
"Papa sama Mama mau bicara sama kamu sebentar ya, Na?" Anang berucap dengan tenang disela-sela acara makan malam mereka.
Sebenarnya Hana sudah merasakan ada sesuatu yang kedua orangtuanya sembunyikan. Namun Hana tak berani bertanya, Hana memilih menunggu sampai orangtuanya berbicara.
"Sekolah kamu baik?" Tanya Anang untuk berbasa-basi sebentar. Kini, mereka sudah duduk diruang keluarga.
"Baik, Pa," Hana ragu untuk menjawabnya. Hana merasa aneh dengan tingkah Papa dan Mamanya.
"Sama Angga?" Lanjut Anang.
"Nggak usah basa-basi segala, Pa. Sebenarnya mama sama papa mau ngomong apa, sih?" Tanya Hana yang tak sabar ingin segera mendengar apa yang akan Anang katakan.
Anang berdehem pelan untuk membuka percakapan. "Papa sama Mama mau kamu sedikit menjaga jarak dengan Angga," ucap Anang pelan namun dengan tatapan mata serius.
"Maksud Papa gimana? Hana sama Mas Angga kan memang sudah jauh, Pa. Sudah LDR."
"Maksud Papa itu, kami mau kalian... Break aja dulu. Sampai kamu lulus nanti," kini giliran Widia yang berucap.
Hana membelalakkan matanya. Ada apa dengan orangtuanya? Padahal kemarin-kemarin mereka tidak ada masalah dengan hubungannya bersama Angga. Kenapa sekarang mereka seperti ini?
"Papa sama Mama kenapa, sih? Hana nggak mau kayak gitu. Hubungan Hana dan Mas Angga baik, kok. Kalian nggak perlu khawatir. Lagian Hana masih bisa mempertahankan prestasi Hana. Semester kemarin buktinya!" Protes Hana. Ia merasa tak terima dengan permintaan kedua orangtuanya.
Anang dan Widia saling berpandangan. Mereka berpikir harus tegas dalam hal ini.
"Kamu anak gadis mama dan papa satu-satunya dan juga masih sekolah. Kemarin ada tetangga yang bilang kalau kamu berduaan dirumah dengan Angga. Mereka juga mulai risih dengan seringnya Angga datang kesini."
"Kita nggak pernah berduaan selama nggak ada mama atau papa. Kemarin itu Mas Angga juga langsung pulang setelah mengantar Hana. Nggak ada yang namanya berduaan. Kenapa jadi mikirin omongan tetangga, sih?" Hana mencoba membela diri.
"Bagaimanapun itu, kami tetap mau kamu berhenti dulu berhubungan dengan Angga. Kita hidup bertetangga, Na, apapun yang kita lakukan selalu disorot oleh mereka. Jadi sebisa mungkin kita memberikan kesan yang baik. Apalagi Angga itu laki-laki dewasa. Kami percaya Angga orang baik. Tapi bukan tidak mungkin kalau suatu saat Angga berbuat yang tidak-tidak sama kamu," ucap Widia tegas.
"Tapi Ma.."
"Sudah. Keputusan Papa dan Mama sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Dan mulai besok, kamu diantar jemput oleh Pak Yanto, sopir baru buat kamu," putus Anang cepat sebelum Hana melanjutkan aksi protesnya. "Sekarang kamu ke kamar dan belajar. Awas kalau kamu teleponan sama Angga," perintah Anang.
Hana tak bisa membantah apa yang telah menjadi ucapan atau keputusan orangtuanya. Pada dasarnya, Hana adalah anak yang penurut. Mungkin karena Hana masih usia remaja, jadi kadang membangkang itu selalu ada. Meskipun ujung-ujungnya Hana juga menuruti orangtuanya.
Didalam kamar, Hana menenggelamkan wajahnya diatas bantal untuk meredam suara tangisnya.
Dalam hati ia bertanya-tanya tentang sikap kedua orangtuanya yang berubah. Selama ini cara pacarannya dengan Angga masih dibatas wajar. Angga hanya memeluknya, mencium keningnya, menggandeng tangannya, itu saja. Tidak ada hal yang melampaui batas yang Angga lakukan.
Ingin rasanya Hana menelepon Angga dan menumpahkan segala rasa yang berada dalam benaknya. Tapi Anang sudah mewanti-wanti Hana agar tak menghubungi Angga.
