Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 63


__ADS_3

"Hana! Hana tunggu dulu!"


Aku tak mau mendengar Mas Angga yang terus memanggilku. Aku berjalan cepat. Bukan menuju mobilnya tapi berjalan ke halte dekat butik yang ku datangi.


Sebenarnya yang mau menikah itu aku sendiri apa kami berdua?


Sejak memilih undangan sampai gaun pengantin yang dia ucapkan hanya kata "terserah kamu" saat aku bertanya tentang pendapatnya.


"Hana.." Mas Angga berhasil mencekal tanganku. Namun dengan cepat aku menepisnya.


Ku dengar Mas Angga menghela napasnya. "Kenapa?" Tanyanya lembut.


"Masih tanya kenapa?"


"Hah?"


"Ck. Yang mau menikah itu aku sendiri atau kita berdua, sih, Mas?"


"Ya kita berdua, dong."


"Aku cuma butuh pendapat kamu saat memilih undangan dan juga gaun tadi. Tapi kamu cuma jawab terserah kamu, sesuka kamu aja. Kesannya aku memaksa kamu buat nikahin aku!"


Mungkin ini yang dinamakan stres menjelang pernikahan. Apalagi pernikahanku dengan Mas Angga direncanakan dalam waktu dekat. Aku ingin segalanya bisa sempurna sesuai dengan keinginan aku.


"Kita bicara di mobil, yuk. Disini dilihat banyak orang." Ajaknya lembut.


Aku menurut saja karena juga tak ingin menjadi perhatian banyak orang. Adu mulut dengan pasangan didepan umum itu sangat tidak pantas.


"Maaf, ya?" Ujarnya lembut setelah kami duduk di dalam mobil. Aku mengalihkan pandanganku ke luar tak ingin melihatnya.


"Aku butuh pendapat, Mas, bukan sesuai keinginan aku aja. Aku ngajak kamu itu karena aku butuh pendapat kamu. Bukan untuk bilang terserah-terserah aja."


Kan, aku menangis. Sensitif sekali aku hari ini. Mudah marah, mudah menangis, mood hancur karena Mas Angga.


"Iya, Mas salah. Maaf, ya? Masuk lagi, yuk. Tadi mbaknya kelihatan bingung banget lihat kamu pergi gitu aja."


Sebenarnya ingin kembali, tapi aku sudah terlanjur malu pada Mbak butik itu. Apa kata dia? Pengantin wanita kabur saat fitting baju pengantin karena pengantin laki-laki yang tak memberi pendapat apapun.


"Udah nggak mood." Alibiku.


"Kok gitu?" Tanyanya tak suka.


"Aku mau sama mama aja besok. Kalau sama Mas Angga ujung-ujungnya juga terserah kamu lagi. Malas!"


Mas Angga merespon ucapanku dengan kekehan pelan. Kemudian, untuk kesekian kalinya Mas Angga mengucapkan kata maafnya.


Sejak dulu aku memang tak suka dengan jawaban seseorang apabila di mintai pendapat dan dia hanya menjawab "terserah kamu". Kata-kata itu terdengar ambigu.


Ahh.. Sudahlah. Kesal sendiri aku mengingatnya.


"Kita mau kemana sekarang?" Tanyanya bingung.


"Bakso!" Jawabku cepat.


"Siap, tuan putri!"


🌹🌹🌹


Aku melihat kak Devina berjalan memasuki distro Mas Angga. Dengan siapa aku tak sempat melihat karena seseorang yang bersamanya lebih dulu masuk.


Setelah jus yang ku pesan jadi, aku langsung membayarnya. Aku ingin cepat kembali ke distro Mas Angga dan ingin tahu apa yang kak Devina lakukan disana.


Tapi begitu sampai didepan pintu, aku mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam. Baru minggu lalu distro diresmikan, alhamdulilah pengunjungnya sudah lumayan banyak. Kalau aku nekat masuk ke dalam dan bertemu dengan kak Devina yang katanya belum bisa menerima pertunangannya dengan Mas Angga berakhir, aku takut akan jadi ribut meskipun aku tak berniat mencari keributan. Aku takut pengunjung distro Mas Angga akan terganggu dan membuat nama distro Mas Angga menjadi jelek.


