
POV : ANGGA
Terkadang, aku masih tak percaya bahwa statusku dengan Hana sudah berpacaran. Mengingat dulu betapa Hana begitu menyebalkan di mataku. Hana sendiri juga terlihat begitu membenciku.
Tapi, siapa yang menyangka kalau kami kini bisa saling menyayangi seperti ini. Benar kata pepatah, kalau membenci, bencilah sewajarnya saja. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa jadi orang yang sangat kita benci justru akan menjadi orang yang sangat kita cintai.
Dan sekarang sudah terbukti. Kami yang dulu saling membenci, kini bisa saling mencintai dan saling mewarnai hari kami.
"Minumnya dong, Mas, pedes ini," mulut Hana mendesis kepedasan karena memakan P*pMi* dower. Anak satu ini begitu cinta pedas. Melihat warna kuah mie-nya saja sudah membuatku ngilu. Tapi Hana terlihat sangat menikmatinya.
"Nih," aku menyodorkan segelas air putih. Hana menerimanya dan langsung meneguknya.
Minggu siang ini aku sudah berada dirumah Hana. Awalnya, aku ingin mengajaknya pergi jalan-jalan keluar sebentar. Tapi Hana tidak mau karena takut ada yang melihat kami jalan berdua.
Akhirnya, aku memutuskan untuk datang kerumahnya. Aku sedikit gugup saat Pak Anang dan Bu Widia bertanya padaku perihal hubungan kami. Malu? Sedikit. Tapi aku bersyukur mereka tak mempermasalahkan asalkan Hana bisa tetap mempertahankan prestasinya.
"Hana, Mas bilang kalau makan jangan terlalu pedas. Enggak baik buat kesehatan kamu," aku sudah berkali-kali mengingatkannya, tapi Hana tak pernah mau berhenti atau bahkan mengurangi memakan makanan pedas.
"Makan pedas itu ada sensasi tersendiri, Mas," bukan Hana namanya kalau tidak membantah. Membuatku gemas sendiri.
"Mas, sakit!" Keluhnya saat aku mencubit pipi kirinya. Tangannya refleks memukul tanganku.
***
"Setelah lulus nanti mau lanjut kuliah dimana, Na?" Tanyaku sambil memotong kuku-kuku tangannya yang sengaja Hana panjangkan. Hana sempat protes saat aku akan memotongnya, tapi akhirnya menurut juga. Aku sudah mirip seperti seorang ayah yang sedang merawat anaknya bukan?
"Kalau langsung nikah aja gimana, Mas?"
Ucapannya membuatku menahan napas sebentar. Sedangkan Hana melihatku sambil tertawa cekikikan.
"Nikah sama siapa?" Aku tertarik untuk menggodanya.
"Sama yang mau nikah sama Hana," jawabnya cuek sambil meratapi kuku panjang yang sudah berhasil lepas dari tangannya.
"Memangnya Hana sudah siap mengurus rumah tangga? Mengurus anak dan suami?" Ahh.. Obrolan macam apa ini?
"Siap enggak siap kalau memang sudah takdirnya juga harus dijalani, kan?" Ucapnya begitu dewasa. Atau sok dewasa?
"Pikirkan dulu sekolah, pikirkan pendidikan. Jangan mikir yang jauh-jauh dulu," aku memutus pikiran sok dewasanya itu.
Hana mengerucutkan bibirnya. Tapi sesaat kemudian, "hahahaha," tawanya pecah mengusik keheningan diruang tamu rumah Hana.
Aku masih melihatnya bingung. Tak mengerti dengan jalan pikiran anak satu ini.
"Hana becanda, Mas. Hana masih ingin kuliah, bekerja, mengejar cita-cita Hana. Mas Angga mau nunggu Hana, kan?" Tanyanya mendadak serius dengan menatapku lekat.
"Kenapa tanya seperti itu?"
"Kali aja Mas Angga enggak sabar nunggu Hana siap terus ninggalin Hana buat nikah sama perempuan lain,"
Aku terdiam sebentar. Menatapnya dan menggenggam kedua tangannya.
