Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 53


__ADS_3

Semakin hari, Hana merasa kelakuan Rasyid semakin asyik sekaligus menyebalkan. Terkadang Rasyid menjadi pendengar yang baik saat tak sengaja Hana mengeluarkan keluh kesahnya.


Hana sendiri juga merasa heran kenapa dia tidak bisa menutupi apapun dari Rasyid. Entah Hana yang tak bisa atau Rasyid yang terlalu pintar membaca dirinya.


Rasyid juga sudah dekat dengan keluarga Hana. Selama Hana di Surabaya, terhitung sudah lebih dari sepuluh kali Ikhsan dan kedua orangtua Hana datang ke Surabaya.


Hal itu dimanfaatkan oleh Rasyid untuk mengenal lebih dekat dengan keluarga Hana. Sikap Anang dan Widia begitu baik pada Rasyid yang begitu sopan dan ramah. Apalagi dengan Ikhsan yang ternyata satu hobi. Yaitu memodifikasi mobil atau motor yang sudah lama Ikhsan jadikan sebagai pekerjaannya.


Ketika Rasyid dan Ikhsan duduk bersama, Hana harus rela menjadi obat nyamuk. Atau hanya diam dan mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Itu karena Hana tak paham dan tak nyambung dengan pembahasan mereka.


Saat hari libur, untuk pertama kalinya Rasyid mengajak Hana untuk liburan. Selama di Surabaya Hana lebih banyak menjadi anak rumahan. Waktu liburnya ia habiskan untuk bermain dengan anak-anak panti.


"Kita mau kemana, sih?" Tanya Hana penuh selidik saat Rasyid mulai menjalankan mobilnya. Sejak Rasyid datang menjemputnya, Rasyid tak memberitahu tujuannya mengajak Hana pergi. Rasyid hanya menyuruh Hana untuk bersiap-siap.


"Nanti juga tahu," jawab Rasyid dengan senyuman penuh misteri.


Hana tak lagi bersuara dan menanyakan tujuan mereka. Percuma saja karena Rasyid tak akan memberitahu.


Setelah menempuh dua jam perjalanan dan sepanjang perjalanan Hana tertidur, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan. Hana yang baru saja bangun dan belum sepenuhnya sadar hanya mengernyitkan keningnya melihat sekelilingnya saat ini.


"Hutan mangrove?" Tanya Hana tak percaya. Rasyid mengangguk dan tersenyum menanggapinya.


"Aku baru tahu kalau ada hutan mangrove disini," ucap Hana lagi.


"Makanya aku ajak kamu kesini. Turun, yuk!"


Hana dan Rasyid turun dari mobil. Rasyid meninggalkan Hana sebentar untuk membeli tiket masuk.


Lokasi hutan mangrove wonorejo berada di jalan raya wonorejo no 1, rungkut, surabaya. Dari Bandar Juanda ditempuh dalam waktu 40 menit. Bisa lewat jalan tol waru – juanda. Kemudian keluar di rungkut dan langsung sampai di ekowisata ini. Ketika memasuki hutan mangrove, Hana dan Rasyid disambut dengan pohon bangkau yang banyak sekali.


Perjalanan ke hutan mangrove dimulai jalan setapak berbahan dasar kayu, kemudian akan melintasi sungai dengan menggunakan kapal atau perahu. Panjang sungai sekitar 5 km dan ditempuh dalam waktu 15 menit. Selama naik perahu, mereka melihat pohon bakau yang rindang. Setelah menempuh perjalanan, Hana dan Rasyid langsung sampai di kawasan hutan mangrove.


"Kenapa mengajakku kesini?" Tanya Hana.


Sebelum menjawab, Rasyid menatap lekat wajah Hana yang kini menikmati pemandangan hutan mangrove. Hana tak sadar saat Rasyid menatapnya. "Karena aku tahu kamu nggak suka mall," jawab Rasyid dengan tepat. Benar, Hana memang tak menyukai mall. Ia lebih suka pergi ke tempat wisata yang menyajikan alam bebas seperti hutan mangrove.


Hana sempat tertegun mendengar jawaban Rasyid. Bagaimana bisa Rasyid mengetahui apa yang ia suka dan tak ia suka.


"Aku tahu banyak tentang kamu, Na," ucap Rasyid seolah tahu dengan apa yang ada di pikiran Hana.


"Kamu suka bakso terutama dengan sambal yang extra, kamu suka jus alpukat, kamu suka berwisata alam, kamu suka gunung, kamu suka warna biru dan hijau lembut, kamu suka..."


