
Anggi terperangah melihat kamar adik laki-laki satu-satunya yang sudah mirip dengan kapal pecah. Kemeja dan baju batik yang Angga miliki berserakan dimana-mana.
Apalagi melihat Angga yang berdiri dengan menatap intens satu buah baju batik ditangannya.
"Kenapa, sih?"
"Astaghfirullah.." Angga tersentak saat mendengar suara Anggi. "Kebiasaan nggak ketuk pintu dulu kalau masuk!" Sungut Angga tak suka.
"Udah. Tapi kamu nggak denger. Ya udah aku langsung masuk. Ternyata pemilik kamar sedang mengamuk."
Angga terduduk lemas di ranjang. Besok ia akan datang ke pernikahan Ikhsan, sudah pasti akan bertemu dengan Hana. Rasanya ia sudah tak sabar untuk menanti hari esok.
Perasaannya pun seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Gugup luar biasa. Angga lelah memilih baju yang kiranya cocok ia kenakan. Padahal sebelumnya ia cuek saja dengan baju yang ia kenakan saat menghadiri undangan. Yang terpenting adalah rapi dan sopan. Dan juga sesuai dengan acara.
Namun kali ini rasanya semua baju yang ia miliki terlihat tak pantas untuk ia kenakan. Angga berusaha untuk berpenampilan sebaik mungkin untuk bertemu dengan Hana. Gadis yang menjadi penghuni hatinya selama ini.
"Jadi besok ada Hana?" Tebak Anggi sesuai sasaran. Angga memang sudah menceritakan perihal Hana kepada kedua kakaknya. Semuanya tanpa terkecuali.
Angga mengangguk lesu. Tapi Anggi menyambutnya dengan sebuah tawa. "Jadi ceritanya ini bingung begitu mau pakai baju yang mana? Cuma karena mau bertemu dengan Hana? Angga... Angga.. Kamu itu udah dua puluh lima tahun tapi masih kayak ABG labil."
"Bukannya bantuin malah ngeledek terus!"
Anggi tertawa pelan. Kemudian ia berjalan mendekati baju-baju Angga yang sudah teronggok mengenaskan di lantai. Yang semula halus mulus seolah lalat saja terpeleset, sekarang sudah kusut karena bergelut dengan baju yang lainnya.
Anggi mengamati satu per satu baju yang Angga miliki. Mulai dari kemeja dengan segala warna, baju batik dengan aneka corak dan warna. Akhirnya pilihan Anggi jatuh pada baju batik berwarna coklat tua yang bercorak entah apa itu Anggi juga tak paham.
"Ini bagus!" Serunya dengan melemparkan baju itu ke pangkuan Angga. Pilihan Anggi sesuai dengan pilihan Angga di awal memilih baju.
"Tadi aku juga pilih ini, sih, Mbak," ucap Angga enteng.
"Kalau begitu kenapa seluruh isi lemari di keluarin? Awas saja kalau minta ibu buat beresin ini semua!"
"Aufar tidur?" Tanya Angga tiba-tiba. Anggi mengangguk sebagai jawaban. "Berarti mbak Anggi yang bantu beresin ini," ucap Angga tanpa beban.
"Nggak mau! Enak aja!"
"Ayolah, Mbak. Hitung-hitung ini sebagai bentuk dukungan Mbak Anggi buat aku," Angga menaikturunkan alisnya.
"Dasar modus!" Umpat Anggi namun tetap membantu Angga membereskan baju-bajunya.
***
Angga membolak-balikkan badannya menghadap ke kanan dan ke kiri dengan perasaan gelisah. Rasanya ia sudah tak sabar untuk menanti hari esok.
"Kira-kira Hana sekarang bagaimana, ya?" Gumamnya.
"Pasti sudah semakin dewasa," gumamnya lagi. Bedanya kini Angga menatap foto Hana yang memakai seragam putih abu-abu dengan senyum ceria yang selalu terlukis di bibirnya. Senyum yang bisa ia lihat setiap saat sebelum akhirnya kesalahannya membuatnya tak lagi bisa melihat senyum manis Hana.
"Apa kamu masih marah sama Mas, Na? Kamu belum punya pacar baru, kan, Na? Kalau sudah apa artinya penantian ku selama ini, Na?" Racau Angga tak jelas.
"Ah.. Tapi janur kuning belum melengkung, kan? Janur Ikhsan yang sudah melengkung," Angga tertawa pelan menertawakan dirinya sendiri.
Angga menyudahi pemikiran tak jelasnya dan memutuskan untuk segera tidur. Sebisa mungkin ia memejamkan mata. Meskipun membutuhkan waktu yang lama, namun akhirnya Angga terlelap juga.