'Aku butuh kamu, Mas!'
***
ANGGA
Flashback Angga..
Sehari setelah kelulusan SMA diumumkan, Angga bersama teman-temannya yang berjumlah delapan orang berencana untuk merayakan kelulusan mereka dengan pawai sepeda motor di Jalan Tembus Tawangmangu.
Jalan Tembus ini merupakan jalan yang menghubungkan antara Tawangmangu menuju Cemorokandang. Jalanannya lebih nyaman dengan tikungan dan tanjakan yang tidak terlalu curam seperti jalan utama.
Pemandangannya pun sangat bagus dengan persawahan di kanan kiri jalan, sungai di bawah jembatan yang airnya begitu jernih. Juga pemandangan pegunungan yang begitu menyejukkan mata. Udara yang begitu dingin dan sejuk menambah asrinya daerah tersebut.
__ADS_1
"Ga, rencana mau lanjut kemana?" Tanya Dewa, salah satu temannya yang sedang menikmati sebotol minuman bersoda yang ia beli di warung pinggir jalan.
"Belum tahu. Belum ada pandangan soalnya."
Mereka terus mengobrol, becanda dan juga sesekali mengabadikan momen kebersamaan mereka yang akan berakhir karena masing-masing akan segera meraih impian mereka ditempat yang mereka pilih.
Sampai pada saat perjalan pulang, motor yang dikendarai oleh Angga hilang kendali. Remnya tidak berfungsi sama sekali saat melewati jalanan menurun. Sisi kanan jalan terdapat jurang yang begitu dalam.
"Rendi, remnya blong!" Teriak Angga yang memboncengkan Rendi dibelakangnya.
"Serius kamu!?" Rendi terkejut.
"Serius! Rendi, lompat!!" Perintah Angga pada Rendi agar Rendi bisa selamat.
Sesaat setelah Rendi melompat, motor Angga menabrak pembatas jalan dan terlempar ke dasar jurang. Namun Angga masih bisa berpegangan pada ranting pohon yang tidak terlalu besar.
"Astaghfirullah, pakde.. Ada yang jatuh ke jurang!" Teriak seorang gadis yang melihat motor Angga terjun ke jurang.
"Ada orangnya?" Tanya seorang laki-laki yang dipanggil "pakde" itu. Ia tak kalah panik.
Gadis itu berlari menuju seberang jalan tempat motor Angga menabrak pembatas jalan dan mencoba melihat ke bawah. Matanya membulat saat melihat seseorang berpegangan pada pohon. Kepalanya terluka parah namun masih kuat berpegangan.
"Kamu mau ngapain, Nduk? Itu bahaya!" Teriak seseorang.
"Aku mau nolongin dia budhe, kasian pegangan pohon. Takut kelamaan jadi nggak kuat," gadis itu mencari jalan untuk menolong Angga. Jalan yang sedikit berbatu sedikit membantu gadis itu untuk berjalan.
"Pakde bisa ambil tali tambang yang ada di bagasi mobil pakde?" Teriak gadis itu dari bawah. Sementara orang-orang yang berada dijalan meneriakinya untuk naik dan juga berhati-hati.
"Iya, sebentar!"
"Pakde ikat dengan pembatas jalan, ya? Ujung satunya lempar kesini!" Perintah gadis tersebut.
Dengan sigap Si pakde itu mengikat tambang tersebut dengan pembatas jalan.
"Hey! Kamu masih bisa dengar aku?" Teriak gadis itu pada Angga yang sejak tadi hanya diam saja. Angga masih dalam keadaan sadar, namun ia tak berani bergerak sedikitpun. Selain bagian kaki dan kepalanya terasa sakit apabila digerakkan, ia juga takut akan mempengaruhi kekuatan tangannya yang berpegangan pada pohon.
"Aku dengar," jawab Angga lirih. Gadis itu sempat membeku sesaat setelah mendengar suara Angga.
"Oke. Kamu pegang tali ini dengan tangan kamu yang satunya," gadis itu mengulurkan tali sampai didepan wajah Angga. "Pegangan yang kuat, ya? Aku naik dulu, baru kamu," gadis itu mengarahkan.
