
Aku langsung membuka kaca mobil setelah mobil Rasyid mulai memasuki jalan Magetan-Tawangmangu. Sekelilingnya terdapat perkebunan karet, tegal kebun yang ditanami sayur-mayur, stroberi, dan juga tanaman-tanaman yang sangat cocok hidup di kawasan dengan suhu udara yang begitu dingin ini.
Dari jalan yang berada di ketinggian aku juga bisa melihat hijaunya danau sarangan. Itu berarti sekitar lima belas menit lagi akan sampai di Cemorokandang.
"Mau makan bakso pentol kuah dulu nggak?" Tawar Rasyid.
"Boleh," jawabku antusias.
Rasyid menghentikan mobilnya di pinggir jalanan dekat dengan penjual bakso pentol. Setelah turun dari mobil, Rasyid memesan dua mangkuk bakso pentol dan juga dua gelas susu jahe panas. Sedangkan aku asyik memandangi pemandangan yang berselimut kabut tipis.
"Dingin, ya?" Buyar Rasyid yang kini sudah berdiri di sampingku. Entah sejak kapan aku tak menyadarinya.
Aku mengangguk, "iya," jawabku sambil merekatkan jaket yang aku pakai.
"Apa yang kamu suka dari tempat ini?" Tanyanya.
"Banyak. Dinginnya, pemandangannya, pentol kuahnya.."
"Yang pedes, ya?" Selanya.
Aku terkekeh dan mengangguk. "Iya." Setelah itu kami saling diam dan menikmati pemandangan. Mungkin kalau orang lain akan memanfaatkan untuk berfoto ria. Tapi aku tidak. Aku lebih memilih mengabadikannya dalam hati dan pikiran saja.
"Silahkan, Mas, Mbak."
Ucapan penjual pentol kuah menarik kami kembali ke dunia nyata setelah beberapa saat yang lalu pikiran kami asyik berkelana.
"Nih.." Rasyid menyodorkan semangkuk sambal yang berwarna merah menyala. "Tolong dikondisikan, ya?" Ucapnya.
Aku hanya tertawa pelan. Aku tahu maksud dia adalah melarang aku untuk tidak memasukkan sambal terlalu banyak ke dalam mangkuk.
Pernikahan Mas Ikhsan dan Teh Kinan berlangsung seminggu lagi untuk akadnya. Tepatnya hari Sabtu. Sudah pasti akad dan resepsi sesi pertama akan dilaksanakan di Bandung. Dan itu berarti hari Kamis nanti aku dan keluargaku akan pergi ke Bandung. Termasuk Bunda Ratih dan Ayah Danu, suami Bunda.
Keluarga sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahan Mas Ikhsan. Oleh sebab itu mereka mempercayai Rasyid untuk mengantarkan aku pulang. Hebat ya, Rasyid? Dia bisa mendapatkan kepercayaan dari kakak dan orangtuaku setelah kepercayaan mereka di hancurkan oleh Mas Angga. Aduh! Bahas dia lagi. It's oke. Tak apa. Akan aku ceritakan sedikit tentang dia disini.
Dulu Mama dan Papa sempat bertanya kenapa mendadak aku ingin kuliah di Surabaya. Waktu itu aku hanya menjawab kalau aku ingin mencari pengalaman dan suasana baru.
Tapi yang namanya orangtua, selalu tahu kalau ada yang disembunyikan oleh anaknya. Apalagi saat itu aku mendadak mengganti nomor ponsel.
Akhirnya dengan desakan penuh drama, aku menceritakan semuanya. Termasuk dengan pertunangan Mas Angga dengan kak Devina. Haduh.. Mengingat hal itu rasanya pentol yang makan seperti berhenti di tenggorokan.
Respon Papa dan Mama saat mendengarnya tentu saja kaget, kecewa, dan entahlah. Aku tak mengerti. Tapi aku menjelaskan bahwa aku sudah ikhlas dengan semua yang terjadi. Dan akhirnya mereka tak lagi membahas soal Mas Angga.
"Sudah? Melamun terus dari tadi," suara Rasyid memecah keheningan yang aku ciptakan.
"Sudah," jawabku singkat sambil mengelap bibirku dengan tissue.
"Sudah siap bertemu dengan orang-orang di masa lalu?"
Deg! Bertemu dengan orang-orang di masa lalu?
Aku menatap Rasyid dengan tatapan tak mengerti. Sedangkan Rasyid tertawa penuh kemenangan karena berhasil membuatku seperti orang bodoh.
"Rese'. Udah bayar dulu sana!" Perintahku. Kalau sedang bersama Rasyid, aku selalu bisa berhemat uang jajan. Haha.
Rasyid kembali menjalankan mobilnya. Melewati jalan tembus yang berkelok-kelok namun menyajikan pemandangan yang tak kalah indahnya.
Inilah salah satu alasanku kenapa aku mengajak Rasyid melewati Magetan daripada Sragen. Lebih adem, sejuk, dan bisa melihat pemandangan alam.
