
Angga menunggu Rasyid keluar dari tempat resepsi pernikahan Ikhsan. Acara resepsi sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu. Namun baik Rasyid, Hana atau keluarga Ikhsan tak kunjung keluar dari dalam gedung.
Berbagai pertanyaan sudah Angga siapkan untuk menginterogasi Rasyid. Bagaimana Rasyid bisa bertemu dengan Hana? Bagaimana Rasyid bisa sedekat itu dengan Hana? Apa hubungan mereka sampai Rasyid bisa memakai seragam keluarga Hana? Bahkan sudah sejauh mana hubungan mereka sampai Rasyid dengan romantisnya menyanyikan lagu cinta untuk Hana di hadapan keluarga Hana dan para tamu undangan.
Tak lama kemudian, Rasyid keluar dan diantar oleh Hana. Angga segera bersembunyi agar dirinya tak terlihat oleh Hana namun Angga sendiri masih bisa melihat mereka.
Hati Angga kembali memanas saat melihat Hana tertawa lepas setelah Rasyid berbicara sesuatu. Bahkan sebelum Rasyid pergi, Rasyid sempat mengusap kepala Hana dengan lembut. Keduanya saling melambaikan tangan saat Rasyid mulai menjauh dari Hana.
"Rasyid!" Panggil Angga saat Rasyid lewat di dekat mobilnya.
Rasyid menoleh. "Eh, Pak Angga? Apa kabar, Pak?" Rasyid tersenyum dan menghampiri Angga lalu menyalaminya.
"Baik. Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Angga tanpa basa-basi.
"Bisa, Pak," jawab Rasyid cepat. Dalam hatinya ia sudah tahu apa yang akan Angga bicarakan.
"Tidak disini. Saya tunggu kamu di cafe depan!" Ucap Angga lalu meninggalkan Rasyid yang masih berdiri di tempatnya.
Rasyid menghela napas pelan. Kemudian berjalan menuju mobilnya dan mengikuti mobil Angga dari belakang.
Kedua lelaki berbeda usia yang dulu berstatus sebagai guru dan murid itu duduk dan saling diam. Tak ada lagi keramahan di wajah Angga karena rasa cemburunya.
"Pak Angga mau bicara apa?" Tanya Rasyid yang mulai merasa jengah karena Angga hanya diam sejak keduanya duduk di cafe tersebut.
"Ada hubungan apa kamu sama Hana?" Tanya Angga dengan menatap tajam ke arah Rasyid.
Benar apa yang Rasyid pikirkan. Apa yang Angga bicarakan pasti soal Hana.
"Sepertinya bapak tidak perlu tahu," jawab Rasyid enteng.
"Bagaimana bisa kalian sedekat itu?"
"Tentu bisa, Pak. Kami terbiasa bersama, Hana sendiri juga berstatus single. Jadi apa masalahnya?" Jawaban Rasyid seolah menantang Angga.
"Terbiasa bersama? Maksud kamu?" Tanya Angga seraya memicingkan mata.
"Pak Angga pasti tak percaya bahwa selama ini kami, emm.. Maksudnya saya dan Hana, itu satu kampus."
Ucapan Rasyid sukses membuat Angga terkejut dan membelalakkan matanya. Selama ini Angga begitu kelimpungan mencari keberadaan Hana dan ternyata Rasyid bertemu Hana setiap hari. Selama ini Angga dan Rasyid saling menyimpan nomor ponsel dan sudah pasti bisa saling melihat story yang mereka buat.
Namun tak sekalipun Rasyid memposting kebersamaanya dengan Hana. Hal itu yang membuat Angga tidak habis pikir. Angga juga yakin grup kelas mereka pasti masih ramai mempertanyakan dimana Hana. Buktinya beberapa minggu yang lalu Lila menghubungi Angga dan bertanya apakah Angga sudah bertemu dengan Hana kembali.
"Kenapa kamu tidak memberitahu saya atau mungkin teman-teman kalian yang masih bertanya-tanya dimana Hana?"
"Maaf, Pak. Itu bukan hak saya untuk mengatakan kepada orang-orang tentang Hana."
Angga mengepalkan kedua tangannya. Angga merasa marah dan cemburu. Namun ia merasa tak memiliki hak untuk melarang Hana menjalin hubungan dengan orang lain bahkan Rasyid sekalipun.
