
POV : HANA
Kalian tahu apa yang paling dinanti oleh seorang pelajar?
Liburan. Ya, apalagi kalau bukan liburan?
Yeyyy.. Libur.
Hari ini adalah hari penerimaan raport. Itu artinya besok liburan sudah dimulai.
Alhamdulillah nilai ku sangat memuaskan. Kali ini aku berhasil lagi mengalahkan Denis.
"Selamat, ya, Na?" Ucap Denis sambil mengulurkan tangannya untuk memberikan selamat untukku. Senyuman terus menghiasi bibirnya. Dan itu membuat Denis semakin manis. Eh? Aduh, aku ini kenapa, sih?
"Makasih, ya, Denis. Kamu juga selamat, ya? Kamu juga juara, kok," balasku dengan senyuman yang tak lepas juga dari bibir tipisku.
"Iya, makasih juga kalau gitu," jawabnya.
Kami tertawa bersama. Lalu kami saling diam. Seolah ingin menikmati bersama hari terakhir sebelum liburan panjang ini.
"Liburan kemana, Na?" Tanyanya memecah keheningan.
"Emm.. Mau ke Bandung. Biasa, kerumah kakek dan nenek. Kalau kamu?" Aku balik bertanya. Dari ekor mataku dapat aku lihat Denis menatapku. Tapi aku tak ingin menoleh melihatnya. Tak ingin menatap matanya. Takut hatiku enggak kuat. Haha.
"Ke Bandung, ya? Enggak bisa main bareng, dong?" Aku sempat terkejut dengan ucapannya yang mengatakan 'main bareng'. Jujur, aku senang mendengarnya. "Kapan berangkatnya?" Lanjutnya.
"Nanti sore,"
"Naik pesawat?"
Aku mengangguk.
"Ihh.. Hana dicariin ternyata malah pacaran disini," suara manja Lila mengejutkan kami berdua.
"Siapa yang pacaran, sih? Kita cuma ngobrol aja, kok," kilahku cepat.
"Ngaku aja, deh, Na," Karina menggodaku dengan menekan pipiku menggunakan jari telunjuknya.
"Apaan, sih?" Rengek ku manja. Denis, Karina dan Lila menertawakan aku.
Kliing..
+6285728123xxx
Hana, bisa kita bicara sebentar? Saya tunggu di roof top.
Aku mengerutkan keningku membaca deretan pesan WhatsApp yang mampir ke handphone ku dari nomor yang tak ku kenali sama sekali. Ku lihat foto profilnya yang ternyata hanya bergambar pemandangan sunset di pantai. Nama kontaknya pun tak ada, hanya ada emoticon bebek yang baru menetas.
"Ada apa, Na?" Tanya Denis yang melihatku seperti orang bingung.
"Eh, enggak. Aku permisi dulu, ya?" Aku langsung pergi meninggalkan Karina, Lila dan Denis yang sudah pasti bertanya 'ada apa?' atau 'mau kemana?' atau juga 'kamu kenapa?'.
Sepanjang perjalanan menaiki tangga menuju roof top, aku merasa deg-degan. Masih berpikir siapa yang mengajakku bertemu. Suasana sekolah memang sudah sedikit sepi karena kebanyakan dari mereka sudah pulang kerumah. Aku berdoa semoga bukan orang yang ingin menculik ku, lalu mengambil organ tubuhku lalu dijual.
Aaihhh.. Makin absurd aja pikiran aku.
Setelah sampai anak tangga paling ujung, ku edarkan pandanganku ke segala arah, tak ada seorang pun yang berada di tempat ini
Ku putuskan untuk duduk disalah satu bangku sambil mengatur nafasku yang tersengal karena terlalu lelah menaiki tangga. Ditambah lagi cuaca siang ini begitu panas.
__ADS_1
Aku mengibas-ngibaskan kedua tanganku menjadikannya kipas sementara karena keringat membanjiri pelipis dan juga leherku.
"Capek, ya?"
