Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 17


__ADS_3

HANA


Aku masih terus berpikir kenapa Pak Angga bisa berubah senarsis ini. Kemana Pak Angga yang dingin, cuek, dan seenaknya sendiri itu? Apa sukmanya tertukar ya pas naik pesawat kemarin? Aduh kira-kira tertukarnya sama siapa, ya? Orang mana? Kasian banget itu orang yang sukmanya tertukar dengan Pak Angga.


Aish.. Ngaco kamu, Na! Ini dunia nyata, bukan dunia khayalan. Bangun woy, bangun!!!


"Hana kenapa?" Tanya Teh Kinan yang tau-tau sudah duduk di sampingku. Sejak kapan? Ini gara-gara aku mikirin Pak Angga, eh Mas Angga.


"Kenapa apanya, Teh?" Tanyaku sok polos.


"Itu tadi kenapa kepalanya di tepuk-tepuk begitu tadi? Pusing? Sakit? Kita pulang aja, yuk?"


"Ehh.. Teh Kinan mau ngapain?" Cegah ku saat Teh Kinan berdiri. Mungkin mau manggil Mas Ikhsan sama, ehm! Mas Angga.


"Mau bilang sama A' eh, Den Ikhsan kalau Hana pusing," ucapnya polos.


"Manggilnya kalau Aa' ya Aa' aja sih, Teh. Ngapain diralat segala? Udah, Hana enggak apa-apa. Tadi Hana cuma lagi mikirin sesuatu,"


Teh Kinan terlihat tersipu sampai kedua pipinya memerah. "Diihh, malu..." Godaku sambil menoel-noel lengannya.


"Apa, sih, Hana?" Protesnya malu. "Tadi Hana mikir jorok ya sampai kepalanya ditepukin begitu?" Tuduhnya tak beralasan.


"Ih, Teteh sembarangan aja kalau ngomong. Hana anak baik-baik lho, Teh," sungutku tak terima. Teh Kinan meringis merasa tak enak.


"Hana, ceker mercon, yuk?" Ajak Mas Ikhsan yang kini sudah bergabung denganku dan Teh Kinan. Waktunya bernostalgia dengan Pak, eh, Mas Angga sudah selesai ternyata.


Iya, sejak tadi mereka sibuk mengobrol berdua, tertawa berdua, haha-hihi berdua. Mereke membuat dunia sendiri meninggalkan aku dan Teh Kinan.


"Mauuuuu," seruku tak kalah antusias. Sempat ku lihat Pak, eh, Mas Angga tersenyum geli melihat tingkahku.


Mas Ikhsan menjalankan mobilnya menuju rumah makan yang menjual ceker mercon. Katanya sih ceker merconnya paling enak diantara ceker mercon yang pernah Mas Ikhsan temui. Ahh.. bikin penasaran aja, sih, Mas Ikhsan. Aku sudah membayangkan pedas dan empuknya ceker mercon itu.


"Aku mau level 10, Mas," ucapku semangat saat pelayan mencatat pesanan kami.


"Level 10? Cabenya berapa itu?" Tanya Mas Angga kaget.


"30," jawabku santai.


"No, Hana!" Itu maksudnya Mas Angga melarangku makan level 10? Why? "Jangan banyak-banyak, nanti sakit perut."


Aduhhhh.. Kok aku jadi tersipu ya di perhatikan begitu?


Hey! Sejak kapan Hana jadi baperan?


"Jadinya gimana ini, Teh? Akang?" Tanya pelayan yang kini bingung sendiri melihatku berdebat dengan Mas Angga. "Mau level berapa?" Lanjutnya kemudian.


"10,"


"2,"


Ucapku kompak dengan Mas Angga. "10, Mas, udah cepet sana, Mas," sengaja segera ku minta pelayan yang dari nametagnya tertulis nama "Suhendra" untuk segera pergi meninggalkan mejaku. Takut Mas Angga memprotes apa yang menjadi pesananku.


Mataku berbinar melihat sepiring ceker mercon level 10 yang sudah tersaji di depanku. Kulirik Mas Angga yang melirik ngilu melihat warna cekerku yang merah efek cabai merahnya.


You know, Mas Angga pesan apa untuk makan siangnya? Ayam penyet yang tingkat pedasnya enggak nyampai level 2. Huu!! Payah.


***


Penyakit yang sering dimiliki oleh banyak orang, setelah kenyang pasti ngantuk. Iya, kayak aku ini. Setelah makan siang yang ditemani dengan ceker mercon, aku bisa tertidur dengan nyenyakya di dalam mobil saat perjalanan pulang.


Tapi tidurku terusik saat aku merasakan ada yang tidak beres dengan perutku. Perutku terasa panas dan membuat tidurku bergerak gelisah.


