Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 46


__ADS_3

Ikhsan dan kedua orangtuanya dibuat bingung dengan sikap Hana yang tiba-tiba saja menjadi lebih pendiam. Hana selalu mengurung diri dikamarnya. Keluar hanya untuk makan dan mengambil minum. Selebihnya Hana menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di kamar.


Saat ditanya kenapa pun Hana hanya tersenyum tipis dan berkata tidak apa-apa. Sungguh, Ikhsan dan kedua orangtuanya lebih senang dengan sikap Hana yang sering merengek manja, bawel, dan berisik daripada Hana yang sekarang pendiam.


"Hana!" Panggil Widia dari balik pintu kamar Hana yang terkunci.


"Iya, Ma?" Jawab Hana malas.


"Buka dulu pintunya, sayang!"


Hana beranjak kemudian berjalan untuk membuka pintu.


"Kenapa, Ma?" Tanyanya setelah pintu terbuka.


"Ada Angga dibawah. Temuin sana!"


"Bilang Hana lagi tidur ya, Ma," ucap Hana enggan sambil mencoba menutup kembali pintunya. Namun gerakannya terhenti karena Widia buru-buru menahannya.


"Ada masalah?" Tanya Widia penuh selidik.


"Enggak ada, Ma. Udah, ya? Bilang kalau Hana lagi tidur," Hana buru-buru menutup pintu dan menguncinya. Widia pun tak bisa lagi membujuk Hana.


Hana hanya bisa melihat Angga dari kamarnya saat Angga menyalakan motornya lalu pergi meninggalkan rumahnya.


Lagi-lagi Hana menangis karena kekecewaannya. Semua yang Angga lakukan membuatnya berpikir dan instrospeksi diri.


"Aku salah apa, sih, Mas? Apa kurangnya aku sampai kamu tega melakukan ini sama aku?"


Terlanjur cinta kepadamu


Tak mampu aku lepaskan


Yang seharusnya kulepaskan


Tak bisa beranjak dari kenangan


Meski kucoba semua tlah terjadi


Kuberi kau cinta, tapi kau balas luka


Ku tawarkan rasa, kau hancurkan asa


Inikah cinta yang pernah kamu janjikan


Tak kuasa kutahan derai air mata ini


Semua rasa yang tercipta


Kau ceraikan dengan sempurna


Mungkinkah aku yang bersalah


Tak bisa beranjak dari kenangan


Meski kucoba semua tak terjadi


Kuberi kau cinta, tapi kau balas luka


Ku tawarkan rasa, kau hancurkan asa


Inikah cinta yang pernah kamu janjikan


Tak kuasa kutahan derai air mata ini

__ADS_1


Rasa-rasanya, setiap merasa sedih, mendengarkan lagu mellow yang akan menjadi pelampiasan. Bukannya membaik, justru membuat Hana semakin menangis tersedu.


Hana mengambil cincin yang sempat Angga titipkan lewat Ikhsan sebulan yang lalu.


"Katanya kamu mau nikah sama aku, Mas? Kenapa tunangannya sama perempuan lain?"


"Lalu cincin ini untuk apa?"


***


Malam minggu. Hana kembali mengaktifkan ponselnya setelah seminggu ini ia biarkan mati.


Ribuan pesan dan ratusan panggilan masuk ke WhatsApp-nya. Lebih banyak dari grup sekolah dan juga Angga.


Sedikitpun Hana tak berniat untuk membuka pesan dari Angga. Hana buru-buru menghapusnya kemudian memblokir nomor Angga dan juga semua sosial media Angga.


Hana tak akan lagi memberikan Angga kesempatan. Tak ada lagi yang perlu dijelaskan karena semua sudah jelas. Angga lebih memilih wanita lain daripada dirinya.


"Memangnya apa yang mau aku banggakan? Aku ini kekanak-kanakan, bawel, manja, masih kecil lagi. Sudah pasti dia memilih kak Devina yang pandai, dewasa, cantik, berjilbab pula. Kamu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan kak Devina, Hana!!"


Jari Hana mengusap layar ponselnya untuk melihat story WhatsApp dari kontak miliknya. Ada nama Denis yang berada di paling atas. Status baru dibuat satu menit yang lalu.


"Congratulations on the engagement, my lovely sister!" Tulisnya dengan menyertakan sebuah foto dimana Angga dan Devina sama-sama menghadap ke arah kamera dan menunjukkan cincin pertunangan yang melingkar di jari manis mereka.


Hancur! Hati Hana benar-benar hancur. Hatinya terasa sakit telah di khianati oleh orang yang ia cintai.


"Kamu jahat, Mas! Kamu jahat!" Maki Hana sambil memukul-mukul boneka Teddy bear pemberian dari Angga.


Hana mematikan ponselnya kembali. Tak peduli dengan teman-temannya yang mengiriminya screenshot dari status Denis. Mereka mencoba mencari kejelasan dari apa yang mereka lihat.


