
POV : HANA
"SURPRISE!!!!"
Jantungku seperti merosot kebawah mendengar teriakkan orang-orang yang ternyata sudah berada didalam rumahku. Ini kenapa mereka bisa masuk ke rumahku, sih?
"Ini?" Ucapku tak percaya. Sungguh, aku tak bisa berkata-kata lagi. Ini semua begitu mengejutkan. Aku speechless dibuatnya.
"Happy birthday, Hana, sayang," Karina memelukku. Tapi aku malah menangis. Hari ini aku ulang tahun, ya? Ya ampun, aku sampai tak mengingatnya sama sekali. Unchh.. My sweet seventeen.
"Kalian tadi jahat banget sama aku," ucapku berbarengan dengan isakan kecil. "Bentak-bentak aku, terus diemin aku, habis itu aku juga ditinggalin sendiri. Aku sampai mikir kalian nggak mau temenan sama aku lagi," ucapku panjang.
"Iya, maaf, yaa. Selamat ulang tahun pokoknya. Wish you all the best, Hana! Makin langgeng ya sama Pak Angga?" Karina menggodaku dengan menyebut nama Mas Angga. Aku mencubit perutnya pelan dan membuatnya mengaduh.
"Aku malu," keluhku manja. Disambut kekehan pelan dari teman-temanku.
Selanjutnya satu persatu dari mereka mulai memelukku dan mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Mulai dari Lila, Shinta, Rini, Metha, Risma, Dewi, hampir semuanya ada.
"Tapi ngomong-ngomong, gimana kalian bisa masuk?" Tanyaku setelah aku tersadar dari semuanya. Aku celingukan ke kanan dan ke kiri, barangkali ada Mama atau Papa, atau malah Mas Ikhsan. Tapi mereka tak ada. "Dapat kunci rumah dari siapa?" Tanyaku pada Lila sambil berpura-pura galak. Seperti yang dia lakukan tadi.
"Emm.. Dari.. Dari itu.." Aku memicingkan mata melihat Lila yang gelagapan seperti itu. Aku jadi curiga.
"Dari saya."
Ucapan seseorang membuat kami semua menoleh ke arah pintu. Disana, sudah berdiri laki-laki bertubuh tegap dan tinggi. Menggunakan kemeja berwarna maroon yang digulung sampai ke siku. Dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam. Ditangannya membawa sebuket bunga mawar putih dan merah.
Aku membelalakkan mataku. Ini apa maksudnya, sih?
"Pacarnya enggak disambut?" Teman-temanku kemudian menggodaku dengan deheman-deheman pelan. Aku tersenyum malu. Ih, biasa juga malu-maluin.
Aku berjalan pelan mendekati Mas Angga yang entah kenapa saat ini terlihat begitu tampan. Perasaan tadi pakai kemeja warna biru muda, kenapa sekarang pakai warna maroon?
Godaan masih saja terlontar dari mulut teman-temanku. Katanya jalanku terlalu pelan, sok malu-malu, aku kelamaan. Aahh.. Mereka mulutnya tak terkontrol banget, sih!
"Selamat ulangtahun, ya? Semoga apa yang kamu cita-citakan bisa tercapai dengan mudah. Mas akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu," aku terharu mendengarnya. Baru saja aku merentangkan kedua tanganku untuk memeluknya, suara protes dari teman-temanku menghentikan niatku.
"Pak, kita makannya kapan, nih, Pak?"
Tunggu! Itu suara Indra. Dimana dia?
Ternyata, dibelakang Mas Angga sudah berdiri teman-temanku yang laki-laki. Hanya beberapa, sih. Denis saja tidak ada disana.
Masing-masing dari mereka ada yang memegang bunga, kotak hadiah, dan juga boneka Teddy bear berwarna biru muda, warna kesukaanku. Dan itu semua kado dari Mas Angga.
Kami duduk didepan rumah dengan menggelar tikar. Lebih luas dan tidak terlalu sumpek. Dalam rumah sebenarnya juga cukup, tapi mereka memilih di luar dengan alasan panas dan gerah. Padahal AC juga ada. Alasan mereka saja agar bisa mengambil buah rambutan dan juga mangga.
Aku yang ulang tahun, tapi semua makanan yang kami nikmati saat ini dari Mas Angga. Buat acara perpisahan, katanya. Aduh, kok aku sedih, ya, bilang acara perpisahan.
