
POV : ANGGA
Sudah berhari-hari Hana tidak membalas pesanku maupun mengangkat telepon ku. Padahal aku tahu setiap saat, kecuali saat sekolah, dia memegang hp. Dapat ku lihat kapan terakhir dia 'online' di aplikasi WhatsApp.
Saat jauh begini, seperti inilah yang membuatku malas. Dia mendiamkan aku tanpa aku tahu apa penyebabnya dan apa salahku. Ingin bertanya langsung tapi keadaan tak memungkinkan. Aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku.
Aku sudah mencoba bertanya pada kedua sahabatnya kenapa Hana tidak membalas pesanku. Mereka berkata bahwa Hana sedang sibuk belajar untuk persiapan tryout.
Alasan saja menurutku. Teman-temannya juga belajar. Tapi mereka masih sempat bermain ponsel.
Ku tanyakan pada Ikhsan, dia beralasan sedang bekerja jadi tidak bisa bertanya langsung pada Hana. Saat Ikhsan pulang kerumah pun mengatakan kalau Hana sudah tertidur.
Hana..
Hana...
Hana..
Konsentrasi ku dalam bekerja sudah hilang karena sikap Hana.
***
"Kamu betah bekerja disini, Ga?" Rumi memecah keheningan. Siang ini dia datang ke kantor dan mengajakku untuk makan siang bersama. Entah apa yang memotivasi Rumi untuk datang jauh-jauh dari Karanganyar hanya untuk mengajakku makan siang bersama.
Beberapa hari yang lalu, Pak Ratno mengatakan bahwa Rumi sebentar lagi juga akan pindah kesini. Pak Ratno juga sedikit mencandai ku agar aku bisa melakukan pendekatan dengan Rumi.
Disaat Pak Ratno mengatakan hal itu, kebetulan ada bapak dan ibu juga yang datang untuk silaturahmi dengan keluarga Pak Ratno. Jadi, sudah pasti bapak langsung menyetujui ucapan Pak Ratno.
Tapi kalau menurut pemikiran ku, kemungkinan besar mereka sudah merencanakan hal ini sejak lama. Terbukti dengan kerasnya bapak menentang hubunganku dengan pacarku, Hana, saat Mbak Anggi tak sengaja keceplosan mengatakan kalau aku sudah punya pacar.
Aku merasa berterimakasih, bahkan sangat berterimakasih atas pengorbanan Rumi untuk menyelamatkan aku dari maut beberapa tahun yang lalu. Juga dengan Pak Ratno yang rela mendonorkan darahnya untukku.
Tapi untuk menjalin hubungan dengan Rumi kembali, aku rasa itu tidak akan mungkin. Bagiku Rumi sekarang adalah teman. Adapun hubungan kami dimasa lalu, aku sudah melupakannya. Aku memaafkan semua apa yang telah ia lakukan yang membuatku kecewa kepadanya. Tapi untuk kembali bersamanya, aku menutup pintu hatiku rapat-rapat.
Sekalipun Rumi sekarang sudah terlihat berubah. Hijab dan pakaian tertutupnya sebagai tanda perubahannya.
"Sejauh ini, sih, biasa saja. Home sick kadang masih mendera," jawabku tanpa menatapnya. Rumi terkekeh pelan.
"Sudah tua begini masih bisa home sick, ya?" Candanya. Aku hanya tersenyum tipis. Home sick bukan alasanku yang sebenarnya. Merindukan Hana yang terkadang membuatku ingin terbang ke Karanganyar saat ini juga. Apalagi ini sudah seminggu lebih Hana tak menghubungiku maupun membalas pesanku.
"Aku ke kamar mandi dulu," pamitku. Aku langsung beranjak tanpa menunggu jawabannya.
***
POV : HANA
Menahan jempol ku agar tidak membalas pesan ataupun mengangkat telpon dari Mas Angga itu sulit. Sangat sulit.
