Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 27


__ADS_3

POV : ANGGA


Tidak ada yang lebih membahagiakan saat ini kecuali melihat senyuman Hana. Menggenggam tangan Hana. Duduk berdekatan dengan Hana. Kami seperti remaja yang sedang di mabuk cinta. Ralat! Aku yang seperti remaja, kalau Hana memang masih remaja.


Sepertinya cinta telah mengalahkan prinsip kami. Aku yang tak ingin memikirkan pacaran, Hana yang juga tak ingin berpacaran. Tapi semua itu kami langgar karena perasaan kami yang tak dapat kami tahan.


Hariku jauh lebih berwarna ketika ada Hana. Semua terasa ringan ketika perasaan kami berdua sudah terungkap. Aku tak ingin memikirkan apa yang akan terjadi esok hari. Aku tak peduli, selama Hana ada bersamaku, aku merasa lebih mudah untuk menghadapi semuanya.


"Jadi kita backstreet?" Tanyanya sambil mengunyah buah mangga pemberian Bu Widia, Mama Hana.


"Kalau bicara itu di telan dulu makanannya," tegurku. Dia hanya tersenyum malu. "Katanya kamu enggak mau jadi bulan-bulanan fans-nya Mas?" Lanjut ku. Hana mengangguk. Tidak berhenti memakan buah mangga yang menjadi buah favoritnya.


"Tapi kemarin Vera lihat kita waktu pulang bareng, Mas. Hana khawatir dia bakalan kayak ember bocor. Omongannya tumpah di sana-sini," dia mengadu manja. Aahh.. Aku manjanya yang terasa begitu lama tak ku lihat.


"Dia enggak ada bukti, kan?"


"Kayaknya, sih, enggak."


"Kalaupun nanti dia bilang ke satu sekolah, gosipnya enggak akan bertahan lama karena enggak ada buktinya," aku mencoba menenangkan hati Hana.


Sebenarnya aku juga sedikit cemas. Takut kalau pihak sekolah sampai mengetahui ada gurunya yang memacari muridnya sendiri. Konsekuensi pasti tetap ada. Tapi aku dan Hana akan terus berusaha untuk menutupi semuanya dengan bersikap seperti layaknya guru dan murid lainnya ketika di lingkungan sekolah.


"Mas?" Panggilnya. Aku hanya berdehem menanggapi sambil sibuk membalas beberapa chat yang masuk ke ponselku.


"Ceritanya gimana Papa bisa hubungin Mas Angga dan menyuruh Mas Angga kesini?" Tanyanya.


"Kan Mas sudah bilang Pak Anang dapat rekomendasi dari si Ikhsan. Awalnya, sih, Mas enggak tahu siapa Pak Anang. Tapi Pak Anang minta Mas datang kerumah dan membawa beberapa sampel baju. Mas iya'in aja. Enggak taunya ternyata beliau adalah Papa kamu. Mas juga kaget tadi pas sampai. Coba lihat alamatnya lagi, bener disini rumahnya. Enggak nyangka, ya? Ternyata customer baru Mas calon mertua," aku tertawa pelan. Pipi Hana merona mendengar aku mengatakan kalau Papanya adalah calon mertuaku. Enggak nyangka, ya, aku bisa se-garing ini? Mohon di-aamiin-kan, semoga menjadi kenyataan.


Aku berpamitan untuk pulang setelah waktu menunjukkan pukul 14.00. Sudah cukup lama aku berada dirumah Hana. Apalagi hanya berdua karena orangtua Hana pergi menghadiri pengajian. Aku takut khilaf. Ehm! Sebelum khilaf lebih baik menghindar, kan?


Hana mencium tanganku. Persis seperti seorang istri yang mengantarkan suaminya berangkat bekerja.


Cepat pulang, Angga. Sebelum pikiran kamu semakin ngelantur.


***


Aku baru saja sampai rumah saat adzan maghrib berkumandang. Setelah dari rumah Hana, aku pergi ke distro yang berada di Karanganyar terlebih dahulu.


Aku mengernyit melihat mobil yang terparkir dihalaman rumah. Mobil terlihat masih baru, tapi milik siapa? Didalam rumah juga sepertinya ramai sekali.


"Angga!" Aku menoleh ke asal suara. Ada Mas Damar, suami Mbak Anggi, dan juga bapak yang akan pergi ke masjid.


"Mas? Sudah lama?" Aku mengalami tangannya.


"Sudah, kamu baru pulang?" Mas Damar bertanya balik.


"Iya ini, Mas. Mau pada ke masjid?"


"Iya. Kamu mau sekalian apa enggak?" Tanya bapak.


"Aku dirumah saja, Pak. Mau mandi dulu."


Bapak dan Mas Damar pergi setelah mendengar jawabanku. Aku juga langsung masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Braakkk..


Aku meletakkan kantong plastik berisi donat diatas meja untuk mengejutkan Mbak Anggi yang sedang asyik makan bakwan jagung buatan ibu.


"Angga, ih, ngagetin!" Bakwan yang dipegang Mbak Anggi sampai terjatuh.


"Makan terus, itu perut udah bulet gede begitu masih hobi makan juga," ejekku membuat Mbak Anggi melotot sebal. Jelas kalau perutnya bulet dan gede. Namanya juga orang hamil. Haha.


"Ini itu isinya ponakan kamu. Sembarangan banget kalau ngomong," sungutnya tak suka. Mbak Anggi membuka kotak donat, mengambil satu donat kemudian melahapnya.


"Enak banget ini, Ga. Beli dimana?" Tanyanya.


"Kepo!"


