengan mudahnya mengetahui kehidupan Rasyid. Nama yang di sandangnya adalah nama besar yang di sematkan di setiap keturunan Atmaja. Yaitu Danindra. Namun Hana masih tak habis pikir kenapa gadis yang tidak mencintainya yang harus ia kenalkan pada keluarganya.


Perasaan Hana tak tenang. Selain ia khawatir dengan keadaan Rasyid sekarang, bagaimana kalau kedua orangtua Rasyid tahu bahwa karena dirinya Rasyid kecelakaan?


Langkah Hana terhenti saat melihat dua orang berada di depan ruang ICU. Kakinya terasa terpaku di tempatnya berdiri. Hana yakin kedua orang itu adalah kedua orangtua Rasyid. Si ibu menangis dan di peluk oleh si Bapak.


Hana menatap Ikhsan sebentar seolah menyalurkan sebuah keraguan untuk mendekati mereka.


"Jangan takut. Kamu tidak bersalah," Ikhsan mencoba menenangkan.


Dengan pelan, Hana mendekati kedua orangtua Rasyid. Hana menggigit bibir bawahnya menahan rasa takut. Hana tak siap dengan reaksi kedua orangtua Rasyid kalau sampai mereka tahu bahwa dirinyalah penyebab Rasyid kecelakaan.


"Assalamualaikum," sapa Hana pelan.


Kedua orang itu menoleh dan melihat Hana. "Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan.


"Siapa, ya?" Tanya si Bapak.


Hana gelagapan. Mulutnya seolah terkunci rapat untuk mengucapkan namanya sendiri. Kedua tangan Hana saling meremas karena takut.


"Saya.. Saya.. Saya Hana, Pak."


"Hana!!??" Pekik si ibu terkejut dan seketika Hana menunduk takut. Bagaimana kalau ibu Rasyid memaki-maki dirinya? Bagaimana kalau mereka akan mengusirnya dan memaki-maki dirinya atau bahkan menamparnya? Hana menghela napas pelan untuk mengusir kekhawatirannya.


Hana memejamkan mata erat saat mendengar kursi berderit pertanda kedua orang itu berdiri. Dapat Hana rasakan salah satu dari mereka mendekati Hana.


"Jadi kamu yang namanya Hana?" Tanya si ibu dengan tajam. Hana mengangguk pelan.


Hampir saja Hana memekik saat tubuhnya di peluk oleh ibu Rasyid dengan erat. Hana masih tak mengerti kenapa menjadi seperti ini. Bayangan-bayangan tentang kedua orangtua Rasyid yang akan memarahinya kini sirna karena ibu Rasyid justru memeluknya dan menciumi kedua pipi Hana.


"Bu?" Ucap Hana penuh tanya.


"Ternyata kamu cantik. Lebih cantik dari yang di foto."


"Hah?" Hana hanya bisa melongo tak mengerti. Otak pintarnya tidak bisa bekerja dengan sempurna saat ini.


"Duduk dulu, Ma, Nak Hana!" Ajak papa Rasyid. Dengan ragu Hana mengikuti ibu Rasyid untuk duduk di kursi ruang tunggu di depan ruang ICU. Sebelumnya, Hana sudah mengenalkan Ikhsan pada kedua orangtua Rasyid.


"Pak, Bu.. Maafkan Hana. Kalau bukan karena Rasyid mau jemput Hana, pasti Rasyid tidak akan kecelakaan seperti ini," ucap Hana dengan rasa bersalah.


Ibu Rasyid mengelus kepala Hana yang tertutupi jilbab dengan pelan. "Sudah, Hana. Ini semua bukan salah kamu. Ini sudah takdir Rasyid. Kamu tidak perlu merasa bersalah," ucapnya dengan bijak.


Memang tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Rasyid kecelakaan tentu bukan kemauan semua orang. Namun Allah sudah menggariskan takdir hidup Rasyid seperti ini.


"Tapi, Bu.."


"Sudah. Sekarang tugas kita adalah mendoakan Rasyid agar cepat pulih seperti semula."


Entah terbuat dari apa hati keluarga Rasyid. Dari Rasyid sendiri, sampai kedua orangtuanya memiliki hati yang begitu baik dan tulus. Tentu hal itu membuat Hana semakin merasa bersalah.


Hana meminta ijin untuk melihat Rasyid dari dekat. Dengan memakai pakaian steril serba hijau, Hana memasuki ruang ICU dimana Rasyid di rawat.


Ruangan begitu hening, hanya terdengar suara


alat monitor hemodinamik dan saturasi, yang terletak di dekat Rasyid. Yang digunakan untuk mengetahui gelombang denyut jantung, tekanan darah, oksigen yang diserap tubuh, temperatur, frekuensi pernapasan Rasyid.