Angga berpikir betapa mudahnya Hana move on dan kembali menjalin hubungan dengan orang lain. Namun Angga sendiri masih gagal untuk move on.
"Sekali lagi saya tanya sama kamu Rasyid. Jawab kalau kamu tak ingin saya merebut Hana untuk kembali bersama saya. Sejauh mana hubungan kalian sampai kamu bisa memakai seragam keluarga Hana?"
Rasyid tertawa sinis. Bukan bermaksud untuk bersaing dengan Angga untuk mendapatkan Hana. Karena pada kenyataannya hati Hana masih milik Angga.
"Kalau Hana mau kembali dengan bapak saya akan mengikhlaskan Hana, Pak. Pertanyaannya adalah, Hana mau atau tidak?" Jeda beberapa detik. "Selama ini saya melihat Hana mati-matian menata hatinya setelah di kecewakan oleh Pak Angga. Kalau Pak Angga kembali dan ujung-ujungnya akan merusak kembali kebahagiaan Hana, maka lupakan niat Pak Angga itu. Biarkan Hana bahagia dengan hidupnya. Saya permisi, Pak. Saya masih banyak urusan."
Rasyid kemudian beranjak dari tempat duduknya. Namun sebelum ia melangkah pergi, ia berucap kepada Angga. "Menurut Pak Angga, kira-kira sudah sejauh mana hubungan seorang laki-laki dan perempuan kalau belum menjadi suami istri saja sudah di percaya untuk memakai seragam keluarga?"
Ucapan Rasyid mampu membungkam mulut Angga. Bahkan ia tak bereaksi apapun sampai mobil Rasyid tak terlihat lagi oleh Angga.
***
Melihat wajah Angga yang tertekuk dan terlihat lesu membuat Anggi merasa yakin kalau usaha Angga tidak berjalan mulus.
"Kayaknya gagal, Yah," bisik Anggi pada Damar. Damar mengangguk kuat, apa yang Damar pikirkan sama dengan apa yang Anggi pikirkan.
"Habis ini pasti itu anak jadi kayak tembok. Datar," bisik Anggi lagi.
Angga duduk di sofa yang berhadapan dengan Anggi dan Damar. Meskipun Angga tahu kalau Anggi dan Damar sedang membicarakan dirinya, namun ia tak mau tahu dengan apa yang mereka bicarakan.
"Angga?" Panggil Anggi dengan hati-hati. Angga yang bersandar dan memejamkan matanya pun hanya menoleh tanpa menjawab. "Are you okay?" Angga mengangguk dan masih belum ingin berbicara.
__ADS_1
"Hana baik?" Tanya Anggi lagi. Angga kembali mengangguk. Hanya mengangguk.
Ketika Anggi akan berucap kembali, Damar menahannya. Memberi kode agar tak bertanya apapun kepada Angga terlebih dahulu.
"Istirahat di kamar aja. Pasti lelah, kan?"
'Lelah hati dan pikiran.' Lanjut Anggi dalam hati.
Tanpa berucap apapun Angga beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar.
Anggi dan Damar hanya bisa saling berpandangan. Seolah tak percaya kalau Angga bisa menjadi seperti itu hanya karena perempuan. Anak gadis yang dulu muridnya, juga mantan kekasihnya.
Masih menjadi pertanyaan bagi Anggi mengapa Angga tak mencoba melupakan Hana dan mencari gadis lain. Anggi jadi penasaran dengan Hana. Bagaimana Hana pada aslinya. Anggi baru sekali melihat Hana dari foto yang dulu sempat di tunjukkan oleh Angga. Bahkan wajah Hana saja Anggi sedikit lupa.
Seketika satu ide muncul di dalam pikiran Anggi.
πΉπΉπΉ
Kalau ada yang bilang bahwa hatinya baik-baik saja setelah bertemu mantan, itu bohong. Hana sudah mempersiapkan diri sebelumnya kalau tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Angga. Harapan Hana, ia bisa mencoba bersikap biasa seolah tidak ada cerita apapun di masa lalu.
Namun ternyata teori tak semudah prakteknya. Kenyataannya Hana tak bisa bersikap biasa saja. Ada rasa canggung, gugup, juga.... Rindu. Hana akui bahwa ia merasa senang saat ia bisa bertemu kembali dengan Angga. Tapi Hana segera tersadar kalau Angga telah bertunangan dengan orang lain. Bahkan Hana mengira kalau saat ini Angga telah menikah mengingat pertunangan Angga dan Devina sudah berlangsung satu setengah tahun yang lalu.
