Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 64


__ADS_3

Seminggu menjelang hari pernikahan, aku dan Mas Angga benar-benar di pingit. Kami sama sekali tak diijinkan untuk bertemu. Hanya diijinkan untuk saling mengirim pesan dan telepon. But not vidio call.


Oke. Itu lebih baik. Itupun kalau aku tak merajuk dan semalaman mengunci diri di kamar ijin untuk bisa teleponan dan WhatsApp-an tidak akan aku dapat.


Iya. Jadi kemarin aku memilih untuk tidak keluar kamar sampai pagi harinya. Beruntung kamar mandi ada di dalam kamar. Dan juga aku masih ada beberapa cemilan yang belum ku buka dan juga air mineral satu botol. Seperti sudah berniat untuk mengurung diri. Wkwkwkwk.


Hari Sabtu. Mama mengajakku untuk ke butik tempat yang sama dengan yang aku datangi bersama Mas Angga kemarin. Mbak-mbak yang kemarin itu melihatku dengan senyuman menggoda. Mungkin dalam hatinya, "ih, ini yang kemarin kesini terus ngambek sama calonnya."


Aku sedang asyik melihat-lihat saat ku dengar seseorang menyapa mama.


"Ini anakku yang mau nikah. Anak kedua," mama menarik tanganku memberi kode untuk menyalami temannya. Tante Rahma namanya.


"Ya ampun, Mbak Widia. Belum ada tiga bulan mau mantu dua kali. Cantik sekali anak gadis Mbak Widia ini." Ucap Tante Rahma sambil mengusap pundak ku. Aku tersenyum malu.


"Tante Rahma ini pemilik butik ini. Butik yang sering kerja sama dengan salon Mama," mama menjelaskan.


"Ayo.."


Tante Rahma mengajakku untuk mengikutinya memasuki sebuah ruangan dimana banyak menggantung gaun pengantin. Mulai dari baju pengantin khas Jawa, gaun terbuka, juga gaun tertutup untuk muslimah.


Pilihanku jatuh pada gaun berwarna mocca yang simple tapi tetap elegan dengan bagian bawah yang menjuntai. Payet yang tak terlalu ramai tapi membuat gaun terlihat sangat cantik.


"Bagus selera kamu. Ini gaun baru banget Tante ambil tadi pagi. Belum ada yang pakai," ucap Tante Rahma.


For your information, untuk resepsi memang gaun yang aku pakai hanya menyewa saja. Tidak perlu beli. Dipakai juga cuma sekali saja. Daripada mubadzir lebih baik uangnya buat kebutuhan yang lain.


Kalau gaun untuk akad, aku berencana untuk membelinya. Gila, ya? Sesantai ini aku itu. Nikah tinggal seminggu tapi urusan gaun belum selesai.


Mama dan Tante Rahma menyuruhku untuk mencoba gaun tersebut dibantu salah satu pegawai Tante Rahma.


"Ini mbaknya yang kemarin ngambek sama pasangannya, kan?" Tanya mbak pegawai tanpa basa-basi. Kan aku jadi malu.


"Hehe.. Iya, mbak," jawabku malu-malu.


"Ada untungnya Mbak nggak fitting hari itu."


"Loh, kenapa?" Ujar ku bingung. Ini mbak pelanggannya lari malah dibilang untung.


"Iya, karena pasti kamu nggak dapat gaun secantik ini, mbak."


"Mbak bisa aja."


Iya juga, ya? Coba kalau kemarin aku sudah fitting. Pasti aku dapatnya baju yang lain. Sedangkan Tante Rahma bilang kalau gaun yang aku pilih baru di ambil pagi tadi.


"Cantik sekali..." Ucap Tante Rahma heboh saat aku baru saja keluar dari ruang ganti.


"Aku pilih ini aja ya, Ma? Hana suka."


"Oke.. Mama juga suka."


Setelah itu aku kembali mengganti bajuku. Kemudian memilih baju untuk akad.


Aku memilih gaun berwarna putih dengan aksen pita berwarna silver di bagian pinggang dengan payet berwarna senada di bagian-bagian tertentu. Terlihat sederhana, namun juga elegan.


Setelah urusan gaun selesai, aku dan mama mampir ke percetakan tempat undangan pernikahanku dengan Mas Angga di cetak. Alhamdulillah, semua beres pada waktunya.


🌹🌹🌹


Kamarku saat ini sudah seperti kapal pecah. Undangan yang baru di beri nama berserakan. Bungkus cemilan, bungkus roti, bungkus susu kotak, dan lain-lain berserakan memenuhi lantai kamarku. Semua karena ulah Karina dan Lila. Iya, ulah kedua sobat koplak ku itu.


Aku sengaja meminta mereka untuk datang kerumah untuk membantuku mengurus undangan. Tentu saja mereka juga yang akan membagikan ke teman-temanku. Aku? Mana sempat membagikan undangan itu sendiri.


"Aku masih belum percaya kalau Hana udah mau nikah. Sama Pak Angga pula," celetuk Karina tiba-tiba.


"Iya. Ternyata cinta lama belum kelar." Jawab Lila sekenanya.


