
POV : ANGGA
"Hana!!?"
"Pak Angga!!?"
Aku seperti bermimpi bertemu dengan Hana disini. Di Bandung. Sedang apa dia? Bersama siapa?
"Kamu ngapain disini?" Tanyaku.
"Bapak sendiri ngapain disini?" Bukannya menjawab, Hana justru balik bertanya.
"Jangan bilang kamu kabur dari rumah?" Aku memicingkan mata menatapnya curiga.
"Enak aja. Saya enggak kabur ya, Pak. Kayak orang kurang kerjaan aja," sungutnya tak terima.
Aku juga tak yakin kalau Hana kabur dari rumah. Hana sepertinya anak yang penurut dan bukan tipe anak yang suka kabur-kaburan tak jelas. Positif thinking saja, mungkin dia berlibur ke tempat saudaranya.
"Terus kamu sama siapa malam-malam begini sendirian disini?" Tanyaku memastikan. Bagaimanapun juga Hana adalah muridku meskipun saat ini kami sedang tidak berada didalam lingkungan sekolah. Aku juga harus memastikan bahwa dia tidak sendirian disini.
"Sama kakak saya, Pak. Dia ada didalam mau ketemu temannya. Saya tadi ijin mau ke toilet," jelasnya yang membuatku menghembuskan napas lega.
"Hana kamu lama banget, sih? Mas kira kamu tersesat?"
Seorang laki-laki datang menghampiri kami. Raut wajahnya terlihat begitu mengkhawatirkan Hana. Mungkin dia yang dimaksud kakak oleh Hana. Tapi, wajahnya sepertinya tak asing. Aku seperti pernah melihatnya dan mengenalnya.
"Loh, kamu Angga, kan?"
Aku mengerutkan keningku mencoba mengingat laki-laki ini.
"Kamu lupa sama aku? Ya ampun, tega banget kamu!" Nada suaranya terdengar kecewa karena aku tak mengingatnya.
"Tunggu!" Ucapku sambil masih terus berusaha mengingat. "Kamu Ikhsan?" Tanyaku memastikan.
"Akhirnya kamu ingat juga," ucapnya senang sambil merentangkan kedua tangannya bersiap untuk memelukku. Jangan salah paham, memeluk disini adalah pelukan rindu seorang teman yang sudah lama tidak bertemu.
Ya, Ikhsan adalah temanku semasa SMP. Dulu badannya gendut dan kulitnya coklat tak sebersih sekarang yang berwarna kuning langsat. Mirip kulit perempuan.
"Ya ampun.. Apa kabar, San? Berubah banget kamu, aku sampai pangling," tanyaku saat pelukan kami sudah terlepas.
"Aku baik, Alhamdulillah. Kamu gimana kabarnya?"
"Aku baik, Alhamdulillah,"
"Udah kangen-kangenannya?" Tanya Hana yang melihat kami dengan wajah bingung dan juga kesal sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
"Eh, kenalin nih adik aku satu-satunya, Hana," Ikhsan memperkenalkan Hana kepadaku. Tidak tau saja kalau Hana adalah muridku.
"Mas, dia guru aku di SMA,"
"Oh ya? Kebetulan banget ketemu disini?" Wajah Ikhsan terlihat terkejut.
Tentu saja. Siapa yang mengira kalau aku bertemu dengan Hana dan juga kakaknya yang ternyata adalah teman lamaku disini, di Bandung. Dari sekian banyak tempat, aku bisa bertemu dengan mereka ditempat yang begitu jauh dari asal kami.
__ADS_1
Aku senang. Kali ini aku berterimakasih dengan rengekan kakakku yang meminta aku segera datang ke Bandung, padahal seminggu lagi aku harus meresmikan cabang distro milikku. Repot? Jangan ditanya. Tapi mungkin inilah balasan bagi adik yang ingin membahagiakan kakaknya. Allah membalas semuanya dengan kebahagiaan juga. Bertemu Hana.
Tidak sia-sia juga keputusanku untuk ke Bandung lebih awal. Kalau tidak, mungkin aku juga tidak akan bertemu dengan Hana disini.
πΊπΊπΊ
Me : "Hana?"
Satu pesan ku kirimkan melalui aplikasi WhatsApp. Centang biru. Artinya pesanku sudah dibaca.
Mengetik...
Hana : "Iya. Ada apa, Pak?"
Ternyata dia benar-benar menyimpan nomorku. Terbukti dari dia yang langsung memanggil "Pak" dalam pesannya.
Me : "Tadi berangkat ke Bandung sendirian?"
Hana : "Hana enggak sendiri, kok, Pak."
Me : "Lalu?"
Hana : "Barengan sama penumpang satu pesawat. ππ"
Aku tersenyum geli membaca pesannya. Baru aku tahu, Hana ternyata punya selera humor yang tinggi.
Me : "Maksud saya, apa tidak ada keluarga yang menemani? Papa tau mama kamu, gitu?"
Hana : "Enggak ada, Pak. π"
Hana : "Ada, Pak. Kakek sama nenek dari mama orang Bandung."
Mama Hana dari Bandung? Pantas saja Hana berani naik pesawat sendiri untuk pergi ke Bandung. Hana pasti sudah terbiasa.
Me : "Besok ada waktu?"
