
ANGGA
Susana sejuk khas pegunungan mulai terasa bahkan sebelum benar-benar tiba di wisata alam Situ Patenggang ini. Daun teh yang hijau serta pepohonan lain yang asri sangat indah jika dipadukan dengan jernihnya air dan birunya langit.
Belum lagi goresan kabut tipis yang menggantung rendah membuat suasana benar-benar romantis. Seolah-olah segala masalah yang sedang dihadapi lenyap begitu saja saat menghirup segarnya udara di Situ Patenggang ini.
"Sejuknyaaa.." seru Hana saat kami sudah berada dipinggiran danau. Kedua tangannya direntangkan seakan akan memeluk angin yang sejuk. Kedua matanya terpejam menikmati keindahan pemandangan Situ Patenggang ini.
Aku mengeluarkan ponselku. Membuka aplikasi kamera, lalu mengarahkannya pada Hana yang masih berdiri dengan pose yang sama.
Cekrek
Aku berhasil mengambil foto candidnya. Cantik natural.
"Bapak diam-diam fotoin saya, ya?" tudingnya curiga. Sejak kapan dia didekatku?
"Eng.. Enggak. Jangan ge-er kamu. Saya fotoin danaunya, bukan kamu," jawabku salah tingkah. Semoga Hana tak curiga.
Hana memicingkan mata menatapku. Bergantian menatap mataku, lalu ponselku.
"Coba sini Hana lihat. Beneran danau bukan yang bapak foto?" ucapnya judes sambil berusaha mengambil ponsel yang aku genggam.
"Enggak. Enak saja lihat-lihat ponsel saya,"
"Ish.. Nyebelin!" Hana pergi meninggalkanku bergabung dengan Ikhsan dan Kinan yang berdiri tak jauh dari tempat kami berdiri tadi.
***
"Lokasi wisata berupa danau ini terletak di ketinggian 1600 meter dengan dipagari oleh kebun teh Rancabali yang membuat suasana semakin syahdu. Danau yang indah tersebut memiliki luas 45.000 hektar di dalam cagar alam sebesar 123.077,15 hektar."
"Pemandangan yang asri serta udara sejuk nan segar yang ditawarkannya tentu sulit untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi lokasinya yang berdekatan dengan area wisata lain membuat wisata Situ Patenggang selalu ramai terutama saat akhir pekan."
"Awalnya danau dengan keindahan yang sangat menarik perhatian ini merupakan cagar alam atau taman nasional. Kemudian sejak tahun 1981 Pehutani mulai mengelola Situ Patenggang menjadi area wisata."
"Dan hingga kini tempat yang dipenuhi legenda dan mitos menarik ini selalu ramai dikunjungi, baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Bukan sesuatu yang mengherankan karena keindahannya yang memang sangat memikat dengan banyak spot yang cukup fotogenik."
"Mitosnya apa, Nan?" tanyaku ingin tahu.
"Menurut mitos yang beredar di masyarakat setempat. Apabila sepasang kekasih mengunjungi Batu Cinta dan berlayar mengelilingi Pulau Asmara maka cintanya abadi."
"Layaknya kisah cinta antara Dewi Rengganis dan Ki Santang yang sangat indah dan bertahan untuk selamanya. Percaya atau tidak, itu menjadi hak diri kita masing-masing, sih," jelas Kinan.
"Dewi Rengganis dan Ki Santang? Itu ceritanya gimana, Teh?" tanya Hana yang juga ingin tahu banyak tentang danau Situ Patenggang ini.
Kinan tersenyum dan mulai menjelaskan tentang Dewi Rengganis dan Ki Santang, "jadi gini, menurut cerita yang beredar dari mulut ke mulut di masyarakat sekitar, Patenggang berasal dari kata “pateangan-teangan”."
__ADS_1
"Dalam Bahasa Sunda, kata tersebut berarti “saling mencari”, dengan situ sendiri memiliki arti “danau”. Kemudian dua kata tersebut disatukan dan terbentuklah nama Situ Patenggang yang terkenal hingga saat ini."
"Konon kabarnya ketika zaman Kerajaan Majapahit dulu hiduplah sepasang kekasih di Bandung Selatan yang keduanya sangat mencintai satu sama lain."
"Mereka adalah Raden Indra Jaya atau terkenal dengan nama Ki Santang yang merupakan keponakan Raja Pajajaran alias Prabu Siliwangi."
"Dan sang wanita adalah putri dari Kerajaan Majapahit, yaitu Dewi Rengganis. Dari kisah cinta inilah sejarah Situ Patenggang bermula."
"Kisah cinta yang manis tersebut sayangnya harus dipisahkan karena meletusnya Perang Bubat antara Kerajaan Pajajaran dan Majapahit."
"Tetapi tampaknya kekuatan cinta memang sulit dilawan, terbukti dari keberhasilan kedua sijoli itu untuk bertemu kembali. Mereka bertemu di sebuah tempat di Bandung Selatan yang saat ini terkenal dengan sebutan Batu Cinta Situ Patenggang."
"Setelah saling bertemu, Dewi Rengganis memberi satu permintaan kepada Ki Santang, yaitu ia ingin dibuatkan sebuah perahu."
"Dewi Rengganis sangat ingin berlayar bersama pujaan hatinya dengan perahu tersebut. Dan kabarnya saat ini kapal tersebut berubah menjadi pulau yang berbentuk hati dan diberi nama Pulau Asmara. Seperti yang Teteh bilang yang ada mitosnya tadi."