"Jangan memikirkan apa yang belum terjadi. Jalani apa yang ada didepan kita saat ini. Yang akan terjadi, biar Allah yang menentukan bagaimana nanti. Tugas kita hanya berdoa dan berusaha untuk mengusahakan yang terbaik."
Hana mengangguk dan tersenyum. Senyum yang sangat manis. Mudah-mudahan aku tidak terserang diabetes di usia muda karena terlalu banyak melihat senyum Hana.
***
__ADS_1
"Pak Angga beneran udah punya pacar?" Vera menunjukkan tampang memelasnya didepan ku. Sepulang dari rumah Hana, aku pergi ke distro. Tak menyangka kalau ternyata ada Vera. Menghampiriku yang sedang duduk disamping petugas kasir.
"Kenapa memangnya?" Tanyaku datar.
"Saya patah hati, Pak," ucapnya jujur tanpa malu. Ada-ada saja cewek jaman sekarang. Terlalu agresif.
Vera mengeluarkan beberapa lembar uang setelah Reni, petugas kasir, menyebutkan total belanjaannya. Tapi Vera belum juga beranjak pergi.
"Aku doain Bapak enggak langgeng sama pacar Bapak," aku mendelik tak suka mendengar ucapannya. Mulutnya suka seenaknya sendiri kalau berbicara.
"Itu banyak yang antri di belakang kamu. Kamu minggir, gantian mereka juga mau bayar."
Vera menghela napas kesal lalu berjalan keluar dengan menghentakkan kakinya. Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Fans Mas Angga, ya?" Tanya Reni yang masih fokus dengan pekerjaannya.
"Satu sekolah sama Hana dia itu," ucapku tanpa mengalihkan perhatianku dari ponsel. Asyik chat dengan Hana. Ahh.. Belum juga sejam terpisah, sudah merasa kangen saja.
Seluruh karyawan ku memang sudah mengenal Hana karena sudah sering aku ajak kesini sejak kami belum jadian. Mereka tahu Hana sebagai pacarku sejak dulu. Padahal kami baru aja jadian beberapa hari yang lalu.
"Aku masuk dulu, Ren," pamitku untuk masuk ke dalam ruangan ku. Rena mengangguk dan kembali fokus pada pekerjaannya.
***
AUTHOR
Angga merebahkan dirinya diatas sofa yang berada didalam ruang kerjanya. Memejamkan mata sejenak untuk mengurangi rasa lelahnya.
Dering ponsel membangunkan Angga yang baru saja memejamkan matanya. Sempat menggerutu meskipun pada akhirnya Angga mengangkatnya juga.
Mbak Anggun's Calling..
"Waalaikumsalam. Lagi dimana?"
"Di distro. Kenapa?"
"Enggak apa-apa. O iya, Ga. Kemarin Mbak Anggi udah cerita ke Mbak soal kamu yang..."
"Angga lagi enggak mau bahas itu, Mbak," potong Angga cepat sebelum Anggun melanjutkan pembicaraannya.
Anggun menghembuskan napas pasrah mendengar ucapan adiknya itu.
"Angga, enggak ada salahnya, kan, kalau kamu mencoba?" Anggun mencoba menasehati.
"Nanti Angga pikirkan lagi. Kalau udah enggak ada yang mau Mbak bicarakan, Angga tutup teleponnya,"
"Judes banget kamu!" Anggun bersungut tak suka.
"Maaf, Mbak. Angga ngantuk banget soalnya. Mau tidur dulu sebentar sebelum pulang," ucap Angga pelan. Merasa bersalah karena sudah berbicara ketus kepada kakaknya. Apalagi Anggun juga sedang hamil, perasaannya jauh lebih sensitif.
"Kamu udah punya pacar?" Tanya Anggun ingin tahu.
"Kepo kamu, Mbak. Udah, Angga mau tidur dulu."