"Bayangin, La, kalau mereka punya anak! Kira-kira anaknya mirip siapa, ya?"


"Mirip aku. Hahaha.."


"Hey!" Aku yang mendengarnya kesal sendiri. "Anak, anak aku sama Mas Angga. Kenapa jadinya mirip kamu? Nggak ikhlas aku."


"Ciyeee... Udah ngomongin soal anak..." Goda Karina yang justru malah membuatku malu.


"Kalau udah selesai beresin kamar aku. Gara-gara kalian jadi berantakan," aku mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malu ku.

__ADS_1


Ponselku berbunyi sebagai tanda ada peran masuk. Ku pikir itu dari Mas Angga. Ternyata dari Rasyid.


Rasyid sudah tahu perihal aku akan menikah. Awalnya dia tak percaya secepat itu aku memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Dia terus memperingatkan bahwa masa depanku masih panjang. Memangnya masa depanku tidak akan panjang kalau aku menikah?


Rasyid juga memintaku untuk memikirkan ulang keputusanku. Aku harus fokus terlebih dahulu untuk kuliahku.


Dia salah. Nyatanya selama ini aku kurang fokus karena masih saja teringat dengan Mas Angga meskipun nilai ku tetap memuaskan.


Rasyid : "Masih ada waktu kalau kamu mau batalin pernikahan kamu!"


Hey? Maksud dia apa? Dia tetap memintaku untuk membatalkan pernikahan aku begitu? Itu nggak mungkin, Jaenudin!


Me : "Maksud kamu apa?"


Rasyid : "Hana, aku masih sayang sama kamu!"


Me : "Rasyid, tolong! Kita udah bicarakan ini sebelumnya. Tolong dukung aku kalau kamu memang sayang sama aku."


Rasyid : "Sulit."


Balasnya singkat. Aku tak mau membalas pesannya lagi yang hanya akan membuat moodku awut-awutan.


Ku pikir ucapannya waktu di rumah sakit kemarin itu sungguh-sungguh. Tapi ternyata tidak. Dia masih saja mengejar ku bahkan memintaku untuk membatalkan pernikahanku.


Aku jadi ragu. Apa jangan-jangan dia tidak pernah tulus berteman dan bersahabat denganku selama ini? Hanya cara dia buat bisa dapatkan aku begitu?


Selama ini Rasyid baik. Bahkan sangat baik. Tapi kalau seperti ini cara dia aku jadi hilang respect sendiri.


🌹🌹🌹


POV : ANGGA


Tinggal tiga hari lagi aku akan resmi menjadi suami Hana.


Suami? Hana akan menjadi istriku?


Membayangkan saja sudah membuat hatiku berdebar kencang. Aku masih tak percaya aku dan Hana akan sampai pada titik ini. Semua mengalir begitu cepat dan mudah. Ku pikir Hana tak akan memberiku kesempatan. Tapi ternyata doaku dijawab semua oleh Allah.


Bahkan doaku hanya meminta Hana untuk memaafkan aku. Tapi ternyata aku diberi bonus kesempatan untuk mempersuntingnya.


Ku pikir, aku adalah laki-laki paling bahagia karena bisa mendapatkannya.


Aku jadi teringat Rasyid yang kemarin mengirimiku pesan. Dia seolah belum ikhlas kalau aku dan Hana akan menikah.


Rasyid : "Bapak tak pernah tahu betapa sulitnya aku membuat Hana tertawa melepas bebannya."


Me : "Kalau kamu benar-benar sayang, harusnya kamu bahagia kalau Hana juga bahagia."


Rasyid : "Bapak yakin tidak akan menyakitinya lagi?"


Me : "Jangan pernah bertanya seperti itu. Bahagia Hana segala-galanya buat saya."


Dia tak lagi membalas pesanku. Mungkin dia kalah telak. Aku tak akan biarkan siapapun mengusik kebahagiaan kami. Termasuk Rasyid.


Suasana di rumahku belum terlalu ramai. Berbeda dengan rumah Hana yang sudah pasti hari ini sudah ramai dengan para tetangga yang membantu menyiapkan acara. Kalau orang Jawa menyebutnya rewang.


Seminggu ini pun komunikasi ku dengan Hana hanya sebatas bertukar pesan lewat WhatsApp. Aku mulai merindukan wajah manis dan cantiknya. Bahkan sejak sehari setelah kami benar-benar di pingit.


Berkali-kali aku memintanya untuk mengirimkan fotonya tapi Hana menolak.


"Nggak usah kirim foto, Mas. Biar Mas tambah kangen sama Hana. πŸ˜…"


Tulisnya di pesan singkat kemarin. Hana mulai berani menggodaku. Aku jadi tidak sabar ingin segera mencubit pipinya yang sedikit gembul itu. Hanya pipinya. Badannya tak bertambah gemuk sedikitpun. Hanya bertambah tinggi dan terlihat semakin dewasa meskipun wajah imutnya masih tetap sama.


Hana, tiga hari lagi...


Aku keluar kamar saat mendengar keributan kecil dari kamar yang berada di sebelah kamarku. Kamar mbak Anggun. Kakakku itu rela pulang dari Bandung hanya demi pernikahanku.


