Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
MENGANTARNYA PULANG


__ADS_3

POV : ANGGA


"Aduuhh!! Yahhh.. tumpah."


Aku berhenti merasakan ada sesuatu yang dingin menerpa kulitku yang terbalut kemeja.


"Kamu!!"


Dia mendongak. Matanya menyiratkan ketakutan karena telah menumpahkan minuman dan mengenai bajuku.


Sebenarnya aku sudah melihatnya sejak pertama masuk ke kantin. Tapi aku malah mengalihkan pandanganku ke segala arah.


Tubuh tinggi semampainya dan rambut hitamnya yang dikuncir kuda, membuatku begitu mudah mengenalinya.


Aahh.. sejak kapan kamu mulai menghafalkan tentangnya, Angga?


Aku tak menghafalkan segala tentangnya. Hanya setelah kejadian itu, setiap hari aku melihatnya dengan penampilan yang sama.


Yah, gadis itu adalah Hana. Yang menumpahkan minuman itu adalah Hana.


Jadi, sekarang siapa yang bersalah? Aku atau dia? Ku pikir kami berdua sama-sama salah. Hana juga tidak memperhatikan jalan. Benar-benar gadis ceroboh.


"Aduh, maaf Pak Angga, saya tidak sengaja," ucapnya panik.


Dia meletakkan nampannya disalah satu meja didekat kami dan meraih beberapa lembar tisu lalu mengusapkannya ke bajuku.


"Ehm!! Enggak apa-apa. Sudah," ujarku yang membuatnya tercengang.


Aku berlalu tanpa memperdulikannya.


🌺🌺🌺


Aku masih mengingat wajah Hana yang terkejut dengan sikapku yang tidak marah-marah lagi saat ada yang membuat kesalahan di depanku.


Bukan hanya Hana. Semua murid dan guru ku yakin juga merasakan hal yang sama.


Hari ini aku lebih banyak tersenyum. Membalas sapaan para murid meskipun hanya dengan senyuman tipis dan anggukkan kepala.


Tentu saja para siswi teriak heboh karena melihat senyumanku yang mereka pikir harganya mahal.


Haha.. kepedean kamu, Angga.


Yah, setelah aku pikir-pikir, ucapan ibu ada benarnya. Aku hanya ingin ketika aku pergi dari sini, maka kebaikanku yang merek ingat. Apalagi waktuku disini hanya tinggal...


"Kamu enggak kesurupan kan, Ga? Hari ini kamu beda banget," lamunanku buyar mendengar ucapan Satria.

__ADS_1


"Iya, Pak. Itu anak-anak perempuan pada kesenangan di kasih senyum sama Pak Angga," sambung Pak Bowo yang ikut makan bersamaku dan Satria. Usianya hanya 2 tahun diatas kami. Sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak.


Aku terkekeh pelan dan tak ingin menanggapinya.


🌺🌺🌺


Hujan deras mengguyur wilayah Karanganyar sore ini saat para anggota OSIS baru saja menyelesaikan rapatnya yang kebetulan aku menjadi pembimbing mereka.


"Kamu belum pulang?" Tanyaku pada Hana yang berdiri di depan lobi sekolah. Hana adalah salah satu anggota OSIS yang menjabat sebagai sekretaris.


"Eh? Bapak?" Dia terkejut. "Hujannya deras banget, Pak. Bisa basah kuyup saya kalau nekat lari ke halte," lanjutnya.


"Kenapa enggak minta jemput?"


Hana sempat terdiam. Mungkin ragu untuk menjawab pertanyaanku. Ini adalah pertama kalinya aku bersikap ramah kepadanya.


"Ehmm.. handphone saya mati, Pak."


"Pakai punya saya," aku menyodorkan handphone ku kepada Hana untuk menghubungi keluarganya. Dia terlihat ragu untuk menerimanya.


Aku mengangguk meyakinkan.


Hana mulai mengetikkan nomor handphone. Wajahnya terlihat gugup dan sesekali melirik ke arahku.


Aku mengalihkan pandanganku saat tak sengaja mata kami bertatapan. Dia juga terlihat salah tingkah.


