
Tidak ada gading yang tak retak. Tak ada pernikahan tanpa perselisihan, pertengkaran, hal-hal kecil yang memicu konflik, perdebatan karena hal-hal sepele. Pasti setiap pernikahan ada. Itulah bumbu-bumbu agar rumah tangga menjadi semakin harmonis dan saling mencintai satu sama lain.
Setiap hubungan pasti ada permasalahannya. Simple. Cukup selesaikan masalahnya, atau selesaikan hubungannya.
Bagi Angga dan Hana, komunikasi dalam pernikahan itu yang terpenting. Lalu kepercayaan juga dijadikan sebagai landasan utama bagi keduanya.
Pernikahan yang sudah berjalan lebih dari tujuh tahun membuat Angga dan Hana belajar untuk mendewasakan diri. Pernikahan mereka bukan pernikahan yang hanya ada senang, bahagia, adem ayem tanpa konflik.
Tentu perbedaan pendapat selalu ada. Menyatukan dua pikiran yang berbeda dalam satu atap tidaklah mudah. Cukup saling memahami, saling mengerti, saling menghargai. Dan juga sering-sering mengalah.
Mengalah bukan berati kalah. Mengalah adalah cara yang terbaik untuk meredam konflik sebelum membesar. Karena sejatinya pernikahan bukanlah ajang lomba untuk mencari siapa yang kalah dan siapa yang menang. Siapa yang kuat dan siapa yang lemah.
Tetapi pernikahan diibaratkan sebuah team. Dimana mereka harus bekerja sama, menyatukan visi dan misi agar tercapai suatu kebahagiaan yang abadi.
"Mas?" Hana bersuara untuk memecah kesunyian saat mereka sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit tempat Hana bekerja.
Angga menoleh sebentar lalu kembali fokus pada jalanan yang cukup padat di depannya. "Ada apa, sayang?" Tanyanya.
"Besok kita ke dokter Renata, ya?"
Angga sedikit terkejut dengan permintaan Hana kali ini. Dokter Renata adalah dokter spesialis kandungan dirumah sakit lain. Tepatnya satu rumah sakit dengan Damar, kakak iparnya. Renata juga memiliki sebuah klinik ibu dan anak. Hana dan Angga mengenal Renata juga rekomendasi dari Anggi dan Damar yang sudah berpengalaman memeriksakan diri pada Renata.
"Kenapa tiba-tiba? Ada apa?"
"Cek saja, Mas. Lagi pula terakhir kita cek udah tiga bulan yang lalu, kan? Cuma memastikan aja kalau kita, emm.. terutama aku, itu sehat."
"Kenapa begitu ngomongnya? Kan waktu itu dokter Renata bilang kita sehat." Jawab Angga tenang. Tentu ia tahu dengan apa yang menjadi beban pikiran bagi Hana. Selama ini ibunya selalu menanyakan perihal kehamilan pada Angga dan Hana.
"Anggi anaknya mau tiga, anggun anaknya sudah tiga. Itu si Kinan sama Ikhsan anaknya juga sudah dua. Kenapa kalian ini lama sekali, ya?" Ucap Ningsih beberapa bulan yang lalu.
Hana diam. Membiarkan Angga yang menjawab pertanyaan ibunya. "Itu bukan kuasa kami, Bu. Sejauh ini kami sudah berusaha semampu kami. Tapi kalau Allah belum berkehendak kami bisa apa?"
Terdengar bijak dan pelan namun sanggup membuat Ningsih terdiam. Mereka pikir Ningsih akan berhenti membahas hal itu. Namun ternyata tidak. Setelahnya Ningsih masih saja menanyakan hal yang sama.
Angga tahu hal itu menjadi beban pikiran bagi Hana. Tak jarang ia menemukan istrinya menangis memohon agar diberikan keturunan saat mengerjakan sholat malam yang tak pernah ia tinggalkan kecuali jika sedang berhalangan.
"Aku kangen Mama, Mas. Bisa kita kesana dan buka puasa disana?" Angga tersenyum dan mengangguk.
🥀🥀🥀
Angga dan Anang melaksanakan sholat tarawih di masjid terdekat dengan rumah Hana. Sedangkan Hana dan Widia memilih untuk berjamaah berdua di rumah.
Sebagai seorang ibu, Widia paham bahwa Hana tengah memikirkan sesuatu. Serasa ada beban besar yang di bawanya. Maka saat selesai sholat witir Hana merebahkan kepalanya di atas pangkuan Widia, Widia tak menolak. Tangannya justru terulur untuk mengelus pelan kepala Hana yang masih memakai mukenah.