Klik. Telepon dimatikan. Angga masih sempat mendengar teriakkan Anggun sebelum Angga benar-benar mematikan sambungan teleponnya.
***
__ADS_1
Suatu hal yang begitu membahagiakan bagi seorang pelajar saat para guru tidak dapat mengajar dikelas. Seperti sekarang ini, setelah upacara semua guru dan staf sekolah mengadakan rapat. Kemungkinan akan selesai saat jam istirahat pertama nanti.
Hana, Karina dan Lila memutuskan untuk duduk di belakang sekolah dibawah pohon mangga. Tak ada siswa lain selain mereka bertiga yang berada disana. Lebih banyak di kantin, lapangan, perpustakaan dan juga banyak yang memilih tetap di dalam kelas.
"Itu mangga minta dipetik banget, sih!" Ucap Hana yang terlihat mupeng untuk memetik buah mangga yang sudah besar dan terlihat tua.
"Tinggi banget, Na, pohonnya. Enggak ada yang pendek rantingnya," Lila berucap.
"Di gudang kayaknya ada tangga," Hana berjalan menuju gudang. Dan benar, ada tangga disana. Hana mengambilnya lalu menyandarkan tangga pada pohon mangga.
"Hana, ih, kalau jatuh gimana coba?" Karina mengingatkan.
"Udah, kalian pegangin tangganya aja. Kalau dapat mangganya kalian juga mau, kan?" Ucap Hana sambil menaiki tangga satu persatu.
"Hati-hati, Na!" Teriak Lila tertahan.
Di atas pohon, mata Hana berbinar melihat buah mangga yang begitu besar disekelilingnya. Hana dapat membedakan mana yang sudah tua, dan mana yang masih muda. Bahkan sudah ada yang mulai matang.
Hana memetik beberapa mangga yang terlihat mulai empuk dan bentuknya yang besar. Menginterupsi Karina dan Lila untuk menangkapnya.
"Ambil lagi, Na. Dimakan bareng-bareng di kelas sama anak-anak yang lain seru nih," ucap Karina sambil mengumpulkan mangga yang sudah berhasil ia tangkap.
"Cukup?" Tanya Hana dari atas pohon setelah melemparkan beberapa mangga.
"Udah aja," jawab Karina.
"Kamu itu cewek enggak ada kalem-kalemnya, ya, Na."
Hana tertawa mendengar ucapan Lila. Hana bersiap untuk turun dan meminta Karina dan Lila untuk kembali memegangi tangga.
"HANA!!"
"Aaaa.."
Bruuukkkkk
"Aww... Sakit!!" Hana menjerit kesakitan karena baru saja terpeleset dan terjatuh dari tangga. Pantatnya mendarat sempurna di atas bebatuan dan satu tangannya tergores pinggiran tangga.
"Kamu ngapain naik-naik tangga begitu?" Angga membantu Hana untuk berdiri kemudian mengembalikan tangga ke dalam gudang. Sedangkan Karina dan Lila membantu membersihkan rok bagian belakang Hana yang kotor.
"Habis ambil mangga, Pak. Tadinya lancar-lancar aja turunnya. Suara Pak Angga ngagetin dan buat Hana jatuh," jelas Hana dengan sedikit menyalahkan Angga setelah Angga kembali dari gudang.
Angga menggelengkan kepala heran melihat tingkah Hana yang begitu pecicilan.
"Lagian ngapain Pak Angga disini? Bukannya rapat malah keluyuran," ucap Hana.
"Kamu juga bukannya belajar malah panjat-panjat pohon begitu," balas Angga tak mau kalah.
"Bilang aja Pak Angga mau bolos," tuduh Hana.
"Kamu kali yang mau bolos!" Angga masih tak mau kalah.
"Enak aja!" Hana tak terima.
Karina dan Lila hanya bisa melongo melihat perdebatan Angga dan Hana.
"Mirip orang pacaran yang lagi berantem," bisik Lila pada Karina. Karina mengangguk setuju.
__ADS_1
"Jangan-jangan?????"