Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 74


__ADS_3

POV : HANA


Suatu kebahagiaan bagi kami, aku dan Mas Angga, saat kami tahu bahwa didalam rahimku telah tumbuh kehidupan baru. Selama sembilan bulan, aku tak lagi bernapas untuk diriku sendiri, melainkan bersama anak kami.


Aku tak lagi makan untuk diriku sendiri, tapi juga makan dengan anak kami. Gizi makanan yang masuk bukan hanya untuk tubuhku, tapi juga untuk pertumbuhan anak kami agar ia tumbuh sehat dan sempurna sampai dia lahir.


Jujur, setelah setahun pernikahan kami, aku dibuat trauma oleh benda bernama tespeck. Pernah aku telat seminggu, dua minggu, bahkan satu bulan telat juga pernah. Tapi semua hasil tespeck negatif.


Saat itu aku jelas kecewa. Telat selama itu sudah membuatku optimis bahwa aku tengah hamil. Tapi entah kebetulan atau memang takdir, sehari setelah aku melakukan tespeck pasti aku mendapat tamu bulanan.


Sejak saat itu aku tak ingin lagi memegang benda bernama tespeck itu.


Mas Angga selalu memintaku untuk tetap optimis dan tidak berhenti berdoa. "Suatu hari, pasti Allah akan memberikan disaat yang tepat. Tanpa kita minta, tanpa kita tahu kapan waktunya. Biar menjadi kejutan untuk kita." Begitu ucapan Mas Angga.


Sampai saat aku melihat seorang dokter membantu Teh Kinan melahirkan anak pertamanya, dan juga setahun setelahnya ia harus menjalani operasi SC saat melahirkan anak yang kedua, aku menjadi kagum dengan sosok dokter kandungan.


Perannya begitu besar untuk membantu seorang ibu melahirkan kehidupan baru ke dunia. Bukankah suatu kebanggaan dimana seorang dokter kandungan atau bidan bisa memegang seorang bayi yang baru saja keluar dari rahim ibunya?


Tiba-tiba saja aku berucap ingin menjadi dokter spesialis kandungan saat Mas Angga bertanya padaku tentang spesialis apa yang akan aku ambil.


Mas Angga sempat tak percaya mengingat spesialis kandungan pasti berhubungan dengan orang hamil, melahirkan, dan lain sebagainya. Beliau takut aku akan semakin kepikiran soal anak yang tak kunjung hadir diantara pernikahan kami dan akan membuatku stres.


Aku tahu akan kekhawatirannya. Maka dari itu aku berusaha membuktikan bahwa aku mampu melewati ini semua. Tentu dengan dukungannya dan hadirnya Mas Angga di setiap episode kehidupan ku. Aku bangga memilikinya.


Aku memang tak lagi trauma untuk memegang tespeck. Namun jika tespeck itu digunakan oleh pasien-pasien ku, bukan aku sendiri yang menggunakannya. Aneh, kan? Mas Angga sendiri saja bisa heran melihatku seperti itu.


"Hana belum juga hamil? Padahal sudah hampir lima tahun menikah, ya?"


"Bu Widia, kapan ini Hana hamilnya? Enggak di tunda kan, ya?"


"Belum juga hamil, ya? Itu si Nella yang baru menikah dua bulan yang lalu udah hamil."


"Hana, kan, dokter kandungan. Masak dia sendiri belum hamil juga?"


Sedih? Pasti. Sakit hati? Tentu. Tersinggung? Jangan ditanya.


Tetangga-tetangga yang maha benar itu seolah lupa kalau semuanya sudah ada yang menentukan. Untuk awal-awal ditanya seperti itu, tentu saja aku down. Aku hanya bisa menangis meratapi nasib hidupku.


Ditambah lagi dengan ibu mertuaku yang memang sejak hari pertama aku menikah saja beliau sudah membahas soal cucu dari Mas Angga. (Read : anakku dan anak Mas Angga)


Beliau sering menuduh kami menggunakan alat kontrasepsi. Menganggap salah satu dari kami tidak subur. Menyarankan untuk terapi ini itu agar cepat hamil.


