
POV HANA
Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Kalau biasanya aku bangun saat iqamah dikumandangkan, lalu sholat subuh dan tidur lagi setelahnya, kali ini aku bangun sebelum adzan berkumandang. Bahkan aku tak tidur lagi setelah sholat subuh. Luar biasa. Aku yakin kalau mama tau akan hal ini, beliau akan bersorak kegirangan. Aku sendiri juga heran kenapa kali ini aku bisa serajin ini. Entahlah. Seperti ada sesuatu yang menarikku untuk segera bangun.
Oh, tidak. Aku tak mau mengatakan kalau semua ini terjadi karena aku akan jalan dengan Pak Angga. Bukan karena hal itu. Aku yakin semua itu karena sisi anak baik dalam diriku muncul secara otomatis sedikit demi sedikit.
Setelah sholat subuh, aku menata baju-bajuku yang semalam belum sempat aku pindahkan dari koper ke dalam lemari. Aku terlalu lelah setelah perjalananku dari Solo. Kakek dan nenek juga tak berbincang banyak denganku selain menanyakan bagaimana kabarku, kabar mama dan papa, dan juga bagaimana kabarku. Mereka langsung menyuruhku istirahat setelah melihatku beberapa kali menguap tak tahan menahan kantuk.
"Pagi, teh Kinan," sapaku riang kepada anak dari Bi Neneng, asisten rumah tangga nenek. Teh Kinan ini masih muda, baru berusia 20 tahun. Teh Kinan sering membantu Bi Neneng mengerjakan pekerjaan rumah di rumah nenek sebelum berangkat kuliah. Aku kagum dengan semangat Teh Kinan. Teh Kinan juga tidak malu melakukan pekerjaan itu.
"MaasyaaAllah, Neng Hana. Kapan datangnya, Neng? Kemarin Teteh disini Neng Hana belum ada," Teh Kinan menyalami dan mencium kedua pipiku gemas. Duh, dari dulu Teh Kinan tidak berubah gemasnya denganku. Teh Kinan bilang, Teh Kinan seperti punya adik perempuan kalau ada aku. Maklumlah, Teh Kinan perempuan sendiri dari keempat saudaranya. Dua kakak dan dua adiknya semuanya laki-laki.
"Semalam, Teh. Dijemput Mas Ikhsan di bandara. Teh Kinan enggak kuliah?"
"Neng Hana teh gimana atuh? Ini kan hari minggu. Kuliahnya teh libur,"
"Ow iya, ya? Hana lupa, Teh. Hihi," jawabku kikuk sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal. Masih muda tapi sudah pikun. Dasar aku! Pantas saja aku tidak melihat Bi Neneng. Hari minggu seperti ini biasanya Teh Kinan menyuruh Bi Neneng untuk istirahat. Teh Kinan yang mengambil alih semua pekerjaannya.
"Masak apa, sih, Teh? Enak banget baunya," ku hampiri Teh Kinan yang berdiri didekat kompor. Ternyata sedang menggoreng ayam.
"Eh, ini masak ayam goreng, Neng. Kemarin A' Ikhsan, eh maksud Teteh Den Ikhsan, minta dimasakin ayam goreng sama sambal bawang,"
Kulihat Teh Kinan sejenak. A' Ikhsan? Enggak salah gitu Teh Kinan manggil Mas Ikhsan dengan sebutan Aa'?
Yuhuu.. sepertinya aku ketinggalan sesuatu, nih. Teh Kinan juga sempat tersenyum malu dan pipinya memerah saat menyebut nama Mas Ikhsan dan sempat keceplosan memanggilnya Aa'. Hmm.. Mas Ikhsan hutang penjelasan sama aku!
"Wah, enak itu, Teh. Tapi ngomong-ngomong Mas Ikhsan mana, ya, Teh? Kakek sama nenek juga enggak kelihatan dari tadi,"
"Den Ikhsan tadi pamit mau lari pagi, Neng. Kalau kakek sama nenek tadi katanya mau ke tempat saudara yang ada di Subang," aku mengangguk mengerti.