"Emak-emak! Berisik tau!" Tegur ku sok galak pada mereka yang sedang sibuk mencocokkan kebaya dengan jilbab yang akan mereka kenakan.


Keduanya langsung menoleh dan menatap aku tajam.


"Udah, deh. Mending hafalin kalimat akadnya. Jangan sampai salah, malu-maluin!" Ucap mbak Anggi.


"Bener apa kata Mbak Anggi," Mbak Anggun tiba-tiba jadi kompor.

__ADS_1


Sudahlah, berdebat dengan perempuan jangankan menang, bisa seri aja sudah ampuh itu.


Masih ku dengar mereka tertawa cekikikan saat aku pergi meninggalkan kamar Mbak Anggun.


***


Sabtu, 21 Maret 20xx


Hari yang ku tunggu datang juga. Hari ini Hana akan resmi menjadi istriku.


Jangan tanya bagaimana perasaanku. Bahagia, gugup, deg-degan bercampur menjadi satu. Rasa-rasanya apa yang aku lakukan sejak pagi ada saja yang salah karena pikiranku terus fokus pada acara akad yang aku sendiri sudah tidak sabar untuk mengucap ijab qobul.


Akad nikah kami dilaksanakan pukul sebelas siang. Dan ini baru pukul delapan. Tapi kedua kakakku itu sudah ribet berdandan ini itu. Dasar perempuan!


'Hey, Angga! Calon istrimu juga perempuan.' Sisi lain dalam diriku memprotes.


Mbak Anggun sejak tadi juga sudah menyuruhku untuk berganti baju. Halo, kakak! Akad masih tiga jam lagi dan aku sudah harus ganti baju? Bisa-bisa bajuku kusut dan tak keren lagi di depan Hana.


Ibu juga tak kalah sibuknya. Beliau juga ikut berdandan seperti kedua kakakku. Sedangkan bapak, Mas Erwin dan Mas Damar terlihat santai sepertiku. Lebih kasian ke Mas Erwin dan Mas Damar, sebenarnya. Mereka berdua harus menjaga anak mereka yang tak bisa diam sedangkan ibunya sibuk berdandan. Ck ck ck.


Kedua anak kecil itu berusaha memainkan rancangan baki seserahan yang sudah tertata rapi di atas meja panjang yang sengaja di sediakan.


Bagaimana Hana sekarang, ya? Sedang apa dia?


Ahh.. Sudah pasti ia juga sedang berdandan.


🌹🌹🌹


Rumah Hana juga tak kalah ribetnya. Akad nikah akan diadakan di rumah sedangkan resepsi akan diadakan besok di ballroom salah satu hotel di solo.


Widia yang sudah berhias namun belum berganti baju sudah mondar-mandir kesana kemari mempersiapkan segala sesuatunya agar acara untuk anak gadisnya bisa terlaksana dengan sempurna.


Sedangkan Hana dan Kinan sedang di rias oleh pegawai salon Widia di kamar. Kinan sudah siap. Kini tinggal Hana yang harus dirias. Sengaja dirias paling akhir agar tampilan Hana tetap fresh saat acara nanti.


"Mbak Hana kok cemberut terus, to?" Tegur Santi. Perias handal kebanggaan Widia.


"Bukan cemberut, Mbak. Ini gugup," ucap Hana pelan disambut tawa pelan Kinan dan Santi.


"Teh Kinan dulu gugup juga nggak?"


"Ini udah ke berapa kalinya kamu nanya gitu, Na. Gugup sudah pasti. Tapi ya dinikmati aja. Sekali seumur hidup ini. Sambil berdoa semoga semua lancar."


"Aamiin.." jawab Santi dan Hana bersamaan.


Waktu berlalu, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Angga dan keluarganya sudah berada di rumah Hana.


Hana dan Angga sama-sama gugup meskipun merek tidak berada di tempat yang sama karena Hana masih berada di dalam kamar.


Tangan Hana dingin dan berkeringat karena gugupnya. Perutnya juga terasa mulas. Efek yang biasa dirasakan oleh seseorang ketika sedang gugup. Dadanya berdebar kencang. Terlebih saat Anang yang berada di bawah sama mulai bersuara bersiap untuk menikahkan keduanya.


"Angga Raditya?"


"Saya."


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya Farhana Aghnia binti Anang Permana dengan mas kawin emas seberat sepuluh gram dan uang sebesar sepuluh juta sepuluh ribu sembilan puluh enam rupiah dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Farhan Aghnia binti Anang Permana dengan Mas Kawin tersebut, tunai."


"Sah?"


"Sah."


"Sah."


"Alhamdulillah...."


🌹🌹🌹


Sudahhhh... lunas ya.. Angga sama Hana udan nikah. πŸ˜…πŸ˜…


Maapkan author baru sibuk bikin kue lebaran πŸ˜… meskipun dimakan sendiri ya, kan?


Tetap dirumah aja ya gaes.. lebaran dirumah bareng keluarga. πŸ€—


Minal Aidin wal Faidzin. mohon maaf lahir batin yaa...

__ADS_1


__ADS_2