
POV : ANGGA
Entah apa yang ada di pikiranku sampai aku tega mengucapkan kata-kata itu pada Hana. Bagaimana Hana saat ini? Apa dia menangis? Apa dia bersedih? Apa dia marah?
Aku tak mengerti, kata-kata itu meluncur dengan mulusnya dari mulutku ini.
Hari ini cukup melelahkan. Aku hanya ingin mendengar suara Hana sebagi obat lelahku. Tapi responnya justru membuat emosiku meledak.
Apa dia kata? Berfoto dengan Vera?
Ah, aku ingat. Siang tadi memang ada salah seorang siswaku yang bernama Vera datang ke distro dan meminta foto bersama. Tapi bagaimana Hana bisa tau? Apa Vera mengirimkan foto itu pada Hana? Atau justru mempostingnya di media sosial? Ah, kid jaman now!
Tapi yang jadi pertanyaan besar dalam pikiranku, kenapa Hana begitu marah tau aku berfoto dengan Vera? Apa itu artinya.. Hana cemburu? Kalau Hana cemburu itu tandanya....?
***
Sudah seminggu ini aku begitu sibuk disekolah dan juga di distro. Pagi sampai jam dua disekolah, setelahnya di distro sampai jam 10 malam. Atau sampai tutup.
Kesibukanku membuat aku hampir tidak pernah memegang ponsel. Aku juga tidak sempat menghubungi Hana lagi.
Tunggu! Aku sempat bilang kalau aku tak akan mengganggunya lagi. Meskipun itu hanya gertakan saja, aku ingin Hana mengira bahwa aku tak main-main dengan ucapanku.
Ngomong-ngomong soal Hana, harusnya hari ini dia sudah kembali dari Bandung.
Apa kabar gadis itu? Sudah seminggu aku tak bertukar pesan dengannya apalagi mendengar suaranya.
Rindu membuat tanganku terasa gatal tak tahan untuk menghubunginya.
***
"Selamat pagi, Pak," Sapa beberapa siswi yang berpapasan denganku di koridor sekolah.
"Pagi," jawabku singkat dan berlalu begitu saja.
Ada apa para siswi itu datang ke sekolah. Ini masih hari kamis, sekolah dimulai besok senin. Tidak hanya mereka yang menyapaku saja yang ku lihat. Ternyata sudah banyak yang datang. Aku mengenali beberapa dari mereka adalah anggota OSIS.
"Selamat pagi, Pak," Rasyid, ketua OSIS, menyapaku.
"Pagi, ini ada acara apa? Kenapa sudah pada masuk?"
"Hari ini, besok dan lusa akan ada rapat OSIS membahas persiapan MOS, Pak."
Aku mengangguk mengerti. "Baiklah, tolong nanti hasilnya diantarkan ke ruangan saya."
"Baik, Pak."
***
Seingatku, Hana juga anggota OSIS. Sekertaris kalau tidak salah. Itu berarti hari ini Hana juga akan datang ke sekolah.
Kira-kira bagaimana ya reaksi Hana nanti setelah melihatku?
__ADS_1
Mengingat akhir-akhir ini hubungan kami sangat buruk. Aku tak pernah mencoba menghubunginya. Dia pun sama sekali tak menghubungiku.
Aku seperti anak kecil yang mengedepankan egoku. Aku sadar sepenuhnya kalau kemarin aku terlalu keras pada Hana. Harusnya aku kembali menghubunginya dan meminta maaf.
Semua masalah tidak akan selesai kalau tidak ada yang mengalah.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, masuk!"
Ada Hana dan seorang temannya yang entah siapa namanya aku tak tahu masuk ke ruangan ku.
"Ada apa?" Tanyaku datar. Hana terus menunduk tanpa melihatku. Sekalinya mendongak, ia mengarahkan pandangannya ke lain arah. Seolah jangan sampai ia melihatku.
"Ini laporan rapat hari ini, Pak. Mohon dikoreksi," ucap teman Hana dengan menyerahkan sebuah buku tulis berisi hasil rapat OSIS hari ini.
"Baik. Tinggalkan disini dulu biar nanti saya koreksi,"
"Baik, Pak. Kami permisi dulu," aku mengangguk, dan mereka membalikkan badan lalu berjalan menuju pintu untuk keluar.
"Hana!" Panggilku pada Hana yang hampir saja tubuhnya menghilang dibalik pintu.
"A.. Ada apa, Pak?" Tanyanya takut.
"Bantu saya membereskan meja saya."
Hana terlihat menegang. Melihat temannya seolah meminta bantuan.
"Iya, membersihkan meja sekecil ini tidak memerlukan banyak orang."
Mereka berdua saling berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak mau tahu.
Tak lama kemudian Hana berjalan pelan mendekati mejaku. "Mana yang harus saya bereskan, Pak?" Suaranya terdengar pelan dan enggan. Seperti tidak ikhlas untuk melakukan ini semua.
"Semuanya. Pisahkan per kelas," tunjukku pada kertas-kertas hasil ujian tertulis yang belum sempat aku masukkan kedalam kotak arsip. "Setelah itu susun di rak sesuai dengan kelasnya."
