
Hana meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa lelah setelah melalui perjalanan yang membutuhkan waktu hampir empat jam.
Angga mengajaknya ke sebuah rumah minimalis di sebuah perumahan. Hal ini tak diketahui oleh Hana sebelumnya karena sejak awal mereka berencana untuk tinggal di tempat Ratih untuk sementara waktu.
Namun Angga menjelaskan bahwa sebaiknya mereka tinggal berdua meskipun hanya mengontrak sebuah rumah kecil. Beruntungnya, rumah yang kali ini akan mereka tempati adalah rumah milik Angga. Angga berkata bahwa ia mendapatkannya dua minggu yang lalu dibantu oleh temannya yang seorang kontraktor di Surabaya.
Angga juga sudah mengatakan pada Ratih bahwa mereka akan tinggal dirumah mereka sendiri dan besok akan datang ke rumah Ratih untuk mengambil barang-barang Hana yang masih berada disana.
Ratih tak keberatan. Ia hanya berpesan agar mereka berhati-hati dan meminta mereka untuk sering-sering datang kerumahnya dan juga ke panti asuhan.
Suatu kejutan bagi Hana. Baginya, tak masalah di manapun mereka harus tinggal. Yang penting tetap berdua. Aishh.. Bucin sekali si Hana!
"Kamu suka, sayang?"
Hana yang sedang melihat bagian depan rumah satu lantai dengan di dominasi warna silver dan maroon di bagian luarnya itu tersenyum lebar.
"Suka, Mas. Makasih, ya?"
"Anything for you, sayang." Angga mengecup singkat pipi Hana.
Rumah yang akan mereka tempati benar-benar terasa sejuk dan nyaman. Halaman yang lumayan luas dan banyak di tumbuhi bunga dan beberapa pohon hias. Hana sudah berencana ingin menambah tanaman mereka dengan menanam sayuran organik. Selain lebih sehat pasti juga akan lebih hemat. Ah.. Jiwa emak-emak di diri Hana perlahan muncul begitu saja.
Terdapat dua kamar tidur dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya. Ruang tamu, ruang keluarga, dan juga dapur sekaligus ruang makan yang menjadi satu. Di samping dapur ada ruang laundry. Dimana segala sesuatu yang berhubungan dengan baju akan di kerjakan di sana. Dari mulai mencuci dan menyetrika baju.
"Kita bereskan barang-barang kita dulu, ya, sayang, biar sekalian capeknya. Nanti baru istirahat."
Hana mengangguk menyetujui. Berdua dengan Angga, Hana merapikan pakaian dan barang-barang lainnya.
***
Hana memasukkan beberapa jenis sayuran, lauk pauk, dan juga buah ke dalam troli yang didorong oleh Angga. Malam setelah sholat isya', keduanya memutuskan untuk belanja bahan makanan di salah satu supermarket terdekat dengan komplek perumahan mereka sekaligus makan malam di luar.
Sebagai ibu rumah tangga baru, Hana harus bisa memasak. Untuk saat ini mungkin Hana baru bisa memasak makanan sederhana. Saat tinggal bersama Ratih, Hana selalu menyempatkan diri untuk belajar memasak.
"Banyakin alpukatnya ya, sayang."
Hana mengiyakan karena memang buah alpukat adalah buah kesukaannya. Tanpa sadar dengan maksud Angga yang sebenarnya.
Alpukat adalah buah yang tinggi asam folat. Sangat cocok di konsumsi bagi orang yang sedang program hamil.
Sebenarnya Angga tidak memaksakan keinginannya untuk segera memiliki keturunan. Ia tahu bahwa hal sepenting itu harus dibicarakan berdua. Dan sepertinya Hana belum siap mengingat jadwal kuliahnya yang begitu padat.
__ADS_1
"Allah akan memberikan sesuai dengan kesiapan kita, sayang. Kalau rejeki itu di kasih di saat kamu masih, ya itu artinya Allah menganggap kita berdua mampu. Tak perlu risau maupun takut karena semua sudah di atur oleh Allah."
Ucapan Angga begitu menenangkan saat malam harinya menjelang tidur mereka melakukan rutinitas rutin. Yaitu pillow talk. Apapun yang mereka rasakan akan mereka bicarakan ketika menjelang tidur. Dan malam itu, Hana kembali membahas perihal anak.
Entah kenapa hal ini terus membuat Hana kepikiran. Mengingat keduanya tak pernah melupakan aktivitas "itu" dimalam hari. Bahkan bukan hanya disaat malam hari. Kapanpun ada kesempatan, selama Hana belum masuk kuliah, Angga tak pernah bisa jauh-jauh dari Hana.
