
Lagi semangat nulisnya.. ide lagi mengalir deras. 😁
Happy reading 🤗🤗
❤️❤️❤️
'Kasian, deh. Kemarin ditinggal Pak Angga tunangan.'
'Kasian banget, sih, ditinggal gitu aja.'
'Eh, ada yang mau ditinggal nikah.'
'Pak Angga udah bener banget ninggalin dia demi yang lebih baik dan cantik. Berhijab pula!'
'Aku, sih, cuma kasian aja. Jangan-jangan selama ini dia cuma dijadiin mainan doang.'
'Aku suka sama pasangan Pak Angga yang ini. Lebih anggun dan manis.'
Hana berusaha untuk tidak peduli dengan omongan orang-orang yang ia temui di sepanjang koridor sekolah. Hana terus menatap lurus dan berjalan menuju kelasnya. Apa yang mereka ucapkan memang menyakitkan, tapi Hana cukup bisa menahan diri untuk tidak membalas mereka. Kalau Hana melawan, apa bedanya dirinya dengan mereka? Satu-satunya cara Hana untuk menghadapi mereka hanyalah diam. Kalau lelah, mereka akan berhenti dengan sendirinya.
Sebenarnya hal ini yang membuat Hana sempat merasa malas untuk pergi ke sekolah. Pelajaran memang sudah tidak ada lagi, tapi masih diwajibkan untuk datang ke sekolah walaupun hanya sekedar absen. Juga untuk membahas persiapan acara perpisahan nanti.
"Hay, mantan pacarnya Pak Angga!" Vera menghentikan langkah Hana. Kini Vera bersama kedua temannya berdiri di depan Hana.
"Kasian banget, sih, kamu! Awalnya LDR, tapi akhirnya Pak Angga kepincut sama yang lain. Aku turut berduka, ya?" Ucap Vera dengan suara sedih. Tapi itu hanya pura-pura saja. Sedangkan Hana masih diam tak ingin menanggapi.
"Eh Pak Angga tunangan sama kakaknya Denis, ya? Jangan-jangan Denis terlibat dalam hal ini," Vera kembali berucap. Dan kali ini apa yang ia ucapkan sama dengan apa yang ia pikirkan selama berhari-hari. Denis mungkin memang terlibat dalam proses pertunangan Angga dan Devina.
Hana tersenyum sinis. "Sudah selesai?" Tanyanya pada Vera. Vera diam.
"Kurang-kurangin ngurus kehidupan orang lain. Pastikan hidup kamu sudah benar di mata orang lain kalau kamu mau berkomentar atas hidup orang lain."
Ucapan Hana membungkam mulut pedas Vera. Vera tak dapat berucap sampai Hana pergi meninggalkannya.
Baru saja Hana memasuki kelas, ia berpapasan dengan Denis yang akan keluar dari kelas. Denis tersenyum, tapi Hana justru menatapnya dengan tatapan tajam.
"Hai, Na!" Denis menyapa ramah. Tapi Hana justru memalingkan wajahnya dan berjalan meninggalkan Denis.
"Are you oke, Na?" Tanya Karina pelan sesaat setelah Hana mendudukkan dirinya di atas kursi. Teman-temannya yang lain tak berani mendekat. Takut kalau Hana masih sensitif dan mereka menjadi sasarannya.
"Oke. Kenapa?" Jawab Hana sambil menampakkan senyum yang sedikit dipaksakan. Matanya fokus pada ponsel setelah melihat Karina sebentar.
"Enggak apa-apa," Karina tersenyum kikuk. Sepertinya memang Hana tak ingin ada yang menyinggung perihal trending topik yang menyangkut dirinya.
Setelah bel masuk untuk kelas sepuluh dan kelas sebelas berbunyi, sekolah terasa begitu sepi karena KBM sedang berlangsung. Sedangkan untuk kelas dua belas bersiap untuk pulang kerumah. Sebenarnya ini sangat mubadzir waktu dan uang saku. Datang ke sekolah hanya absen lalu bebas untuk pulang. Sedangkan uang saku dari para orangtua tetap mengalir lancar untuk anak-anaknya.
"Mau bareng nggak, Na?" Tanya Lila. Hana banyak diam meskipun senyumannya tak pernah luntur ketika berbicara. Tapi teman-temannya paham, sangat paham kalau hati Hana sebenarnya remuk redam.
"Eh? Aku bawa motor, La. Kamu duluan aja!" Jawab Hana.
"Oke.. Hati-hati, ya?"
Hana mengangguk. Lila dan Karina saling berpandangan, kemudian berjalan keluar beriringan. Sampai di dekat pintu, Karina berhenti dan menoleh ke arah Hana. "Na, kalau kamu butuh teman untuk bicara, kami akan jadi pendengar yang baik," ucapnya.
Mata Hana kembali memanas. Tapi sekuat tenaga ia tahan agar tak terjatuh. Kemudian mengangguk dan tersenyum. "Iya, Rin."