Sarapan sudah siap. Ada ayam goreng dan sambal bawang yang katanya pesanan A' Ikhsan. Ehm! Aku jadi punya rencana untuk menggoda mereka nanti. Ada juga sup brokoli dan wortel, tempe dan tahu goreng. Sederhana, tapi luar biasa enaknya. Apalagi ini masakan Teh Kinan. Teh Kinan memang pintar memasak.
"Eh, A' Ikhsan sudah pulang? Sarapan dulu, yuk, A'" godaku sambil tersenyum jail melihat Mas Ikhsan yang baru saja memasuki ruang makan. Mas Ikhsan melihatku dengan tatapan bingung, sedangkan Teh Kinan pipinya sudah memerah dan juga salah tingkah. Sesekali membenarkan letak piring dan sendok yang sebenarnya sudah rapi.
"Ini ayam goreng sama sambal bawang pesanan Aa' Ikhsan, ya? Hana boleh minta dong, ya?" Godaku sekali lagi. Hihi.. Teh Kinan kini menunduk menyembunyikan pipi merahnya. Mas Ikhsan sepertinya juga mulai salah tingkah.
Teh Kinan berdiri dan mengambilkan nasi untuk Mas Ikhsan. Aiishh.. sudah seperti suami istri saja mereka itu.
"Sambalnya yang banyak, Nan," pinta Mas Ikhsan lembut.
"Jangan banyak-banyak, A'. Nanti sakit perut lagi kayak kemarin," jawaban serta perhatian Teh Kinan tak kalah lembutnya. Sepertinya mereka melupakan aku.
"Ehm!" Aku berdehem keras. Seketika mereka langsung salah tingkah dan Teh Kinan kembali ke tempat duduknya. Aku berlagak tak peduli dengan cara mengambil nasi dan lauk yang aku inginkan. Selanjutnya kami makan dalam diam.
"Gimana kalau Teh Kinan kita ajak jalan-jalan aja, Mas?"
Mas Ikhsan menatapku. "Boleh kalau Kinannya mau?" Jawabnya sambil melihat Teh Kinan.
"Eh? Enggak usah, Neng Hana,"
"Panggil Hana aja, Teh. Enggak apa-apa lagi. Daripada bosen dirumah. Sudah selesai semua kan pekerjaannya?"
__ADS_1
Teh Kinan mengangguk. Aku memberi kode pada Mas Ikhsan dengan cara menyenggol kakinya untuk membujuk Teh Kinan.
"Ikut saja, Nan. Sesekali refreshing. Jangan belajar terus, kan kamu udah pintar," canda Mas Ikhsan sambil menatap Teh Kinan lekat.
Teh Kinan mengangguk lagi. Dengan malu-malu lagi. Tuh, kan.. Teh Kinan menuruti ucapan Mas Ikhsan. Uhh.. Nurut banget, sih, Teh, sama A' Ikhsan. Hihihi..
πΊπΊπΊ
"A' Ikhsan aja yang panggil Pak Angga," perintahku pada Mas Ikhsan saat kami sudah sampai di depan rumah yang sesuai dengan alamat yang semalam Pak Angga kirimkan.
"Kenapa aku?"
"Kan Aa' Ikhsan temennya," aku menaikturunkan alisku. Sesekali mengedipkan mata manja.
"Enggak mau. Kan kamu yang mau jalan sama Angga,"
"Iihh.. gitu amat sama Hana," aku merengut kesal melihat Mas Ikhsan yang malah asyik bermain handphone.
"Sudah. Ditelepon atau di WA aja, Hana," lerai Teh Kinan dengan suara lembutnya.
Iya juga, ya? Kenapa enggak aku telepon atau WA aja dari tadi. Uuhh.. kenapa kamu mendadak lemot, sih, Hana?
"Iya juga, ya, Teh? Hana kok enggak kepikiran dari tadi, ya?" Aku meringis menyadari kelemotanku.
"Sibuk mikirin si Angga, sih. Makanya jangan mikirin cinta-cintaan mulu," Mas Ikhsan menimpali.
"Yee.. enggak kebalik?"
Tak lama kemudian, Pak Angga keluar dari dalam rumah. Dia kelihatan begitu tampan dengan kaos berkerah berwarna merah dilapisi jaket berwarna abu-abu dan dipadukan dengan celana jeans dan juga sneaker berwarna senada dengan kaosnya.