***
Pagi harinya Angga begitu bersemangat untuk bangun dari tidurnya. Tak ada rasa malas dan kantuk seperti biasanya. Ia benar-benar sudah mirip anak SD yang akan piknik. Ada rasa tak sabar dan tak tenang untuk menyambut hari itu.
Beberapa jam lagi Angga kan bertemu dengan Hana. Ingin rasanya Angga membuat waktu berjalan lebih cepat lagi.
"Empat jam lagi," gumamnya penuh semangat.
Angga menghabiskan paginya dengan berolahraga terlebih dahulu. Hal yang sudah biasa ia lakukan di setiap pagi.
Memakai baju batik yang kemarin dipilihkan oleh Anggi, Angga terlihat begitu gagah. Dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam dan juga sepatu pantofel. Rambutnya ia sisir rapi dengan belah pinggir. Sempurna.
Angga memang selalu terlihat sempurna.
Angga berpamitan dengan kedua orangtuanya dan juga meminta doa agar harinya di lancarkan. Bahkan kedua orangtuanya mengatakan bahwa Angga sudah sangat mirip dengan laki-laki yang akan mengucapkan ijab qobul. Angga mengaminkan saja. Semoga ia segera bisa mengucap ijab qobul dengan Hana.
Dengan perlahan Angga menjalankan mobilnya menuju hotel Clarissa dimana resepsi pernikahan Ikhsan dan Kinan di laksanakan. (Nama hotel fiktif)
Satu jam perjalanan, Angga sudah sampai ditempat tujuan. Jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha untuk tetap tenang.
__ADS_1
Barisan among tamu sudah menyambutnya dengan senyuman. Errrr.. bukan hanya menyambut Angga. Tapi juga menyambut semua tamu. Tak terkecuali kedua orangtua Hana.
Sudah lama Angga tak bertemu dengan mereka. Angga sedikit malu dan merasa bersalah karena sudah menyakiti anak gadis mereka.
"Assalamualaikum, Pak, Bu?" Sapanya sambil menyalami Anang dan Widia.
Anang dan Widia tersenyum menyambutnya. "Waalaikumsalam, Nak Angga. Bagaimana kabarnya?" Tanya Anang.
"Alhamdulillah sehat, Pak. Bapak dan ibu sehat?"
"Alhamdulillah. Ayo, silahkan masuk," ucap Widia.
Angga mengangguk dan tersenyum. Selanjutnya ia berjalan kaki berhenti untuk mengisi buku tamu.
Setelah selesai menuliskan nama dan alamatnya, Angga mendongak dan netranya langsung menatap mata Han yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hana berhijab?" Tanyanya dalam hati.
Meskipun Hana berjilbab dan wajahnya di rias secantik mungkin, itu tak membuat Angga pangling terhadap Hana. Angga hanya kaget sekaligus kagum melihat kecantikan Hana yang kini berhijab. Entah hanya untuk acara ini atau setiap harinya Hana berhijab, Angga tak tahu. Namun Angga yakin bahwa Hana berhijab di setiap harinya.
Hana terlihat begitu anggun dengan kebaya berwarna hijau lembut dengan panjang selutut dan dipadukan dengan kain jarik berwarna coklat gelap. Jilbab yang ia kenakan senada dengan warna kebayanya.
"Hana?" Sapa Angga ragu.
Hana hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman tipis. Sebenarnya Angga ingin berbicara banyak dengan Hana. Namun Angga sadar ini bukanlah waktu yang tepat untuk berbicara dengan Hana karena tamu yang lain sudah mengantri untuk lewat.
Angga memutuskan untuk berjalan dan mencari tempat duduk kendati matanya masih mengawasi Hana dari kejauhan.
๐น๐น๐น
Jantung Hana terasa berlompatan saat ia kembali bertemu dengan Angga. Orang yang selama ini ia hindari. Baik di sosial media maupun di dunia nyata.
Hana sudah yakin bahwa ia akan bertemu kembali dengan Angga. Setelah Kinan mengatakan bahwa Ikhsan mengundang Angga, Hana sudah mulai mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Angga.
Angga memang sudah duduk di salah satu kursi tamu. Namun Hana tak berani menengok karena ia yakin Angga sedang menatapnya dan mengawasinya dari jauh.
"Woy!" Rasyid datang mengagetkan Hana. Penampilan Rasyid yang begitu tampan dengan batik seragam yang senada dengan kain jarik yang Hana kenakan sempat membuat Hana terpana. Banyak yang menggoda Hana dan mengatakan kalau Rasyid adalah calon suaminya. Hana hanya bisa melongo dan tersenyum kikuk mendengarnya.
"Ketemu, kan? Aku juga lihat tadi," ucap Rasyid bermaksud menggoda Hana.
Rasyid tertawa lepas melihat Hana yang terlihat kesal. Rasyid tahu kalau sebenarnya itu hanya cara Hana untuk melampiaskan kegugupannya.