Aku terbiasa ada Mas Angga meskipun hanya lewat ponsel. Aku sama sekali tak berani karena Mama dan papa yang tidak ridho aku berhubungan dengan Mas Angga.
__ADS_1
Walau hanya sampai aku selesai ujian, tapi sangat berat. Ujian masih dua bulan lagi dan aku harus menahan selama itu. Bisakah?
Apalagi sejak pagi Mas Angga belum juga menghubungi ku lagi. Apa Mas Angga mulai lelah?
Kalau aku menghubungi Mas Angga sekali saja tak apa sepertinya. Aku kangen, sangat. Aku juga tak berkonsentrasi saat belajar maupun sekolah. Pikiranku terus memikirkan Mas Angga.
Ini yang kata Papa aku harus berkonsentrasi belajar dulu? Nyatanya saat aku menuruti keinginan Papa untuk tidak berhubungan dengan Mas Angga, justru membuat ku tak bisa berkonsentrasi sama sekali.
Menelepon sekali saja tak apa kali, ya? Ya Allah.. Maafkan Hana. Kali ini Hana harus melawan perintah Papa. Sekali saja, kok.
Aku mulai menelpon nomor Mas Angga. Sampai tiga kali panggilanku tak dijawab.
Senyumku mengembang saat panggilan ku yang ke empat diterima oleh Mas Angga.
"Halo?"
Deg! Suara perempuan!
"Ha.. Hallo!" Jawabku terbata.
"Iya? Mas Angga lagi dikamar mandi. Ada yang mau disampaikan?" Tanyanya. Dia memanggil dengan sebutan "Mas" juga? Siapa? Setahuku Mas Angga tidak punya adik.
"Tidak.. Terimakasih," aku langsung mematikan sambungan telepon dan melempar ponselku ke dalam tas.
Aku menelungkupkan wajahku diatas meja. "Siapa perempuan itu, Mas? Kenapa bisa memegang ponselmu?"
Beruntung kelas sudah sepi. Jadi tidak ada yang melihatku menangis seperti ini.
Sedekat apa mereka sampai perempuan itu berani mengangkat telepon yang masuk ke ponsel Mas Angga?
"Aghni?" Panggilan itu membuatku mengangkat wajah. Aku langsung buru-buru menghapus air mataku.
Jika kalian bertanya siapa yang memanggilku Aghni, jawabannya adalah Pak Dimas. Beliau lebih suka memanggilku Aghni daripada Hana. Katanya takut keceplosan memanggilku Farhan. Nggak nyambung!
"Kamu nangis?" Tanyanya penuh selidik.
Aku menggeleng kuat. "Enggak, Pak. Bapak ngapain disini?" Aku balik bertanya.
"Saya mau mengambil ponsel saya yang tertinggal di laci meja," jawabnya sambil tersenyum. Lalu berjalan ke meja guru untuk mengambil ponselnya. Pak Dimas memang baru saja menggantikan guru mata pelajaran bahasa Inggris yang menjadi pelajaran terakhir hari ini.
"Kamu belum pulang?"
"Ini mau pulang, Pak," jawabku sambil mengemasi buku-buku ku.
"Mau saya antar?" Tawarnya.
"Eh, nggak usah, Pak. Saya dijemput kakak."
Yang benar saja Pak Dimas mau mengantarku pulang. Dengan Mas Angga saja ini sudah membuat para tetangga membicarakan keluargaku, apalagi kalau yang mengantarku berbeda lagi? Bisa heboh satu kampung. Mama dan Papa pasti langsung mengurungku didalam rumah dan tak mengijinkan ku untuk keluar.
__ADS_1
"Saya pulang dulu, Pak."
Pak Dimas tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
***
Saat aku sampai rumah, rumah masih dalam keadaan sepi. Ini sudah biasa. Mas Ikhsan hanya mengantarku sampai depan rumah dan langsung kembali ke tempat kerja. Mama dan Papa juga belum pulang.