Dan lagi-lagi, aku semakin jatuh ke titik rendah ku. Aku putus asa. Aku kecewa dengan diriku sendiri yang tak berguna bahkan memberikan anak untuk Mas Angga saja tidak bisa.


Apa aku tak pantas untuk menjadi seorang ibu?


Apa aku memang tak akan diberi kesempatan untuk memiliki seorang anak?


Banyak pertanyaan-pertanyaan yang membuatku sampai lupa pada pembuat skenario hidup. Lupa akan penentu kehidupan manusia.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Mas Angga yang menarikku untuk kembali ke jalan yang benar. Kembali berpasrah pada ketentuan Allah yang tak mampu di kira-kira oleh manusia.


Sekali lagi, aku beruntung memilikinya.


🥀🥀🥀


Maka disaat kami tahu bahwa aku sedang hamil, Mas Angga begitu perhatian kepadaku.


Mas Angga tak pernah mengeluh dengan perubahan sikapku atau moodku. Beliau tak pernah mengeluh saat tengah malam aku meminta makanan dan tertidur saat beliau kembali kerumah.


Beliau tak banyak protes saat aku sempat tak ingin dekat-dekat dengannya. Bukan aku tak ingin, tapi saat itu aku memang tak bisa mencium aroma tubuhnya. Padahal sebelum hamil aku gak bisa tidur tanpa memeluknya.


Mas Angga juga selalu membacakan ayat Alquran sambil mengelus perutku ketika selesai sholat maghrib atau subuh dan juga sebelum tidur. Beliau rutin mengajak anaknya mengobrol. Menanyainya dengan berbagai pertanyaan yang akan di jawab oleh tendangan dari dalam sana.


Wajahnya tersenyum bahagia, aku pun sangat bahagia melihat wajah sumringahnya.


Meskipun di awal kehamilan aku sempat hiperemesis dan harus dirawat, namun aku tak pernah mengeluh. Mas Angga sempat meminta maaf karena mengandung anak kami, aku harus rela mual muntah, lemas dan harus di rawat.


Tidak ada yang perlu disalahkan karena aku sendiri menikmatinya. Aku bahagia karena setiap rasa yang aku lalui adalah proses untukku menjadi seorang ibu.


Sembilan bulan itu telah berlalu, kini aku sedang menikmati rasa yang luar biasa karena anak kami akan segera lahir.


Aku sempat gemas sendiri melihat Mas Angga yang tak kunjung paham kalau aku akan segera melahirkan dan aku sudah merasakan kontraksi. Lihat saja, Mas Angga bisa sesantai itu dalam memakai baju padahal aku sudah mengatakan kalau anaknya akan segera lahir.


"Hana.. sssshh.. astaghfirullah.." Aku mulai merasakan kontraksi lagi.


"Sayang?" Mas Angga baru merasa panik melihatku kesakitan.


"Hah!!?" Tuh, kan. Masih saja Mas Angga terlalu lama loading-nya alias lemot. Ya Allah.. semoga dosaku dimaafkan karena telah mengatakan suamiku lemot.


"Mas, serius! Ini sakit, loh, anaknya beneran mau lahir ini."


"Oh, oke. Jadi ini Mas harus ngapain?"


Ya salam. Mas Angga masih sempat tanya harus ngapain.


"Tidur aja sana!" Kesal sendiri aku jadinya.


Mas Angga mengusap wajahnya. Mungkin kesadarannya mulai kembali. Dia langsung mengangkat tas-tas itu dan membawanya keluar. "Mas masukin tasnya ke mobil dulu. Masih bisa jalan? Atau nunggu Mas dulu?" Dari suaranya terdengar mencoba untuk tidak panik.


"Hana masih bisa jalan, Mas."


Aku masih bisa sendiri karena kontraksi yang ku rasakan belum juga intens. Masih sepuluh sampai lima belas menit sekali.


