Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 58


__ADS_3

Tak pernah terpikirkan oleh Angga kalau ia akan mencintai seorang wanita sampai sedalam ini. Satu setengah tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tapi Angga masih saja berharap Hana akan kembali padanya.


Kini memang Hana sangat dekat dengan Rasyid. Angga tak tahu pasti apakah Hana juga memiliki perasaan lebih kepada Rasyid. Tapi hal itu tak membuat Angga mundur untuk terus berusaha mendapatkan Hana kembali. Baginya, tugasnya hanyalah berusaha dan berdoa. Masalah hasil tetap tuhan yang menentukan. Selama lafal akad belum terucap, berarti masih ada kesempatan.


Angga menjalankan mobilnya menuju RSUD tempat Rasyid dirawat. Angga tahu mungkin disana Angga akan menyaksikan pemandangan Hana yang begitu setia menemani Rasyid saat Rasyid dalam keadaan seperti ini. Angga dengar Rasyid belum juga sadar dari komanya sejak seminggu yang lalu.


Angga bukan manusia yang tak punya perasaan. Tentu dia merasa kasian dengan keadaan Rasyid dan berharap semoga Rasyid bisa pulih kembali.


Baginya Rasyid tetap muridnya. Bahkan dulu Rasyid bukan hanya sekedar murid bagi Angga. Rasyid bisa menjadi teman yang enak untuk diajak ngobrol karena anaknya yang mempunyai banyak wawasan dan selalu nyambung setiap berbicara dengan Angga.


Angga melangkah pelan menuju ruang ICU. Wajahnya terlihat tenang kendati hatinya merasa gugup akan bertemu dengan Hana. Angga juga sudah menyiapkan basa-basi kalau saja orangtua Rasyid akan menanyainya ini itu.


Mata Angga terbelalak saat melihat Hana duduk sendiri di ruang tunggu sambil merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Hana memejamkan matanya dan memijat pangkal hidungnya pelan. Mungkin karena ia terlalu lelah.


Hati Angga mencelos mendapati kenyataan ini. Hana terlihat begitu setia menunggu Rasyid. Bahkan lelah dan mengantuk pun tak ada hiraukan.


"Begitu sayangnya kamu sama Rasyid, Na," batin Angga menjerit.


Dengan berani Angga melangkah pelan mendekati Hana. Hana berjengit kaget saat merasakan kursi panjang yang ia duduki berderit.


"Pak Angga!!?" Pekik Hana terkejut.


"Kamu memanggilku Pak?" Tanya Angga heran dengan mengangkat sebelah alisnya.


Hana bergerak salah tingkah. Masih belum sepenuhnya percaya bahwa kini ia bisa duduk berdekatan lagi dengan Angga meskipun terpisah satu tempat duduk.


"Apa kabar si Rasyid?" Tanya Angga memecah keheningan yang terjadi meninggalkan pertanyaannya yang tak dijawab oleh Hana.


"Baik, Pak. Alhamdulillah.." jawab Hana pelan.


"Alhamdulillah," jeda sepuluh detik. "Kalau kamu apa kabar?" Tanyanya tanpa menatap Hana. Angga sadar kalau Angga terus menatap Hana, sudah pasti Hana akan menghindar dan kembali salah tingkah. Orang kalau sudah salah tingkah apapun yang ia lakukan pasti tidak akan benar.


"Ba-baik, Pak. Alhamdulillah," jawab Hana gugup. Hana takut. Takut kalau usahanya selama satu setengah tahun untuk melupakan kenangannya bersama Angga sia-sia karena hari ini harus berhadapan dan berbicara dengan Angga. Meskipun Hana tahu bahwa selama ini usahanya tak membuahkan hasil. Nyatanya, saat kembali bertemu Angga, ada perasaan yang tak bisa dijelaskan.


"Boleh saya masuk untuk melihat Rasyid?"


"Eh? Bo-boleh, Pak. Silahkan!"


Angga mengangguk lalu membuka pintu ruang ICU. Seperti biasa, sebelum menemui pasien, yang menjenguk harus mengenakan pakaian steril berwarna hijau.


"Apa kabar Rasyid?" Tanya Angga pelan meskipun Angga tak akan mendapat jawaban dari mulut Rasyid.


"Saya prihatin dengan keadaan kamu sekarang. Lekas sadar dan sehat kembali, ya? Kasian kedua orangtua kamu. Dan juga... Hana."


