
POV : HANA
Dengan langkah gontai aku berjalan memasuki halaman rumahku. Pulang sekolah kali ini, aku diantar oleh Karina. Biasanya aku, Karina dan Lila pulang pergi sekolah naik angkutan umum. Tapi hari ini Lila dijemput oleh kakaknya. Dan Karina membawa motor. Ih, mentang-mentang sudah punya SIM. Kan, aku jadi pengen!
"Assalamualaikum,"
Tak ada jawaban. Mungkin mama baru dikamar mandi. Nanti saja menyapa mama, lebih baik aku ke kamar dulu untuk mengganti bajuku dengan baju rumahan.
"Sudah pulang, Na? Enggak salam dulu," suara mama yang berasal dari arah dapur membuatku menoleh.
Aku kembali turun dan berjalan menuju dapur. Ternyata mama sedang memasak.
"Tadi udah salam, Ma. Mama aja yang enggak denger," ucapku sambil mengambil tangan kanan mama untuk ku salami dan ku cium.
"Oya?" Aku mengangguk. "Tadi mama pas cuci piring mungkin. Jadi enggak denger," lanjutnya.
Aku mengangguk. Kemudian mengambil gelas dan membuka lemari es untuk mengambil air dingin. Menuangkannya ke dalam gelas, lalu meminumnya.
"Duduk, Hana! Kalau makan atau minum itu duduk," mama memperingatkan aku.
Aku tersenyum meringis mendengar ucapan mama. Kebiasaanku memang. Sering makan dan minum sambil berdiri. Padahal Allah melarangnya. Duh, setan didalam tubuh ku memang begitu kuat menggodaku.
"Aku ke kamar dulu ya, Ma?" Pamitku. Mama mengangguk mengiyakan.
🌺🌺🌺
Triiiiing
Aku terpaksa membuka mataku saat mendengar handphone ku tak berhenti berbunyi. Setelah berganti baju tadi, aku langsung tidur. Dan tak tahu ini sudah jam berapa.
Mas Ikhsan Calling..
Aku menghembuskan napas kesal. Mas Ikhsan adalah kakakku satu-satunya. Saat ini sedang bekerja dan kuliah di Bandung dan tinggal bersama kakek dan nenek dari pihak mama.
Ku tutup kedua telingaku dengan bantal agar aku tak lagi mendengar suara berisik dari handphone ku. Aku malas mengangkat telepon dari Mas Ikhsan. Makhluk satu itu hanya akan membully ku habis-habisan saat telepon maupun saat bertemu.
"Apa, sih, Mas, nelponin terus? Ganggu orang tidur aja, sih," gertakku setelah menggeser tombol hijau menerima panggilannya. Terpaksa.
"Anak perawan jam segini tidur?"
__ADS_1
"Bodo amat!!" Jawabku acuh.
"Liburan besok ke Bandung, ya, dek?"
Aku langsung bangun dari tempat tidur mendengar ucapan Mas Ikhsan. Rasa kantukku hilang seketika. Mataku berbinar bahagia. Tentu saja aku mau. Terakhir ke Bandung liburan tengah semester kemarin.
"Mauuuuu.." jawabku riang. Mas Ikhsan terkekeh pelan di seberang sana.
"Tapi tiket bayar sendiri,"
"Iiihhh.. nyebelin. Enggak mau kalau gitu,"
"Enggak mau ya udah,"
"Ya udah juga kalau gitu," jawabku cuek.
Sebenarnya aku tahu kalau Mas Ikhsan hanya menggodaku saja. Maklum saja, orang satu itu kalau sehari saja tidak usil denganku mungkin rasanya seperti belum makan nasi.
Lama tidak ada respon, ternyata sambungan telepon sudah terputus. Tak lama kemudian ada notif WhatsApp masuk dari Mas Ikhsan.
Mas Ikhsan : Buat beli tiket. Jangan buat jajan, apalagi buat beli kuota.
Tulis Mas Ikhsan, sambil menyertakan bukti transfer dan tertulis sejumlah nominal uang disana.
"Yeeeeyyyy,"
Aku melompat-lompat di atas ranjang karena begitu senangnya. Uang yang dikirimkan Mas Ikhsan kalau hanya untuk beli tiket pulang pergi naik pesawat saja masih sisa banyak. Sudah pasti itu untuk uang jajanku.
Kakakku satu itu, meskipun nyebelinnya luar biasa, tapi kalau sudah baik, baiknya juga enggak ketulungan.
Brruukkkk
"Aduuhh.."
🌺🌺🌺
"Mas Ikhsan bilang, dia kirim uang ke kamu?" Tanya mama saat kami makan malam.
Aku mengangguk dan tetap melanjutkan aktivitas makanku.
__ADS_1
"Katanya buat beli tiket ke Bandung? Liburan mau ke sana?" Aku kembali mengangguk.
"Sisa buat beli tiket ditabung lho, Na. Jangan buat jajan apalagi buat beli kuota," canda papa persis dengan ucapan Mas Ikhsan tadi.
Mama terkekeh mendengarnya.
🌺🌺🌺
"Waaaahh.. Bandung," teriak Karina dan Lila yang mendengar aku berkata bahwa liburan kali ini aku pergi ke Bandung.
Mereka tentu saja heboh sendiri. Mereka belum pernah liburan ke Bandung. Paling ke Jogja atau Semarang. Itu saja belum tentu setahun sekali.
"Ngomong-ngomong, Na, Mas Ikhsan sekarang ganteng banget, sih? Udah punya pacar belum dia? Mau dong jadi calon kakak ipar kamu. Haha,"
Aku mendelik tak suka mendengar ucapan Karina.
"Enggak mau aku punya kakak ipar kayak kamu," ucapku ketus. Dalam hati hanya bercanda. Siapapun jodoh Mas Ikhsan kelak, aku setuju saja. Asal dia baik sama Mas Ikhsan dan juga baik sama orangtuaku.
"Nyebelin kamu, Na!"
Aku dan Lila tertawa melihatnya.
"Aku pesan minum dulu, ya?"
Mereka mengangguk. "Seperti biasa ya, Na." Ucap mereka bersamaan diiringi tawa setelahnya.
🌺🌺🌺
"Makasih mbak Siti," ucapku riang setelah menerima nampan berisi tiga gelas minuman pesananku.
Aku berbalik dan berjalan menuju meja tempat Karina dan Lila duduk.
"Aduuhh!! Yahhh.. tumpah," aku menabrak seseorang hingga membuatku hampir menjatuhkan nampan. Untung saja tanganku kuat sehingga hanya minumannya saja yang tumpah dan gelasnya tidak terjatuh.
Tapi tunggu dulu! Siapa yang aku tabrak tadi?
"Kamu!!"
Aku mendongak melihat siapa yang aku tabrak. Kulihat bajunya basah karena tumpahan air minumku.
__ADS_1
Nafasku tercekat. Aku menelan ludah kasar. Tanganku bergetar karena gugup.
Hana!! Kamu dalam bahaya.