🌹🌹🌹


Sepanjang acara, Angga tak pernah sekalipun tersenyum. Yang ada hanyalah wajah enggan, dingin dan datar. Ingin rasanya Angga berlari dari rumah Devina dan pergi menuju rumah Hana. Angga ingin menemui Hana dan memberinya penjelasan. Tak peduli Hana akan mendengarkannya atau tidak.


Baru saja Angga ingin menelepon Hana, Hana sudah memblokir nomornya. Angga mendesah kecewa. Hana tak lagi memberinya kesempatan untuk meminta maaf apalagi menjelaskan semuanya.


Semua orang tertawa bahagia dengan terlaksananya pertunangan antara Angga dan Devina. Kecuali Angga tentu saja. Mungkin hanya Angga yang merasa ingin segera pergi dari situasi yang sangat tidak ia harapkan. Raganya dirumah Devina, tapi hati dan pikirannya ada pada Hana.


"Teman-teman pada penasaran, nih, Pak, melihat foto pertunangan Pak Angga dengan kak Devina," ucap Denis dengan santainya. Denis duduk di sebelah Angga. Semua orang sedang menikmati acara makan malam.


"Kamu buat story?" Angga menatap tajam Denis. Sedangkan Denis hanya mengangguk santai seolah tak memiliki dosa apapun.


"Saya juga jawab apa adanya kepada mereka, Pak," Denis masih saja bersikap santai. Tak peduli dengan Angga yang menatapnya tajam.


"Kalau Hana melihat bagaimana? Jangan cari masalah, Denis!"


"Hana sudah lihat, Pak. Saya lagi nggak cari masalah. Ini masalah bapak sendiri. Saya hanya ingin membagikan kebahagiaan kakak saya," ucap Denis sebelum ia pergi meninggalkan Angga sendiri.


Setelah Denis pergi, Angga menjambak rambutnya frustasi. Masalahnya dengan Hana belum terselesaikan, Denis sudah menambah kompor meleduk yang membuat Hana semakin membenci Angga.


***


"Angga! Mbak pengen ngobrol sebentar. Jangan tidur dulu, ya? Mbak mau nidurin Aufar dulu," titah Anggi sesaat sebelum Angga memasuki kamarnya. Tepat pukul sepuluh malam, Angga dan keluarganya sudah sampai dirumah.


Tak ada pembicaraan lebih saat perjalanan pulang ke rumah. Kecuali Rajiman yang begitu antusiasnya membayangkan bagaimana pernikahan Angga dan Rumi kelak. Pernikahan mereka akan dilaksanakan enam bulan setelah pertunangan.


"Kamu punya pacar?" Tanya Anggi memecah lamunan Angga. Angga hanya mengangguk lemah menanggapinya.


Anggi menghembuskan napas pelan. Mungkin kalau dia berada di posisi Angga, dia akan merasakan hal yang sama. Mempunyai kekasih, tapi dipaksa untuk bertunangan dengan orang lain.


"Lalu sekarang?" Tanya Anggi lagi.


"Aku nggak tau, mbak. Dia tau aku tunangan hari ini sejak kemarin kami bertemu dirumah Rumi kemarin.."

__ADS_1


"Kenapa bisa ketemu dirumah Rumi?" Anggi menyela.


Angga gelagapan. Kalau seandainya Angga jujur pacarnya masih anak SMA, Anggi pasti akan menertawakan dirinya. Tentu saja karena saat ini dia galau karena anak SMA.


"Dia.. Dia.. Murid les Rumi," jawab Angga gelagapan.


"Kok bisa?"


"Ya.. Dia baru selesai ujian kemarin. Dulu dia muridku juga pas aku masih ngajar."


Jawaban Angga sukses membuat Anggi melongo. Sedetik kemudian, "emmphh..." Anggi melipat mulutnya ke dalam agar tawanya tak pecah saat itu juga.


"Kenapa?" Tanya Angga tak suka melihat Anggi yang ingin menertawakannya.


"Mau ketawa takut dosa. Hahaha."


"Puas banget mbak ketawanya!" Sungut Angga tak suka.


"Sorry..." Ucap Anggi setelah ia berhasil mengendalikan tawanya. "Kamu udah jelasin ke dia?" Tanya Anggi.


Angga menggeleng lemah. "Kemarin aku ke rumahnya, dia nggak mau nemuin aku. HP-nya sudah seminggu nggak aktif. Sekalinya aktif nomorku dan semua sosial mediaku di blokir sama dia," Angga bercerita. Dalam hatinya ia memaki dirinya sendiri yang tak bisa menjaga hati Hana.


Anggi menepuk pundak adik laki-lakinya itu. Mengusapnya pelan, lalu berucap. "Mbak dukung kamu, Ga, untuk memperjuangkan cinta kamu."


"Maksud mbak Anggi apa?"