Angga tersenyum miris setelah mengucapkan nama Hana yang ia jadikan penyemangat untuk Rasyid. "Dia setia banget nunggu kamu. Saya tahu kamu pasti lebih tahu hal itu daripada saya."


Sejenak Angga terdiam untuk mengambil napas yang terasa sesak.


"Saya tidak tahu sejauh mana hubungan kalian. Yang saya tahu kalian terbiasa bersama karena ternyata kalian satu universitas. Hal yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Kamu yang selama ini sering berkomunikasi dengan saya bisa serapat itu menutupi tentang Hana kepada saya."


"Maaf, Pak. Waktunya sudah habis. Tolong bapak meninggalkan pasien," tegur seorang perawat. Angga mengiyakan.


Sebelum keluar, Angga memandang lekat-lekat wajah Rasyid yang tertidur. "Cepat bangun! Saya butuh kamu untuk bersaing dalam mendapatkan hati Hana," ucap Angga sebelum pergi meninggalkan Rasyid.


Setelah menutup pintu ruang ICU, Angga melihat Hana sedang bersandar sambil memainkan ponselnya. Hana belum sadar kalau Angga sudah keluar dan sekarang berdiri didepan Hana.


"Lagi lihat apa?"


"Astaghfirullah..!" Seketika Hana bangkit dari duduknya karena terkejut saat mendengar suara Angga yang entah sejak kapan sudah berdiri didepannya. "Pak Angga ngagetin, ih!" Sungut Hana kesal.


Angga mengulum bibirnya menahan senyumnya walaupun rasanya ia ingin tersenyum lebar karena bisa menyaksikan kembali saat Hana menggerutu kesal. "Lagian kamu lihat ponsel sampai seserius itu. Untung saya yang datang. Kalau maling yang datang gimana?"


Tak ingin menjawab, Hana kembali menjatuhkan dirinya keatas kursi dan kembali memainkan ponselnya. Tak peduli dengan Angga yang terus memperhatikan dirinya Angga menghela napas pelan melihat hal itu.


"Orangtua Rasyid kemana?"


"Pulang, Pak. Gantian sama saya yang nunggu Rasyid disini."


Hening. Kini keduanya tak ada yang berbicara sama sekali.


"Mau menemani saya minum sebentar?" Tanya Angga basa-basi. Sebenarnya itu hanya alasan Angga saja agar bisa lebih lama lagi bersama Hana. Tak begitu berharap Hana akan mengiyakan permintaannya atau tidak. Kalau iya sudah pasti Angga bersyukur, kalau tidak Angga juga akan berusaha untuk tidak kecewa.


"Minum apa?" Tanya Hana polos.


"Minum nasi. Ya minum air lah!" Angga berpura-pura kesal.

__ADS_1


"Iya, tau! Sejak dulu kalau minum itu yang diminum air bukan nasi. Maksud saya bapak mau minum air apa?" Jawab Hana pelan tapi bernada kesal.


"Jus alpukat," jawab Angga cepat membuat Hana menahan napas sebentar. "Ngomong-ngomong jangan panggil saya bapak. Saya berasa sangat tua!"


"Kan bapak memang sudah tua. Sudah menikah itu artinya ya sudah tua, apalagi kalau udah punya anak. Masak masih minta di panggil "Mas"?"


Menikah?


Siapa yang menikah?


Angga bertanya-tanya dalam hati. "Kalau sudah menikah artinya sudah tua, apalagi kalau udah punya anak. Masak masih minta di panggil "Mas"?" Angga mengulang ucapan Hana di dalam hati.


"Apa artinya Hana mengira aku sudah menikah?" Tanyanya dalam hati.


"Siapa yang menikah?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Angga.


"Bapak, kan? Tunangan udah hampir dua tahun yang lalu. Pasti sekarang Pak Angga sudah menikah, kan? Wah, selamat ya, Pak? Saya turut bahagia, loh. Kak Devina sudah hamil apa belum?" Tanya Hana tak karuan. Sesungguhnya itu hanyalah cara agar Hana dapat menutupi rasa sakit saat membayangkan hal itu telah terjadi.


Angga semakin kebingungan di buatnya. "Jadi selama ini Hana mengira kalau aku sudah menikah?" Lagi, Angga hanya sanggup bertanya di dalam hati.