"Ish! Nyebelin!"


"Ibu kemana, Mbak?" Tanyaku karena sejak tadi aku tak melihat ibu.


"Pengajian dari habis ashar tadi kata bapak. Sekalian sholat maghrib dimasjid kayaknya."


"Mobil baru?" Mbak Anggi mengangguk. "Boros banget beli mobil lagi?"


"Itu punya Mas Damar tukar tambah sama yang lama."


"Angga!" Panggil Mbak Anggi saat aku mulai beranjak untuk pergi ke kamar. Panggilannya membuatku membatalkan niatku dan aku kembali duduk. "Ada apa, Mbak?" Tanyaku. Sepertinya kali ini Mbak Anggi ingin berbicara serius.


"Tadi bapak udah cerita sama Mbak," ucapnya memulai pembicaraan.


"Soal rencana bapak dan ibu."


"Oh, itu. Menurut Mbak Anggi gimana?" Aku meminta pendapat Mbak Anggi.


"Ya kamu ikutin kata hati kamu aja, Ga. Kalau kamu enggak bisa, ya jangan kamu lakukan. Kalau terpaksa juga enggak akan baik kedepannya," usul Mbak Anggi.


"Masalahnya bapak dan ibu itu kesannya maksa, Mbak," aku menghela napas.


"Emangnya kamu enggak suka__"


"Assalamualaikum," ucapan Mbak Anggi terputus karena terdengar suara ibu yang mengucap salam.


"Waalaikumsalam," jawab kami bersamaan.


"Sudah lama, Nduk?" Ibu mencium kedua pipi gembul Mbak Anggi kemudian mengelus perut besar Mbak Anggi.


"Sudah, Bu. Udah ngabisin bakwan ibu juga." Jawab mbak Anggi ceria.


Ibu dan Mbak Anggi asyik membicarakan tentang kehamilan Mbak Anggi yang sudah memasuki bulan kedelapan.


Mendengarnya, membuatku membayangkan kalau suatu hari nanti Hana juga hamil anakku. Pasti aku akan bahagia.


Angga gila!!


"Aku mandi dulu, Bu, Mbak," pamitku, tak ingin mengganggu kebersamaan ibu dan anak perempuannya itu.

__ADS_1


***


Suasana makan malam kali ini begitu ramai dengan hadirnya Mbak Anggi dan Mas Damar. Biasanya hanya ada aku, ibu dan bapak. Atau hanya ibu dan bapak saja saat aku masih sibuk di distro.


"Ramai ya, Pak, anak-anak pada kumpul begini. Coba kalau si Anggun sama Erwin juga disini, pasti tambah ramai," ucap ibu berseri. Senyumnya tak pernah luntur sejak mengetahui Mbak Anggi dan Mas Damar datang.


"Ibu sama bapak itu sebenarnya udah kepengin Angga nikah. Tinggal disini, punya anak, pasti ramai," celetuk ibu sambil menyendokkan nasi ke piring Bapak.


"Angga belum kepikiran buat menikah, Bu."


"Tapi, Le.."


"Sudah, Bu. Makan dulu," Mbak Anggi bergerak cepat memotong ucapan ibu. Membuat ibu langsung terdiam. Mbak Anggi seolah paham kalau aku tak ingin membahas soal pernikahan.


Setelah makan malam, obrolan terus berlanjut. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Mbak Anggi dan Mas Damar berencana untuk menginap. Ibu memberi wejangan pada Mbak Anggi tentang proses persalinan. Bapak dan Mas Damar juga serius membicarakan bisnis sampingan yang Mas Damar jalani. Sedangkan aku lebih memilih undur diri dan pergi ke kamar. Beralasan bahwa besok aku harus berangkat ke sekolah pagi-pagi. Padahal, tidak tahu saja kalau aku ingin menelepon Hana. Semoga saja Hana belum tidur.


Sampai dikamar, aku membuka ponselku. Ada satu panggilan dari Hana sekitar satu jam yang lalu. Disusul dengan pesan yang dikirimkan untukku.


My Hana : "Mas Angga sibuk?"


Terakhir dilihat masih beberapa menit yang lalu, mungkin saja Hana belum tidur. Ku pikir lebih baik aku meneleponnya.


"Halo?" Ucapnya dengan suara serak saat mengangkat telepon dariku.


"Hana sudah tidur?" Tanyaku.


"Udah, Mas. Bangun lagi karena Mas Angga telepon. Ini aja sambil merem," jawabannya membuatku terkekeh geli.


"Ngantuk banget, ya?"


"Hmm,"


"Maaf, ya, tadi Mas ngobrol dulu sama keluarga. Mbak Anggi sama suaminya datang."


"Enggak apa-apa, Mas."


"Ya sudah, kamu tidur lagi, ya? Biar besok bisa bangun pagi. Love you, Hana."


"Hmm, love you too, Mas."


Telepon ku matikan. Aku tersenyum sendiri mengingat Hana. Gadis itu, gadis yang mampu meruntuhkan dinginnya hatiku.


Dia cantik, pintar, penurut meskipun juga memiliki hobi protes.


Terkadang dia manja, terkadang juga dia dewasa. Dia baik, tak pernah memiliki dendam dengan siapapun yang menyakitinya.


Segala tingkahnya membuatku rindu. Rasanya tak sabar untuk cepat besok agar aku bisa cepat bertemu kamu.


Ahh.. Jatuh cinta gini banget, ya? Yang tadinya waras mendadak senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


Lebih baik aku tidur agar malam cepat berlalu.


Selamat malam Hana. Nice dream...

__ADS_1


__ADS_2