Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 38


__ADS_3

POV : ANGGA


Pagi pukul 6 aku sudah berangkat menuju Wonogiri. Tempat baru untukku memperjuangkan masa depan. Bapak dan ibu melepas kepergian ku dengan senyuman bangga. Padahal dulu mereka selalu melarangku untuk tidak bekerja ditempat yang jauh dari mereka.


Kedua distroku juga sudah ku pasrahkan pada Tya, orang kepercayaan ku. Aku juga meminta pada Mas Damar atau Mbak Anggi untuk sesekali mengeceknya.


Sebelum aku berangkat, aku sudah menelpon Hana dan berpamitan. Hana berusaha ceria meskipun aku tahu sebenarnya dia sangat berat melepas ku pergi.


Hana.. Perjuangan kamu untuk hubungan kita sangat besar. Semakin hari aku semakin menyayangi kamu!


Setelah hampir tiga jam perjalanan dari Karanganyar, akhirnya aku sampai juga di yayasan Al-Firdaus. Pak Ratno sudah menyambut ku didepan pintu utama gedung ini.


Pak Ratno bersama istrinya, dan juga seorang perempuan dan seorang laki-laki.


"Assalamualaikum," aku mengucap salam lalu menyalami Pak Ratno dan seorang laki-laki itu.


"Waalaikumsalam, Nak Angga. Bagaimana kabar kamu? Akhirnya kamu beneran pindah kesini," Pak Ratno terkekeh pelan.


"Alhamdulillah baik, Pak. Bapak sekeluarga sehat?" Tanyaku untuk sekedar menambah basa-basi ini.


"Alhamdulillah, kami sehat. Masih ingat dia?" Pak Ratno menunjuk seorang perempuan yang berdiri di samping Bu Marni.


"Tentu ingat, Pak. Dia Rania, putri bapak." Iya, dia Rania, putri Pak Ratno satu-satunya. Aku mengenalnya semasa aku tinggal di pondok milik Pak Ratno. Rania cantik, baik, pintar dan santun. Hampir semua santri menyukainya. Dan aku pun dulu juga sempat menyukainya.


Oke, Angga. Hentikan nostalgia tidak bermutu ini!


"Di samping Rania adalah suaminya, Ali. Mereka baru menikah dua bulan yang lalu."


Aku sempat terkejut mendengar Rania yang sudah menikah.


Setelah kami berbasa-basi sebentar, Ali mengantarku menuju sebuah rumah yang akan menjadi tempat tinggalku selama disini.


Sebuah rumah yang cukup besar untuk ku tinggali sendiri. Ada dua kamar yang cukup besar dan nyaman. Ruang tamu, dapur dan juga kamar mandi.


Ahh.. Andaikan aku dan Hana sudah menikah. Pasti kami akan menempati rumah ini berdua.


"Ini rumah buat Mas Angga. Semoga betah, ya?" Aku mengangguk dan tersenyum menanggapi Ali.


"Untuk makan, kalau Mas Angga mau masak sendiri alatnya sudah komplit di dapur. Tapi biasanya kami memberikan jasa catering untuk karyawan yang bermukim disini."


"Iya, Mas. Terimakasih, ya?"


Ali mengangguk. "Sama-sama, Mas. Saya permisi dulu. Mas Angga bisa langsung beristirahat. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam." Ali pergi keluar meninggalkan aku sendiri dirumah ini.


Aku merebahkan diriku di atas sofa untuk mengurangi rasa lelahku. Tiba-tiba saja aku teringat Hana. Dia sedang apa, ya? Lebih baik kau menelponnya.


"Assalamualaikum, Mas." Ah, suara Hana. Aku merindukannya.


"Waalaikumsalam, sayang. Lagi apa kamu sekarang?" Aku bertanya padanya.


"Lagi tiduran aja, sih, Mas. Bosen banget sendirian di rumah begini. Mas Angga sudah sampai?" Hana mengeluh manja.


"Sudah, setengah jam yang lalu Mas sampai. Kenapa enggak jalan-jalan sama teman-teman kamu?"


"Hana mager, Mas. Mending dirumah, bisa teleponan sama Mas Angga. Kangennya bisa berkurang nol koma nol nol nol satu," Hana tertawa nyaring.


"Mas juga kangen kamu!"


