
Angga berdebar menunggu Hana yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Meskipun dokter sudah berkata bahwa kemungkinan besar Hana hamil, namun Angga belum lega kalau belum mengetahuinya dari Hana langsung.
Tak lama kemudian Hana keluar dari kamar mandi sambil menyeka sisa-sisa air mata di matanya. Pikiran Angga sudah tak tenang melihat hal itu.
Apakah hasilnya negatif? Mengapa Hana keluar dalam keadaan menangis? Angga tak bisa melakukan banyak hal selain menatap istrinya dengan penuh tanya.
"Ini, dok." Hana menyerahkan tespeck yang sudah di cuci dengan air bersih. Sesaat dokter Yani menatap lekat-lekat benda tersebut. Setelah itu ia tersenyum dan matanya berbinar menatap Angga dan Hana.
"Selamat Mbak Hana dan suami, ini hasilnya positif."
"Dok.." Lirih Angga tak percaya.
"Iya, Mas. Ini istrinya sedang hamil. Untuk lebih jelasnya langsung ke dokter kandungan, ya?"
Angga masih tak percaya dengan penjelasan dokter yang baru saja ia dengar. Hana hamil. Hamil anaknya, buah hatinya.
"MaasyaaAllah, Alhamdulillah ya Allah." Angga memeluk dan menciumi wajah Hana. Masih didepan dokter Yani dan suster Kiki yang melihatnya dengan tertawa pelan. Angga tak peduli meskipun wajah Hana sudah memerah menahan malu.
"Nikah muda, ya?" Celetuk dokter Yani membuat keduanya saling menatap.
"Sudah tujuh tahun, dok."
"Wah, saya pikir pengantin baru. Masih kelihatan umur dua puluhan kalian ini."
"Dokter bisa aja."
Setelah menyelesaikan administrasi, Angga dan Hana langsung pergi ke klinik ibu dan anak milik dokter Renata. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi menjelang siang. Wajar kalau antrian untuk periksa mengantri panjang. Angga dan Hana dengan sabar menunggu meskipun sejujurnya sudah tidak sabar untuk melakukan USG.
Raut wajah yang begitu bahagia tak dapat disembuhkan dari wajah keduanya. Berkali-kali Angga mencium tangan Hana yang berada di genggamannya. Berkali-kali pula Angga mencuri kecupan di pipi Hana saat Hana tengah lengah.
"Genit banget, sih, cium-cium terus dari tadi." Hana sok jual mahal padahal hatinya berbunga. Senang mendapat perlakuan Angga yang begitu romantis.
"Ini baru sedikit. Nanti di rumah di banyakin."
"Ih, enggak, ya!"
"Dih, malu tapi mau!"
"Mas Angga, ih."
***
Dokter Renata tersenyum senang saat melihat Angga dan Hana masuk ke ruangannya. Baginya, baik Angga dan Hana sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Dokter Hana. Ada apa, nih, tumben kesini?"
__ADS_1
Renata berbasa-basi sebentar dengan Angga dan Hana. Padahal ia sudah membaca data pasien dari bagian pendaftaran bahwa tujuan Angga dan Hana datang adalah untuk memeriksakan kandungannya.
"Panggil Hana saja, dok. Masih junior ini."
Renata tertawa pelan. Hana selalu saja menolak saat ia memanggilnya dengan sebutan dokter.
"Jadi bagaimana?" Tanya Renata selanjutnya.
Hana menjelaskan bahwa sejak kemarin ia mengalami pusing, mual dan muntah. Bahkan tidak ada makanan yang dapat masuk ke perutnya kecuali buah. Hana juga mengatakan bahwa ia telah memeriksakan dirinya ke dokter dan dokter menyuruhnya untuk tespeck dan hasilnya positif.
"Dokter bisa, ya, hamil tapi nggak sadar?" Renata terkekeh pelan.
"Dokter tahu, kan, alasan saya. Saya sama sekali nggak kepikiran sampai sana, dok. Saya pikir saya telat haid karena memang sedang stress atau seperti yang sudah-sudah. Telat haid tapi nggak positif."
Renata mengangguk paham. Dia sendiri sudah tau bagaimana traumanya Hana dengan benda bersama tespeck.
"Oke. USG dulu aja, ya?"
Hana mengangguk dan segera berbaring di ranjang. Seorang perawat membantu menutupi tubuh bawah Hana yang gamisnya disingkap sedikit untuk menampakkan perutnya yang masih rata.
Renata mulai menjalankan alat setelah perut Hana di olesi dengan gel. Tak lama, tampak sebuah lingkaran hitam dengan titik kecil di bagian tengahnya. Itulah buah hati mereka yang sedang tumbuh di dalam sana.
Baik Angga maupun Hana tak dapat menyembunyikan air matanya. Air mata haru sekaligus bahagia.
Suara yang begitu kencang bak hentakan kaki kuda tersebut merupakan suara terindah yang pernah Angga dan Hana dengar. Dimana itulah suara detak jantung buah hati mereka.
