
"Duduk, Na! Enggak capek berdiri terus?" Ucap Angga tanpa melihat Hana. Fokus pada laptopnya.
Hana merasa jengah melihat Angga yang terus fokus pada laptopnya. Lalu apa gunanya Hana kalau Angga sama sekali tak memperdulikannya?
"Hana mau pulang aja, Mas. Disini Mas Angga juga cuekin Hana," keluh Hana sambil mendudukkan dirinya di atas kursi yang berseberangan dengan Angga.
"Tunggu, ya? Sebentar lagi selesai. Kita pulang bareng,"
"APA!!??" Teriak Hana terkejut dengan ucapan santai Angga. Seketika Hana menutup mulutnya sendiri untuk meredam suaranya meskipun sudah terlambat. "Hana enggak mau, Mas. Hana enggak siap jadi bahan gosip satu sekolah," ucap Hana dengan menatap Angga yang kini sudah mengalihkan perhatiannya dari laptop menjadi memperhatikan gadis kecil penghuni baru dihatinya itu.
Iya, penghuni baru. Setelah kedua orangtuanya dan kedua kakaknya.
"Sekolah juga sudah sepi, Hana. Sudah pada pulang,"
"Para guru?"
"Sebagian Diklat, sebagian sudah pulang, sebagian lagi masih di kantor," jelas Angga.
"Enggak mau coba-coba," Hana menggeleng keras. Hana menjadi panik. Takut keberadaannya di ruangan Angga diketahui oleh guru lain.
Angga tertawa pelan mendengar penolakan Hana. Sejujurnya dalam hati Angga, ia sendiri juga merasa was-was. Takut kalau ada yang memergoki mereka. Tapi sesekali Angga ingin merasakan sensasinya. Bisa tetap bersama meskipun secara sembunyi-sembunyi.
"Kamu tunggu di halte timur sekolah. Tunggu Mas disitu, ya?" Ucap Angga sembari membereskan beberapa kertas dan juga buku-buku yang berserakan di atas meja.
"Mas serius?" Hana memastikan. Angga mengangguk. "Kalau gitu Hana keluar duluan. Tapi jangan lama-lama, ya? Kalau kelamaan Hana tinggal pulang," ancam Hana.
Angga tertawa, "sudah enggak sabar, ya, mau bebas berduaan?" Goda Angga dengan mengerlingkan matanya.
"Huek," Hana berekspresi seolah ingin muntah. "Mas Angga kepedean," ucapnya lalu berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangan Angga diiringi tawa pelan Angga.
Didepan ruangan Angga, Hana celingukan seperti seorang maling yang takut ketahuan. Setelah dirasa aman, Hana berlari melewati koridor sekolah menuju gerbang. Beruntung sekolah sudah sepi. Hanya terlihat penjaga sekolah mengunci pintu ruang kelas dan juga beberapa siswa yang juga berjalan menuju gerbang.
***
Satria berdiri bersandar pada pintu ruangan yang terbuka. Awalnya, Satria tidak berniat untuk menghampiri Angga di ruangannya. Tapi melihat Hana yang celingukan didepan ruangan Angga, membuat Satria merasa curiga.
"Kayaknya buru-buru amat, Ga?" Tanya Satria yang melihat Angga sedang melipat kabel charger laptop dengan buru-buru.
"Kebiasaan bikin kaget kamu itu!" Jawab Angga ketus.
Satria tertawa. "Tadi Hana ngapain dari sini?" Tanya Satria santai. Bukan masalah bagi Angga kalau Satria mengetahuinya. Karena Satria juga sudah mengetahui ada apa Antara dirinya dengan Hana.
"Mau tahu aja urusan orang," ucap Angga sarkasme. Satria sendiri sudah merasa terbiasa dengan ucapan ketus Angga. Bukan hal baru lagi. Angga memang seperti itu sejak dulu.
Kini Angga dan Satria sudah berjalan beriringan menuju tempat parkir. Tidak ada pembicaraan serius diantara mereka. Sesekali Angga bertanya tentang persiapan pernikahan Satria yang akan dilaksanakan dua bulan lagi.
Finally! Guru idola di SMA Harapan Bangsa akan berkurang satu.
***
Sudah setengah jam yang lalu Hana duduk di halte timur sekolah sesuai dengan permintaan Angga. Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan bagi Hana. Berulangkali Hana melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Berulangkali juga Hana mendongak, barangkali mobil Angga sudah terlihat.
Tiiiinn..