Aku terperanjat ketika mendengar suara seseorang. "Eh? Pak Angga? Kok ada disini? Sedang apa?" Tanyaku gugup.
"Menemui kamu," ucapnya santai.
"Jadii..?"
"Iya, itu tadi nomor saya. Di save, ya?"
Aku mengangguk, "iya, Pak."
"Minum," Pak Angga memberikan segelas jus alpukat kesukaanku. "Aku tahu kamu pasti lelah habis naik tangga," lanjutnya dengan senyuman tipis dibibirnya. Pak Angga mendudukkan dirinya di sampingku.
Dengan rasa canggung aku menerima segelas jus itu dan mengucapkan terimakasih. Ehm.. Gugup juga, sih, karena lihat senyum Pak Angga.
Untuk beberapa saat kami diam. Aku sibuk meminum jus alpukat, sedangkan Pak Angga menatap lurus ke depan melihat pemandangan kota Karanganyar yang begitu padat.
"Bapak mau bicara apa?" Tanyaku kemudian.
"Sudah minumnya?" Aku mengangguk. Pak Angga merubah posisi duduknya menjadi sedikit menghadap ke arahku.
"Selamat, ya, untuk peringkat pertama kamu,"
"Terimakasih, Pak." Aku menunduk menghindari tatapan mata Pak Angga. Entah kenapa ditatap seperti itu membuatku merasa tidak nyaman sama sekali.
"Saya minta maaf, ya, untuk perlakuan saya ke kamu selama ini. Mungkin saya terlalu keras, dan sudah kurang adil sama kamu."
"Enggak apa-apa, Pak. Mungkin saya juga yang bersalah," ucapku tak enak hati. Sesalah-salahnya Pak Angga, aku tetap tak enak kalau Pak Angga sampai minta maaf seperti ini.
"Mau pulang?" Aku mengangguk. "Ya sudah. Terimakasih atas waktunya, ya? Maaf mengganggu."
"Enggak ganggu, kok, Pak. Saya permisi, ya?" Pak Angga mengangguk dan tersenyum. Lagi. Kini senyumannya lebih lebar dari yang tadi.
Aku berhenti melangkah ketika teringat akan sesuatu. "Emm.. Pak, terimakasih atas penjelasan Pak Angga kepada Vera waktu itu,"
🌺🌺🌺
Mama membantuku mengemasi barang-barang yang akan aku bawa liburan ke Bandung. Yeyy..
Aku akan menghabiskan dua minggu waktu liburku disana. Untuk yang seminggu terakhir aku ingin menghabiskannya bersama teman-temanku disini.
"Kamu hati-hati, lho, ya? Mama sama papa enggak bisa nganter kamu sampai Bandung. Jangan nakal, jangan minta aneh-aneh sama Mas Ikhsan, apalagi sama kakek dan nenek. Sampai sana nanti dijemput Mas Ikhsan di bandara, kan?" Nasehat Mama panjang lebar sambil memasukkan baju-bajuku kedalam koper.
"Siap, Mama. Lagian tanpa Hana minta mereka pasti udah ngasih semuanya, Ma. Haha,"
Mama menghembuskan napas kesal. Iya, Mama selalu bertolak belakang dengan kakek dan nenek. Kalau Mama lebih banyak tidak menuruti apa yang aku mau, tapi kakek dan nenek selalu memberiku apapun tanpa aku minta. Tahun lalu, kakek membelikan laptop untukku sebagai hadiah karena aku berhasil meraih peringkat pertama. Padahal, bagi Mama aku belum membutuhkan laptop itu.
"Harus jaga diri. Jangan pergi kemanapun tanpa Mas Ikhsan." Peringat Mama untuk yang kesekian kalinya.
"Siap, Bunda Ratu," jawabku cepat sambil memposisikan tanganku dengan posisi hormat.
"Mama serius,"
"Iya, Mama."
"Anak Papa sudah siap?" Aku menoleh dan melihat Papa yang sudah berdiri bersandar pada pintu kamar yang terbuka.