Perlahan Angga mulai menggerakkan tubuhnya meskipun terasa begitu sakit. Angga meyakinkan dirinya bahwa ia bisa naik. Ia lebih memilih kesakitan untuk beberapa saat daripada terjatuh ke dasar jurang.
Sementara gadis itu berjalan naik dengan berpegangan pada batu-batu yang menonjol. Sesekali menengok kebawah memastikan keadaan Angga.
Orang-orang berkerumun melihat bagaimana gadis nekat itu menolong Angga. Tak sedikit pula dari mereka yang merekam aksi gadis itu.
Setelah sampai atas, orang-orang membantu menarik tangan gadis itu dan juga tangan Angga.
Walaupun gadis itu terlihat berani, namun ia tak dapat menyembunyikan wajah pucatnya karena ketakutan. Dalam hati, gadis itu juga merasa takut kalau dirinya sampai jatuh ke jurang.
"Ya Allah, Nduk.. Kamu nekat sekali. Jantung ibu hampir copot melihat kamu dibawah sana," ibu dari gadis tersebut memeluk dan menciumi putrinya penuh haru.
"Aku nggak apa-apa, ibu," jawab gadis itu sambil tersenyum. "Korbannya mana?" Gadis itu melihat ke sekelilingnya mencari Angga.
Setelah menemukan Angga yang masih ditidurkan dipinggir jalan sembari menunggu mobil ambulance, gadis itu beranjak dan berjalan menghampiri Angga.
__ADS_1
"Permisi," gadis itu mencoba menerobos gerombolan orang-orang yang mengelilingi Angga.
Gadis itu membelalakkan matanya melihat Angga yang wajahnya bersimbah darah.
"Angga!!" Gadis itu begitu terkejut melihat Angga. Gadis itu mengenal Angga.
"Rumi?"
***
Rumi, gadis yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk menolong Angga.
Rumi adalah teman sekolah Angga. Emm.. Lebih tepatnya mantan pacar Angga. Mereka berpacaran saat awal kelas sepuluh dan hubungan mereka berakhir di pertengahan kelas dua belas karena Rumi yang ketahuan bermain di belakang Angga dengan sahabat Angga sendiri.
Dan Rumi adalah keponakan... Bu Marni dan Pak Ratno. Ibu Rumi adalah adik kandung dari Bu Marni.
Hari itu Rumi dan keluarganya berhenti di pinggir jalan karena ban mobil yang dikemudikan oleh ayahnya mengalami kebocoran setelah pulang dari tempat wisata telaga sarangan.
Saat itu Rumi sedang duduk bersama ibunya, budhe dan kakak sepupunya saat melihat motor Angga terjun ke atas jurang.
"Keluarga pasien Angga."
Rumi dan juga Ratno, yang menemani Rumi untuk mengantar Angga ke rumah sakit, berdiri mendengar panggilan dari salah satu perawat yang turut menangani Angga.
"Bagaimana keadaan Angga, suster?" Tanya Rumi panik.
"Pasien kehilangan banyak darah, dan harus segera menjalani transfusi. Persediaan darah di rumah sakit hanya dua kantong, sedangkan pasien membutuhkan tiga kantong segera," suster tersebut menjelaskan.
"Apa golongan darahnya, sus?"
"Golongan darah pasien B, Pak."
"Ambil darah saya saja, sus!" Ratno memberi usul.
"Bapak serius?" Ratno mengangguk pasti. "Baiklah. Mari ikut saya pak."
Sebelum mengikuti suster tersebut, Ratno berpesan pada Rumi agar ia tetap ditempat menunggu keluarga Angga datang.
***
Itulah awal keluarga Angga mengenal Ratno dan keluarganya. Rasa terimakasih atas pertolongan keluarga Ratno tak pernah terhenti terucap dari Rajiman dan istrinya.
Rajiman beranggapan bahwa Angga salah pergaulan. Berasumsi bahwa teman-temannya memberikan pengaruh buruk bagi Angga.
Oleh sebab itu, Rajiman memutuskan untuk memasukkan Angga ke pesantren sambil menjalani kuliahnya.
Pesantren milik Pak Ratno yang menjadi tujuan Rajiman.
Flashback Angga, off!
***
Maapkan ceritanya makin lama makin gajee ππ π
Semoga nggak bosen ya kalian. π
__ADS_1
I love you, pokok eeeh πππ