"Emm.. Lebih baik bapak pulang. Jam besuknya sudah habis," ucap Hana untuk mengalihkan perhatian.


"Hana.. Ada yang harus saya luruskan disini," Angga menyela cepat. Hana diam namun matanya menatap Angga penuh dengan tanda tanya.


"Jadi sebenarnya saya dan Dev..."


"Eh, ada tamu?"


Angga menghembuskan napas kesal mendengar ucapan salah seorang ibu yang baru datang dan memutus ucapannya. Angga tahu itu adalah Nilam, ibu Rasyid. Angga pernah beberapa kali bertemu dengannya saat ia masih mengajar dulu.


"Bu?" Angga menyapa sopan kendati hatinya merasa begitu kesal. "Saya Angga, guru Rasyid semasa SMA," Angga memperkenalkan diri.


"Oh, ya ampun! Makasih, Pak, sudah repot-repot menjenguk Rasyid. Doakan Rasyid segera sadar, ya, Pak?"


Angga mengangguk pasti. "Pasti, Bu. Semoga Rasyid bisa segera sadar."


Setelah berbasa-basi sebentar, Angga pamit undur diri. Dalam hati berharap Hana mengantarnya sampai tempat parkir. Namun harapan tinggal harapan. Jangankan mengantar, melihat Angga saja Hana enggan.


🌹🌹🌹


Aku tak pernah menyangka kalau akhirnya aku dipertemukan kembali dengan Mas Angga dirumah sakit tempat Rasyid dirawat. Dari mana Mas Angga tahu kalau Rasyid dirawat disini?


Aku gugup? Jangan ditanya! Kalau bisa, aku ingin menghilang untuk sebentar saja sampai Mas Angga meninggalkan rumah sakit ini.


Ketika berbicara dengannya pun aku terlihat salah tingkah. Aduh kenapa, sih, aku mendadak salah tingkah saat berada didepannya?


Terlebih saat kami membahas soal pernikahannya. Aku berusaha untuk bisa berbicara dengan normal dan panjang. Sejujurnya, aku merasa sakit hati saat bertanya akan hal itu. Beruntung Bu Nilam datang tepat waktu. Jadi kami tak harus melanjutkan obrolan kami seputar pernikahannya.


Saat Bu Nilam dan Mas Angga berbasa-basi sebentar, aku tak fokus mendengarkan mereka. Aku mencoba mencari kesibukan lain agar tak terlibat dalam pembicaraan mereka.


Yang aku tahu hanyalah saat Mas Angga berpamitan untuk pulang. Aku hanya menunduk tak berani melihatnya. Itu semua aku lakukan semata-mata untuk menghargai Mas Angga yang sudah berstatus suami orang. Dan juga tak ingin hatiku kembali terjatuh dalam pesonanya yang tak banyak berubah sejak dulu.


Tapi kemana kak Devina? Kenapa setiap kami bertemu, kak Devina pasti tidak ada?


"Hana?"


"Eh, iya Bu?" Aku terkejut mendengar suara Bu Nilam memanggilku. "Ada apa, Bu?" Tanyaky kemudian.


"Kamu pulang dulu saja, besok kesini lagi. Jangan terlalu lelah, Hana! Kamu harus istirahat. Rasyid pasti akan segera sembuh, kok."


"Tidak apa-apa Bu Nilam sendiri?" Tanyaku ragu.


"Nanti papa Rasyid akan segera datang."


"Tapi, Bu.." aku mencoba menolak.


"Kalau ada apa-apa dengan Rasyid, kami pasti akan menghubungi kamu," ucap Bu Nilam berusaha meyakinkan aku.


Mau tak mau, aku menuruti ucapan Bu Nilam agar aku pulang terlebih dahulu. Sebelumnya aku sudah berpamitan dengan Rasyid meskipun hanya lewat jendela.


Hujan turun dengan derasnya saat aku baru saja sampai di lobi rumah sakit. Aku hanya membawa motor tanpa membawa jas hujan. Salahku memang!


Akhirnya menunggu hujan reda di depan pintu utama rumah sakit dan kembali memainkan ponselnya.


"Mau saya antar pulang?"

__ADS_1


"Eh?"


Suara seseorang mengejutkan ku sampai ponselku hampir terjatuh. Si tersangka utamanya malah tertawa pelan melihatnya.


"Saya kaget, lho, Pak. Serius!" Sungutku tak suka.