__ADS_1
Gayanya sempat membuatku melongo terpesona. 'Ganteng banget Papa aku....'
Papa memakai kaos berkerah warna navy yang pas di badannya, dipadukan dengan celana jeans pendek berwarna hitam. Dan itu membuat Papa terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usianya yang kini sudah memasuki kepala lima.
Ya ampuunn.. kenapa aku bisa enggak sadar kalau dandanan Mama kali ini juga beda banget?
"Kenapa liatin Papa sama Mama sampe segitunya? Terpesona, ya?" Ucap Papa dengan percaya diri membuatku memutar bola mata jengah.
"Inget umur. Baru juga anaknya mau pergi, udah mau kencan berdua aja."
Papa dan Mama saling melirik, kemudian tertawa.
"Mumpung ada kesempatan. Kapan lagi coba? Iya, kan, Ma?" Ucap Papa sambil mengedipkan sebelah matanya. Mama terlihat tersipu malu dengan pipi yang memerah. Aku hanya menggelengkan kepala melihatnya.
Sejujurnya, aku sangat senang melihat keromantisan kedua orangtuaku. Aku bersyukur kedua orangtuaku hampir tak pernah bertengkar dan selalu menjaga keharmonisan mereka.
"Oke, tapi Hana enggak mau punya adik loh, Pa, Ma,"
Mama dan Papa kembali tertawa. Bahkan lebih keras dan itu membuatku mendelik kesal kearah mereka.
🌺🌺🌺
Sepanjang penerbangan Solo-Bandung, mataku tak terpejam sama sekali. Padahal seharian ini aku belum sempat istirahat walau hanya sekedar merebahkan tubuh saja.
Aku lebih menikmati langit senja yang memberikan keindahan dan membuat semua orang mengaguminya.
Kini, aku sudah berada dalam mobil bersama Mas Ikhsan untuk menuju rumah kakek. Menelusuri jalanan kota Bandung yang sangat padat malam ini. Pantas saja, malam ini adalah malam minggu. Sudah pasti banyak orang yang berlibur atau sekedar jalan-jalan menikmati hari libur setelah seminggu berkutat dengan pekerjaan mereka.
"Mampir ke restoran depan sana bentar, ya, dek?" Ucapan Mas Ikhsan seketika membuatku membuka mataku lebih lebar. Padahal aku sudah hampir tertidur.
"Mau ngapain, Mas? Hana enggak lapar, langsung pulang aja," jawabku dengan suara serak khas orang mengantuk dengan mata yang kembali terpejam.
"Mas mau ketemu temen Mas dulu sebentar."
"Hmm.." gumamku. Setelahnya, aku tak ingat apa-apa lagi.
🌺🌺🌺
Mas Ikhsan membangunkan aku ketika mobilnya sudah terparkir didepan restoran yang begitu kental dengan nuansa Sunda. Ya, meskipun terasa enggan untuk membuka mataku. Aku enggak mau ditinggal sendirian di dalam mobil.
"Toilet dimana, Mas?" Tanyaku setelah turun dari mobil. Ku rasa aku butuh cuci muka dan bersih-bersih sedikit. Malu kalau sampai terlihat kusut apalagi bermuka bantal.
"Sebelah sana. Nanti langsung masuk aja kalau sudah selesai. Meja nomor tujuh,"
Aku mengangguk. Kemudian berjalan menuju toilet sesuai dengan arahan Mas Ikhsan tadi. Sesekali aku melihat ke kanan dan ke kiri melihat sekitar restoran yang ternyata dikelilingi persawahan. Aku yakin kalau siang hari pasti pemandangannya sangat bagus. Tiba-tiba....
Brruukkkk...
"Aduh.." keluhku saat bahu kiri ku tak sengaja bersenggolan dengan seseorang.
"Kamu enggak apa-apa?"
Suara itu...??
"Pak Angga!!?"
"Hana!!?"
🌺🌺🌺
__ADS_1