
POV : ANGGA
"Tuh kan bener di grup WA udah rame," keluh Hana sambil menatap ponselnya serius. "Mana ada yang nyebarin fotonya juga. Mereka itu udah persis Mak lambe-lambe, enggak bisa lihat gosip sedikit saja," lanjutnya lagi.
Satu tangannya menscrool ponselnya. Satu tangannya lagi berada di pangkuanku. Aku mengoleskan salep pada bekas cengkeraman tanganku yang membuat tangannya sedikit kebiruan. Aku merasa bersalah, Hana menjadi terluka karena sikapku.
"Jangan dipikirkan. Besok, kita hadapi itu sama-sama. Jujur saja kalau kita memang ada hubungan," jawabku enteng, membuat Hana melayangkan tatapan tajamnya kearahku.
Hana tak berucap apapun. Fokusnya kembali pada ponsel. Sejak tadi ponselnya begitu berisik karena banyaknya notifikasi yang masuk.
Hana memang masih mendiamkan aku. Tapi Hana selalu menuruti apa yang aku ucapkan. Dia tak membantah sama sekali. Aku berhenti di depan apotek, Hana tak berucap apapun. Aku mengambil tangannya untuk ku beri salep, Hana juga masih tetap membisu.
Diperjalanan pulang aku selalu memegang tangannya. Menautkan jari-jariku pada jari-jarinya, Hana juga masih setia dengan sikap diamnya. Padahal biasanya dia selalu tersipu saat aku menggenggam tangannya.
Aku belum menjelaskan apapun kepada Hana. Mungkin diamnya Hana itu bermaksud menunggu penjelasanku.
"Kita makan dulu, ya?" Aku memberhentikan mobilku didepan sebuah rumah makan. Hana masih saja diam, tapi tak menolak saat aku mengajaknya turun dan memasuki rumah makan.
Aku memilih tempat lesehan agar lebih nyaman. Memilih tempat paling ujung. Tempat duduk disekitarnya terlihat sepi. Pengunjung tak ada yang duduk disekitar tempat yang aku pilih.
Bukan aku ingin mencari kesempatan atau ingin berbuat yang tidak-tidak. Aku hanya ingin lebih leluasa berbicara dengannya.
Setelah duduk, Hana kembali fokus pada ponselnya. Ingin rasanya aku merebut ponselnya dan melemparkannya ke segala arah. Tapi aku mencoba sabar. Hana seperti ini karena salahku.
Melihat Hana yang sepertinya tak ingin bersuara, aku memesankan makanan sesuai dengan makanan kesukaannya selama ini. Tanpa bertanya Hana mau atau tidak. Ayam goreng dengan sambal bawang untukku dan juga untuknya. Semangkuk bakso lengkap dengan sambal dan kecapnya khusus untuk Hana. Kemudian siomay Bandung favoritnya, tempe mendoan cemilan kesukaannya. Untuk minuman, aku pilihkan es lemon tea, jus jeruk mix sirsak, dan juga sebotol air mineral. Aku yakin dengan begini Hana akan bersuara.
"Ini kenapa makanannya sebanyak ini?" Sesuai dugaan, Hana akan bersuara melihat berbagai makanan sudah tertata rapi diatas meja. Karena terlalu fokus pada ponsel, Hana tak menyadari kapan semua makanan dan minuman datang.
"Biar kamu enggak lemas. Marah-marah butuh tenaga, kan?" Candaku usil sambil memberinya senyuman manis.
Aish! Kamu kepedean sekali, Angga!
Hana merengut tak suka, tapi tangannya tetap meraih piring kemudian mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Biasanya, Hana akan mengambilkan nasi untukku terlebih dahulu. Tapi mungkin karena Hana sedang mode marah jadi Hana mengambil untuk dirinya sendiri. Hana sama sekali tak memperdulikan aku.
Aku meringis ngilu melihat Hana menuangkan empat sendok sambal pada piringnya. Gadis satu ini kalau sedang marah selalu melampiaskannya dengan makan makanan yang super pedas.
Aku memperhatikan Hana yang makan dengan tenang seperti tidak merasa kepedasan. Aku yang melihatnya saja merasa mulas, ini yang makan malah biasa-biasa saja.
Setelah nasi di piringnya habis, Hana meraih mangkuk bakso. Menuangkan tiga sendok sambal, lalu kecap.
"Hana? Jangan menyiksa diri sendiri."
Ucapanku menghentikan gerakan tangan Hana yang mengaduk kuah bakso agar bercampur dengan sambal dan kecap.
"Mas Angga yang pesen, kan? Berarti secara tidak langsung Mas Angga menyuruh aku makan pedas," Hana memutar kata, berbalik menyalahkan aku.
'Kamu salah strategi, Angga!'
"Maksud Mas bukan seperti itu, Na. Kamu menyukai semua makanan yang Mas pesan ini, kan? Mas cuma mau buat kamu enggak marah lagi. Bukan malah makan pedas sampai enggak terkontrol begini," ucapku lemah. Semoga kali ini Hana tidak lagi salah paham.
"Mentang-mentang Hana suka makan, ngrayunya pake makanan," sungut Hana kesal sambil menusuk sebutir bakso lalu memasukkannya ke dalam mulut. Aku tertawa geli melihatnya.
__ADS_1
***
"Jadi?" Tanya Hana setelah Hana selesai menghabiskan semua makanan yang sudah ku pesan tadi. Aku heran sama Hana, badan kecil tapi makanan yang bisa masuk ke perutnya lumayan banyak.