"Cukup!" Hana menghentikan ucapan Rasyid kemudian menatap Rasyid dengan tajam. "Kamu ngefans sama aku, ya, sampai semua tentang aku kamu bisa tahu?"


"Memangnya kalau iya, kenapa?" Ucapan Rasyid justru membuat Hana tertegun. Jantungnya berdegup kencang saat Rasyid menatapnya lekat. Hana dibuat salah tingkah.


"Na, boleh aku jujur?"

__ADS_1


"S-soal apa..?" Tanya Hana gugup.


"Aku... Sayang sama kamu."


Mata Hana membulat mendengar penuturan Rasyid. Hana tak menyangka kalau Rasyid ternyata memendam perasaan untuknya. "Sejak kapan?" Tanya Hana kemudian.


"Entahlah.. Yang pasti sejak sebelum kamu pacaran dengan Pak Angga."


Deg! Hana terkejut bukan main. Selama itu Rasyid memendam perasaannya? Bahkan ia terlihat biasa saja saat melihat Hana berpacaran dengan Angga sampai-sampai tak ada yang menyadari bahwa Rasyid menyukai Hana.


"Selama itu?" Tanya Hana memastikan. Rasyid mengangguk pasti.


Hana menunduk. Tiba-tiba saja ia merasa ingin menangis. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa sesantai itu melihat orang yang ia sukai berpacaran dengan orang lain?


"Kenapa malah nangis?" Tanya Rasyid yang merasa heran melihat Hana menangis.


"Kamu kenapa bisa memendam perasaan selama itu? Bahkan kamu terlihat biasa saja lihat aku pacaran sama Pak Angga. Apa kamu nggak sakit hati?"


Rasyid terkekeh pelan mendengarnya. "Aku bahagia karena melihat orang yang aku sayang bahagia. Meskipun alasan dia bahagia bukan karena aku."


Rasyid menghela napas sejenak. "Aku nggak akan meminta jawaban kamu, Na. Aku cuma mau kamu tahu perasaan aku aja. Aku tahu, kok, kalau kamu belum bisa move on," Rasyid sedikit menggoda Hana untuk memecahkan kecanggungan yang terjadi diantara mereka.


"Apaan, sih!?" Hana merengut tak suka di sela tangisnya.


"Bener, kan?" Tanya Rasyid untuk memastikan.


Hana mengambil napas dan menghembuskannya kasar. Pandangannya yang semula melihat Rasyid kini beralih pada jajaran pohon mangrove di sekelilingnya. Rasyid memang selalu tahu dengan semua yang Hana rasakan. Tanpa Hana jujur pun Rasyid sudah bisa menebaknya.


"Kalau aku bilang dari dulu kamu nggak akan suka sama Pak Angga?"


Hana terdiam. Rasyid benar. Sekalipun Rasyid jujur sejak dulu, belum tentu juga Hana akan menyukai Rasyid juga. Memang sudah jalannya Hana menyukai dan berpacaran dengan Angga.


"Maaf, ya?" Ucap Hana.


"Untuk apa?"


"Untuk aku yang selama ini tanpa sadar udah buat kamu sakit."


Rasyid tertawa pelan. "Bukan masalah besar. Jangan dipikirkan lagi, lebih baik kita menikmati liburan pertama kamu di Surabaya. Gila, ya? Setahun lebih di Surabaya tapi tak satupun tempat wisata yang kamu ketahui."


"Habis males, sih. Lebih seru main sama anak-anak."


"Ya udah, yuk!" Tanpa sadar Rasyid menggandeng tangan Hana. Hana tak bergerak menatap tangannya yang kini berada di genggaman Rasyid. "Oh, sorry," Rasyid melepas genggamannya setelah menyadari apa yang telah ia lakukan.


Lima belas menit menikmati keindahan alam hutan mangrove, Rasyid sudah mampu menghilangkan kecanggungan yang tercipta setelah terang-terangan Rasyid menyatakan perasaannya. Diam-diam juga Rasyid mengambil potret Hana.


Rasyid kembali menjadi sosok yang asyik sekaligus menyebalkan bagi Hana. Hana bersyukur Rasyid tak sedikitpun marah kepadanya karena Hana belum bisa membalas perasaan Rasyid.