Selang oksigen terpasang di hidung Rasyid. Kaki kanannya di gips karena mengalami patah tulang. Wajahnya yang putih, bersih dan tampan kini tampak pucat dengan goresan luka di kening dan pipinya. Dokter mengatakan bahwa Rasyid mengalami gegar otak karena benturan yang keras di kepalanya. Hal itu membuat Rasyid koma dan belum juga sadar sampai saat ini.


Hana menangis sedih. Baginya Rasyid adalah sosok sahabat yang baik. Selama ini Rasyid selalu ada untuk dirinya disaat sedih maupun senang. Rasyid selalu menghiburnya dengan tingkah konyolnya saat Hana merasa sedih ataupun badmood.


Kini, Rasyid terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Matanya terpejam dan tidak ada tanda-tanda Rasyid akan membukanya.


Hana menyentuh tangan dingin Rasyid yang tidak di infus.


"Hay!" Ucap Hana sambil tersenyum meskipun air matanya tak berhenti mengalir. "Apa kabar?" Lanjutnya meskipun ia tahu tak akan ada jawaban yang keluar dari mulut Rasyid.


"Aku udah kenalan sama papa dan mama kamu, lho. Ternyata mereka baik, ya?"


Hana semakin menangis tersedu. Isakannya terdengar begitu memilukan.

__ADS_1


"Kok kamu diam terus, sih? Aku kangen kamu yang cerewet kayak emak-emak," racaunya mulai tak jelas.


"Waktunya sudah habis, ya, mbak," tegur salah satu perawat yang bertugas di ruang ICU. Hana mengangguk dan mengiyakan.


"Aku keluar dulu, ya? Kami cepat bangun! Emang enak disini sendirian?"


Hana membenarkan letak selimut Rasyid yang sebenarnya tak bergerak sedikitpun. Kembali memperhatikan wajah Rasyid lekat-lekat sebelum ia keluar meninggalkan Rasyid.


"Aku keluar, ya?" Ucapnya lalu keluar dari ruang ICU.


***


Sudah seminggu setelah Rasyid kecelakaan, selama itu pula Rasyid belum juga sadarkan diri. Selama seminggu pun Hana belum pernah absen untuk mengunjungi Rasyid. Hana selalu mengajak Rasyid berbicara meskipun Rasyid tak merespon satupun yang Hana ucapkan. Namun Hana yakin bahwa Rasyid mendengar setiap kata yang ia ucapkan.


Kangen? Jangan ditanya. Hampir setiap hari Hana tidak pernah Hana lewatkan tanpa kehadiran Rasyid. Tidak ada Rasyid satu Minggu, membuat Hana merasa begitu kesepian.


Entah melalui siapa, namun kabar kecelakaan Rasyid sudah sampai ke telinga teman-teman semasa SMA. Dan saat ini, Hana sedang berhadapan dengan dua teman masa SMA-nya di taman rumah sakit. Persis seperti orang yang tengah disidang.


"Jadi?" Tanya Karina dengan dinginnya. Matanya menatap tajam ke arah Hana yang kini bergerak gelisah mencoba menghindari tatapan mata Karina. Sedangkan Indra, ia terlihat cuek meskipun sebenarnya dia juga menunggu penjelasan dari Hana.


"Jadi apa?" Tanya Hana pura-pura bodoh.


Karina mendengus kesal. "Farhana Aghnia, kemana kamu selama ini? Pergi dan menghilang tanpa jejak dan kabar bagaikan di telan bumi."


"Emm.. Aku kuliah," jawab Hana ambigu.


Lagi-lagi Karina memutar bola matanya jengah. Karina juga tahu kalau seorang Hana tidak mungkin tidak kuliah.


"Tahu! Hana tidak mungkin kan kalau tidak kuliah? Yang jadi pertanyaan kamu kuliahnya dimana?"


"Surabaya," jawab Hana singkat dan jelas.


"Terus kenapa bisa disini? Setelah keluar dari kamar Rasyid pakai nangis segala. Kalian ada apa? Pacaran? Terus sama orangtua Rasyid, kenapa bisa sedekat itu kalian? Ibunya Rasyid kayaknya juga sayang banget sama kamu?"


Memang saat Karina dan Indra datang, Hana baru saja keluar dari ruang ICU sambil menyeka air matanya yang tak pernah berhenti mengalir ketika melihat Rasyid terbaring di ranjang rumah sakit. Saat seperti itu, pasti ibu Rasyid selalu memeluk Hana setelah Hana keluar dari ruang ICU.