"Kenapa, Na?" Tanya Mas Ikhsan yang menyadari aku bergerak gelisah sambil memegangi perutku.

__ADS_1


"Perut Hana rasanya panas banget ini, Mas," keluhku dengan sedikit serak. Mas Angga yang sejak tadi diam memperhatikan jalanan, kini sedikit berbalik badan melihat kearahku yang meringis menahan panas di perutku. Sedangkan Teh Kinan sedang asyik merangkai mimpi dalam tidurnya.


"Kan tadi saya sudah bilang, jangan makan pedas terlalu banyak," omel Mas Angga penuh perhatian. Aish.. sweetnya.. Hadeh, Hana! Saat seperti ini masih sempat-sempatnya baper. "Suka ya suka, tapi ada batasannya. Makan itu jangan asal suka, tapi juga harus dipikirkan bahaya atau enggaknya, bergizi atau enggaknya," lanjutnya cerewet seperti emak-emak yang kehilangan kotak baperware-nya.


"Dengerin itu apa kata Pak guru," Mas Ikhsan ikut menimpali.


"Kan Mas Ikhsan juga yang ngajak aku makan ceker pedas," belaku tak mau kalah.


"Ya Mas mana tahu kalau kamu pesannya yang level 10," bener juga, sih. Tadi pas aku pesan Mas Ikhsan dan Teh Kinan sedang ke toilet. Ck, kompak banget mereka itu. Eh, tapi mereka enggak satu toilet, ya. Jangan berpikir macam-macam.


"Sudah, sudah terlanjur juga. Besok-besok jangan diulangi lagi," lerai Mas Angga bijak. "Itu depan ada maret-maret, San. Berhenti sebentar, ya?"


Tanpa berucap apapun, Mas Angga turun dari mobil lalu masuk ke dalam minimarket. Aku bertanya pada Mas Ikhsan tapi Mas Ikhsan mengendikkan bahunya tak tahu.


Mas Angga keluar dengan membawa sekantung plastik berukuran sedang yang aku tak tahu apa isinya.


"Nih, ada susu. Diminum buat menetralkan rasa panas akibat makan pedas. Ada juga beberapa cemilan biar perut kamu juga enakan," Mas Angga menyodorkan kantung plastik itu kepadaku. Aww.. Kenapa Mas Angga jadi sweet begini, sih?


"Makasih, Pak. Eh, Mas, maksud Hana," aku meringis salah tingkah.


🌺🌺🌺


Kakek dan nenek sudah duduk di teras rumah ditemani dua gelas teh hangat dan sepiring brownies saat kami sudah sampai rumah. Aku enggak tau sudah berapa lama aku tertidur. Sampai aku enggak tau kalau ternyata Mas Ikhsan juga sudah mengantarkan Mas Angga pulang. Teh Kinan sepertinya juga memilih turun depan rumahnya yang berjarak seratus meter dari rumah kakek.


Eh tapi ngomong-ngomong, tadi keadaan aku tidur gimana, ya?


Mulutnya menganga enggak? Apa jangan-jangan aku tadi ngorok? Eh, atau malah aku ngiler juga?


Aduuhh.. Kan jadi malu kalau Mas Angga tau kalau aku enggak ada kalem-kalemnya kalau pas tidur.


"Kamu itu lho, Na, enggak ada malu-malunya. Cewek kok tidurnya ngorok keras banget. Enggak malu sama Angga?" ucap Mas Ikhsan yang membuatku menegang seketika. Tanganku yang hendak membuka pintu mobil menjadi terhenti karena mendengar ucapannya.


"Mas Ikhsan bohong, ya?" Tudingku tak terima.


"Tanya aja sama si Angga. Dia sampai geleng-geleng kepala dengerin kamu ngorok keras banget," setelah itu Mas Ikhsan keluar dengan tertawa terbahak.


Tapi gimana kalau itu benar adanya? Apa Hana masih punya muka untuk bertemu dengan Mas Angga?


Aduh.. Kayaknya kalau sekolah udah masuk kemana-mana perlu bawa plastik, deh. Biar kalau sewaktu-waktu ketemu Mas Angga bisa langsung nyembunyiin muka.


"Nenekkk," panggilku manja dan langsung memeluk nenekku erat. "Kenapa sayang?" Tanya nenek dengan lembut sambil mengusap punggungku.


"Mas Ikhsan nyebelin, Nek," bukannya membelaku, kakek dan nenek justru tertawa mendengar keluhanku tentang cucu nyebelinnya itu.