Aku terbiasa sendiri. Meskipun perhatian mama, papa dan Mas Ikhsan tak pernah berkurang, namun aku tetap merasa kesepian. Biasanya kalau seperti ini aku selalu mengurung diri dikamar sampai orang-orang pulang kerumah.
Aku juga bisa lebih mengekspresikan diriku. Saat aku bahagia, aku bisa teriak-teriak sambil bernyanyi. Saat aku sedih, aku juga bisa menangis sambil mendengarkan lagu-lagu mellow. Tapi berbeda dengan kali ini. Aku masih menangis, tapi lebih memilih melakukan panggilan video dengan Teh Kinan.
"Assalamualaikum, Neng Hana!" Sapa Teh Kinan dengan ceria diujung sana.
"Waalaikumsalam, Teh," jawabku dengan suara serak.
"Lhoh? Kok Neng Hana nangis? Kenapa?" Tanyanya khawatir. Kalau dekat mungkin sudah menangkup kedua pipiku. Ahh.. Teh Kinan kapan, sih, nikah sama Mas Ikhsan? Biar kita bisa dekat.
"Teh Kinan pernah nggak, sih, curiga sama Mas Ikhsan?"
"Maksud Neng Hana apa, ya?"
"Ya, kan Teh Kinan sama Mas Ikhsan LDR. Pernah enggak Teh Kinan curiga sama Mas Ikhsan? Takut disini Mas Ikhsan macam-macam."
Bukannya menjawab, Teh Kinan malah tertawa pelan.
"Ya pasti pernah. Namanya juga jauh, Neng. Enggak setiap hari bisa lihat. Jadi perasaan curiga dan takut itu pasti ada."
"Terus Teteh menyikapinya bagaimana?"
"Kan kunci hubungan jarak jauh itu yang utama adalah komunikasi dan kepercayaan. Kalau komunikasi saja nggak lancar, pasti kepercayaan juga akan sedikit kendur. Pikiran jadi macam-macam, jadi kemana-mana."
Aku tahu sekarang. Mungkin karena aku tak merespon Mas Angga berhari-hari membuat aku tak tahu apa yang Mas Angga lakukan disana. Banyak hal yang mungkin sudah aku lewatkan. Mas Angga terbiasa bercerita apapun tentang hari yang dilaluinya.
Bisa jadi suara perempuan tadi teman kerjanya, kan?
"Lagi berantem sama Mas Angga, ya?" Teh Kinan mencoba menebak.
"Mas Ikhsan pasti sudah cerita, kan, Teh?" Teh Kinan mengangguk. "Habis Papa bilang seperti itu, aku belum menghubungi Mas Angga lagi. Pesan dan teleponnya juga nggak aku respon," lanjut ku.
"Harusnya jangan langsung begitu, Neng. Dibicarakan dulu baik-baik sama Mas Angga. Pasti akan ada jalan keluarnya, kok. Kalau Hana diam saja, takutnya Mas Angga malah bosan menunggu sampai Hana bicara. Mas Angga disana nggak tahu apa-apa, tapi Hana diemin dia. Bagaimana kalau semua ini diposisi kamu?"
Ucapan Teh Kinan sepenuhnya benar. Memang aku yang salah. Harusnya aku bicarakan baik-baik dengan Mas Angga. Bukan malah diam dan sekarang justru mencurigainya.
"Makasih, ya, Teh, buat masukannya. Hana sekarang sadar."
"Sama-sama, Neng. Sekarang ditutup dulu ya video callnya. Telepon Mas Angga dulu sana!"
Aku mengangguk dan mengakhiri panggilan video dengan Teh Kinan.
__ADS_1
Tanganku mulai mencari nomor Mas Angga lalu meneleponnya.
Aku menghembuskan napas pasrah saat nomor Mas Angga ternyata sedang dalam panggilan lain. Entah siapa yang ditelepon Mas Angga. Aku tak tahu dan tak mau tahu.