Saat itu matanya langsung bertatapan dengan mata Karina yang sudah menatapnya tajam. Setelah Karina dan Indra berbasa-basi sebentar dengan orangtua Rasyid, Karina menyeret Hana untuk berbicara ditempat lain.


Hana meringis pelan mendengar rentetan pertanyaan Karina. Jiwa kepo-nya tak berkurang sedikitpun.


"Terserah kamu!" Bentak Karina, walau sebenarnya Hana tau itu hanya bentuk dari kekesalannya dan kerinduannya pada Hana.


"O.. Oke. Aku jawab," Hana menghela napas sejenak. "Pertama, kita nggak pacaran. Catat! Nggak pacaran. Kedua, aku menangis karena aku merasa sedih dengan keadaan Rasyid sekarang. Masalah ibu Nilam terlihat begitu sayang sama aku, aku nggak tahu. Karena aku juga baru kenal dengan mereka saat hari pertama Rasyid kecelakaan."


"Tunggu!" Sela Karina. "Jadi kamu udah denger Rasyid kecelakaan sejak hari pertama?"


"Iya. Karena yang bisa di hubungi oleh polisi pertama kali adalah aku."


Seketika Hana menutup mulutnya sendiri karena sudah berbicara sejauh itu. Kalau sudah begini, Karina pasti akan semakin mencercanya dengan berbagai pertanyaan.


"Oke, Indra. Ternyata banyak hal yang tidak kita ketahui," sindir Karina. Indra hanya mengangguk membenarkan.


"Ceritain lengkapnya, Na. Daripada dia marah-marah terus. Kamu nggak pusing dengernya?" Ucap Indra tanpa menoleh karena sedang fokus pada game di ponselnya.


"Iih, nyebelin!" Karina memukul pelan bahu Indra. "Ayo cerita!" Perintahnya pada Hana kemudian.


"Aku sama Rasyid itu satu kampus. Dan kita cukup dekat selama ini," ucapan Hana sontak membuat Karina membelalakkan matanya. Indra pun turut mendongak dan menatap Hana.


"Gila ya? Rasyid itu aktif banget di grup alumni. Tapi dia sekalipun nggak pernah menyinggung soal kamu, loh. Bahkan saat kita membicarakan kamu pun dia diam aja!"


"Itu aku yang nyuruh, Rin. Aku nggak mau ada orang yang tahu tentang keberadaan aku untuk sementara waktu."


"Kamu anggap aku sama Lila itu apa, sih, Na? Katanya kita sahabat, loh. Tapi bisa-bisanya kamu sembunyikan semuanya dari kami. Dimana kuliah kamu, nomor ponsel kamu, sosial media kamu tutup semua. Kamu pikir kita nggak kebingungan nyari kamu?"


Dengan cepat Hana meraih tangan Karina lalu menggenggamnya erat. "Maaf, Rin. Kamu tahu alasan aku pergi apa, kan?"


"Aku tahu! Tapi bukan berarti kamu juga harus pergi dari kami, kan?"


Hana mengangguk membenarkan. "Maaf, Rin, maaf. Aku hanya ingin menepi, benar-benar melupakan semua tentang dia. Walau aku tahu meskipun aku disini dia tidak akan mencari aku karena pasti dia sudah menikah. Tapi kenangan bersamanya di kota ini terlalu banyak, Rin."


Karina menoleh ke arah Indra. Begitupun juga dengan Indra. Karina dan Indra saling berpandangan. Dalam hati mereka bertanya-tanya, "berarti Hana tidak tahu kalau Pak Angga belum membatalkan pertunangannya dengan kakaknya Denis?"


"Aku awalnya juga tidak tahu kalau Rasyid ternyata juga kuliah di kampus yang sama meskipun beda fakultas. Kita bertemu dengan tidak sengaja, dan akhirnya dekat sampai sekarang," lanjut Hana.


"Beneran kalian nggak pacaran?" Tanya Karina. Hana menggeleng kuat. "Yakin?" Tanya Karina lagi.


"Yakin! Dia memang sering bilang kalau dia sayang sama aku. Bahkan sejak aku belum berpacaran dengan Pak Angga. Hebat, kan? Dia bisa memendam selama itu. Tapi walaupun kami terbiasa bersama, entah kenapa perasaan sayang sebagai sahabat itu tidak bisa berubah menjadi perasaan sayang sebagai yang lainnya."

__ADS_1


Hana menunduk dan matanya kembali memanas. Sesuatu yang ia tahan akhirnya keluar juga. Hana menangis saat kembali mengingat semua tentang Rasyid.


