
MASIH POV : HANA π
Sekalipun tak ada lagi Mas Angga di sekolah ini, aku harus tetap semangat. Justru aku harus bisa buktikan kalau aku baik-baik saja meskipun Mas Angga jauh disana. Aku tak mau membebani Mas Angga dengan rengekan ku yang manja kepada Mas Angga.
Saat aku masuk ke kelas, teman-temanku terlihat begitu heboh. Tapi yang pasti bukan karena kehadiranku yang membuat mereka heboh seperti itu.
"Ada apa, sih?" Tanyaku ingin tahu kepada Shinta.
"Ada guru baru, pengganti Pak Angga," jawabnya antusias.
"Iya, orangnya juga nggak kalah ganteng dari Pak Angga," Karina menimpali.
"Pengen, deh, protes sama Pak kepsek?" Celetuk Sandy. Kami semua menatapnya tak mengerti.
"Iya, soalnya yang diterima guru ganteng terus. Hilang, deh, pesona kami para cowok ganteng ini," ucapnya jumawa yang langsung dihadiahi sorak sorai dari kami semua.
"Terus yang jadi guru BP dia juga?" Tanyaku penasaran.
"Enggak lah. Yang jadi guru BP sekarang Bu Rahma," aku membulatkan mata tak percaya. Kemarin Mas Angga sempat cerita kalau dia dikomentari habis-habisan oleh Bu Rahma soal hubungan kami. "Aku jamin, deh, sekarang kamu nggak berani lagi buat sengaja melanggar peraturan."
Ucapan Lila membuatku memicingkan mata. "Kenapa begitu?" Tanyaku tak suka.
"Jangan pura-pura lupa, deh. Aku itu baru sadar sekarang, kalau dulu kamu sering buat kesalahan biar bisa ketemu sama Pak Angga diruang BP. Ngaku kamu!"
Aku tertawa terbahak mendengar ucapan Lila yang 100% benar adanya. Aku tak menyangka Lila seperhatian itu denganku. Sampai dia mengingat-ingat kesalahan yang sering aku buat sampai aku harus ke ruang BP.
Tapi ucapan Lila juga ada benarnya. Sekarang aku tak mungkin akan melakukan kesalahan dengan sengaja. Aku tak mau coba-coba berurusan dengan Bu Rahma diruang BP.
Upacara pagi ini diselingi oleh pengenalan beberapa guru baru. Yang pertama ada Bu Fatma, guru bahasa Indonesia yang akan fokus mengajar di kelas sepuluh. Guru bahasa Indonesia sebelumnya sudah ada dua. Bu Wahyu dan Bu Tika. Tapi Bu Tika difokuskan untuk kelas dua belas saja.
Selanjutnya ada Pak Agus, berusia 35 tahun sudah menikah dan punya anak. Mengajar fisika dan kimia, menggantikan Bu Wati yang cuti melahirkan.
Yang terakhir, yang sedang menjadi trending topik di sekolah karena kegantengannya. Tapi memang ganteng, sih. Sedikit. Masih banyak Mas Angga. Haha! Oke, skip!
Namanya Pak Dimas Kurniawan, berusia 24 tahun, masih single. Seumuran dengan Mas Angga.
Saat Pak Dimas memperkenalkan diri para siswi langsung saling berbisik-bisik membicarakan kegantengannya.
Bahkan ada yang bilang, hilang satu tumbuh seribu. Pak Angga keluar datang yang lebih ganteng.
Perumpamaan yang nggak masuk akal, gaes!
***
POV : ANGGA
My Hana : Ada guru baru yang gantiin Mas Angga. Gurunya ganteng, Mas! π€
Baru saja aku mendudukkan diriku diatas kursi kerjaku, aku sudah mendapatkan pesan dari Hana yang mengatakan kalau guru pengganti ku ganteng.
Awas saja dia, beraninya memuji laki-laki lain seperti ini.
Me : Tapi masih ganteng Mas, kan?
Balasku kepedean. Tak lama kemudian centang dua abu-abu berubah menjadi biru.
__ADS_1
Mengetik..
