
POV : HANA
"Hana!!"
Suara itu langsung membuatku mengehentikan langkahku. Suara yang begitu familiar, yang hampir tiga Minggu ini aku rindukan pemiliknya.
Aku mendongak, ku lihat Mas Angga berdiri di dekat parkiran dengan memegang sebuah payung. Hatiku berbunga, aku bahagia, orang yang aku rindukan ada didepan mata.
Tapi Mas Angga menatapku aneh, seperti ada kemarahan disana. Tunggu! Posisiku? Oh, tidak!
Pantas Mas Angga terlihat marah. Saat ini aku berlindung dari air hujan dibawah jaket milik Denis. Satu tangan Denis juga merangkul pundakku. Aku langsung menghempaskannya dengan kasar.
Jelas Mas Angga marah. Beberapa siswa yang belum pulang juga pasti melihat kami. Ya ampun! Pasti akan jadi gosip lagi.
Gosip hari ini : Baru ditinggal Pak Angga tiga Minggu, Hana sudah kepergok hujan-hujanan bersama Denis.
Noo!! Enggak! Jangan sampai ini jadi gosip.
Dengan langkah lebar, Mas Angga berjalan menuju tempatku dan Denis berdiri. Tanpa berkata-kata Mas Angga menarik tanganku lalu membawaku pergi dari hadapan Denis.
"Mas Angga sakit...!" Keluhku. Tapi Mas Angga tak peduli. Mas Angga terus menyeret ku.
"Masuk!" Ucapnya dingin sambil membukakan pintu mobil untukku. Aku menatapnya dengan mata hampir menangis. Dua kali ini Mas Angga berlaku kasar seperti ini kepadaku.
"Masuk!" Kali ini suaranya lebih kasar. Mas Angga membentak ku. Mau tak mau aku menurutinya.
"Mas Angga pulang nggak ngabarin Hana dulu?" Aku mencoba untuk tak terpengaruh dengan sikap Mas Angga kali ini. Suaraku ku buat seperti biasa saat kami bersama.
"Kenapa? Biar nggak ketahuan kalau kamu selingkuh?"
"Maksud Mas Angga apa?" Tanyaku tak mengerti.
"Berduaan dengan laki-laki lain. Pakai dirangkul sama dipayungin segala," tudingnya.
"Mas Angga menuduh aku selingkuh?" Tanyaku tak percaya. Ini benar Mas Angga, kan, yang ada di depanku saat ini?
"Kenyataannya memang begitu, kan? Aku sudah melihatnya."
Mas Angga tidak lagi menyebut dirinya "Mas", tapi menggunakan "aku".
"Mas Angga salah paham, tadi itu__"
"Salah paham apanya? Berduaan, dirangkul-rangkul kayak tadi dan aku melihatnya secara langsung masih dibilang salah paham? Jangan-jangan selama ini kamu memang selingkuh di belakang aku."
Aku terperangah. Tak menyangka Mas Angga bisa mengatakan itu semua dengan cepatnya.
"Mas Angga udah nggak percaya lagi sama aku? Mas bisa tanya sama Karina, Lila, Indra, atau bahkan Mas bisa tanya sama Pak Satria kalau aku nggak pernah macam-macam. Denis hanya menolongku agar tak basah kuyup karena aku lupa tak membawa payung atau jas hujan," Ucapku lirih sambil menahan tangis. Tidak dipercaya dan dituduh yang tidak-tidak itu sakit.
"Ya gimana aku bisa percaya? Aku lihat sendiri. Siapa tahu kamu juga udah nyuruh mereka untuk tutup mulut buat nutupin kelakuan kamu dibelakang aku. Udah dibela-belain pulang, bahkan aku lebih memilih ketemu kamu dulu daripada orangtuaku, tapi ternyata ini yang aku dapat."
Aku menggeleng tak percaya. Kesambet setan apa kamu, Mas?
Denis hanya berniat menolongku agar aku tak basah kuyup. Hanya sampai di gerbang sekolah karena aku sudah meminta Mas Ikhsan untuk menjemputku.
Awalnya pun aku juga tak mau. Tapi karena sekolah semakin sepi, mau tak mau aku mengiyakan ajakan Denis.
__ADS_1
Salahku sendiri memang, payung tak membawa, jas hujan pun lupa tak ku bawa.