"Tapi kok dia nggak sama kak Devina, ya?" Gumam Hana saat mengingat kembali momen pertemuannya dengan Angga.
"Ciye yang habis ketemu mantan," celetuk Kinan yang menghampiri Hana yang sedang duduk di bawah pohon mangga. Hobi Hana yang tak hilang meskipun sudah satu setengah tahun ditinggalkan. Duduk dibawah pohon mangga.
"Teh Kinan, ih, ngagetin!"
"Tadi Angga reaksinya gimana, ya, pas lihat Rasyid nyanyi buat kamu?"
Hana mengendikkan bahunya. Hana sama sekali tak tahu bagaimana reaksi Angga. Bahkan setelah ia dan Rasyid kembali ke tempat duduk mereka yang semula, Hana masih tak berani melihat ke arah Angga. Takut baper. Iya, baper. Bagaimana kalau ternyata Angga biasa saja? Bisa jadi Hana sendiri yang malu.
"Eh tapi Rasyid itu sweet, loh. Gantle banget dia sebagai laki-laki," celoteh Kinan.
Diam-diam Hana membenarkan apa yang Kinan ucapkan. Selama ini Rasyid begitu baik padanya. Melindunginya, selalu ada saat ia butuh, bisa menghormati dirinya sebagai wanita berjilbab, dan dengan sikapnya yang begitu santun Rasyid mampu mendapatkan kepercayaan dari kedua orangtua Hana.
Rasyid juga tak malu tampil di atas panggung dan disaksikan oleh ratusan undangan yang hadir di pernikahan Ikhsan. Dengan suara merdunya, Rasyid menyanyikan lagu romantis untuk Hana.
Seketika Hana teringat akan ucapan Rasyid yang mengajak Hana untuk datang ke rumah Rasyid dan berkenalan dengan keluarga Rasyid.
"Wah, bagus itu. Kapan?" Tanya Kinan penasaran.
"Sabtu besok," Hana memberi jeda ucapannya selama sekian detik. "Hana belum siap, Teh."
"Memangnya kenalan sama orangtua Rasyid harus segera menikah juga?"
Hana menggeleng pelan. "Rasyid nggak maksa Hana buat terima dia, Teh. Rasyid cuma mau Hana kenal dengan keluarga Rasyid."
"Tuh, dia cuma minta kamu kenalan sama keluarganya, loh. Nggak maksa dan nggak minta yang aneh-aneh. Coba aja dulu, kalau cocok ya lanjut," ucapan Kinan semakin lama semakin menggoda Hana. "Eh tapi kamu belum move on kan, ya?" Godanya lagi. Kinan sudah siap berdiri karena melihat Hana yang seolah akan menerkamnya setelah mendengar ucapannya.
"Teh Kinan!!! Aku ceburin Teteh ke kolam, ya? Rese' banget!!"
Kinan berlari mengelilingi halaman rumah menghindari kejaran Hana sambil tertawa lepas. "Ayo, Hana, kejar. Sekali-kali olahraga. Hahaha!"
"Teh Kinan... Awas kamu!!"
Kinan mengejek Hana dengan menjulurkan lidahnya sedikit. Kinan berjalan mundur. Namun sayang kakinya tersandung batu kecil dan tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. Beruntung Ikhsan yang baru saja keluar dari dalam rumah segera menangkap tubuh Kinan sebelum terjatuh ke tanah.
"Duh, live film India, nih," celetuk Hana.
Mendengar ucapan Hana Kinan mencoba berdiri. Kinan merasa malu meskipun Ikhsan adalah suaminya sendiri. Kinan hendak menjauh namun Ikhsan segera menarik pinggang Kinan lalu berucap. "Ada yang iri, sayang. Maklumlah, kelamaan jomblo."
Hana memutar bola matanya jengah. Lebih baik ia segera pergi dari pada harus menyaksikan pengantin baru yang selalu pamer kemesraan didepannya.
***
Hana merasa waktu berjalan begitu cepat. Sepertinya baru kemarin Rasyid mengatakan bahwa ia ingin mengajak Hana untuk berkunjung ke rumahnya di hari Sabtu. Namun ternyata hari Sabtu itu datang begitu cepatnya.
