
POV : HANA
Hari ini Pak Angga terlihat begitu aneh. Pertama, untuk pertama kalinya Pak Angga tidak keluar tanduknya saat aku menumpahkan minuman dan mengenai bajunya.
Suaranya begitu tenang saat menghentikan ku yang mengelap bajunya menggunakan tissue. Untuk formalitas saja sebenarnya. Karena hanya dengan tissue tidak mungkin baju akan kering dengan cepat, apalagi menghilangkan noda es jeruknya.
Kedua, saat Pak Angga mendampingi rapat anggota OSIS, Pak Angga lebih banyak senyum dan berbicara dengan santai. Aku sempat melongo dibuatnya.
Kemana perginya Pak Angga yang cuek, dingin, datar, dan menyebalkan?
Ketiga, Pak Angga menemaniku menunggu hujan reda setelah selesai rapat. Meminjamkan handphonenya untuk menghubungi papa dan mama. Dan sialnya, mereka tak bisa menjemputku. Hari sudah sore. Sudah pasti angkutan umum akan susah didapatkan. Hujan pun tak kunjung reda.
Dan yang lebih mencengangkan, Pak Angga nekat mengantarkan aku pulang meskipun aku sudah menolaknya.
Tak hilang akal, Pak Angga menarik tanganku dan membawaku berlari menuju parkiran mobil. Berkali-kali aku teriak memintanya untuk melepaskan tanganku. Tapi Pak Angga seolah tuli. Sama sekali tak menggubris teriakan ku.
Sekuat tenaga juga aku mencoba untuk melepaskan tanganku dari genggamannya. Tetapi tenagaku tak cukup kuat untuk melawan kuatnya cengkeraman tangan Pak Angga.
Akhirnya, dengan terpaksa aku menurutinya.
Sepanjang perjalanan kami diam. Pandanganku terus memandang ke luar jendela mobil. Aku hanya berbicara saat Pak Angga bertanya dimana rumahku.
Sejujurnya aku deg-degan berada dalam satu mobil dengan guru yang diidolakan siswi satu sekolah ini. Kecuali aku tentunya.
Untung saja saat Pak Angga menarik tanganku tadi, tak ada siswa yang melihatnya. Entah apa jadinya besok kalau sampai ada yang tahu. Bisa-bisa aku jadi bulan-bulanan fansnya.
Sesekali kami saling melirik. Mengalihkan pandangan saat tak sengaja tatapan kami bertemu. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.
Aku sempat meminta untuk turun di halte. Tapi Pak Angga malah menambah kecepatan mobilnya saat melewati halte. Menyebalkan.
Aku juga memintanya untuk menurunkan aku di depan gang menuju rumah. Tapi tetap saja Pak Angga tak menuruti permintaanku.
Setelah mengucapkan terima kasih, aku membuka pintu mobil dan langsung berlari dibawah air hujan menuju pelataran rumah.
Aku tak menunggu jawabannya, apalagi menunggunya pergi dari sini.
Aku bersandar pada pintu setelah aku menutupnya. Jantungku berdebar kencang. Karena efek berlari atau karena dekat dengan Pak Angga. Entahlah.
Pak Angga baru saja menyalakan mobilnya saat aku mengintipnya dari jendela. Segera ku tutup gorden saat Pak Angga melihat ke arahku.
Kan.. jadi ketahuan ngintip-ngintip Pak Angga. Maluuuu....
__ADS_1
"Ngapain berdiri disitu?"
"Mama.. Ngagetin Hana, ih."
"Diantar siapa kamu, Na?" Tanya mama penuh selidik.
"Ehm.. Guru Hana, Ma. Sekalian katanya. Searah," jawabku gugup.
"Guru apa guru?" Mama malah menggodaku.
"Emangnya boleh kalau lebih dari guru?" Aku membalas menggoda Mama.
"Jangan coba-coba, ya!" Jawab mama ketus sambil berlalu menuju dapur.
"Hahaha," tawaku terhenti karena teringat sesuatu. "Katanya Mama lagi di solo dan enggak bisa jemput? Bohongin Hana, ya?"
"Mama enggak bohong, Na. Mama juga baru pulang ini. Itu mobil juga masih basah,"
"Kenapa enggak langsung ke sekolah jemput aku?"