Sebuah mobil berhenti didepan Hana berdiri, "Hay, manis.." sapa seorang yang berada didalam mobil tersebut.
Hana melengos tak menanggapinya. Merasa kesal karena masih sempat-sempatnya mengeluarkan godaan padahal Hana sudah lumutan karena terlalu lama menunggu.
"Kelamaan nunggu, ya? Maaf, ya? Masuk dulu," bujuk Angga.
Hana berjalan memutari mobil lalu masuk ke dalam dan duduk di kursi penumpang bersebelahan dengan Angga.
__ADS_1
"Udah jamuran karena nungguin Mas Angga," gerutu Hana setelah Angga mulai menjalankan mobilnya.
Angga terkekeh geli melihat tingkah Hana. "Mau makan dulu?" Angga menawari.
"Enggak usah aneh-aneh deh, Mas. Hana itu takut kalau ada yang tahu kita jalan berdua," protes Hana tak suka.
"Kenapa takut banget begitu, sih?"
"Mas Angga enggak tahu, sih, gimana agresifnya fans-fans Mas Angga. Apalagi Vera and the geng itu," keluh Hana manja. Angga sendiri juga baru tahu sikap manja Hana yang justru membuat Hana semakin menggemaskan itu setelah beberapa minggu mereka dekat.
"Kamu takut?" Tanya Angga.
"Bukannya takut, Mas. Tapi males. Mereka itu rempong banget. Bikin kesel."
Bukannya menanggapi, Angga justru malah tertawa keras.
"Kenapa ketawa keras banget, sih? Suka gitu aku jadi bulanan fans-nya Mas Angga?" Ucap Hana kesal melihat Angga yang belum juga berhenti tertawa.
"Bukan begitu Hana," Angga menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas berwarna merah. Menggeser posisi duduknya menjadi sedikit menghadap pada Angga. "Lagian hubungan kita, kan, enggak lebih dari seorang guru dan murid."
Jleb! Hati Hana terasa dihujam dengan pedang. Jadi selama ini Angga tak menganggap hubungan mereka itu lebih?
Lalu perhatiannya? Ucapan manisnya? Ucapan sayangnya?
Untuk apa semua dilakukan kalau ternyata Hana tak lebih spesial dari murid yang lain.
Hana melirik Angga yang sudah kembali fokus pada jalanan.
*Jadi ini alasan Mas Angga enggak pernah memberikan status pada hubungan ini?
Hanya sebatas guru dan murid.
Guru dan murid.
Hana menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Hatinya terasa sesak. Matanya memanas kemudian berkabut dan menutupi penglihatannya pada jalanan. Hana menoleh ke arah jendela mobil kemudian menghapus setitik air mata di sudut matanya.
"Langsung pulang aja," ucap Hana pelan.
"Enggak mau makan dulu?"
"Enggak usah. Hana mau pulang."
***
Angga menatap Hana yang berjalan memasuki pelataran rumahnya. Bukan Angga tak menyadari perubahan sikap Hana setelah apa yang ia ucapkan tadi. Angga juga merasa bersalah dan sakit dengan kenyataan yang ia tunjukkan pada Hana. Angga hanya tak ingin mengecewakan Hana suatu saat nanti.
Angga merasa bahwa semua ini salah Angga. Kalau saja dulu Angga tak mengatakan kalau ia menyayangi Hana, pasti keadaan tak akan menjadi seperti ini. Pasti Hana tidak akan merasakan kecewa dan sakit hati.
"Maafkan Mas, Hana!" Gumam Angga lalu menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya meninggalkan rumah Hana.
***
Pagi ini terasa berbeda pagi Angga. Bukan hanya pagi ini sebenarnya, tetapi malam tadi Angga juga merasa berbeda dengan malam yang biasanya.
Kalau biasanya sebelum tidur Angga menghabiskan waktunya untuk bercengkrama dengan Hana lewat telepon, tetapi tidak dengan semalam. Berulangkali Angga mencoba menghubungi Hana, tetapi ponsel gadis itu sepertinya sengaja dimatikan.
Kelas kali ini terasa berbeda. Jadwal pagi ini adalah teori olahraga. Jadi pembelajaran dilaksanakan didalam kelas. Tak ada tawa Hana yang menghiasi. Hana sedang sakit dan ijin untuk tidak masuk ke sekolah. Surat ijin dari dokter sudah berada digenggaman Angga. Tak ada yang tahu apa sakit yang diderita Hana. Kedua sahabatnya berkata, bahwa ponsel Hana tidak aktif sejak kemarin siang.