Aku sempat melihat senyum Mas Angga sebelum akhirnya aku memilih menundukkan kepala. Senyum yang tak pernah berubah. Senyum yang sama seperti senyum dua tahun lalu.


Hujan... Cepatlah reda agar aku bisa segera pergi dari hadapan Mas Angga!


Semakin lama, bukannya semakin reda malah semakin deras. Mas Angga juga masih saja berdiri di dekatku. Ingin rasanya aku bertanya kenapa dia masih disini dan belum pulang. Padahal dia berpamitan pulang sudah setengah jam sebelum aku juga berpamitan. Apa yang dia lakukan?


"Saya sengaja nungguin kamu," ucapnya seolah tahu apa yang aku pikirkan.


"Buat apa bapak nungguin saya?"


"Sudah saya bilang, ada yang harus saya luruskan. Hana, bisakah kita bersikap biasa saja?"


"Biasa yang seperti apa, pak?" Tanyaku tak paham dengan ucapannya.


"Ck, kamu masih saja memanggilku bapak."


"Kan saya hanya mencoba untuk sopan, Pak. Apalagi bapak sudah menikah..."


"Aku belum menikah!"


"Hah?" Ucapan Mas Angga membuatku tercengang. Ternyata memang banyak hal yang sudah terlewatkan selama aku pergi. Lalu apa sekarang? Dia mengatakan kalau belum menikah.


"Jadi?" Tanyaku menggantung.


"Aku dan Devina sudah mengakhiri hubungan kami."


Deg! Mereka putus?


Ucapan Mas Angga benar-benar membuatku shock sampai aku tak bisa berkata-kata lagi.


"Jangan bilang kalau kalian putus itu gara-gara aku!" Ucapku pelan. Sungguh, aku tak ingin menjadi penyebab berakhirnya hubungan mereka.


"Bukan karena kamu. Tapi memang aku yang tak mencintai dia. Semua aku jalani dengan terpaksa, Na. Karena aku lebih memilih kamu daripada dia."


"Ya itu sama aja, dong. Artinya memang aku yang menyebabkan kalian putus," ucapku kacau.


Hidupku ini apa, sih? Aku membuat pertunangannya dengan kak Devina gagal. Aku membuat Rasyid memendam rasa selama ini. Aku juga penyebab Rasyid kecelakaan.


"Jangan menyalahkan diri kamu. Semua memang sudah jalannya seperti ini," Mas Angga mencoba menghibur ku. Tapi aku tak bereaksi apapun karena aku memikirkan hal-hal yang sudah terjadi dimana aku lah penyebabnya.


"Hidup itu Allah yang menentukan. Kita hanya menjalani. Kalau Allah membuat skenario hidup kita sepeti ini, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali menerima dan menjalani. Jadi tidak perlu menyalakan diri kamu sendiri. Sekali lagi, ini sudah jalan yang diberikan oleh Allah. Nikmati, jalani, syukuri."


Perkataannya membuat hatiku terasa disiram air es. Adem. Semua memang sudah takdir. Bagaimanapun itu kita harus menerima dan menjalaninya dengan ikhlas.


Hari mulai sore, tapi hujan tak kunjung reda. Membuatku terjebak disini dengan Mas Angga.


Aku tak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Entah kenapa ada kelegaan tersendiri saat Mas Angga mengatakan kalau dia belum menikah.


"Na," panggilnya setelah kami diam cukup lama karena sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Ya?"


"Kamu sama Rasyid.... Sudah sejauh mana?"


Aku gelagapan dan tak tahu harus jawab bagaimana. Mana mungkin kalau aku mengatakan kalau aku tidak ada apa-apa dengan Rasyid. Bisa-bisa dia mengira kalau aku memberinya harapan dan kesempatan.


Sebenarnya iya, sih. Eh apaan, sih?


Tapi biarlah ini menjadi pertanyaan besar baginya. Kalau dia ingin kembali, aku ingin melihatnya berjuang sekali lagi.


Eh... Ge-er banget kamu, Na! Haha. Tak apa, dong! Kelihatan, kan, kalau Mas Angga masih berharap sama aku?


🌹🌹🌹


Up up up .. mohon maaf lama.. semalem udah ngetik dapet setengah, tapi ketiduran. haha 🤣🤣


semoga suka, ya... 😘


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ❤️

__ADS_1


__ADS_2