"Kan mama pikir kamu udah pulang, Na. Ternyata bener, kan? Coba tadi mama kesana dulu, kamunya pasti juga udah enggak disekolah. Udah diantar Pak guru, kan?"
"Ih, sebel!!"
"Hahaha,"
πΊπΊπΊ
Ujian akhir akan dilaksanakan selama dua minggu. Mulai dari ujian tertulis, ujian lisan, dan ujian praktek. Hari ini sudah hari ke sepuluh. Kebetulan hari ini adalah jadwal ujian praktek olahraga.
Olahraga. Yah, mata pelajaran Pak Angga. Dan tidak tahu kenapa Pak Angga menjadikan aku sebagai asistennya.
Diminta untuk membawakan bola basket dari gudang ke tengah lapangan. Kembali lagi mengambil bola voli, begitu seterusnya sampai alat-alat yang dipakai untuk ujian lengkap dihadapan para siswa.
"Aku bantuin," tiba-tiba saja Denis mengambil bola-bola basket yang aku bawa.
"Eh, enggak usah. Aku bisa, kok," ucapku canggung.
"Udah, enggak apa-apa," Denis tersenyum manis. Sangat manis, sampai rasanya gula darahku naik drastis. Lemas. Ish, lebay!
Kami berjalan beriringan menuju lapangan. Suasana canggung begitu menyelimuti kami.
__ADS_1
For your information, Denis adalah salah satu dari sekian banyak cowok disekolah ini yang dengan nekatnya menyatakan cintanya padaku.
Huhu.. percaya diri sekali kamu, Na!
Memang nyatanya begitu. Tapi semuanya ku tolak. Bukannya aku sombong, jual mahal, atau apa. Aku hanya tak ingin fokus ku kepada pendidikan terganggu.
Banyak yang bilang, 'meskipun kami pacaran, tapi pendidikan tetap yang utama buat kami'.
Tidak percaya! Coba diputusin, diselingkuhi, pasti memikirkannya tak berhenti tujuh hari tujuh malam. Belajar tidak fokus, ujian tidak bisa mengerjakan. Akhirnya, nilai anjlok.
Masih bisa bilang pendidikan yang utama?
Aku tidak memungkiri bahwa ada yang berbeda dengan perasaanku ketika berdekatan dengan Denis seperti ini.
Dia baik, pintar, dan ganteng. Banyak juga cewek-cewek yang mengantri untuk menjadi pacarnya. Bukan hanya dari satu sekolah, tapi juga dari sekolah lain.
Denis berjalan di sampingku. Sesekali ucapannya mampu membuatku tersenyum, bahkan tertawa.
Setelah pernyataan cintanya sebulan yang lalu, ini pertama kalinya kami bisa berbicara leluasa seperti ini.
Aku bersyukur, penolakan ku waktu itu tak berujung dengan permusuhan.
Menunggu namaku dipanggil untuk ujian, Denis kembali duduk didekat ku, dibawah pohon mangga dipinggir lapangan.
"Ujian kemarin bisa jawab semua?" Tanyanya memecah keheningan diantara kami.
Sebenarnya di sebelah kanan dan kiri ku banyak siswa yang juga menunggu giliran. Tapi sepertinya mereka tak memperdulikan aku dan Denis yang duduk berdekatan. Begitu juga dengan Karina dan Lila yang justru sibuk mengangumi Pak Angga.
"Alhamdulillah, bisa." Jawabku disertai dengan kekehan pelan.
"Percaya kalau kamu bisa. Sambil merem aja kayaknya gampang aja," dia tertawa. Aku pun ikut tertawa.
"Kamu bisa aja. Kamu pasti juga gitu, kan?" Dia menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
Denis sebenarnya adalah sainganku dalam meraih juara pertama. Setiap semester pasti kami selalu rebutan juara. Bisa aku yang pertama, bisa juga dia yang pertama.
Kadang semester satu dia juara satu, semester dua dia bisa juara dua. Kadang selalu juara satu walaupun selisih nilai diantara kami begitu tipis.
"Hey, yang dibawah pohon mangga!! Mau ujian apa mau pacaran!?"
πΊπΊπΊ
__ADS_1
thank you ππ jangan lupa votenya π€