Iya, hari Senin Mas Angga sudah harus ke Wonogiri. Tinggal tiga hari lagi. Mas Angga belum bisa memastikan bisa menemui aku kapan lagi. Pasti disana Mas Angga sibuk.
Semoga kami kuat menjalani LDR, ya?
"Jadi?" Aku mulai meminta penjelasan saat teman-temanku sudah mulai makan.
"Kita sebenarnya udah tau kalau kamu dan Pak Angga itu pacaran," aku membelalakkan mataku mendengar Shinta mulai bercerita. Bagaimana bisa?
__ADS_1
"Jadi sebenarnya kita itu mau buat kejutan buat kamu. Kita pengen ngerjain kamu tapi masih bingung mau ngerjain yang kayak gimana. Terus beredar kan berita kamu ditarik-tarik Pak Angga diparkiran? Malamnya Pak Angga menghubungi si Lila dan cerita semuanya," aku melirik Mas Angga yang duduk di dekatku, tapi dia pura-pura cuek. Ish! Nyebelin!
"Setelah itu kita jadi punya cara buat ngerjain kamu. Pak Angga sendiri juga minta kami sedikit berakting didepan kamu. Hihi," Shinta dan yang lain cekikikan melihat ekspresi ku yang melongo mendengar cerita Shinta.
"Jadi Mas Angga terlibat juga?" Tanyaku pada Mas Angga sambil menatapnya tajam. Mas Angga hanya nyengir merasa tak bersalah. "Kayaknya kalian cocok jadi pemain sinetron," gerutuku yang disambut tawa renyah oleh mereka.
"Jadi tadi pagi pas Mas Angga sempat ngobrol sama mama itu juga tentang ini?" Mas Angga mengangguk pasti.
Nyebelin, sih. Tapi juga sweet banget ini.
Satu per satu teman-temanku mulai meninggalkan rumahku. Kini, tinggal aku dan Mas Angga saja berdua. Iya, cuma berdua. Maka dari itu saat kami masuk kedalam rumah, aku membiarkan pintu rumah terbuka selebar-lebarnya. Takut khilaf! Ehm! Cukup, Na!
Mas Angga mendekatiku yang duduk agak jauh darinya. Meraih tanganku kemudian menggenggamnya erat.
"Jaga diri baik-baik, ya, selagi Mas enggak ada," ucapnya serius. Sungguh, aku ingin waktu berjalan lebih lama lagi. Aku tak mau berjauhan dengan Mas Angga.
"Jangan nangis, dong," ucapnya sambil menghapus air mataku. Sejak kapan aku menangis?
"Kalau kamu nangis gini Mas jadi nggak tega mau ninggalin," ucapnya sendu.
"Jangan gitu, Mas. Hana cuma mau nangis hari ini aja, kok. Sedih sebentar boleh, kan? Hana janji besok Hana enggak nangis lagi. Biar Mas Angga disana juga bisa bekerja dengan tenang. Hana nggak mau jadi beban pikiran buat Mas Angga."
Mas Angga memelukku yang masih menangis dengan erat. Aku tumpahkan segala rasa yang ada. Entah kapan aku bisa memeluknya lagi. Entah kapan kami bisa duduk bersama lagi seperti ini.
"Mas janji kalau ada waktu Mas akan pulang dan nemuin kamu," Mas Angga berjanji. Dia hanya mencoba menghiburku.
"Aku hanya menitipkan kamu kepada Allah, Mas. Aku tak bisa menjaga hatimu dari dekat, tapi Allah bisa menjagamu setiap saat," ucapanku membuat Mas Angga semakin mengeratkan pelukannya.
"Tetap jaga komunikasi, Na. Kita harus saling percaya. Itu modal utama kita dalam menjalani hubungan jarak jauh ini. Mas juga nggak bisa lagi jagain kamu dari dekat. Kamu baik-baik, ya? Jaga makannya, jangan banyak makan pedas. Tidurnya jangan malam-malam. Belajar yang rajin, biar bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Lalu masuk universitas yang diinginkan dengan mudah." aku hanya mengangguk kuat dan mengaminkan doa Mas Angga.
Tapi sekarang aku begitu menyayanginya. Bahkan aku tak ingin berjauhan dengannya.
**
Mas Angga menunggu Mama, Papa, dan Mas Ikhsan pulang. Kata Mas Angga, dia ingin berpamitan kepada mereka.