Ku putuskan untuk berdiri dan bersandar di tembok dekat pintu masuk. Sudah lima belas menit tapi belum ada tanda-tanda kak Devina keluar. Aku jadi penasaran dengan apa yang ia lakukan didalam sana. Jangan sampai dia merayu Mas Angga.


"Kamu!?"


Aku terperanjat saat mendengar sebuah suara yang sedikit tinggi. Entah sejak kapan kak Devina sudah berdiri di depanku dan menunjukkan wajah garangnya. Matanya sedikit melotot dan kedua tangannya mengepal seolah-olah akan menonjokku.


"H-hai, kak!" Sapaku sedikit canggung. Mencoba tersenyum ramah meskipun kak Devina tak membalasnya. Atau bahkan tak berniat untuk membalas. "Apa kabar, kak Devina?"


"Nggak usah sok ramah kamu!" Hardiknya.


Kembali aku hanya tersenyum tipis tak ingin menjawab. Aku hanya menunduk memandang kedua sepatuku. Persis seperti seorang anak yang sedang di marahi oleh ibunya.

__ADS_1


"Puas, kan, kamu, lihat pertunangan ku dengan Angga gagal?


"Eh? Eng-enggak, kak. Aku.."


"Apa!? Nggak usah ngeles kamu. Kenyataannya sekarang kalian mau menikah, kan? Katanya nggak mau kenal dia lagi, nggak mau berhubungan dengan dia lagi. Nyatanya sekarang malah mau menikah. Dasar munafik!"


Aku tercengang mendengar ucapannya yang begitu lancar. Kapan aku bilang seperti itu pada kak Devina? Kecuali kalau kak Devina tahu dari Denis. Jadi saat itu Denis memata-matai aku, begitu?


"Nggak bisa jawab, kan, kamu?" Ucapnya merasa menang.


Aku menghela napas dan menghembuskannya pelan. Menghadapi orang macam kak Devina memang harus sabar. Butuh kesabaran yang tinggi. Heran, usia sudah seuisa Mas Angga tapi pikiran kenapa berhenti di anak usia 10 tahun, sih? Pikirannya gagal tumbuh itu orang.


"Kak Devina, kakak itu cantik, ya? Kenapa, sih, harus buang-buang waktu buat yang nggak bisa kakak raih? Bukannya lebih baik kakak move on, jalani hidup dengan tenang biar bisa dapat yang lebih baik juga dari Mas Angga? Hey, cowok nggak cuma satu, kak? Hargai diri kakak sendiri dengan tidak mempermalukan diri kakak didepan orang lain."


Kak Devina melengos tak suka mendengar ucapanku. Tapi dia belum juga pergi. Itu berarti aku masih bisa melanjutkan apa yang ingin aku bicarakan.


"Kakak tahu hati dan cinta itu nggak bisa dipaksa. Cinta dan hati tidak pernah tahu pada siapa dia akan menjatuhkan dirinya. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Kalau ternyata cinta itu untuk orang yang salah, ya kita harus melepasnya. Harus ikhlas. Semua sudah ada yang mengatur. Kak Devina jangan kayak orang nggak pernah sekolah nggak pernah belajar soal agama."


Ini mulut kenapa bisa bicara sepanjang dan selancar itu, sih? Kalau kak Devina tersinggung bagaimana? Tapi biarlah, biar dia bisa sadar kalau yang ia lakukan selama ini salah.


Kak Devina yang semula menunduk kini mendongak menatapku dengan tatapan yang... Entahlah.


Dia mendekatiku dan mengangkat satu tangannya seperti akan menampar ku. Aku memejamkan mata kuat-kuat karena takut kalau kak Devina benar-benar menamparku.


Satu detik.. Dua detik.. Hening. Kak Devina tidak menamparku. Tapi tiba-tiba saja dia memelukku.


"Kak?" Ucapku lirih. Aku tak percaya dengan apa yang kak Devina lakukan saat ini.


"Maafin kakak, ya, Na? Kakak banyak salah sama kamu."


"Kak?"