"Memangnya Mas pikir aku kurang kerjaan? Mas itu bisa nanya sama semua orang yang berada disekitar aku. Mas bisa tanya Karina, Lila, Mas Ikhsan. Sedangkan aku? Kalau Mas Angga nggak bisa dihubungin aku harus tanya ke siapa? Kalau aku mau tahu Mas disana macam-macam atau nggak aku harus nanya ke siapa? Enggak ada!"
"Kalau cemburu, harusnya itu aku. Aku cemburu sama orang-orang yang bisa lihat Mas Angga kapan saja. Aku cemburu dengan orang-orang yang bisa lihat senyum Mas Angga setiap hari."
"Aku nggak minta Mas Angga lebih mementingkan aku daripada orangtua Mas Angga sendiri. Kalau memang Mas Angga udah nggak percaya lagi sama aku, itu terserah Mas Angga."
Cukup! Lebih baik aku turun dari mobil Mas Angga. Aku tak mau bersamanya saat ini. Meskipun rasa rinduku begitu menggebu, aku tak memperdulikannya lagi. Entah dia mau mempercayaiku atau tidak. Itu urusan dia.
"Mau kemana kamu?" Bentaknya saat aku mulai membuka pintu mobil.
"Aku nggak mau ketemu Mas Angga. Tenangin pikiran Mas dulu. Biar nggak nuduh orang sembarangan."
"Aku belum selesai bicara, Hana!" Mas Angga kembali menarik tanganku. Aku melepaskannya dengan cara kasar.
"Aku mau ikut Mas Ikhsan, itu mobilnya disana," Mas Angga mengikuti arah pandang ku pada mobil Mas Ikhsan yang berada diseberang jalan. "Kalau kita teruskan pembicaraan ini, nggak akan pernah ketemu jalan keluarnya. Mas Angga masih tetap marah-marah dan nggak mau dengar penjelasan aku. Jadi lebih baik Mas Angga pikirkan lagi. Yang Mas Angga tuduhkan itu sudah benar atau belum. Permisi!"
Aku keluar dari mobil Mas Angga. Tak peduli dengan hujan yang masih lumayan deras. Ku gunakan tasku untuk menutupi kepalaku dari air hujan.
Berlari menyeberang jalan setelah memastikan tidak ada kendaraan yang melintas. Mas Angga sepertinya sama sekali tak berniat untuk mengejar ku.
Ya iyalah! Dia sudah tahu kalau aku akan pulang bersama Mas Ikhsan. Kalau sama yang lain sudah pasti di seret masuk ke mobil lagi.
"Itu Angga, kan?" Tanya Mas Ikhsan saat aku baru saja menutup pintu mobil dari dalam. Aku hanya mengangguk tak berniat untuk bicara.
"Berantem?" Lanjutnya. Aku masih diam. Sungguh, kali ini aku benar-benar malas membahas Mas Angga.
"Ya kayak gini kalau pacaran sama anak sekolah. Kasian banget si Angga."
"LDR belum sebulan udah ribut aja. Kayak Mas sama Kinan, nih, adem-adem aja. Padahal jaraknya lebih jauh dan nggak bisa ketemu walaupun cuma sebulan sekali," ucapnya santai. Sombong sekali Mas-mas satu ini!
"Teh Kinan masih sekolah juga kalah Mas lupa!" Bener, kan? Kuliah juga sekolah, kan?
"Tapi dia udah dewasa!" Seru Mas Ikhsan tak mau kalah.
"Maksud Mas aku nggak dewasa?"
Mas Ikhsan menghembuskan napas pelan. Kemudian menelepon seseorang yang entah itu siapa.
"Ikuti mobilku, Ga. Kita sholat Jumat dulu di Masjid Agung," aku melayangkan tatapan tajam pada Mas Ikhsan. Buat apa dia menelepon Mas Angga?
"Mas Ikhsan ngapain, sih, telpon Mas Angga?"
Mas Ikhsan tak menjawab dan lebih memilih menjalankan mobilnya. Aku merengut tak suka. Membuang pandanganku ke arah jalanan yang masih diguyur hujan disiang ini.
Mobil memasuki halaman Masjid Agung, ku lihat dari kaca spion mobil Mas Angga berada dibelakang mobil Mas Ikhsan.
"Turun, sholat dulu!" Perintah Mas Ikhsan.
"Aku lagi haid," jawabku ketus.
"Pantas, marah-marah terus."