Hana merasa beruntung, teman-teman sekelasnya tak ada yang membahas hubungannya dengan Angga. Mereka seolah paham kalau Hana tak ingin mengungkit apapun tentang Angga.
Kini tinggallah Hana dan Denis di dalam ruang kelas. Han tak menyadari kalau Denis masih duduk dibelakangnya karena Hana yang fokus membaca novel ditangannya.
"Na?"
Hana berjengit melihat Denis yang sudah berdiri di dekatnya. Merasa sedang tak ingin berbicara dengan Denis, Hana kembali memfokuskan perhatiannya pada novel.
__ADS_1
"Mau pulang bareng?" Tanya Denis yang masih tak mau berhenti mengganggu Hana. Mengajak pulang bersama? Apa dia tidak mendengar kalau Hana membawa motor sendiri? Basa-basi yang tidak penting sama sekali.
"Aku antar kamu pulang, ya?" Denis tak menyerah.
Braakkk!!
Hana membanting novelnya ke atas meja. "Bisa diam nggak? Kalau mau pulang, pulang sana. Jangan ganggu aku!" Bentak Hana.
"Kamu kok gitu, sih, Na?" Tanya Denis berpura-pura bodoh.
"Jangan lagi bersandiwara, Nis. Aku kecewa sama kamu!"
"Kenapa kecewanya sama aku? Kan yang nyakitin kamu Pak Angga?"
"Jangan pura-pura bodoh, Nis. Aku yakin kamu berperan banyak atas pertunangan Pak Angga dengan kakak kamu."
"Maksud kamu apa, sih, Na?" Denis masih saja berpura-pura polos seolah tak mengerti apa-apa.
"Kamu tahu Pak Angga itu pacarku, tapi kamu membiarkan kakak kamu bertunangan dengan dia. Kamu juga nggak ngasih tahu aku kalau ternyata kakak kamu ada hubungan dengan Pak Angga. Maksud kamu apa? Permainan apa yang sedang kamu buat?" Hana mencerca Denis dengan berbagai pertanyaan. Membuat Denis tergagap. Baru kali ini Denis melihat Hana semarah ini kepada orang lain.
"Aku.. Aku cuma.."
"Aku kecewa sama kamu, Nis. Aku pikir kamu itu orang baik, teman yang baik. Tapi ternyata kamu itu licik. Kalau kamu marah sama aku gara-gara aku nolak kamu, bukan seperti ini cara kamu membalasnya. Ini semua hanya membuatku semakin hilang respect sama kamu."
Hana mengambil tasnya kemudian berjalan cepat melewati Denis. Tak peduli dengan panggilan Denis yang mengatakan bahwa ia akan menjelaskan semuanya. Namun, Hana terlanjur kecewa. Apa yang keluar dari mulut Denis baginya hanyalah angin.
Saat Hana sampai di parkiran, Hana melihat Angga yang berdiri di dekat motor Hana. Hana hendak berlari ketempat lain, tapi langkahnya kalah cepat dengan Angga yang sudah meraih tangannya dan menahannya untuk tidak pergi.
"Lepas!" Ucap Hana dingin sambil berusaha melepaskan tangannya yang di pegang oleh Angga.
"Mas bisa jelaskan semuanya, Na!" Angga berucap dengan lembut.
"Lepas!"
"Lepas atau aku teriak!?" Hana tak lagi memiliki kesabaran.
Angga mengalah. Ia melepaskan tangan Hana dengan terpaksa. Angga tak ingin semua orang melihatnya bertengkar dengan Hana di sekolah.
Setelah tangannya terlepas, Hana berjalan mendekati motornya dan bersiap untuk pergi. Sebelumnya ia berucap pada Angga, "jangan pernah temui aku lagi!"
***
Hana duduk dipinggir kolam ikan yang berada di samping rumah sambil memberi makan untuk ikan-ikan tersebut. Hana tersenyum kecil melihat ikan-ikan yang saling berebut makanan darinya. Baginya, melihat ikan berenang adalah hiburan tersendiri.
Kedua orangtuanya dan kakaknya masih bekerja. Waktu menunjukkan pukul dua siang. Sendiri, Hana sudah terbiasa. Merasa kesepian sudah pasti. Tapi Hana berusaha untuk tidak menuntut banyak. Kedua orangtuanya bekerja juga untuk dirinya.
Suara mobil terdengar memasuki halaman rumah Hana. Hana tak tahu itu siapa dan tak ingin melihatnya. Hana lebih memilih menikmati pemandangan ikan berenang.
"Tumben disini?" Suara Ikhsan. Tiba-tiba saja dia sudah duduk di samping Hana.
"Mas Ikhsan sudah pulang?" Hana bertanya balik. Tak ingin menanggapi pertanyaan Ikhsan.
"Udah, kan udah duduk disini," canda Ikhsan. Hana mencebik menanggapinya. "Jalan-jalan, yuk!" Ajak Ikhsan.
"Enggak, ah. Paling juga cuma ke alun-alun. Udah biasa!"