Anggi menghela napas panjang. "Kamu tahu, Ga? Kamu itu anak kesayangan bapak," Anggi mulai bercerita. Namun, dalam hati Angga tak mempercayai ucapan Anggi. Kalau sayang, kenapa harus memaksanya untuk menuruti semua kemauan ayahnya.


"Bapak dan ibu dulu pengen banget punya anak laki-laki. Setelah Anggun berumur empat tahun, ibu baru hamil lagi. Padahal aku dan Anggun saja jaraknya cuma satu setengah tahun."


"Bapak dan ibu semakin senang saat anak yang ibu kandung itu ternyata laki-laki. Dan itu kamu. Setelah kamu lahir, bapak selalu membangga-banggakan kamu. Menyebut bahwa kamulah yang akan menjadi penerusnya kelak. Maka dari itu, bapak selalu mengatur kamu sesuai dengan kemauan bapak. Bapak selalu over kalau itu menyangkut kamu. Meskipun rasa sayang bapak ke aku dan Anggun tidak pernah kurang, tapi buat kamu selalu lebih. Rasa iri itu pasti ada di hati kami. Tapi kami tak pernah menuntut atau mempermasalahkan hal itu. Karena kami sering melihat bapak marah pada ibu kalau ibu mencoba berbicara pada bapak untuk tidak membedakan rasa sayangnya kepada anak-anaknya," Anggi tersenyum miris. Tapi matanya menangis mengingat suatu hal yang selama ini ia rasakan. Terkadang Anggi maupun Anggun ingin menegur ayahnya, namun mereka selalu kalah dan berujung pada pertengkaran yang membuat ibunya menjadi korban amarah dari ayahnya.


Sesuatu yang tidak pernah orang ketahui dari sikap Rajiman. Karena Rajiman selalu pandai dalam menutupi semuanya. Termasuk berpura-pura semuanya baik-baik saja ketika didepan Angga maupun di depan orang lain. Mau tak mau, Ningsih, Anggi dan Anggun mengikuti sandiwara Rajiman.


Angga tercenung mendengarkan cerita dari Anggi. Selama ini hanya dirinya yang tak tahu apa yang terjadi dirumahnya. Termasuk dengan cara Rajiman yang berbeda dalam memperlakukan dirinya dan kedua kakaknya. Angga pikir, Angga-lah yang tidak disayang oleh Rajiman. Mengingat semua yang Angga inginkan tidak akan terjadi tanpa persetujuan dari Rajiman.


Namun ternyata berbeda. Dirinya yang paling di banggakan oleh Rajiman meskipun dengan cara yang salah.


Lebih menyakitkan lagi, bahwa ternyata ada tiga hari wanita paling berarti di hidupnya yang tersakiti karena sikap ayahnya. Dan dirinyalah penyebab utamanya.


"Itulah kenapa semua hal yang terjadi di hidup kamu, harus dengan persetujuan bapak. Termasuk perihal jodohmu. Maka dari itu, cobalah kamu memperjuangkan kebahagian kamu, Ga," lanjut Anggi kemudian.


Angga mendekati Anggi kemudian memeluk kakak pertamanya itu. Angga turut meneteskan air mata melihat kakaknya yang menangis. Angga begitu merasa bersalah atas apa yang terjadi di hidup kedua kakaknya dan ibunya.


"Maafkan aku, Mbak. Aku nggak pernah tau apa yang terjadi pada kalian. Laki-laki macam apa aku ini? Aku cuma bisa menyakiti wanita-wanita hebat di hidupku. Ibu, Mbak Anggi, Mbak Anggun, dan juga Hana."


Anggi semakin tersedu dan membenamkan wajahnya di pundak Angga. "Kamu nggak salah, Angga. Kamu tetap adik mbak yang terbaik. Kebanggaan kami. Perjuangkan cinta dan hidup kamu, Ga. Kami mendukung kamu, dan juga akan membantu kamu dalam melakukannya."


"Aku nggak yakin Hana akan memaafkan aku, Mbak. Bapak juga pasti akan marah besar," ucap Angga ragu setelah melepas pelukannya.


"Soal itu, kita pikirkan nanti. Yang penting sekarang kamu berusaha untuk mendapatkan maaf dari siapa tadi namanya?" Tanya Anggi sedikit menggoda.


"Hana!" Jawab Angga cepat. Anggi terkekeh pelan.


"Nah, itu."


"Makasih, ya, Mbak," ucap Angga penuh haru sambil memeluk kembali kakaknya.


"Iya... Udah, ah. Mau balik ke kamar, Mas Damar juga udah nunggu buat di peluk."


Pelukan Angga, Angga lepaskan begitu saja saat mendengar ucapan narsis dari Anggi. Membuat Anggi tertawa lagi. Angga pun ikut tertawa melihatnya.


Kedua kakak itu hanyut dalam tawa yang baru saja mereka ciptakan.

__ADS_1


__ADS_2