Aku menepuk jidatku sendiri karena asal mengirim pesan. Tapi entah kenapa aku ingin bertemu dengan Hana dan jalan berdua dengannya. Mumpung di Bandung, tidak akan ada yang tahu dan tidak ada yang mengenali kami. Kalau di Karanganyar, sudah pasti potensi bertemu dengan orang yang kami kenal itu lebih besar. Aku tidak mau jadi bahan gosip ketika disekolah nanti.
Hana : "Kenapa, Pak? Mau ngajak Hana jalan, ya? Cieee..π€π"
Me : "Kalau iya memangnya kamu enggak mau?"
Hana: "Mau jalan kemana, Pak?"
Me : "Saya enggak tau daerah Bandung. Mungkin kamu lebih tau, makanya saya ngajak kamu.β
Hana : "Oke. Besok bertiga sama Mas Ikhsan, ya, Pak. Kebetulan Mas Ikhsan juga libur. Bapak kirim alamat bapak aja biar besok kami jemput."
Harus gitu bawa ngajak Ikhsan? Over protective juga si Ikhsan itu.
Tapi aku maklum saja sebenarnya. Anak gadis jaman sekarang kalau enggak diawasi bisa bahaya.
Eh, itu berarti Ikhsan enggak percaya sama aku, ya?
__ADS_1
Ahh.. Aku paham. Aku dan Ikhsan lama enggak bertemu. Mungkin Ikhsan belum bisa percaya sama aku meskipun dia tau kalau aku guru Hana juga.
"Cieee ada yang mau kencan. Belum juga sehari disini, udah dapet temen kencan aja," celetuk Mbak Anggun yang ternyata sejak tadi berada di belakangku.
Itu berarti?
"Mana si dia di temenin kakaknya lagi. Gagal berduaan, dong, ya? Haha," godanya lagi.
"Mbak Anggun diem, deh. Aku doain anak Mbak Anggun mirip aku kalau enggak diem," ucapku ketus sambil memasukkan handphone ku ke kantong celana setelah mengirimkan alamat rumah Mbak Anggun pada Hana.
"Enak saja kamu, Ga. Mas sama Mbakmu yang buat, kok, jadinya mirip kamu," Mas Erwin yang baru saja keluar dari kamar ikut menimpali. Ucapan Mas Erwin membuat jiwa singlelillah-ku berteriak istighfar berkali-kali.
"Itu cewek yang tadi kamu kenalin ke kita pas di restoran tadi, ya?" Tanya Mbak Anggun penasaran. Aku mengangguk saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mata Mbak Anggun berbinar melihat anggukan ku.
Sebelum Ikhsan dan Hana pergi dari restoran tadi, mereka sempat berkenalan dengan Mbak Anggun dan Mas Erwin. Mbak Anggun sendiri juga tak menyangka kalau kami, maksudku aku, Hana, dan Ikhsan, bisa bertemu di Bandung.
"Cantik loh, Ga. Cocok buat dijadikan calon istri," Mbak Anggun menaikturunkan alisnya menggodaku
Aku menatap jengah Mbak Anggun. Ujung-ujungnya selalu begitu.
"Dia murid aku, Mbak,"
"Mbak tau. Udah keliatan, kok. Apa salahnya guru memperistri muridnya sendiri?"
"Ya salah. Dia kan masih sekolah."
"Berarti kalau udah lulus mau ya, Ga?"
Kali ini gantian Mas Erwin yang menggodaku. Dan itu sukses membuat tawa Mbak Anggun pecah, puas menertawakan aku yang mungkin saat ini wajahku sudah memerah. Malu.
πΊπΊπΊ
AUTHOR
Malam kian larut. Angin berhembus pelan menggerakkan ranting pepohonan sehingga saling bergesekan menciptakan suara yang memecah keheningan malam.
Mata Angga enggan untuk terpejam. Pikirannya tak berhenti memikirkan Hana yang mungkin saat ini sudah berpetualang di alam mimpi. Angga tak mengerti bagaimana pikiran dan hatinya saat ini hanya terisi dengan satu nama. Hana.
Tidak ada yang salah dengan siapa hati melabuhkan rasanya. Angga tak mau menyimpulkan begitu saja dengan apa yang ia rasakan. Yang pasti, rasa senang bertemu dengan Hana, rasa nyaman ketika bersama Hana, ada sesuatu yang kurang saat tak melihat Hana, semua itu tercipta dengan sendirinya tanpa Angga bisa mencegahnya.
Ditempat lain, Hana pun rasanya sulit untuk memejamkan mata meskipun waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rekor bagi Hana yang selama ini tak kuat membuka mata sampai semalam ini.
Hati dan pikirannya juga tak berhenti memikirkan Angga. Guru yang ia anggap menyebalkan, dingin dan songong itu nyatanya mampu mengobrak-abrik pikirannya.
Dari sikapnya yang tiba-tiba berubah lebih baik, permintaan maafnya, pertemuannya yang tak sengaja di restoran, sampai permintaannya untuk menemani berjalan-jalan di kota Bandung.
Hana sengaja mengajak kakaknya karena Hana tak mau kalau berduaan saja dengan Angga. Hana merasa itu tak baik untuk kesehatan jantungnya yang suka tiba-tiba berdetak lebih kencang saat didekat Angga.
Hana pikir dengan adanya Ikhsan yang ternyata adalah teman lama Angga bisa membantu mengurangi kecanggungan antara dirinya dan Angga.
πΊπΊπΊ
**Up... π
__ADS_1
maapkan kalau gajee ππ**