"Kakak udah tahu kamu pacaran sama Angga tapi kakak tetap memaksa pakdhe kakak buat deketin Angga dengan kakak. Kakak minta maaf sama kamu, Na. Maafin kakak, ya?"


"I-Iya, kak. Iya." Jawabanku seperti orang linglung. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Kak Devina memelukku dan meminta maaf padaku. Hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.


"Selamat, ya, buat pernikahannya. Semoga langgeng. Jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucapnya sambil menangkup kedua pipiku setelah ia melepas pelukannya.


"Iya, kak. Makasih banyak." Ucapku masih setengah sadar.


"Kalian ngapain?" Sebuah suara menginterupsi kami membuat kami menoleh. Ada Mas Angga dan seorang laki-laki yang sudah berdiri di dekat pintu sambil memandang aku dan kak Devina.


"Oh, iya. Kalian jangan lupa datang, ya!"


"Kemana?" Tanyaku bingung.


"Seminggu setelah kalian menikah, kakak juga akan menikah."


"Serius?" Aku memekik antusias. Kak Devina mengangguk kuat. "Sama siapa?" Tanyaku kepo.


"Itu," kak Devina mengangkat dagunya untuk menunjuk seseorang yang berdiri di samping Mas Angga. "Namanya Rendi."


Aku dan kak Rendi saling menyapa untuk berkenalan. Syukurlah, kak Devina sudah menemukan tambatan hatinya. Kak Devina sudah berhasil move on.


Tapi soal ucapanku tadi? Apa kak Devina tersinggung dengan kata-kataku yang begitu menusuk?


"Kak Devina, maaf ya tadi Hana ngomongnya udh keterlaluan." Ucapku merasa bersalah.


"Udah, nggak apa-apa. Aku paham, kok. Kalian harus datang, ya? Undangannya udah sama Angga."


Kak Devina dan kak Rendi berpamitan pergi setelah itu. Mas Angga juga sudah mengajakku masuk ke ruangannya.


Aku melihat undangan kak Devina yang berwarna pink berpadu dengan hijau muda dengan pita berwarna gold.


"Cantik," pujiku tanpa sadar.


"Iya, kamu cantik." Mas Angga menimpali dengan gombalan recehnya.


"Ish, undangannya yang cantik."


"Kamu lebih cantik," ucapnya lagi. Dan sukses membuat pipiku memanas. Jangan sampai terlihat kalau aku tersipu malu karena mendengar gombalannya.


"Ciye.. pipinya merah.." godanya sambil menoel-noel pipiku.


"Apa, sih!" Aku menepis tangannya. Perlakuannya membuat kerja jantungku menjadi lebih keras. Deg-degan, gaesss!!!

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jam empat sore, Mas Angga mengantarkan aku pulang. Setelah kejadian siang dimana kak Devina datang, Mas Angga meminta ijin untuk menyelesaikan pekerjaannya sebentar. Ada beberapa yang harus Mas Angga urus sebelum Mas Angga pindah ke Surabaya mengikuti aku.


Aku pernah berkata bahwa aku merasa bersalah karena Mas Angga harus meninggalkan pekerjaannya demi ikut denganku. Tapi Mas Angga mengatakan bahwa ia tak mempermasalahkan hal itu.


Semua masih bisa ia kerjakan dari jauh. Soal mengecek tiga distro miliknya, Mas Angga kembali mempercayakan pada Mbak Anggi seperti saat Mas Angga di Wonogiri dulu.


"Nanti kita lihat target market di Surabaya gimana, kita bisa buka cabang disana," ucapnya saat kami sedang membicarakan rencana kami ke depannya.


"Untuk sementara waktu budhe Ratih minta kita tinggal dirumahnya sampai kita dapat rumah yang cocok, Mas."


"Nggak masalah, Na. Selama itu sama kamu, Mas nggak akan keberatan."


Aku tersenyum lebar mendengarnya. "Makasih, ya, Mas.."