Mas Ikhsan keluar dari mobil tanpa mematikan mesinnya. Mas Ikhsan berjanji bersama Mas Angga menuju tempat wudhu sambil mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak mau tahu. Lebih baik aku tidur sambil menunggu Mas Ikhsan selesai sholat Jum'at.
__ADS_1
***
"Na.." Aku merasa seseorang mengguncang bahuku pelan.
"Hana!" Suaranya terdengar begitu lembut. Aku menggeliatkan tubuhku.
Aku terperanjat saat pertama kali aku membuka mata, wajah Mas Angga tepat didepan wajahku.
"Mas Angga ngapain?" Pekik ku tertahan.
"Ikut Mas, yuk!" Mas Angga mencoba menarik tanganku pelan.
"Nggak mau!" Dengan cepat aku menarik tanganku. Lalu memalingkan wajahku ke arah lain.
"Mas minta maaf. Sekarang ikut Mas, yuk?" Bujuknya halus. "Kamu nggak kangen sama Mas?" Lanjutnya percaya diri. Membuat Mas Ikhsan yang berdiri didekat pintu mobil berekspresi seperti ingin muntah. Aku jadi ingin tertawa, tapi aku tahan. Malu lah kalau sedang merajuk begini tiba-tiba tertawa.
"Tadinya kangen, tapi yang dikangenin malah marah-marah, nuduh sembarangan. Jadinya sekarang udah hilang kangennya," aku menggerutu.
"Iya, Mas salah. Mas minta maaf, ya? Sekarang Hana ikut Mas," Mas Angga masih tak mau menyerah untuk membujukku.
Sebenarnya rasa kangen itu belum hilang sedikitpun. Tapi aku kesal karena Mas Angga yang menuduhku yang tidak-tidak. Yang pasti aku sakit hati.
Bagaimana kalau terjadi pada kalian? LDR-an, kangen berat, sekalinya ketemu malah dituduh selingkuh, tak dipercaya sama sekali. Sudah dijelaskan tapi masih tak dipercaya.
Sakit!
"Udah cepetan!" Seru Mas Ikhsan tak sabar. Mungkin mulai enek kali ya melihat drama antara mantan guru dan mantan murid yang sekarang pacaran ini.
Mau tak mau, aku turun dan berjalan ke mobil Mas Angga. Mas Ikhsan sudah mengusirku dari mobilnya. Kalau aku tidak naik ke mobil Mas Angga, masak aku pulang sendiri? Tak mau lah akuuu!!!
"Kita makan dulu, ya?" Ucap Mas Angga sambil menjalankan mobilnya keluar dari halaman masjid.
"Aku mau pulang!" Jawabku ketus.
Bukannya mengantarku pulang, Mas Angga justru memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Aku mengernyit bingung, tapi tak ingin bertanya pada Mas Angga.
"Hana," panggilnya lembut sambil memegang tanganku. Aku hendak menarik tanganku tapi genggaman Mas Angga menguat. Seolah tak memperbolehkan aku melepas genggamannya.
"Mas minta maaf, ya? Mas tahu Mas salah sudah menuduh kamu yang enggak-enggak."
Akhirnya, kan? Sadar juga Mas Angga! Aku masih diam tak mau menanggapi. Biar tahu rasa mantan guru menyebalkan ini.
"Maaf, ya? Ini semua karena Mas sudah kangen berat sama kamu. Pas lihat kamu dekat dengan Denis jadinya malah emosi. Mas minta maaf. Mas cemburu banget, soalnya."
Air mataku menetes tiba-tiba. Aku sedih, perasaanku tak karuan rasanya.
Kenapa, sih, kita harus LDR? Kalau kita nggak LDR mungkin kita nggak akan salah paham begini, kan? Ini baru tiga Minggu kita berjauhan, tapi sudah seperti ini.
Bisa nggak aku ikut Mas Angga aja? Atau Mas Angga yang kembali ke sekolah. Kalau nggak bisa kan Mas Angga kerjanya di Karanganyar aja? Lagi pula Mas Angga kan sudah punya usaha sendiri. Kenapa juga mesti bekerja dengan orang lain?
Mas Angga memelukku sambil mengusap rambutku, aku juga tak menolak. Ku tumpahkan segala rasa dipelukan Mas Angga.
Aku merindukannya, aku menyayanginya, aku tak ingin lagi berjauhan dengannya.
🌹🌹🌹
__ADS_1