"Namun ada juga yang menyebut pulau di tengah-tengah wisata Situ Patenggang Bandung tersebut dengan nama Pulau Sasaka."
Hana mengangguk-angguk mengerti.
"Kamu ngerti sama yang dijelasin Kinan tadi, Na?" Ikhsan bertanya kepada Hana.
"Ya ngerti, dong, Mas. Aku pintar, ya, kalau Mas lupa," jawab Hana yang kini kembali memusatkan perhatiannya ke air danau yang begitu tenang.
"Kalau mau keliling, minta ditemani Hana aja, Ga. Nanti kita ketemu disini lagi aja," ucap Ikhsan.
Aku mengangguk mengerti sambil tersenyum mengejeknya. Mungkin dia berfikir kalau aku tak tahu niat dalam hatinya. Ikhsan salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya yang kuyakini tak gatal sama sekali. Kutarik tangan Hana bermaksud menjauh dari Kinan dan Ikhsan.
"Bapak ngapain, sih, narik-narik Hana?" tanyanya galak.
"Itu kakak kamu mau berduaan sama Kinan. Kita ngertiin dikitlah, jauh sedikit sama mereka," jawabku tanpa melihatnya sambil terus berjalan untuk mencari tempat duduk.
"Bilang aja kalau bapak juga mau cari kesempatan," tudingnya.
"Sudah saya bilang, jangan panggil saya Bapak kalau lagi diluar sekolah,"
"Bapak juga pakai kata "saya", ya saya sendiri enggak enak, dong, kalau mau manggil dengan panggilan lain," jawabnya ngeyel. Masih tak mau mengalah denganku.
Sadarlah, Angga! Kamu juga enggak mau kalah dari gadis ini!
"Panggilan yang lain yang gimana maksud kamu?" kali ini aku menggodanya. Aku menghentikan langkahku dan otomatis membuatnya juga berhenti. Aku menatap lekat mata Hana, dan itu membuatnya terlihat gugup.
"Panggilan yang gimana?" Ku ulang pertanyaanku sekali lagi.
"Katanya minta dipanggil "Mas"?" suaranya terdengar gugup. Tangannya terasa dingin. Ya ampun.. Aku baru saja tersadar kalau tanganku masih menggenggam tangan Hana. Ku rasa Hana sendiri juga tidak sadar dengan hal ini.
__ADS_1
"Mas siapa?"
"Emm.. Mas.. Mas.. Mas Angga!"
***
Setelah puas berkeliling di pinggiran danau, aku dan Hana memutuskan untuk melihat-lihat cindera mata yang dijual di toko-toko di sekitar Situ Patenggang.
"Dulu kamu pernah kesini, Na?" tanyaku pada Hana yang kini berjalan dibelakang ku. Dia tak mau berjalan berdampingan denganku. Takut dikira orang pacaran, katanya. Tapi siapa yang akan peduli kita pacaran atau enggak? Disini semua orang sedang berbahagia menikmati liburan, bukan mengurus kehidupan orang lain. Apalagi menerka-nerka seseorang jalan berdua dengan lawan jenisnya berpacaran atau tidak. Sungguh, kepolosannya dalam beberapa hal membuatku ingin tertawa. Tapi aku tak mau membuat Hana tersinggung. Apalagi anak itu kalau sudah ngambek omongannya jadi sepedas boncabe level 30.
Aku tak mendengar Hana menjawab pertanyaanku. Apa dia marah karena hal tadi?
Aku menoleh dan tak mendapati Hana dibelakang ku. Kepalaku celingukan mencarinya.
Aku bernafas lega saat melihat Hana berdiam disebuah toko sambil melihat sebuah gelang dengan liontin sebuah huruf "F".
"Kamu mau?" tanyaku dan membuatnya terkejut. Hana langsung mengembalikan gelang itu pada tempatnya.
"Eh, enggak, kok. Hana cuma lihat-lihat aja. Ya udah yuk, Pak."
"Bapak lagi?"
Hana menggaruk hidungnya salah tingkah.
"Kan saya udah bilang kalau rasanya itu aneh, Pak. Enggak enak manggil pake panggilan yang lain. Udah yuk keluar. Malu dilihatin yang jaga toko, enggak beli malah ribut disini," ucapnya lalu pergi berlalu meninggalkan aku.
***
"Mas Ikhsan sama Teh Kinan dimana ya, Pak?" tak ku hiraukan pertanyaan Hana itu. Aku memainkan ponselku pura-pura sibuk. Padahal aku melihat beberapa fotonya yang sempat aku ambil diam-diam dengan ponselku.
"Pak?" Aku masih berpura-pura tak mendengarnya. Entah kenapa aku ingin sekali mendengarnya memanggilku tidak dengan panggilan bapak ketika diluar sekolah. Apalagi saat ditempat wisata seperti ini. Aku sudah seperti orangtua yang mengajak piknik anaknya kalau dia terus saja memanggilku bapak.
"Bapak dengerin Hana enggak, sih?" Suara Hana mulai terdengar jengkel.
"Ih, Mas Angga!!!"
Akhirnya...
"Iya, Hana?" jawabku dengan senyuman yang mengembang sempurna dari bibirku.
"Nyebelin banget, sih!" Ucapnya lalu melangkah pergi meninggalkan aku.
🌺🌺🌺
**maapkan part ini dialognya gaje 😂😂
__ADS_1
btw cerita Situ Patenggang aku dapat dari google ya 🙏😊
thank you 😘😘**