"Anak mama kenapa mendadak manja seperti ini?" Widia tak langsung bertanya kenapa. Ia lebih memilih berbasa-basi dan menunggu Hana menceritakan sendiri apa yang menjadi beban pikirannya.
"Mama pengen punya cucu dari Hana dan Mas Angga enggak?"
__ADS_1
Gerakan tangan Widia berhenti saat mendengar pertanyaan Hana. Namun ia segera melanjutkannya kembali.
Tentu Widia menginginkannya. Namun ia sadar bahwa semua memang kuasa Allah. Sebesar apapun usaha yang dilakukan, kalau Allah belum berkehendak kita bisa apa?
"Pasti pengen, sayang. Tapi semua itu kuasa Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berusaha. Kamu jangan sedih, jangan stres. Serahkan semua sama Allah. Terus mendekatkan diri kepada Allah. Sebut nama-Nya, dzikir setiap waktu. Rayu Allah di sepertiga malam. Ketika doamu sudah menembus langit, biarkan takdir Allah yang bekerja. Semoga dia cepat ada disini, ya?" Tangan Widia terulur mengelus perut Hana.
Hana bangkit dan memeluk Widia. Hana terisak diperlukan mamanya. Kedua wanita itu menangis bersama saling menguatkan.
Pelukan Angga terasa nyaman untuknya, namun pelukan kedua orangtuanya, apalagi mamanya, terasa tak akan tergantikan.
"Sudah jangan nangis lagi. Cuci muka sana sebelum papa sama Angga pulang." Hana mengangguk dan menuruti titah Widia.
***
Setelah menikmati makan malam, mereka bercengkrama sambil menikmati tayangan televisi yang sebenarnya hanya menjadi pajangan saja karena yang berniat menonton lebih memilih untuk mengobrol.
"Kenapa nggak makan siomaynya, sayang? Biasanya kamu suka?" Tanya Angga yang merasa heran karena sama sekali tak menyentuk siomay yang di beli oleh Anang sepulang dari sholat tarawih.
Hana menggeleng pelan. Menatap sepiring siomay yang berada diatas meja itu tanpa minta. Entah, biasanya ia begitu antusias ketika bertemu dengan siomay. Tapi kali ini rasanya begitu enek melihat bulatan tepung bercampur ikan tengiri itu.
"Ayo, dimakan, Na. Papa udah beliin buat kamu ini. Biasanya kan kamu suka." Anang sedikit memaksa.
Karena merasa tak enak hati kepada sang papa yang sudah membelikan makanan kesukaannya, Hana mengambil garpu lalu menusuk satu siomay lalu memakannya.
Baru saja siomay itu masuk ke dalam mulutnya, Hana merasakan mual hebat pada perutnya. Hana langsung berlari ke kamar mandi membuat semua orang memandangnya dengan tatapan khawatir.
Dengan khawatir Angga memijat pelan tengkuk Hana. Beberapa kali Hana muntah dan mengeluarkan seluruh isi perutnya di wastafel kamar mandi. Bahkan saat ini belum ada tanda-tanda Hana berhenti memuntahkan isi perutnya.
Hana tak mengerti dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Ia merasa tak ada yang aneh dengan makanan yang ia makan saat berbuka puasa. Lagi pula baik Widia, Anang maupun Angga terlihat baik-baik saja padahal makanan yang mereka makan sama.
"Nggak usah, Mas. Cuma masuk angin mungkin." Hana menjawab dengan mata terpejam.
"Lebih baik periksa, Na. Biar tahu kamu kenapa, jadi nggak sembarangan minum obat." Ucap Anang yang di benarkan oleh Widia yang kini sedang membalur punggung dan perut Hana menggunakan minyak telon.
🥀🥀🥀
Dengan kepala yang masih terasa berat dan perut yang masih saja mual, Hana memaksakan dirinya untuk bangun dan menyiapkan makan sahur untuk dirinya dan Angga. Meskipun Hana merasa sedang tidak enak badan, Hana tetap akan menjalani puasa. Semoga kuat sampai maghrib nanti.
Hana membuka lemari es dan mengambil satu kotak ayam ungkep dan satu kotak oseng brokoli dan jamur yang ia bawa dari rumah orangtuanya untuk digoreng dan dipanaskan.
Namun baru saja Hana membuka kotak yang berisi ayam ungkep, perutnya terasa mual luar biasa. Ia tak tahan dengan bau bawang yang begitu kuat dari ayam tersebut.