Papa, mama, Mas Ikhsan dan Teh Kinan sedang duduk di ruang tamu saat kami baru saja datang. Aku tak tahu dengan apa yang mereka bicarakan. Karena saat aku dan Mas Angga datang, mereka langsung terdiam. Namun melihat dari banyaknya foto-foto perumahan, aku yakin mereka sedang membicarakan tentang Mas Ikhsan dan Teh Kinan yang ingin tinggal di rumah mereka sendiri.


Kadang aku berpikir keras. Kalau sampai Mas Ikhsan pindah dan aku harus ke Surabaya, papa dan mama pasti kesepian dan tak ada yang menemani. Meskipun papa dan mama sama sekali tak menunjukkan rasa keberatan mereka, tapi aku yakin dalam hati mereka ingin tetap dekat dengan anak-anaknya.


"Gimana undangan sama baju kalian?" Tanya Mama saat kami sudah bergabung dengan mereka. Hal itu membuat aku dan Mas Angga saling berpandangan.


"Em.. Undangannya sudah, Ma." Jawabku pelan.


Mama mengangguk puas. "Kalau bajunya?"


"Emm.. Belum."


"Hah!?" Mama terkejut. "Terus seharian kalian ngapain cuma ngurus undangan sama baju aja nggak selesai?"


"Ma..." Aku mencoba menjelaskan. Tapi mama mengangkat satu tangannya meminta aku berhenti untuk berucap.


Mama mengambil ponselnya yang di atas meja. Berdiri kemudian menelepon seseorang.


Sebelum menjauh, masih ku dengar mama menggerutu dengan bahasa jawanya. "Aduh, bocah dipercoyo kon ngurus siji wae ora rampung. Pacaran terus gaweane. Mama kan ngurus liyane." (Aduh, anak dikasih kepercayaan buat ngurus satu aja nggak selesai. Pacaran terus kerjaannya. Mama kan harus ngurus yang lain.)


Mama itu orang Sunda, sebenarnya. Tapi hampir tiga puluh tahun di Karanganyar membuatnya begitu fasih bahasa Jawa.


"Emang harus di pingit kalian ini," celetuk Mas Ikhsan.


"Heh! Apaan!?" Tanyaku tak suka.


"Iya, harus dipingit. Ya, kan, Pa?" Mas Ikhsan meminta persetujuan Papa. Papa tertawa pelan.


"Harusnya kalian itu di pingit. Sebulan nggak boleh ketemu."


"Gimana bisa sebulan nggak ketemu? Sepuluh hari lagi nikah. Wlee.." Aku menjulurkan sedikit lidahku mengejeknya.


"Ya itu keberuntungan kalian," ujarnya kalah.


"Bener kata Ikhsan, kalian harus di pingit," mama yang baru saja kembali ke ruang tamu menimpali.


"Kenapa harus di pingit?" Protesku.


"Ya memang tradisinya begitu. Pokoknya sampai kalian akad nggak ada ketemu-ketemuan. Hana dirumah, Angga dirumahnya sendiri sana. Nggak ada acara vidio call, telponan, atau bahkan WhatsApp-an."


"Kok gitu, sih, Ma? Nggak..."


"Sudah," sela Mas Angga sebelum aku menyelesaikan ucapanku. "Bener kata Mama, kita nggak usah ketemu dulu."


Aku memicingkan mata tak suka. Ini serius Mas Angga menyetujui kemauan Mama?


"Mas Angga suka gitu nggak ketemu sama aku?"


"Bukan begitu. Tapi..."


"Ahh.. Terserah kalian aja!"


Aku berdiri dan berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarku. Bisa banget, sih, Mas Angga bilang seperti itu? Seneng mungkin, ya, tak bertemu denganku?


"Nggak mau lebih lama dulu sama Angga sebelum dipingit?" Teriak Mas Ikhsan yang masih bisa ku dengar. Tapi aku tak peduli. Ku tutup pintu kamarku dengan sedikit keras.


Melepas sepatu dan juga hijab ku lalu aku menjatuhkan diriku di atas ranjang.


"Hari yang melelahkan dan juga menyebalkan."

__ADS_1


🌹🌹🌹


Belum juga sampai di part angga-hana nikah, ya? ada yang nggak sabar nunggunya πŸ˜…πŸ˜…


__ADS_2