"Kalau tidak bisa makan nasi banyak-banyak makan sayur dan buah, ya? Makan-makanan yang banyak mengandung protein. Ah, dokter Hana pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan, kan?"
Hana tersenyum dan mengangguk. "Iya, dok."
"Tidak perlu di kasih resep ya, dok? Untuk kali ini saya kasih free buat dokter Hana dan suami."
"Aduh, jangan begitu, dokter. Kami jadi tidak enak." Tolak Angga sungkan.
"Enggak apa-apa. Anggap ini hadiah dari saya. Saya ikut bahagia. Semoga selalu sehat ya Dedek bayi dan mamanya."
"Aamiin. Makasih banyak, dok. Kami pamit dulu."
"Hati-hati, ya?"
"Iya, dok. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
🥀🥀🥀
__ADS_1
Tepat pukul dua singa, Hana dan Angga sampai rumah. Hana hanya bisa menggelengkan kepala melihat Angga yang semula sudah begitu protective bertambah berkali-kali lipat sikap protective-nya.
"Hana bisa sendiri, Mas." Ucap Hana saat Angga membantu Hana untuk turun dari mobil.
"Nurut aja, sayang. Daripada Mas gendong walaupun sebenarnya Mas lebih memilih menggendong kamu."
"Genit banget, sih."
Angga tertawa.
Baiklah, Hana tak dapat menolak. Pun dengan ketika saat menaiki tangga menuju kamar mereka berdua, tangan Angga bertengger manis di pinggang Hana.
"Istirahat, sayang. Mulai sekarang jangan sampai lelah, ya? Soal masak dan mengurus rumah biar di kerjakan Bu Parmi saja."
Bu Parmi adalah wanita berusia sekitar lima puluh tahunan yang bekerja dirumah Angga dan Hana dari mulai pukul tujuh sampai keduanya pulang bekerja.
Hana menurut saja saat Angga membantunya merebahkan tubuhnya di atas ranjang karena memang tubuhnya terasa begitu berat dan lemas. Mulutnya masih saja terasa pahit. Perutnya sendiri belum bisa menerima makanan yang masuk.
Siang ini, Hana dan Angga tertidur dengan perasaan yang bahagia. Sebentar lagi mereka tak akan berdua lagi, namun bertiga. Dan akan bertambah lagi anggota-anggota baru nantinya.
🥀🥀🥀
Anang, Widia, Ningsih dan juga Rajiman tak dapat menyembunyikan raut bahagia mereka saat mendengar bahwa Hana tengah hamil muda. Apalagi dua ibu itu begitu antusias untuk memberikan wejangan serta nasehat untuk ibu hamil.
Mereka juga tak mengijinkan Hana untuk berpuasa terlebih dahulu karena kandungannya yang masih trimester pertama.
Keluarga itu sedang berkumpul untuk melakukan buka bersama. Bukan hanya para orangtua, namun juga Ikhsan, Kinan beserta anak-anaknya. Dan juga Anggi, Damar dan anak-anaknya juga turut hadir. Selain untuk mengeratkan hubungan kekeluargaan, mereka juga syukuran kecil-kecilan atas kehamilan Hana yang sudah di nanti banyak orang selama tujuh tahun lamanya.
Hana begitu bahagia melihat semua keluarganya berkumpul dan membuat rumahnya semakin ramai. Hana sendiri memilih untuk rebahan di kamar karena tak kuat menahan mual saat melihat makanan yang berjajar di meja makan. Keluarga memaklumi hal itu.
Semakin hari, kondisi Hana semakin lemah karena hiperemesis parah dan membuatnya mau tidak mau harus di infus karena sama sekali tidak ada yang bisa tertelan oleh Hana sekalipun hanya air putih saja.
Hana juga sudah resign dari rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan. Baik Angga maupun keluarganya tak keberatan dengan keputihan Hana. Soal pekerjaan, Hana bisa mencarinya lagi nanti setelah ia melahirkan.
"Maaf, ya, karena mengandung anak kita kamu harus merasakan seperti ini." Angga memeluk Hana dan mengelus pelan kepala Hana. Keduanya berbaring di ranjang rumah sakit. Ranjang kecil tersebut terpaksa mereka tempati berdua karena Hana ingin sekali tidur sambil memeluk Angga dan mencium aroma tubuhnya.
Hana tersenyum dan mengelus pelan pipi Angga. "Ini bukan salah Mas Angga. Hana enggak apa-apa, kok. Hana senang karena ini adalah proses yang harus Hana lalui untuk menjadi seorang ibu."
Angga semakin mengeratkan pelukannya dan berkali-kali mencium puncak kepala Hana. "Terimakasih, sayang. Terimakasih. Kalian adalah harta terindah buat Mas." Tangan Angga mengelus perut Hana yang masih rata. "I love you, sayang."
"I love you too, Mas."
Malam itu, Angga menutupnya dengan ciuman lekat dibibir Hana. Keduanya tersenyum dan saling mengeratkan pelukan. Tidur dan bersiap menyambut esok hari.
🥀🥀🥀
__ADS_1