Momen berpamitan tak seharu saat Mas Angga berpamitan denganku tadi. Mama, papa dan Mas Ikhsan hanya berpesan untuk menjaga diri baik-baik dan sering memberi kabar.
Mereka malah tersenyum geli melihatku yang terus menangis.
Ayolah, Hana! Angga pergi untuk bekerja. Bukan buat ninggalin kamu selamanya.
Okey.. Aku bisa. Aku tak akan lagi menangis. Mas Angga tak boleh melihatku menangis terus menerus.
Kamu bisa, Hana! Kamu bisa.
Saat Mas Angga berpamitan untuk pulang, aku sudah bisa tersenyum ceria. Mas Angga tersenyum bangga melihatku yang sudah kembali ceria.
Malam harinya, Mama, papa dan Mas Ikhsan mengajakku untuk makan malam diluar. Katanya, untuk merayakan ulang tahunku. Makan diluar ini maksudnya makan di restoran ya pemirsaah. Bukan makan, terus dibawa keluar dari rumah lalu gelar tikar di halaman. Itu namanya pesta kebun.
***
Hari Minggu, Mas Angga mengajakku pergi jalan-jalan. Mas Angga menjemputku tepat pukul tujuh pagi. Sekarang aku sudah merasa bebas kalau jalan dengan Mas Angga. Selain satu sekolah sudah tahu hubungan kami, Mas Angga juga sudah bukan lagi guruku. Statusnya hanya pacarku.
Kami sudah bebas mau jalan kemana saja. Jadi kali ini Mas Angga mengajakku naik gunung. Iya naik gunung. Gunung Gamping yang berada di daerah Tawangmangu.
__ADS_1
Padahal, aku lebih suka pantai. Aku memang suka dengan pemandangan dari atas gunung, tapi aku tak kuat kalau aku harus mendaki gunung. Beruntung Gunung Gamping ini tak terlalu tinggi. Cukup sekitar lima belas menit sudah sampai puncaknya.
Kami tertawa becanda sambil berfoto ria. Untuk sejenak kami melupakan kesedihan karena besok harus sudah berpisah. Besok pagi-pagi sekali Mas Angga harus sudah berangkat.
Setelah dari Gunung Gamping, Mas Angga mengajakku pergi ke Lawu Park. Setelah dari Lawu Park kita pergi ke Sakura Hils. Kami hanya makan, becanda dan berfoto untuk mengabadikan momen kami.
Setelah sholat Maghrib, kami baru mulai perjalanan dari Tawangmangu untuk pulang ke Jaten. Sepanjang perjalanan Mas Angga tak melepaskan tanganku. Hanya sesekali untuk mengendalikan setir mobilnya.
Tiba-tiba Mas Angga mengeluarkan ponselnya lalu memutar sebuah lagu.
Hanya dirimu yang ku cinta
Tak kan membuatku jatuh cinta lagi
Aku merasa kau yang terbaik untuk diriku
Ini kan lagu yang dulu pernah Mas Angga nyanyiin buat aku!
Aku menatapnya yang tersenyum hangat. Pandangannya masih fokus ke jalanan.
*Walau ku tahu kau tak sempurna
Tak kan membuatku jauh darimu
Aku merasa kau yang terbaik untuk diriku
Tuhan, jagakan dia
Dia kekasihku, kan tetap milikku
Aku sungguh mencintai
Sungguh menyayangi
Setulus hatiku*
Aku begitu tersentuh. Dulu saat Mas Angga menyanyikan lagu ini, aku tak se'mellow ini.
Apa aku terlalu baper karena besok kita sudah berjauhan?
Aku kembali menangis. Padahal aku sudah janji kalau tak akan lagi menangisi perpisahan ini.
Tiba-tiba Mas Angga menepikan mobilnya. Setelah berhenti, dia melepaskan sit belt-nya lalu memelukku.
"Maaf Mas, Hana nangis lagi," ucapku terbata karena aku menangis sesenggukan.
"Enggak apa-apa, sayang. Menangis lah! Asal setelah ini kamu harus baik-baik saja. Besok pagi Mas berangkat. Pesan Mas tetap sama. Jaga diri baik-baik."
Aku mengangguk dan tak bisa berkata-kata lagi. Aku membalas pelukannya tak kalah erat. Menghirup aroma parfum dari tubuh Mas Angga yang entah kapan lagi aku bisa menghirupnya.
"I will be miss you, Mas Angga!"
πΉπΉπΉ
tarik napas dulu sebelum LDR-an yaa π π
__ADS_1