Ini belum ada sehari. Tapi kami sudah saling rindu.

__ADS_1


"Padahal belum ada sehari, ya, Mas?" Hana terkekeh pelan. Selanjutnya ku dengar helaan napas berat dari Hana.


"Sabar, ya? Kita sama-sama berjuang. Mas yakin ini semua akan cepat berlalu," aku mencoba menghibur Hana.


"Sampai kapan, Mas?"


"Sampai kamu siap menikah dan Mas bisa bawa kamu kesini."


Hana diam tak menanggapi. Aku tahu akan butuh waktu yang lama untuk hal itu. Hana saja sekarang belum lulus. Dia juga masih memiliki impian yang ingin dia raih.


Kami saling diam cukup lama. Sampai kami memutuskan untuk mematikan sambungan telepon.


***


POV : HANA


Mulai sore ini, aku sudah mulai mengikuti les privat. Mama yang sudah mendaftarkan aku tanpa bertanya kepadaku terlebih dahulu. Lebih parahnya lagi, aku harus mencari sendiri dimana rumah guru les privat ku itu.


Mungkin maksud Mama mendaftarkan aku untuk les agar aku punya banyak kegiatan dan tak memikirkan Mas Angga terus menerus.


Berbekal nama komplek, nomor rumah, dan juga nama gurunya, aku memberanikan diri untuk mencarinya sendiri.


Mengendarai motor milikku yang mangkrak didalam garasi selama berbulan-bulan, aku menyusuri jalanan yang terlihat ramai lancar di siang menjelang sore ini.


Aku berhenti didepan sebuah gapura. "Perum Permai Indah" mungkin ini nama perumahannya. Perumahan yang cukup elit, menurutku.


"Ada yang bisa dibantu, dek?" Tanya Pak scurity kepadaku.


"Eh, ini Pak, benar didalam ada les privat yang pengajarnya namanya Bu Devina?"


"Iya, benar, dhek!" Jawab Pak scurity membuatku bersyukur dalam hati. Ternyata tak sulit mencari alamat Bu Devina.


"Kalau boleh tahu rumahnya yang nomor berapa, Pak?"


Setelah mengucapkan terimakasih kepada scurity tersebut, aku masuk dan mencari rumah nomor 5. Finally, ketemu juga akhirnya.


Baru saja aku akan mengetuk pintu, seseorang sudah lebih dulu membukanya dari dalam.


"Hana?"


"Denis?"


Seru kami bersamaan.


"Kamu ngapain disini?"


"Kamu ngapain disini?"


Kami berucap bersamaan lagi. Kami tertawa setelah itu.


"Aku nyari rumah Bu Devina. Bener disini kan, ya, rumahnya? Barangkali kamu tahu."


"Bener, kok. Ini rumah kak Devina," jawabannya membuatku melongo. Kakak?


"Rumah aku juga," lanjutnya benar-benar membuat aku terkejut. Sumpah, ya? Dunia sesempit ini gaess..


"Kok bisa kebetulan begini, ya?" Tanyaku sok bingung. Tapi memang aku merasa sedikit bingung, sih. Bisa, ya, guru lesku itu ternyata kakaknya Denis?


"Masuk, yuk. Kak Devina didalam."


Aku mengikuti Denis masuk kedalam rumah setelah Denis mempersilahkan aku.

__ADS_1


"Duduk dulu, ya. Aku panggil kak Devina dulu." Aku mengangguk. Kemudian duduk di sofa ruang tamu rumah Denis.


Tak lama kemudian, seorang perempuan cantik dan berjilbab keluar. Diikuti Denis dibelakangnya yang membawa nampan berisi minuman dan cemilan.


"Hana, ya? Anaknya Bu Widia?" Tanyanya sambil menjabat tanganku. "Saya Devina," lanjutnya.


"Oh, iya, Bu. Saya anaknya Bu Widia," aku menampilkan senyum termanis ku.


"Panggil kakak saja, Hana!" Ucapnya ramah. Aku hanya tersenyum saja. Sepertinya urat senyumku hari ini sedang bekerja sempurna. Apalagi setelah mendapat pesan cinta dari yang tercinta. Eh, apaan, sih?