Mataku berbinar saat mobil Rasyid mulai memasuki kawasan Karanganyar kota. "Halo, Karanganyar! Long time no see," gumamku dalam hati.
Ya, sudah satu setengah tahun aku tak pulang ke rumahku. Lebaran dan liburan aku nikmati bersama anak-anak panti. Papa dan Mama selalu datang ke Surabaya. Untuk hari lebaran, dari Surabaya kami langsung terbang ke Bandung.
Aku begitu menikmati kota yang tak banyak berubah ini. Taman Pancasila, alun-alun Karanganyar, masjid Agung, semua masih sama seperti dulu. Hanya bertambah beberapa bangunan baru seperti gedung dakwah dan juga beberapa perumahan.
__ADS_1
Tak lama kemudian mobil Rasyid mulai memasuki halaman rumahku. Papa dan Mama sudah menyambut ku di teras rumah.
"Assalamualaikum," sapaku riang setelah aku turun dari mobil diikuti Rasyid di belakangku.
"Waalaikumsalam," jawab Papa dan Mama bersamaan. Aku langsung menghambur memeluk keduanya. Orang yang paling aku rindukan karena sudah empat bulan lebih aku tak bertemu dengan mereka.
"Apa kabar kalian?" Tanya papa kepadaku dan tentu saja kepada Rasyid.
"Baik, om, Alhamdulillah," jawab Rasyid.
"Baik, Pa," susulku.
"Masuk dulu, kita makan bersama. Mama udah masak makanan kesukaan Hana," ajak Mama sambil menggandeng tanganku. Sedangkan Rasyid dan papa berjalan di belakang kami.
"Waaahh..." Mataku berbinar melihat jajaran makanan dan cemilan kesukaanku. Ada bakso, ayam goreng, tempe mendoan, sekotak donat berisi sepuluh, sekotak brownies yang masih utuh, dan masih banyak cemilan ringan lainnya. "Mama mau bikin Hana gendut?" Tanyaku berpura-pura tak suka.
"Kamu makan seberapapun juga nggak akan gendut. Ini nanti nggak sampai besok udah ludes," goda Mama disusul tawa oleh Rasyid dan Papa.
Oh iya, Mas Ikhsan sudah pergi ke Bandung sejak seminggu yang lalu. Sebagai pengantin, Mas Ikhsan harus banyak mempersiapkan segala sesuatunya yang harus dilakukan berdua dengan Teh Kinan.
Seperti foto prewedding. Iyalah, masak foto prewedding pengantinnya berjauhan? Kan nggak seru! Lalu fitting baju pengantin. Dan yang lainnya. Aku tak cukup mengerti persiapan mereka karena aku belum pernah mengalaminya.
Setelah selesai makan dan berbincang sebentar, Rasyid pamit undur diri. Rasyid berpamitan untuk pulang. For your information, rumah Rasyid itu daerahnya sebelum Karanganyar kota. Bahkan kami melewati perumahannya dan Rasyid memilih mengantarkan aku terlebih dahulu daripada pulang ke rumahnya.
"Rasyid..!!" Panggilku sesaat sebelum Rasyid masuk ke dalam mobil. Aku berjalan cepat menuju tempat Rasyid berdiri lalu memberikan sebuah paper bag. Rasyid mengernyitkan keningnya seolah bertanya, "ini apa?".
"Seragam keluarga buat kamu."
"Serius?" Tanyanya tak percaya. Aku mengangguk kuat.
"Thanks, ya?" Ucapnya senang. "Aku pulang dulu. Kamu istirahat sana!" Lanjutnya.
"Oke. Makasih, ya, udah ngantar aku? Kamu hati-hati," pesanku sebelum akhirnya Rasyid masuk ke dalam mobil dan benar-benar pergi meninggalkan rumahku.
***
"Sah?"
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah..."
Semua yang hadir serempak mengucapkan hamdalah atas ijab qobul yang telah Mas Ikhsan ucapkan. Aku begitu terharu melihat Mas Ikhsan bersanding dengan Teh Kinan. Orang yang sudah tiga tahun ia pacari.
Mas Ikhsan terlihat begitu gagah dengan setelan jas berwarna hitam yang begitu pas membentuk tubuhnya. Teh Kinan juga terlihat begitu cantik dengan kebaya berwarna putih dan juga hiasan pengantin khas Sunda.
Aku senang sekaligus terharu menyaksikan momen sakral di dalam hidup Mas Ikhsan dan Teh Kinan. Setelah perjalan panjang mereka yang aku yakini juga tak mudah, akhirnya mereka bisa bersama.
Lebih senang lagi karena aku tahu bahwa Teh Kinan akan tinggal di Karanganyar mengikuti Mas Ikhsan. Alhamdulillah, itu artinya Mama tak kesepian lagi. Ada teman buat ghibah. Ups! Haha.
Melihat Mas Ikhsan yang kini sudah mengambil alih tanggungjawab kedua orangtua Teh Kinan atas hidup Teh Kinan, membuatku begitu merasa bangga. Apalagi mengingat pesan Mas Ikhsan sehari sebelum akad yang ia sampaikan padaku.