Suara Hana yang berkali-kali mencoba mengeluarkan isi perutnya membangunkan Angga yang masih terlelap di alam mimpi. Angga langsung beranjak dan menyusul istrinya ke kamar mandi yang berada didekat dapur.
"Mual lagi?" Angga mengulurkan gelas berisi air hangat untuk Hana.
"Iya, Mas. Ayamnya bau banget." Jawab Hana setelah meneguk sedikit air hangat tersebut.
__ADS_1
Angga mengernyit bingung. Ia mencoba mencium aroma ayam tersebut namun ia tak mencium yang aneh dari ayam ungkep tersebut. "Ini gurih kok, yang. Bau bawang doang."
"Iya. Bau bawangnya yang bikin enek."
"Enggak usah puasa dulu, ya. Nanti kita periksa. Kali ini Mas nggak mau kamu menolak."
Hana tak bisa membantah. Semalam ia masih bisa bernegosiasi untuk tidak memeriksakan dirinya ke rumah sakit karena sudah larut malam. Namun ternyata pagi ini tubuhnya tak bisa lagi diajak untuk berkompromi.
Meskipun ia sendiri seorang dokter, namun tetap saja membutuhkan dokter lain untuk memeriksa keadaan tubuhnya. Meskipun ia bisa memeriksa sendiri, namun akan terasa sedikit sulit.
Pagi harinya, Hana sudah terlihat lebih segar dalam balutan gamis berwarna dusty purple dengan jilbab berwarna lebih gelap dari warna gamisnya. Hanya saja perutnya masih terasa bergejolak saat tak sengaja ia melihat makanan. Hanya buah yang bisa masuk untuk mengganjal perutnya.
Angga menggenggam tangan Hana saat memasuki lobi klinik terdekat. Beruntung klinik pagi itu tak seramai biasanya. Syukurlah, itu berarti banyak yang sehat. Setelah mendaftar di bagian resepsionis, Angga duduk sebelah Hana yang sudah menunggunya.
"Farhana Aghnia." Seorang suster menyerukan nama Hana setelah mereka menunggu hampir lima belas menit lamanya.
"Yuk." Angga menggandeng tangan Hana dan membantu Hana untuk berdiri.
"Assalamualaikum, dok." Ucap Angga saat memasuki ruang periksa.
"Waalaikumsalam. Mari duduk."
"Ada keluhan apa?" Tanya dokter perempuan yang berusia sekitar empat puluhan yang bernama dokter Yani setelah Hana dan Angga duduk.
Angga kemudian menceritakan apa yang telah terjadi pada Hana sejak semalam. Dari mulai yang mual dan muntah sampai merasa enek ketika mencium bau bawang. Sampai saat ini juga sama sekali tidak ada makanan yang bisa masuk kecuali buah.
Dokter Yani tersenyum sumringah. "Mbak Hana kapan terakhir kali haid?"
Deg.. Kenapa Hana tak menyadari akan hal itu? Hana pikir ia belum juga haid karena ia terlalu stres seperti bulan-bulan sebelumnya. Ia tak mau berharap kalau haidnya yang terlambat adalah pertanda bahwa ia hamil. Ia sudah merasa kapok saat setiap kali ia terlambat, ia selalu membeli tespeck namun selalu negatif. Sejak itu ia tak mau lagi beranggapan bahwa ketika ia terlambat datang bulan berarti ia hamil.
Hana mencoba berpikir realistis. Ia masih tidak ingin berharap lebih karena takut kecewa untuk yang kesekian kalinya.
"Emm.. tanggal 20 Januari, dok." Jawab Hana ragu. Angga masih belum mengerti mengapa keterlambatan haid Hana yang ditanyakan.
"Baik, Mbak. Test urine dulu, ya?" Hana mengangguk ragu. "Suster Kiki tolong tespeck satu, ya?"
"Yang?" Gumam Angga pada Hana penuh tanya.
Hana menurut saja saat suster Kiki memberinya sebuah testpeck dan wadah kecil untuk menampung urine.
Dengan ragu Hana menyelupkan tespeck ke dalam urine-nya. Ia berharap kali ini hasilnya tak akan membuat Hana dan Angga merasa kecewa.
Setelah menunggu sesuai waktu yang di tuliskan pada petunjuk, Hana mengangkat testpeck tersebut.
Dua garis merah...
Hana menutup mulutnya tak percaya. Didalam rahimnya telah tumbuh janin hasil buah cintanya dengan Angga. Janin yang mereka tunggu selama tujuh tahun lamanya.
__ADS_1
🥀🥀🥀
inihh. ku turuti permintaan kalian. Hana beneran hamil sekarang. 😅😅