Tak lama kemudian, acara ngunduh mantu Ikhsan dan Kinan pun dimulai. Sepasang pengantin itu berjalan beriringan menuju ke pelaminan.
Acara ngunduh mantu itu dilakukan sesuai adat Jawa. Hana tak banyak mengerti dan lebih banyak menyimak dan menikmati acaranya saja.
Saat acara berfoto bersama, Hana lebih memilih menyendiri di salah satu kursi di barisan paling belakang berjajar dengan para tamu. Hana mempersilahkan keluarga dan teman-teman Ikhsan untuk berfoto terlebih dahulu. Setelah semua selesai, Hana baru akan berfoto bersama dengan mereka.
"Aku cariin ternyata kamu disini?" Rasyid datang dan duduk di samping Hana.
"Kenapa, sih? Ini acara keluarga kamu. Kenapa malah menyendiri disini?" Tanya Rasyid.
"Kamu tahu lah alasannya," jawab Hana singkat membuat Rasyid mengangguk mengerti.
"Aku sudah pernah bilang, kan? Hadapi! Ini semua pasti akan terjadi."
"Iya. Aku tahu, kok. Aku cuma nggak nyangka aja bisa secepat ini bertemu lagi dengan dia."
"Ikut aku, yuk!" Tiba-tiba Rasyid berdiri.
"Kemana?" Tanya Hana dengan memicingkan matanya.
"Ck, banyak nanya kamu. Udah ayo ikut."
Mau tak mau Hana mengikuti Rasyid yang terus berjalan. Dalam hati terus bertanya kemana Rasyid kan mengajaknya.
Hana membelalakkan matanya saat Rasyid mengajaknya mendekati panggung hiburan. "Rasyid jangan aneh-aneh!"
"Kamu diam disini, ya?"
Tanpa menunggu jawaban Hana, Rasyid naik ke panggung dan memposisikan diri. Rasyid duduk dengan memangku gitar.
"Selamat siang semuanya," Rasyid mulai bersuara. "Sebelumnya selamat atas pernikahan Mas Ikhsan dan Mbak Kinan. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah dan lekas diberi momongan."
__ADS_1
Rasyid kembali melihat Hana yang sudah memberinya kode untuk segera turun. Namun Rasyid tak menghiraukannya dan memilih melanjutkan aksinya.
"Disini saya akan mempersembahkan lagu buat seseorang yang tak lain adalah adik dari Mas Ikhsan. Farhana Aghnia."
Sorak sorai dan tepuk tangan dari para tamu mengiringi Rasyid yang mulai memetik gitarnya. Hana malu. Ia yakin wajahnya sudah memerah seperti udang rebus.
Waktu pertama kali ku lihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati ย tenang mendengar suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak ku sangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini slalu untukmu
Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Hari hari berganti kini cinta pun hadir
Melihatmu memandangmu bagaikan bidadari
Lentik indah matamu manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggun terikat
Rasa ini tak tertahan
Hati ini slalu untukmu
Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Tanpa terasa Hana pun larut meresapi setiap lirik yang dinyanyikan oleh Rasyid. Hana tak percaya kalau Rasyid akan melakukan ini semua untuknya. Rasyid tak malu dan tak sungkan untuk melakukannya.
"Aku maluuuu...." Ucap Hana sambil menutup wajahnya. Kini Rasyid sudah turun dari panggung dan menghampiri Hana yang duduk tepat di depan panggung.
Rasyid terkekeh pelan. "Aku yang nyanyi aja nggak malu, loh," ucapnya bangga. "Sabtu besok ke rumahku, ya?"
"Buat apa?"
"Aku mau kenalin kamu ke keluarga aku."
"Rasyid..." Ucap Hana ragu. "Aku.. Belum siap."
"Aku cuma pengen kamu mengenal mereka. Bukan berarti memaksa kamu untuk menerima aku. Hanya mengenal mereka, tidak lebih. Aku janji."
Meskipun ragu, Hana mengangguk mengiyakan permintaan Rasyid.
Tanpa mereka sadari, ada hati yang terasa begitu panas menyaksikan kebersamaan Rasyid dan Hana. Siapa lagi kalau bukan Angga?
Angga tak menyangka bahwa selama ini Hana dekat dengan Rasyid. Bagaimana bisa? Sedangkan dirinya dan teman-teman Hana begitu kelimpungan mencari keberadaan Hana.
Terlebih saat melihat Rasyid memakai baju yang sama dengan seragam keluarga Hana. Juga senada dengan kain jarik yang Hana pakai. Angga bertanya dalam hati, sudah sedekat apa hubungan mereka?
๐น๐น๐น
__ADS_1
Up up up.. Semoga suka.. jangan lupa vote dan like-nya ๐๐