Tanpa merespon, Hana langsung melakukan semaunya sesuai instruksi ku. Tangan Hana terlihat begitu cekatan dalam membereskan semuanya.
Tanpa Hana sadari, aku sudah menutup pintu ruangan ku yang tadi masih terbuka lebar. Sebelumnya ku lihat keluar sudah lumayan sepi. Aku yakin sebagian mereka sudah pulang. Bukan untuk bertindak kurang ajar. Aku hanya ingin berbicara lebih dekat dengan Hana.
"Mm.. Maaf, Pak. Saya mau keluar, pekerjaan saya sudah selesai," Hana menunduk dan terlihat ketakutan melihatku berdiri bersandar pada pintu yang tertutup.
Tanpa berkata apapun, aku berjalan pelan mendekati Hana. Kedua tanganku ku masukkan ke dalam saku celana. Semakin aku maju, Hana justru semakin memundurkan dirinya. Hingga akhirnya, meja yang menghentikan langkahnya.
"Bapak mau apa?" Tanyanya bergetar. Matanya bergerak gelisah menghindari tatapan ku. Ahh.. Wajah Hana terlihat lebih menggemaskan jika sedang gugup seperti ini.
"Pak.. Sa.. Saya mau keluar," ucapnya terbata sambil melangkah mengambil jalan di sisiku. Aku tak menjawabnya, tapi mencekal tangannya mencegahnya pergi. Aku masih ingin menikmati wajah menggemaskan ini lebih lama lagi. Kapan lagi bisa sedekat ini?
"Kamu kemana aja?" Tanyaku kemudian.
"Maksud Bapak apa?"
__ADS_1
"Masih manggil saya Bapak?" Protesku.
"Ini kan dilingkungan sekolah," elaknya tak mau kalah.
"Tapi kita sedang berdua," aku juga tak mau kalah.
Hana diam. Tatapannya memohon agar aku bisa melepaskannya dan membiarkannya keluar dari ruangan ku.
"Pak.. Tolong! Saya mau keluar. Nanti kalau ada yang tahu bagaimana?" Suaranya terdengar memelas. Sama seperti suaranya yang pernah ku dengar ketika Hana merajuk pada Ikhsan. Dan Ikhsan selalu luluh kalau Hana sudah seperti itu. Sebenarnya aku juga mulai luluh. Tapi aku tak mau melepaskannya begitu saja.
"Memang kalau ada yang tahu kenapa?"
"Ya.. Takut dikira ngapa-ngapain."
"Memangnya kita ngapain?" ujarku menggoda Hana yang semakin terlihat salah tingkah.
"Kenapa kamu tidak menghubungi saya?" Tanyaku sambil menatap kedua matanya.
"Bapak juga tidak menghubungi saya."
"Kenapa kamu tidak menghubungi saya lebih dulu?"
"Kenapa harus saya dulu yang menghubungi bapak?" Jawab Hana tak mau kalah.
"Kamu salah sudah marah-marah pada saya."
"Bapak juga marah-marah sama saya!"
Oke. Kalau seperti ini tidak akan bisa selesai. Hana tak mau mengalah. Apa prinsip 'wanita selalu benar sudah merekat pada Hana?'. Ku pikir hanya yang sudah berumah tangga saja yang punya prinsip seperti itu.
"Baiklah.. Saya minta maaf kemarin sudah marah-marah sama kamu," ucapku mengalah. "Ucapan saya soal saya tidak akan mengganggu kamu lagi, itu hanya gertakan saja. Tidak perlu ditanggapi dengan serius," lanjut ku.
"Memangnya kalau saya tanggapi dengan serius kenapa, Pak? Kalau bapak tidak mau mengganggu saya lagi, ya silahkan, Pak."
"Maksud kamu?" Tanyaku tak terima dengan ucapannya.
"Ya kalau bapak tidak mau mengganggu saya lagi, itu bukan masalah besar bagi saya, Pak. Permisi,"
Aku menarik tangannya kencang saat Hana mulai melangkah. Mungkin karena terlalu kencang sampai membuat Hana hampir terjengkang kalau aku tidak menahannya. Tangannya juga reflek memeluk leherku. Posisi kami menjadi berpelukan.
"Bapak ngapain peluk-peluk saya? Jangan kurang ajar ya, Pak. Bapak pikir saya perempuan apaan? Dasar guru mesum!"
Hana memukul dadaku keras sesuai tenaga perempuan. Bagiku hanya seperti digigit semut. Wajahnya memerah karena amarah. Pundaknya naik turun seiring dengan nafasnya yang memburu menahan amarahnya. Matanya melotot menatapku, kedua tangannya terkepal seperti ingin melayangkan tonjokan kepadaku.
Hana pergi keluar dari ruangan ku dengan langkah lebarnya.
Sungguh. Aku tak pernah berniat untuk memeluknya. Aku tak menyangka akan begini jadinya. Bukannya membaik, hubungan kami justru semakin memburuk.
πΈπΈπΈ
Happy reading.. ππ
__ADS_1