Angga menjadi semakin merasa bersalah. Angga mengira bahwa dirinyalah penyebab Hana sakit.
Angga mencoba kembali menghubungi Hana. Nihil, gadis itu belum juga mengaktifkan ponselnya. Angga terus berfikir bagaimana agar ia bisa mengetahui keadaan Hana sekarang.
__ADS_1
Berkunjung kerumahnya? Itu tidak mungkin. Alasan apa yang akan ia berikan pada keluarga Hana.
Berkata kalau dia gurunya? Pasti akan membuat keluarga Hana bingung. Kenapa ada guru yang masih muda dan seperhatian itu pada muridnya yang sakit bahkan menjenguknya saat belum juga sehari Hana ijin tidak masuk sekolah.
***
Widia menatap putrinya yang tertidur dengan jarum infus yang tertancap dipunggung tangan kirinya. Kemarin sepulang sekolah, Hana langsung tertidur sampai sore hari tanpa menyantap makanan sedikitpun.
Setelahnya, Hana langsung berlari keluar dan bermain air hujan saat hujan turun begitu derasnya. Tak peduli bagaimana hebohnya Widia melarang putrinya itu untuk tidak hujan-hujanan.
Hana tak juga keluar kamar sejak selesai bermain air hujan. Parahnya lagi, tak ada makanan ataupun minuman yang masuk kedalam mulut Hana sejak pulang sekolah.
Widia memutuskan untuk menghampiri Hana. Betapa kagetnya Widia saat membuka pintu dan melihat Hana yang sudah tergeletak tak sadarkan diri didepan lemari dengan hanya menggunakan handuk kimono yang membungkus tubuhnya. Badannya panas dan seluruh tubuhnya terasa dingin.
Widia berteriak panik memanggil suaminya yang sedang menikmati makan malam.
Tanpa menunggu lagi, Widia memakaikan baju hangat dan meminta Anang, suaminya, untuk membawa Hana kerumah sakit.
Alhasil, Hana harus menjalani perawatan karena dehidrasi dan panasnya yang mencapai 40°.
***
POV : HANA
Aku tak tahu kenapa mataku terasa berat untuk terbuka. Kepalaku juga terasa pusing dan berat seperti ditimpa beras lima kilo.
Bau obat-obatan juga tercium olehku. Aku dimana? Seingatku aku baru saja selesai mandi, lalu......
"Hana?" Suara Mama begitu terlihat senang karena aku bangun.
"Ma.." ucapku lirih.
"Iya, sayang. Kamu mau minum?" Tawar Mama. Aku mengangguk. Kemudian mama memberikan aku minuman dengan sedotan.
"Kenapa Hana disini, Ma?" Tanyaku lemah.
"Semalam kamu pingsan. Mama sama Papa langsung bawa kamu kesini. Kata dokter kamu harus dirawat karena dehidrasi dan suhu tubuh kamu yang tinggi," jelas Mama.
Aku tercenung mendengarnya. Sejak pulang sekolah aku memang tak keluar kamar. Aku merasa pusing dan lebih memilih untuk tidur. Sore harinya, saat hujan turun begitu deras, aku keluar rumah dan hujan-hujanan.
Yang Mama lihat mungkin aku tertawa dibawah air hujan. Tapi yang sebenarnya adalah aku sedang menangis.
Aku memikirkan sikap Mas Angga. Sekarang aku menyesal telah membiarkan dia masuk lebih dalam ke hatiku. Ternyata tak ada yang spesial diantara kami.
*Guru dan murid.
Guru dan murid.
Dua kata itu terus* terngiang dalam pikiranku. Lalu apa selama ini? Kebersamaan kami?
Beruntung kedekatan kami belum diketahui banyak orang. Bisa malu aku kalau mereka tahu bahwa ternyata aku juga dianggap sama dengan mereka. Hanya sebatas guru dan murid.
Yang kamu lakukan itu jahat, Mas.
Selama ini aku selalu membentengi hatiku agar tak jatuh padamu. Tapi seringnya kita bertemu, begitu perhatiannya kamu kepadaku, tawa yang selalu kamu tunjukkan hanya saat bersamaku, membuat pertahanan ku runtuh sedikit demi sedikit.
Kini, saat rasa sayang itu mulai tumbuh dan bisa berharap lebih pada hubungan ini, kamu justru mematahkannya.
Sepertinya ini akibatnya karena aku melanggar prinsip ku untuk tidak mengenal cinta sebelum waktunya nanti.
Ya Allah.. Ampuni Hana.
__ADS_1
🌹🌹🌹