Padahal Hana berharap waktu berjalan pelan sehingga ia bisa lebih lama lagi untuk mempersiapkan diri agar bisa berpenampilan sebaik mungkin di depan keluarga Rasyid.
Satu panggilan video masuk ke ponselnya. Dari Rasyid.
__ADS_1
Hana menghela napas berat. Sampai jam delapan pagi ini, Rasyid sudah tiga kali melakukan panggilan video dengan Hana. Hanya untuk memastikan Hana baik-baik saja sehingga Hana bisa datang kerumahnya.
"Apa lagi, sih, Rasyid?" Tanya Hana kesal setelah menggeser tombol hijau.
"Sudah siap?" Tanya Rasyid di ujung sana namun Hana masih bisa melihat wajah Rasyid yang pagi ini terlihat lebih segar dan lebih.. Tampan. Ehm!!
"Baru jam delapan. Janjian, kan, jam sepuluh. Tiduran dulu boleh lah, ya?"
"Tapi aku udah mau jemput kamu ini."
"Enggak usah di jemput, Rasyid. Aku bisa kesana sendiri, kok."
"Aku jemput pokoknya."
"Nggak usah, Rasyid...."
"Na... Sekali ini saja. Cuma sekali ini, aku janji."
Hana menghembuskan napas kesal meskipun akhirnya mengangguk setuju. Reaksi Han tersebut disambut senyuman manis di ujung sana.
"Senyum dong, Na! Ikhlas nggak, sih, sebenarnya?"
"Ikhlas, kok. Aku ikhlas Rasyid. Ya sudah nanti di jemput, ya? Jangan sampai telat. Aku nggak suka sama orang yang nggak on time."
"Siap tuan putri," kini keduanya tersenyum. Lalu terdiam beberapa saat.
"Na?" Panggil Rasyid.
"Ya?"
"Kalau aku nggak ada, kamu harus bahagia, ya?"
Hana mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rasyid. "Kamu mau kemana?"
"Nggak kemana-mana. Aku disini dan akan tetap disini untuk kamu. Aku yang takut kamu pergi. Tapi kalau kamu bahagia, aku tenang."
Hana menggigit bibir bawahnya menahan diri untuk tidak menangis. Ia teringat pengorbanan Rasyid untuknya sudah sangat besar.
Dimana lagi Hana bisa menemukan orang setulus Rasyid. Rasyid bisa merelakan Hana berpacaran dengan Angga. Sekian tahun Rasyid memendam perasaannya sendiri dan tak ada seorang pun yang tahu.
Rasa sayang Rasyid untuk Hana begitu tulus. Bahkan disaat Hana belum bisa membuka hatinya untuk Rasyid, Rasyid masih mementingkan kebahagiaan Hana diatas kebahagiaannya sendiri.
"Rasyid, maaf, ya?"
"It's oke, Na! Tunggu aku jemput kamu, ya? Aku berangkat dulu."
"Iya, hati-hati."
***
Hana mondar-mandir di depan rumah sambil menunggu kedatangan Rasyid untuk menjemputnya. Seharusnya Rasyid sudah sampai dari satu jam yang lalu mengingat perjalanan dari rumah Rasyid menuju rumah Hana hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit.
Namun waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas dan Rasyid belum juga datang. Hana mencoba menghubungi Rasyid namun Rasyid tak mengangkatnya.
Hati Hana begitu gelisah. Ia khawatir kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Rasyid.
Hana beristighfar dan menggelengkan kepalanya pelan menghalau segala perasaan buruk yang ada. Hana mencoba berpikir positif. Mungkin Rasyid sedang mampir ke suatu tempat dan ia tak sempat menghubungi Hana.
Han kembali menghubungi nomor Rasyid, barangkali Rasyid mengangkatnya. Hana bernapas lega saat panggilannya di angkat.
"Halo Rasy...."
"Maaf kami dari kepolisian. Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan dan sedang kritis di RSUD Karanganyar. Jika anda keluarga korban harap segera datang ke RSUD karena sejak tadi kami belum bisa menghubungi keluarga korban."
Jantung Hana berdegup kencang. Kakinya terasa lemas seolah tak mampu menahan tubuhnya.
"Rasyid...???"
πΉπΉπΉ
Holllaaaa... Ini Rasyid enaknya diapain? π
__ADS_1
Di buat meninggal? cacat? atau lupa ingatan? jahat banget ππ
Ayo yang mau kasih usul saya tampung dengan senang hati ππ