"Apalagi dia kecelakaan karena mau jemput aku, Rin. Dia mau aku kenal dengan keluarganya makanya dia mau jemput aku. Aku udah nolak tapi dia maksa jemput. Dan akhirnya dia kecelakaan, Rin."


Karina memeluk Hana dari samping dan mengusap lengan Hana pelan. Ia mencoba menenangkan Hana dengan pelukannya.


"Dia kecelakaan karena aku, Rin. Dan yang lebih membuatku semakin merasa bersalah karena orangtuanya yang begitu baik sama aku. Mereka sama sekali nggak marah saat aku menjelaskan semuanya sama mereka."


"Ini bukan salah kamu, Na. Ini semua udah takdir," ucap Indra dan dibenarkan oleh Karina. "Tugas kita sekarang hanyalah mendoakan Rasyid semoga ia cepat sadar dan pulih kembali seperti semula," lanjutnya.


Selanjutnya, setelah Hana merasa lebih tenang, mereka melanjutkan obrolan mereka. Bercerita tentang pengalaman baru mereka setelah duduk di bangku kuliah. Bercerita saat-saat Karina dan Lila kelimpungan mencari keberadaan Hana. Hana justru tertawa cekikikan mendengar cerita Karina.


Sesekali Karinda dan Indra juga terlibat obrolan yang sama sekali tidak Hana mengerti. Hal itu membuat Hana bertanya dalam hati, sejauh mana hubungan mereka?


"Kenapa cuma kalian berdua yang kesini?" Tanya Hana kemudian. Karina menggigit bibir bagian dalamnya, tak tahu harus menjawab bagaimana.


"Karena cuma kami yang sempat," jawab Indra cepat seolah tahu apa yang dirasakan oleh Karina.


"Begitu, ya?" Keduanya mengangguk kaku.


"Yakin?" Tanya Hana semakin menggoda Karina. Membuat Karina bergerak gelisah dan salah tingkah. "Sejak kapan Rin, Ndra?" Lanjut Hana yang ternyata bisa menebak apa yang Karina dan Indra coba sembunyikan.


"A..Apanya, Na?" Tanya Karina gugup.


"Pacarannya dong!"


"Ehm! Em.." Hana mengangkat kedua alisnya. "Enam bulan yang lalu."


"Wow!?" Pekik Hana. "Bisa ya kamu takluk sama Indra si mantan playboy ini? Haha."


"Aku nggak playboy loh, Na. Enak aja kamu!" Sungut Indra tak suka.


Karina dan Hana tertawa pelan melihatnya.


***


Selama perjalan pulang dari rumah sakit, ponsel Karina tak berhenti bergetar karena banyaknya notifikasi yang masuk. Rata-rata dari mereka adalah menanyakan tentang Hana. Itu karena Karina yang sengaja menjadikan fotonya bersama Hana di taman rumah sakit sebagai WhatsApp story dengan caption.


"Akhirnya kita bertemu lagi setelah satu tahun setengah menghilang tanpa kabar. Sekarang makin cantik dengan hijabnya. Hana ❀️"


Banyak chat masuk ke ponsel Karina. Sedangkan Karina hanya membaca tanpa membalasnya.


Vera : "Ya ampun! Itu anak ternyata masih hidup?"


Shinta : "Hana makin cantik, ih. Kangen. Dia dimana?"


Lila : "HANAAAA!!!!!!"


Denis : "Ketemu dimana sama Hana?"


Rini : "Hana... Kemana aja dia?"


Dan masih banyak lagi. Daripada Karina pusing membalasnya satu persatu, lebih baik Karina membalasnya dengan menulisnya di story WhatsApp.


"Aku ketemu Hana di rumah sakit, gaes. Dia nungguin Rasyid loh. Enggak usah pada kepo kenapa Hana bisa nungguin Rasyid!"


Karina tak lagi membuka pesan-pesan yang masuk. Kecuali dari satu orang. Angga.


Pak Angga : "Di rumah sakit mana?"


Karina : "Bapak juga kepo, ya? πŸ˜…"


Pak Angga : "Saya serius."


Karina : "RSUD, Pak."


Karina menepuk dahinya karena sudah menulis tempat Rasyid dirawat. Padahal Hana sudah mewanti-wanti agar Karina tidak memberitahu kalau seandainya Angga bertanya.


Mau menghapusnya, percuma karena Angga sudah membacanya.


"Semoga Hana ngga marah sama aku!" Gumam Karina pelan.


🌹🌹🌹


Maaf baru up 🀭🀭 ayo ditimpuk bareng-bareng authornya πŸ˜…πŸ˜…


Marhaban ya ramadhan. selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2