Dan yang membuat Hana begitu bangga, sebanyak apapun Hana makan, itu tidak membuat tubuh Hana menjadi gemuk.
"Semua permintaan bapaknya Mas," aku mulai bercerita. Hana mendengarkan aku dengan seksama.
"Awalnya Mas menolak, tapi bapak marah dan terus memaksa Mas. Mau tak mau, Mas menurutinya," aku menjeda ucapanku sebentar. Memberi waktu pada Hana untuk memahaminya.
"Awalnya, yang Mas pikirkan tetap kamu. Bagaimana dengan kita kalau kita saling jauh. Bagaimana Mas tanpa kamu, begitupun sebaliknya. Tapi Mas punya keyakinan kalau kita berdua bisa melewati ini semua," jelasku sambil menatap matanya.
"Terus kenapa enggak cerita sama Hana, Mas?" Tanyanya pelan.
"Mas nggak tahu gimana caranya bilang sama kamu. Takut kamu marah, takut kamu nggak setuju__"
"Tapi aku lebih marah karena aku tahu dari orang lain, Mas," dengan cepat Hana memotong ucapanku.
"Iya, Mas minta maaf."
Hana menggenggam tanganku. Menyematkan jemarinya diantara jari-jariku. Kepalanya disandarkan di bahuku.
"Hana selalu setuju dan mendukung apapun keputusan Mas Angga. Semua itu juga demi masa depan Mas Angga, kan? Hana belum berhak melarang Mas Angga. Jadi tidak ada yang bisa Hana lakukan selain mendukung Mas Angga," ucapannya terdengar begitu menenangkan.
Kadang aku heran dengan Hana. Dengan sifatnya yang kadang pecicilan, manja, dan bawel, Hana memiliki sisi dewasa yang membuatku semakin menyayanginya.
"Kalau ditanya Hana rela apa enggak? Ya mau nggak mau Hana harus rela, Mas. Hana nggak bisa egois dengan meminta Mas Angga untuk tetap didekat Hana, sedangkan Mas Angga punya impian yang harus Mas Angga raih," isakannya mulai terdengar. Aku begitu terenyuh mendengarnya. Ku ulurkan tanganku untuk mengelus rambutnya pelan.
"Impian terbesar Mas itu kamu. Menunggu kamu lulus, habis itu melamar kamu," candaku mencoba mencairkan suasana.
Hana mencubit perutku. Aku berekspresi seolah aku kesakitan padahal aku hanya merasa geli. Aku mengacak rambutnya dan mencubit pipinya gemas.
***
POV : HANA
Karina : Hana. Kamu hutang penjelasan sama aku.
Lila : Hana. Aku butuh penjelasan.
Vera : HANA! ADA APA ANTARA KAMU SAMA PAK ANGGA???
Denis : Ada apa antara kamu sama Pak Angga?
Rasyid : Hana, benar kamu pacaran sama Pak Angga?
Aku mengernyit melihat nama Rasyid di antara nama-nama yang mengirimiku pesan. Tumben sekali..,
Kelas 12 Kompak Selalu
Vera : @HanaAghni HANAAA!!!!!
__ADS_1
Indra : Sabar, buk. @Vera
Amel : Sabar, buk. @Vera #2
Karina : @HanaAghni
Shinta : @HanaAghni
Lila : @HanaAghni tolong berikan klarifikasi.
Nissa : @HanaAghni kasih penjelasan. Biar nggak jadi fitnah.
Masih banyak lagi yang berkomentar memintaku untuk memberi penjelasan. Aku memang sengaja tidak muncul digrup sejak siang tadi. Takut dikeroyok. Mama, Papa.. tolongin Hana!
Aku mengirimkan screenshoot percakapan digrup kepada Mas Angga.
Me : Gara-gara kamu ini, Mas. ππ
My Angga : ππ€
Me : Enggak mau dipeluk! π π
My Angga : Besok, katakan yang sebenarnya sama mereka.
Me : Mas Angga mau aku dikeroyok sama fans-nya Mas Angga?
My Angga : Mereka tidak akan macam-macam. Tenangkan pikiran dan tidur, sayang. Besok kita hadapi sama-sama.
Mas Angga bisa setenang itu. Berbeda dengan aku. Aku masih terus memikirkan bagaimana besok menghadapi teman-temanku.
Apa yang harus aku katakan? Aku belum siap kalau harus jujur pada mereka.
Pemirsaah.. Tolong bantu aku. Katakan apa yang harus aku katakan pada teman-temanku besok.
***
Dengan menunduk, aku berjalan cepat di koridor sekolah. Semua siswa yang berpapasan denganku melihatku dan saling berbisik satu sama lain. Tidak hanya teman seangkatan. Tapi juga adik kelas.
Aku sudah mirip dengan seorang tersangka yang digiring keliling kampung. Menjadi pusat perhatian.
Saat kakiku melangkah memasuki ruang kelas, aku dikejutkan dengan teman-temanku yang sudah berjajar rapi menghadangku.
Pandangan mereka begitu menusuk. Tak satupun dari mereka yang tersenyum kepadaku. Saat aku menoleh, Vera dan teman-temannya juga sudah berada di belakangku. Bukan hanya itu, bahkan dibelakang Vera semua adik kelas turut berjajar.
*Katakan ada apa kamu sama Pak Angga!
Kamu siapanya Pak Angga?
Hana, katakan ada hubungan apa kamu sama Pak Angga?
Hana, jujur sekarang juga*!
__ADS_1
"Diiiaammm!!!!!"