My Hana : Iya, Mas Angga paling ganteng. Tapi setelah Papa. π
Aku tertawa pelan membaca pesan dari Hana. Aku tak mengapa kalau Hana berkata seperti itu. Aku paham kalau ayah memang cinta pertama bagi anak gadisnya.
Me : Yang penting ganteng, dan Hana sayang. Iya, kan? ππ
My Hana : Pasti. Sudah, ya, Mas? Hana sekolah dulu. Have a nice day, Mas Angga sayang. π
Me : iya, sayang. Belajar yang rajin, jangan nakal, jaga mata, jaga hati. Terutama jaga lisan. π€
Hana tak membalas lagi. Mungkin gurunya sudah masuk ke kelas.
Kalau seperti ini, aku merasa menjadi seorang bapak yang anaknya sedang berpamitan untuk pergi ke sekolah.
Haha! Nikmati saja lah, ya? Resiko pacaran sama anak sekolah ya begini.
"Assalamualaikum," ucapan salam Ali yang masuk ke ruanganku membuatku meletakkan ponselku begitu saja. Padahal aku sedang asyik memandangi fotoku bersama Hana saat kami jalan-jalan di Tawangmangu sehari sebelum aku berangkat ke Wonogiri.
Foto yang begitu manis, dengan pose kami berdua saling bertatapan dan aku menggenggam kedua tangannya. Senyum tak lepas dari kami. Sudah mirip seperti orang yang sedang prewedding belum?
( Anggap saja ini Angga, ya π π . Sengaja peran Angga itu Aditya Zoni. kalau Hana bukan ini yang aku pilih. silahkan kalian berimajinasi sendiri. π)
Oke! Kembali ke Ali.
"Waalaikumsalam, ada apa Mas Ali?" Tanyaku langsung tanpa basa-basi.
"Baik, Mas. Saya segera kesana," setelah itu Ali keluar dari ruangan ku.
Kalau Pak Ratno memanggilku begini, biasanya beliau mengajakku untuk melakukan kunjungan ke sekolah. Aku berharap kali ini beliau akan mengajakku ke Karanganyar. Sambil menyelam minum air, aku bisa menemui Hana.
Saat aku Pak Ratno sudah mempunyai menantu Ali, aku berpikir kenapa bukan Ali yang dijadikan wakilnya. Ternyata karena Ali sudah dipercaya untuk menjadi kepala pondok pesantren milik Pak Ratno ini.
Kalau kalian bertanya kenapa bisa aku yang dijadikan wakilnya, nanti aku bisa ceritakan pelan-pelan. Yang penting sekarang ini aku menghadap Pak Ratno. Dalam hati berdoa semoga harapanku benar adanya. Ke Karanganyar dan aku bisa menemui Hana.
"Assalamualaikum," aku mengetuk pintu ruangan Pak Ratno yang terbuka sedikit. Ternyata didalam sudah ada Ali dan Pak Zainal selaku pengelola keuangan.
"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan. "Masuk Nak Angga!" Pak Ratno menyuruhku. Kemudian mempersilahkan aku duduk.
"Ada apa Pak Ratno memanggil saya, Pak?" Tanyaku pelan.
"Seperti biasa, Nak Angga, kita akan mengadakan kunjungan. Tapi kali ini kita ke Karanganyar."
Mataku berbinar mendengar jawaban Pak Ratno. Doaku dikabulkan. Hana, kita akan bertemu!
Tapi aku ragu, apa mungkin Pak Ratno akan mengijinkan?
"Ada yang ingin ditanyakan, Nak Angga?" Tanya Pak Ratno seolah tahu apa yang ada dipikiran ku.
"Em.. Bolehkah saya menginap dirumah, Pak?" Tanyaku ragu.
Pak Ratno terkekeh pelan. "Tentu saja boleh. Kita berangkat jum'at pagi. Kamu bisa menginap di rumah kamu. Yang penting hari Senin sudah masuk lagi."
__ADS_1
"Pasti, Pak. Terimakasih," aku tersenyum lega dan bahagia. Sebaiknya aku mengabari Hana atau tidak, ya? Atau tidak perlu? Biar menjadi kejutan untuknya.