Ucapan Hana sukses membuat Ikhsan terbahak. "Enggak, kok. Kita refreshing, biar nggak suntuk dirumah."
"Oke. Aku siap-siap dulu," Hana menyetujui.
"Oke."
***
__ADS_1
Ikhsan menjalankan mobilnya menuju daerah Tawangmangu. Hana enggan bertanya kemana Ikhsan akan membawanya pergi.
Sampai saat memasuki sebuah gapura, Hana teringat akan suatu tempat. Tempat dimana dulu Angga pernah mengajaknya kesana.
"Kita mau ke Gunung Gamping?" Tanya Hana tak percaya.
Ikhsan mengangguk. "Hmm.. Lihat sunset dari sana bagus banget," jawab Ikhsan.
"Nggak bisa ke tempat lain?" Hana mencoba bernegosiasi.
Hana akui pemandangan disana memang indah. Kenangan yang pernah tercipta disana pun tak kalah indahnya. Hanya saja Hana tak ingin mengingatnya lagi.
Sepanjang perjalanan menaiki gunung seolah kembali membuka kenangan lama. Dulu, Hana melewatinya dengan canda tawa bersama Angga. Angga selalu mempunyai cara untuk menghibur Hana agar tak merasa lelah saat berjalan menaiki gunung.
Terkadang Angga menawarkan punggungnya untuk menggendong Hana meskipun Hana tak mau menaiki punggungnya.
Dada Hana terasa sesak saat mengingatnya. Matanya kembali memanas ingin menumpahkan air matanya.
"Na!?" Panggil Ikhsan saat menyadari adiknya tidak ada disampingnya. Hana masih jauh tertinggal dibawah karena terlalu sibuk bernostalgia. "Ayo naik! Payah kamu, baru segitu aja udah nyerah!" Ledek Ikhsan.
Sesampainya dipuncak Gunung Gamping, Hana dan Ikhsan duduk di salah satu gazebo yang sengaja dibangun oleh masyarakat setempat. Gazebo yang mereka tempati adalah tempat yang paling pas untuk melihat sunset.
Hana memejamkan mata, merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Lalu menghembuskannya pelan untuk melepaskan segala beban di hati dan pikirannya.
"Lepaskan bebanmu, Na!" Ucap Ikhsan sambil merangkul pundak Hana. Hal itu membuat Hana terkejut dan tubuhnya menegang sesaat.
"Kalau kamu ingin berteriak, berteriak lah sekeras mungkin. Keluarkan semua beban yang memberatkan hatimu," lanjut Ikhsan.
Hana melihat Ikhsan. Dan Ikhsan mengangguk meyakinkan.
Hana kembali melihat ke depan. Memejamkan matanya kemudian berteriak. "Aaaaaaaaaaaaaaarghhh...."
"Lagi, Na! Lakukan sampai kamu lega!"
"Aaaaaaaaaaaaaaarghhh..." Hana menuruti.
"Lagi, Na!" Ikhsan memberi instruksi.
"Hikkss.. Hikkss.." isakan kecil mulai terdengar dari bibir Hana. Han berbalik dan memeluk Ikhsan erat. Tangisnya semakin kencang dan semakin memilukan. Ikhsan membalas pelukan Hana tak kalah erat. Mencoba memberi perlindungan kepada adiknya.
"Kenapa Mas Angga tega sama aku, Mas? Aku salah apa sampai dia tega melakukan ini sama aku?" Hana mulai mengeluarkan unek-unek di hatinya.
Sebenarnya Ikhsan tak tahu apa yang sedang terjadi pada Hana. Tapi Ikhsan bisa merasakan kalau Hana sedang tidak baik-baik saja. Entah apa yang menjadi masalah Hana, Ikhsan hanya berusaha membantu Hana untuk melepas bebannya.
Kini Ikhsan tahu, Angga-lah penyebab semuanya.
"Mas Angga tega bertunangan dengan wanita lain, Mas. Dan wanita itu adalah guru les aku. Hikkss.."
Ikhsan mengepalkan tangannya yang berada di punggung Hana saat mendengar apa yang telah Angga lakukan kepada Hana. "Kurang ajar!!" Makinya dalam hati.
"Aku salah apa, sih, Mas? Kalau dia udah nggak sayang cukup dia bilang sama aku, bukan seperti ini caranya."
"Mas tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu, Na. Mas akan membuat perhitungan dengan siapapun yang tega membuatmu seperti ini."
Hana tak menjawab. Ia lebih memilih menangis di pelukan kakaknya.
"Menangis lah, Na. Menangis lah sampai kamu merasa puas. Tapi berjanjilah, ini yang terakhir kamu menangisi laki-laki macam Angga. Air matamu terlalu berharga untuk laki-laki seperti dia."
Hana mengangguk kuat. Biarlah saat ini ia menangis. Benar apa kata Ikhsan, ini yang terakhir kalinya Hana menangisi Angga.
Setelah ini, Hana akan melupakan semua tentang Angga. Hana akan kembali ceria seperti saat Hana belum mengenal Angga.
__ADS_1