***


Dokter Renata mengarahkan aku untuk masuk ke ruang bersalin. Tepat adzan magrib aku sudah sampai di klinik beliau. Setelah aku berbaring di atas ranjang, beliau memeriksa ku. Dokter Renata mengatakan kalau aku masih bukaan tiga. Aku diprediksikan akan melahirkan sekitar pukul sepuluh atau sebelas malam nanti.


Mama dan papa sudah ditelpon Mas Angga. Begitupun dengan bapak dan ibu. Mereka semua sedang perjalanan ke klinik.

__ADS_1


Dokter Renata menyarankan agar aku berjalan-jalan dan berolahraga ibu hamil seperti yang sudah di ajarkan agar proses pembukaan lebih cepat.


Setiap kontraksi itu datang, aku mencengkeram erat tangan Mas Angga. Beliau tak protes sama sekali. Malah satu tangannya memijat punggungku pelan agar rasa sakit ku berkurang meskipun itu tak berefek apapun.


"Ma, Hana minta maaf ya kalau Hana banyak salah sama Mama." Ucapku pada Mama yang duduk disebelah ranjang. Sudah bukaan delapan dan aku tak kuat lagi untuk berdiri.


Mama menghapus air mataku dan menciumi wajahku. "Hana enggak ada salah sama Mama. Anak Mama pinter, kok. Anak Mama baik." Beliau juga ikut meneteskan air mata.


Kini aku tahu perjuangan Mama untuk melahirkan aku. Aku menyesal dulu sering membantah Mama, terkadang melawan Mama. Padahal beliau sudah berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan aku.


Aku juga meminta maaf pada ibu mertuaku, dan juga berterimakasih telah melahirkan sosok suami hebat, yaitu Mas Angga.


"Mas... Sakit..!!" Aku menangis dan kembali mencengkeram erat tangan Mas Angga. Mas Angga sendiri juga menangis. Mungkin tak tega melihatku kesakitan.


"Kuat ya, sayang. Kamu hebat, kamu kuat. Sebentar lagi kita bertemu dengan Dedek bayinya."


"Kalau Hana ada salah Hana minta maaf ya, Mas." Ucapku lemah.


"Hana enggak ada salah sama Mas, kok. Kuat, ya, sayang."


Saat dokter mengatakan pembukaan sudah lengkap, aku diperintahkan untuk mengejan.


"Aku enggak kuat lagi, Mas." Rintihku lemah.


"Ayo, sayang. Demi buah hati kita."


Saat dorongan dari dalam menguat lagi, aku mencoba mengejan. Namun lagi-lagi anakku belum juga keluar.


"Kepalanya sudah terlihat, dokter Hana. Ayo sekali lagi."


Sungguh, rasanya tenagaku sudah habis. Ya Allah.. Andaikan hari ini terakhir kalinya aku bernapas, aku ikhlas, aku siap. Namun selamatkan anak kami, ya Allah.


"Kuat, sayang. Aku mencintaimu."


Bismillahirrahmanirrahim..


Aku mengerahkan seluruh sisa tenagaku untuk mengantarkan anakku melihat dunia. Rasa lega bercampur haru ku rasakan saat dia lahir dan menangis kencang.


Tak henti-hentinya aku dan Mas Angga mengucap syukur. Air matanya menetesi pipiku saat berulang kali Mas Angga menghujaniku dengan ciuman.


"Terimakasih, sayang. Terimakasih. Kamu hebat, kamu luar biasa."


Aku tersenyum lemah dan mengusap pipinya. "Selamat ya, sudah jadi ayah."


"Selamat, ya, sudah jadi bunda."


Mas Angga mencium lembut keningku. "I love you."


Inilah akhir dari tujuh tahun penantian kami. Lahirnya anak kami akan membuat cinta kami semakin kuat. Aku bahagia, kami bahagia.

__ADS_1


🥀🥀🥀


Anaknya cowok apa cewek teman-teman? 😅😅


__ADS_2