"Iya, nanti biar nenek cubit si Ikhsan itu," ucap nenek seperti membujuk seorang anak kecil yang di jahilin oleh temannya. "Wlee!" Aku menjulurkan lidah mengejek Mas Ikhsan. Mas Ikhsan tak peduli dan lebih memilih menggigit kue brownies.


"Kalian dari mana? Pergi enggak ngabarin kakek atau nenek. Pulang-pulang rumah kosong enggak ada orang?" Tanya kakek penasaran.


"Tuh, nemenin pacarnya Hana jalan-jalan, kek," jawab Mas Ikhsan sekenanya.


"Eh, bukan pacar, ya? Dia guru Hana,"


"Siapa tau suatu saat jadi pacar,"


"Enggak,"


"Bisa jadi,"


"Enggak,"


"Siapa yang tau?"


"Ihhh.. Mas Ikhsan nyebelin. Kakek.. Jewer aja tuh telinganya Mas Ikhsan," keluhku manja yang disambut tawa dari kakek dan nenek.

__ADS_1


"Ya sudah, istirahat dulu sana," perintah nenek dan aku menurutinya.


***


Satu hari berada di Bandung, cukup menyenangkan dengan adanya Mas Angga, Mas Ikhsan dan juga Teh Kinan. Tapi mulai besok Mas Iksan dan Teh Kinan sudah mulai beraktivitas lagi seperti biasanya. Mas Angga juga akan kembali ke solo besok lusa. Terus aku ngapain dong disini? Mau jalan-jalan? Bosan kalau sendirian. Masak mau ngajakin nenek? Nanti nenek kecapean gimana?


Eh tapi kan aku masih punya satu misi yang harus aku ungkap sebelum pulang ke solo. Hubungan antara Mas Ikhsan dengan Teh Kinan. Papa mama harus tau secara detail hubungan anak laki-lakinya itu dengan cewek Bandung. Uhuyy!!


Aku membuka aplikasi WhatsApp ku kemudian melihat-lihat story yang dibuat oleh orang-orang yang kontaknya tersimpan olehku. Mataku terbelalak saat melihat story yang dibuat oleh mama. Ya ampun.. Alay banget si Mama.


Demi apa! Mama posting foto berdua dengan papa yang sedang berjalan-jalan menikmati sunset di Gunung Gamping, di Tawangmangu.


Ini siapa yang ngambil fotonya, sih? Kok bisa ala-ala prewedding begini.


Dalam fotonya, Papa memeluk pinggang mama, dan mama mengalungkan tangannya di leher papa. Hidungnya menempel seperti akan berciuman. Berlatarkan matahari yang akan terbenam. Aduhhhh.. Ini pemandangan untuk usiq 30++. Haha.


Me : Mama papa alay banget. πŸ€¦πŸ˜…


Mama : Biarin 😜 mumpung free dari anak-anak.


Me : Suka gitu enggak ada anaknya?


Mama : Sebenarnya sepi banget. Tapi bolehlah sekali-kali. πŸ˜‹


Me : Pesen Hana cuma satu, Ma. Hana enggak mau punya adik baru. πŸ˜‘


Mama : Tunggu bulan depan gimana ya, sayang. 😜😘


Aku memutar bola mata jengah. Sereceh itu Emak akuh!!


Ponselku kembali berbunyi saat aku beranjak untuk mandi.


Pak Angga's Calling..


Mau ngapain pakai telepon segala? Kan tadi seharian udah sama-sama terus.


"Assalamualaikum, Pak, eh Mas Angga?" Sapaku setelah menggeser tombol warna hijau.


"Waalaikumsalam. Hana lagi ngapain?" Tanyanya. Receh banget itu pertanyaan. Aku melihat kembali nama yang menelpon ku. Benar Pak Angga. Enggak salah gitu Pak Angga tanya kayak gitu?


"Ini lagi mau mandi, Mas. Ada apa, ya? Ada sesuatu yang tertinggal di mobil Mas Ikhsan?"


"Tidak ada. Saya cuma mau nanya keadaan kamu. Perut kamu sudah baikan?"


"Alhamdulillah sudah, Mas."


"Syukurlah kalau begitu."


Lama Mas Angga diam. Tapi sepertinya tak ingin memutuskan sambungan telepon.


Aduhhhh.. Aku mau mandi lho ini. Badan udah pada lengket. Mau matiin duluan kok enggak sopan.


"Hana?"


"Ya?"


"Terimakasih untuk hari ini," suaranya terdengar tulus. Kok jadi deg-deg-ser begini ya?


"Sama-sama, Mas," jawabku pelan. Jujur aku gugup.


"Ya sudah kalau begitu. Wassalamu'alaikum,"


"Iya, Mas. Waalaikumsalam,"

__ADS_1


Tuttt tuutt..


Telepon dimatikan.


__ADS_2