"Besok Mas sudah bertanggungjawab atas hidup anak gadis orang, Na. Itu artinya Mas Ikhsan nggak bisa jagain kamu seperti dulu lagi," ucapnya.
Aku menatap tak percaya pada Mas Ikhsan. "Mas mau ninggalin aku dan ngebiarin aku begitu aja?" Tanyaku.
Ku lihat Mas Ikhsan menghembuskan napas kasar. "Maksud Mas itu, Mas tetap jagain kamu. Tapi nggak bisa seperti yang kemarin saat kamu menjadi prioritas utama Mas. Karena nanti ada Kinan yang juga harus Mas jaga. Tapi kamu harus percaya, meskipun Mas sudah punya istri, tapi rasa sayang Mas buat adik Mas satu ini tidak akan pernah berkurang sedikitpun," jelasnya.
Aku tak tahu kenapa suasana menjadi sangat mengharukan seperti ini. Mas Ikhsan belum juga menikah tapi aku sudah merasa kehilangan dia. Aku yakin kasih sayang Mas Ikhsan untukku tidak mungkin berkurang. Tapi sekarang aku tak bisa lagi sebebas dulu untuk berkeluh kesah kepadanya.
"Iya," aku mengangguk mengerti. "Aku mengerti, Mas. Itu kan artinya Hana harus lebih mandiri lagi,", lanjut ku sok bijak.
__ADS_1
"Bagus, deh," Mas Ikhsan mengacak rambutku yang tak tertutup jilbab karena aku melepasnya saat didalam kamar. Kemudian Mas Ikhsan memelukku. Aku membalas pelukannya dan menangis pelan di pelukan Mas Ikhsan.
***
"Ciye.. Pengantin baru," godaku iseng pada Teh Kinan yang kini sedang dirias ulang untuk riasan saat resepsi yang akan di gelar dua jam lagi.
Teh Kinan tersenyum sedikit malu-malu. Pipinya sampai memerah. Bukan efek blush on, loh!
"Ciye.. Yang udah move on," balasnya.
"Ih, Teh Kinan!"
"Awh!" Keluh Teh Kinan pelan saat aku mencubit lengannya pelan. "Ciye.. Salah tingkah, ciyee.." Teh Kinan masih saja menggodaku.
"Teh Kinan berhenti nggak? Kembangnya aku bawa pulang nih?" Ancamku sambil mencoba memegang ronce bunga melati yang digunakan sebagai hiasan kepala Teh Kinan.
"Neng, jangan di pegang-pegang itu bunganya!" Tegur salah satu perias Teh Kinan. Aku langsung melepasnya begitu saja dan tersenyum kikuk. Sedangkan Teh Kinan cekikikan melihatku.
"Biar apa, sih, bawa pulang bunganya? Biar cepet nikah juga? Kuliah yang bener dulu, Bu dokter."
"Aamiin.." aku mengaminkan.
"Aamiin buat yang mana dulu nih?" Tanya Teh Kinan yang langsung membuat aku tersadar dengan beberapa pertanyaan Teh Kinan sebelum ini.
"Maksudku yang Bu dokter tadi, Teh. Aamiin.. Insyaallah nanti jadi dokter," jawabku salah tingkah. Aku tidak salah, kan? Ucapan adalah doa. Dan aku mengaminkan ucapan Teh Kinan yang mengucapkan kata Bu dokter.
"Udah siap belum?" Tanya Teh Kinan tiba-tiba. Aku menatapnya dengan pandangan tak mengerti.
"Siap apanya, Teh?"
"Siap belum buat bertemu sang mantan?" Tanyanya lagi. Dan aku masih saja tak mengerti dengan ucapannya.
"Maksud Teh Kinan?"
"Mas Ikhsan belum cerita?" Aku menggeleng kuat.
"Cerita apa?"
"Di acara ngunduh mantu di Karanganyar Mas Ikhsan mengundang Angga."
"Hah?"
Aku hanya melongo mendengar ucapan Teh Kinan. Kenapa aku tak sadar kalau sudah pasti Mas Angga akan datang ke pernikahan Mas Ikhsan. Mereka kan berteman?
Jujur, aku tak menyadarinya sama sekali. Bahkan jauh-jauh hari sebelum ini pun aku tak pernah memikirkannya.
Apakah ini sudah waktunya aku untuk bertemu lagi dengannya?
Siapkah aku?
Bagaimana kalau ternyata dia datang bersama kak Devina? Apalagi kalau kemungkinan besar mereka juga sudah menikah.
Apa aku harus sembunyi?
Apa aku siap berhadapan dengannya lagi?
Aku berharap di saat acara ngunduh mantu Mas Ikhsan nanti, Mas Angga sedang ada acara. Jadi dia tidak akan datang dan kami tidak akan bertemu.
Bukankah lebih baik begitu?
πΉπΉπΉ
Oke. Bocoran sedikit, Next part Angga - Hana akan bertemu. Horeeee ππ
__ADS_1
Team Hana - Rasyid mana suaranya? βοΈπ
Team Hana - Angga mana? βοΈπ