__ADS_1


"Aku heran sama diri aku sendiri. Baru kali ini aku merasa nggak canggung sama sekali saat berhadapan dengan orang yang baru saja menyatakan perasaannya sama aku," ucap Hana.


"Memangnya udah ada berapa cowok yang nembak kamu?"


"Nggak tahu. Lupa nggak di hitung."


"Karena banyaknya, ya? Aku jadi yang ke berapa, nih?"


"Nggak tahu yang ke berapa. Tapi sampai hari ini, kamu yang terakhir. Haha.."


"Liburan pulang, kan?" Tanya Rasyid.


"Pasti dong. Mas Ikhsan kan mau nikah sama Teh Kinan. Salut banget sama mereka. Pacaran selama tiga tahun, bahkan LDR. Akhirnya happy ending juga."


"Nggak kayak kamu, ya? Haha.." sindir Rasyid. Hana mendelik tak suka.


"Kamu di undang, kan?" Rasyid mengangguk. "Nanti pas beli seragam keluarga, aku minta satu buat kamu," Hana berucap tanpa sadar.


Rasyid terdiam mendengarnya. Entah Hana serius atau tidak, yang pasti Rasyid merasa senang dengan apa yang baru saja Hana ucapkan.


🌹🌹🌹


Berkali-kali Rumi mengetikkan nama Hana di pencarian instagram maupun Facebook mencoba mencari informasi terbaru tentang Hana. Namun sayangnya tak satupun dari nama yang ia ketikkan memunculkan akun dari Hana yang ia cari.


Sebenarnya Rumi tak yakin kalau gadis seusia Hana tidak bermain sosial media. Tapi melihat betapa sulitnya mencari akun milik Hana, Rumi yakin kalau Hana sudah menutup semua sosial medianya.


Rumi tak tahu lagi harus mencari informasi tentang Hana dari siapa dan dari mana. Adiknya yang berteman dengan Hana saja mengatakan kalau sejak perpisahan sekolah, Hana menghilang bak ditelan bumi.


Rumi senang kalau akhirnya Hana tak lagi berhubungan dengan Angga. Tapi sampai saat ini Angga masih saja mencoba mencari dimana Hana. Bahkan ia tahu bahwa perasaan Angga untuk Hana tak pernah hilang meskipun Angga juga tak tahu dimana Hana. Itu yang membuat Rumi tak bisa lagi mendekati Angga.


"Sudahlah. Lupakan Angga! Laki-laki di dunia ini bukan hanya Angga," tegur Rendi yang melihat Rumi tak lelah mencoba mencari akun Hana. Rendi adalah mantan kekasih Rumi di masa lalu. Mereka diam-diam menjalin hubungan di saat Rumi masih berpacaran dengan Angga.


"Kamu bisa diam enggak? Aku nggak butuh nasehat kamu."


Rendi menghembuskan napas pelan. Berkali-kali Rendi mencoba menasehati Rumi untuk tidak lagi mengejar-ngejar Angga yang sudah jelas-jelas mencintai perempuan lain. Namun Rumi seolah tuli. Rumi tak pernah mendengarkan apa yang Rendi ucapkan.


"Aku nggak akan pernah rela kalau Angga bertemu lagi dengan Hana. Bagaimanapun juga mereka nggak boleh bersatu. Aku akan melakukan segala cara agar mereka tak pernah bertemu."


"Rumi. Kamu itu berjilbab. Punya akhlak juga harus baik. Buat apa kamu pakai jilbab kalau kelakuan kamu kayak gini? Katanya mau berubah menjadi lebih baik. Giliran ketemu Angga lagi kamu kembali seperti dulu. Harusnya kamu paham, kamu itu hanya terobsesi bukan benar-benar sayang sama Angga. Jangan buat main-main itu jilbab. Kalau soal jilbab urusan kamu bukan sama manusia lagi, tapi sama Allah."


Rendi beranjak pergi meninggalkan Rumi yang merasa tertampar dengan ucapan Rendi.


Sebenarnya Rendi masih menyayangi Rumi. Berkali-kali juga Rendi mencoba mengajak Rumi untuk menikah. Namun Rumi menolak dengan alasan bahwa ia hanya menginginkan Angga.


"Semua yang di ucapkan Rendi benar," gumamnya pelan. "Apa memang aku harus berhenti? Apa benar ini hanya obsesi semata?"


🌹🌹🌹

__ADS_1


ngetiknya gercep banget πŸ˜…πŸ˜…


maapkan kalau banyak typo πŸ™πŸ™


__ADS_2