Beberapa guru juga masih berada di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.


"Handphone papa saya enggak aktif, Pak. Mama saya juga sedang di solo, enggak bisa jemput," ucapnya sambil mengembalikan handphoneku.


Aku mengangguk tak menjawab. Ku putuskan untuk menemaninya menunggu hujan reda.


Bukan apa-apa, dia perempuan dan aku tak tega meninggalkannya sendirian di sini. Apalagi dia muridku, aku punya tanggungjawab untuk memastikan keamanannya. Paling tidak sampai dia naik angkutan umum untuk membawanya pulang.


Hening. Kami tak berbicara. Hanya sesekali saja saling melirik. Mungkin dia merasa canggung hanya berdua denganku disini meskipun kami jarak kami berdiri cukup jauh.


"Bapak enggak pulang?" Tanyanya memecah keheningan.


"Nunggu kamu, biar pulang dulu."


"Eh?"


"Jangan salah sangka. Saya hanya memastikan murid saya aman."


Bibirnya mengerucut sebal.

__ADS_1


Keheningan kembali menyelimuti kami. Lima belas menit berlalu, tapi belum ada tanda-tanda hujan akan reda. Sedangkan jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.


"Kenapa kamu enggak bawa motor kayak teman-teman kamu yang lain?"


"Papa sama Mama enggak kasih ijin, Pak. Belum punya SIM."


Anak yang patuh ternyata. Disaat remaja seusianya banyak yang melawan ucapan kedua orangtuanya untuk tidak membawa motor sebelum punya SIM, Hana begitu menuruti kedua orangtuanya.


Bahkan tak sedikit yang masih anak-anak membawa motor dengan ugal-ugalan dijalanan. Kalau ada apa-apa, siapa yang salah? Siapa yang rugi?


"Ayo, saya antar pulang?"


"Eh, enggak usah, Pak. Bentar lagi juga reda. Saya nunggu reda saja, Pak. Bapak kalau mau pulang, silahkan!"


"Tidak ada penolakan,"


"Bapak maksa?"


"Iya."


"Enggak mau, Pak."


Aku menghembuskan napas kesal. Keras kepala gadis satu ini. Niatku mengantarkan pulang mungkin memang terdengar tidak pantas. Tapi semua demi kebaikannya.


Hari semakin sore, sedangkan hujan deras belum juga reda. Masih berjalan ke halte yang jaraknya lebih dari seratus meter dari sekolah. Belum lagi harus menaiki angkutan umum yang ku yakini sudah semakin sulit untuk didapat menjelang sore seperti ini.


Tanpa menunggu Hana yang masih kekeh dengan keputusannya, aku menarik tangannya dan berlari menuju parkiran mobil. Tak ku pedulikan teriakannya yang meminta untuk dilepaskan dan juga usaha dari tangannya yang dia gerakkan agar bisa terlepas dari tanganku.


Untung saja aku hari ini aku membawa mobil.


🌺🌺🌺


Kami terdiam di sepanjang perjalanan. Hana hanya berbicara saat menjawab pertanyaanku yang menanyakan alamat rumahnya.


Hana sempat memintaku untuk menurunkannya di halte. Tapi aku tak mau ambil resiko.


"Saya turun disini saja, Pak." Ucapnya setelah mobilku memasuki gang yang berada di daerah Jaten, Karanganyar.


"Rumahmu yang mana?" Tanyaku tanpa mengindahkan ucapannya.


"Lurus, belok kiri. Rumah warna biru." Ujarnya mengalah sesaat setelah aku mendengarkan hembusan nafas kesal.


"Makasih, Pak." Ucapnya setelah mobilku berhenti didepan sebuah rumah berlantai dua dengan halaman yang cukup luas.


Tanpa menunggu jawabanku Hana membuka pintu mobil dan menutupnya, lalu berlari kecil memasuki pelataran rumahnya. Hujan masih turun dengan derasnya.

__ADS_1


🌺🌺🌺


maafkan, update nya lama. jangan lupa votenya 😘😘


__ADS_2