***
Aku tersenyum cerah saat keluar dari ruangan Pak Ratno. Senin sampai Jum'at, aku harus melewati beberapa hari lagi untuk sampai di hari Jumat. Iya jelas dong! Mau langsung loncat juga tidak akan bisa!
Waktu kalau ditunggu rasanya akan berjalan lambat dan lebih lama. Aku merasakannya
Jadi aku lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaanku agar waktu cepat berlalu. Aku memutuskan untuk tidak mengatakan pada Hana. Aku yakin dia akan terkejut dan senang melihatku tiba-tiba datang.
"Mas Angga kayaknya seneng banget?" Tanya salah seorang karyawati bernama Fita saat tak sengaja berpapasan denganku.
Aku tersenyum. "Iya, Fit. Alhamdulillah."
"Cerita, dong, Mas Angga," Fita merajuk manja. Aku hanya tersenyum kemudian berlalu dari hadapannya.
Fita memang sedikit agresif. Semenjak aku masuk, Fita selalu mencoba mencari perhatianku. Dia seperti tak kenal malu dan tak kenal lelah meskipun aku tak menanggapinya.
***
Hari yang ku nanti sudah tiba. Pagi ini aku sudah dalam perjalanan ke Karanganyar. Aku berada dalam satu mobil dengan Pak Ratno dan istrinya. Lebih tepatnya, aku yang menyetirnya. Sedangkan mobilku dibawa oleh sopir pribadi Pak Ratno.
Mobil mulai memasuki kawasan SMP-IT Al-fatah. Pak Ratno mengarahkan untuk berhenti di halaman sekolah.
Selama hampir tiga jam aku menemani kunjungan Pak Ratno. Dari mulai mengecek perkembangan sekolah, kebutuhan sekolah dan juga kekurangannya, lalu bagian keuangan, dll.
Tibalah saatnya aku pulang. Aku ingin menjemput Hana terlebih dahulu dan mengantarnya pulang.
Sebelum berpamitan pada Pak Ratno, aku sempat berbasa-basi menawarinya untuk mampir terlebih dahulu ke rumahku. Walaupun aku tahu kalau Pak Ratno pasti akan menolak karena akan segera mengunjungi kediaman adik Bu Marni.
Aku langsung menjalankan mobilku menuju sekolah Hana yang juga tempatku mengajar dulu. Dimana benih-benih cintaku pada Hana juga tumbuh. Kenapa aku bisa jadi sepuitis ini?
Jam 10.30, aku memberhentikan mobilku didepan sekolah. Aku tak mungkin masuk ke halaman sekolah. Boleh saja, sebenarnya. Tapi aku tak ingin teman-teman Hana menggoda kami. Juga dengan guru-guru yang kemungkinan juga akan melihatku.
Hujan deras turun tepat saat para siswa keluar dari gerbang. Ku teliti satu persatu barangkali Hana juga sudah keluar. Tapi nihil, Hana belum keluar. Padahal ku lihat teman-temannya sudah keluar.
Me : Hana, Mas ada di depan sekolah kamu.
Pesan yang ku kirimkan tak juga dibaca. Padahal statusnya 'online'.
Kamu kemana, Hana?
Lelah menunggu Hana yang tak kunjung keluar, aku memutuskan keluar dari mobil untuk mencari Hana. Ku ambil payung yang selalu ada di dalam mobilku, lalu berjalan pelan memasuki gerbang sekolah.
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru sekolah. Beberapa anak menyapaku, aku tak ingat siapa nama mereka.
Mataku memicing melihat seseorang tengah berjalan berdua dengan sebuah jaket yang dijadikan sebagai payung. Aku mengenal betul siapa mereka. Hana bersama Denis. Dengan percaya dirinya Denis merangkul pundak Hana berlari berdua dibawah hujan.
Tanganku mengepal kuat. Genggaman tanganku pada payung ku ketatkan. Aku cemburu, aku marah. Aku menunggu jauh-jauh hari untuk bisa menemui Hana. Bahkan aku lebih memilih menemui Hana terlebih dahulu daripada pulang kerumah. Tapi ini yang aku dapatkan.
"Hana!!"
πΉπΉπΉ
kira-kira Angga marahnya gimana, ya? π
__ADS_1
duh, LDR.. gerak dikit aja bikin curiga. π