Terlebih di saat tamu bulanan Hana tak kunjung datang meskipun sudah terlewat tiga hari. Hana tak tenang. Hati dan pikirannya terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi.
"Pengantin baru, galau melulu!"
Hana terkesiap. Mencoba bersikap biasa saja kendati hatinya terasa awut-awutan. Salsa datang bersama Rasyid dan duduk di sebelahnya. Sejak awal masuk kuliah seminggu yang lalu, Salsa dan Rasyid terlihat lebih sering bersama. Hana belum ingin tahu kalau Salsa atau Rasyid sendiri yang bercerita. Bagi Hana saati ini menanti tamu bulanannya datang itu jauh lebih penting.
"Kenapa, sih?" Tanya Salsa penasaran.
"Enggak apa-apa."
Senjata wanita. Padahal di balik jawaban "tidak apa-apa" pasti ada apa-apanya.
"Aku pulang bareng kamu ya, Sa." Hana baru ingat bahwa hari ini Angga sedang meninjau lokasi yang akan Angga gunakan untuk membuka toko pakaian seperti miliknya yang berada di Karanganyar. Bisa di katakan ini adalah cabang toko Angga yang ke empat.
"Pak Angga kemana?" Tanya Rasyid basa-basi. Mencoba biasa saja padahal ia cemburu sangat.
"Lagi lihat ruko yang mau di sewa."
"Tadi aku berangkat bareng Rasyid." Cicit Salsa pelan.
Hana mengangguk maklum. Setelah menikah dengan Angga memang Hana sedikit menjaga jarak dengan Rasyid mengingat Angga yang begitu sensitif apabila menyangkut tentang mantan saingannya itu.
"Aku pesan ojek online aja kalau gitu."
"Maaf ya, Na." Ucap Salsa tak enak hati.
"Enggak apa-apa, Sa."
***
"Pak, berhenti di apotek depan sebentar ya, Pak."
"Iya, Mbak."
Hana turun dari atas motor dan berjalan menuju apotek. Hana bertekad untuk membeli tespeck agar rasa khawatirnya terjawab. Positif atau negatif.
__ADS_1
Awalnya ia ragu, takut di kira ABG yang hamil di luar nikah melihat penampilannya yang memang masih seperti anak yang baru lulus SMA.
Tapi pada akhirnya Hana cuek saja saat penjaga apotek yang seorang perempuan berusia sekitar dua puluh empat tahunan menatapnya dengan sinis.
"Mau berapa, dek?" Tanyanya ketus.
"Lima, Mbak. Yang merk-nya beda-beda, ya?" Jawab Hana cepat.
Dengan sigap Mbak-mbak tersebut mengambil lima buah tespeck berbeda merk dan memasukannya ke dalam plastik.
"Banyak banget, dek? Biar yakin, ya? Hamil ya hamil aja kali."
"Iya, Mbak. Yang penting kan ada suaminya, ya? Jadi berapa, Mbak?"
"Delapan puluh tiga ribu."
Hana memasukkan tespeck itu kedalam tas dan mengambil uang untuk membayarnya. Setelah itu ia mengulurkan selembar uang seratus ribuan. "Kembalinya ambil aja, Mbak."
Tanpa menunggu jawaban, Hana pergi begitu saja dan kembali menaiki motor ojek online yang menunggunya di seberang jalan.
***
Sesuai petunjuk pada bungkus tespeck, bahwa waktu paling baik untuk mengecek kadar HCG adalah saat pagi hari setelah bangun tidur.
Tapi karena rasa penasarannya yang sudah memuncak, Hana nekat mengeceknya sebelum ia mandi sore. Kebetulan Angga belum pulang jadi Hana bisa mengeceknya tanpa sepengetahuan Angga.
Hana belum ingin menceritakan apa yang ia rasakan kepada Angga. Takut kalau Angga terlalu berharap tapi hasilnya tak sesuai harapannya.
Dengan tangan bergetar, Hana membuka bungkusan tespeck dan mengambil benda tipis nan panjang itu untuk ia masukkan ke dalam urine yang telah ia tampung dalam wadah kecil.
"Bismillahirrahmanirrahim.."
Satu menit...
Dua menit...
Dan hasilnya..
πΉπΉπΉπΉ
Ayo kita timpuk bareng-bareng authornya ππ
__ADS_1
Ga jelas banget pokoknya. π semoga tetap suka yaa... maaf pendek-pendek aja dulu yang penting update karena memang sedang sibuk di dunia nyata π€π€