Ya ampun.. enggak kok, aku enggak terpesona dengan ketampanan Pak Angga hari ini. Beneran, deh, aku enggak terpesona.
"Maaf, ya, lama nunggunya," ucap Pak Angga sungkan setelah mendudukkan dirinya di kursi depan disampingnya Mas Ikhsan.
"Santai aja, Ga. Kita kemana hari ini?" Tanya Mas Ikhsan.
"Kita mau kemana, Hana?" Giliran Pak Angga yang bertanya kepadaku. Aduh, kok aku jadi gugup, ya?
"Eh? Teh Kinan punya usul enggak?" Tanyaku pada Teh Kinan menutupi kegugupanku.
"Kok malah nanya Teteh?" Tanya Teh Kinan heran.
"Hehe," aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. "Pak Angga pengennya kemana?" Tanyaku balik pada Pak Angga.
"Ke Situ Patenggang aja gimana? Saya belum pernah kesana. Saya sempat browsing, pemandangannya bagus banget," usul Pak Angga.
"Boleh," jawab Mas Ikhsan lalu menghidupkan mesin mobilnya dan kita berangkat menuju Situ Patenggang.
Sepanjang perjalanan kami diam satu sama lain. Sesekali aku mengobrol dengan Teh Kinan menanyakan berbagai hal. Pak Angga juga sesekali bertanya pada Mas Ikhsan. Tapi mereka lebih banyak bernostalgia dengan masa SMP mereka. Aku dan Teh Kinan sama sekali tidak nyambung dengan apa yang mereka bicarakan.
"Hana liburan disini lama?" Tanya Pak Angga setelah lama kami terdiam.
__ADS_1
"Rencana, sih, dua minggu, Pak. Bapak sendiri lama disini?"
"Enggak. Lusa insyaallah sudah balik lagi ke Solo,"
"Cepet banget, Pak? Enggak jalan-jalan dulu disini, nikmatin liburan," tanyaku kepo.
"Kamu kepo banget, Na!" Ucap Mas Ikhsan resek. Ku dengar Pak Angga terkekeh pelan.
"Insyaallah Sabtu ini saya mau buka cabang distro saya. Setelah itu sibuk disekolah penerimaan siswa baru. Harusnya sih besok sudah harus disekolah, tapi saya ijin sampai minggu depan. Bukannya kamu juga harus rapat buat MOS?"
"Hehe, saya juga ijin, Pak."
"Hukum aja dia, Ga. Pengurus OSIS kok sukanya bolos rapat," ucap Mas Ikhsan menyebalkan.
"Yee.. Hana juga baru kali ini ijinnya. Kemarin-kemarin Hana rajin. Tanya aja sama Pak Angga," kilahku tak mau salah. Tapi bener, kok. Selama ini aku selalu jadi sekertaris OSIS yang teladan. Baru sekali ini saja aku ijin.
Semua tertawa pelan. Menertawakan aku yang notabene paling kecil disini. Menurut mereka aku lucu kali, ya? Kayak badut? Ih, badut kan perutnya besar, sedangkan aku kecil. Bodo amatlah!
"Na?" Pak Angga memanggilku.
"Ya, Pak?"
"Bisa enggak kalau diluar sekolah enggak usah panggil saya Bapak? Saya berasa paling tua disini," ucap Pak Angga yang membuatku bingung.
"Terus panggil apa dong, Pak?" Tanyaku lemot.
"Emm, Mas misalnya?" Ucapnya yang membuat pipiku terasa panas. Malu, deg-degan, entahlah.
Tak ku tanggapi lagi ucapan Pak Angga. Eh, Mas Angga. Aduuhh.. rasanya aneh..
Mas Ikhsan dan Teh Kinan kompak banget menggoda kami dengan deheman-deheman pelan mereka yang saling bersahutan.
Awas saja kalian!
πΊπΊπΊ
**MonMaap update nya lama πππ€
lagi sibuk banget soalnya.
.
.
boleh dong di follow, di like, di vote, π π
insyaallah nanti updatenya bakal cepet. aduuhh pamrih banget. ππ
enggak kok, becanda. kalau mau aja sih. π€
doakan bisa update cepet, yaa.. π€π€**
__ADS_1