Iya, sewaktu aku pamitan dengan Mas Angga kalau aku mau mencari rumah guru lesku, Mas Angga berpesan, "Hati-hati, ya, sayangku. I love you ❀️" begitu isi pesannya.


Ya ampun.. Kan aku jadi meleleh. Mas Angga semakin romantis saja setelah kami LDR.


Oke! Skip, skip! Kita kembali ke kak Devina dulu.


"Minum dulu, Na!" Ucap Denis. Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih.


Setelah berbasa-basi sebentar dengan kak Devina menanyakan kenapa aku dan Denis bisa saling kenal. Ya sudah pasti kenal, dong. Kita kan satu kelas!


Kemudian bertanya aku ke rumahnya naik apa? Mencari alamatnya susah atau tidak? Kak Devina mulai berbicara pada intinya.


"Jadi Bu Widia minta jadwalnya empat hari buat kamu, Na. Kamu bisa pilih sendiri hari apa aja, tapi kalau bisa waktunya habis ashar, ya?"


Apa-apaan, Mama? Empat hari? Pulang sekolah saja sudah hampir jam tiga, ini masih dikasih jadwal les empat hari setelah ashar? Ya Allah, pengen cepet lulus saja, terus nikah sama Mas Angga. Ish ish.. Apaan, sih, aku?


Ternyata sudah menjadi juara kelas itu bukan jaminan kita terbebas dari les dan segala isinya. Buktinya Mama masih menjadwalkan aku untuk les seminggu empat kali walaupun hasil raporku kemarin aku peringkat satu.


Setelah membuat kesepakatan hari apa saja yang aku mau, aku segera berpamitan untuk pulang. Sebenarnya Denis menahan ku untuk lebih lama lagi berada dirumahnya. Tentu saja aku tak mau.


Lebih baik, kan, aku pulang. Tiduran dirumah sambil teleponan dengan Mas Angga sayang.


Sejak tadi ponselku juga terus bergetar tak tahu notifikasi dari siapa. Aku tak sempat melihatnya.


***


Waktu terus berlalu, tak terasa liburan sekolah telah usai. Kini saatnya kami kembali menimba ilmu di sekolah.


Les privat ku juga sudah berjalan sejak seminggu yang lalu. Dan kalian tahu? Selama belajar dengan kak Devina, aku tidak sendiri. Ada Denis juga disana yang kata kak Devina merubah jadwal belajarnya secara tiba-tiba.


Tentu saja kak Devina menggoda kami saat itu juga. Padahal sedikitpun aku tak tergoda. Kalau sama Mas Angga, aku baru tergoda. Plak! Ngomongnya ngawur!


Aku malah merasa risih saat aku dan Denis duduk bersama. Dia selalu saja mencoba mencari perhatianku.


Soal kisah LDR-ku bersama Mas Angga, sejauh ini kamu baik-baik saja dan aku berdoa semoga selamanya tetap baik seperti ini.


Mas Angga selalu membangunkan aku lewat telepon sebelum subuh. Rutin mengirimiku pesan-pesan manis yang terkadang membuatku senyum-senyum sendiri. Bahkan Mama, Papa, ataupun Mas Ikhsan hanya bisa geleng-geleng kepala melihatku yang terkadang asyik dengan ponsel sambil sesekali tersenyum atau tertawa.


Mas Angga walaupun jauh tapi tetap berusaha untuk selalu ada untukku. Pekerjaannya disana juga lancar, Mas Angga tak memiliki kendala apapun. Aku bersyukur untuk itu.


Ada yang berbeda dari hari pertamaku sekolah setelah liburan ini. Kalau biasanya aku datang ke sekolah bisa berharap bisa bertemu dengan yang tersayang, sekarang sudah tidak lagi.


Kalau biasanya aku selalu membuat kesalahan agar bisa masuk ruang BP, sekarang aku tak mau lagi membuat kesalahan. Lebih tepatnya karena aku tak mau masuk ke ruang BP. Karena disana banyak kenanganku bersama Mas Angga.


Tapi, ngomong-ngomong siapa guru pengganti Mas Angga?


🌹🌹🌹


**hayy!!! 😁


jadi gaess.. semakin banyak comment dan like aku jadi semangat buat nulisnya. 🀭🀭

__ADS_1


jangan lupa comment dan like-nya ya 😘**


__ADS_2