Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 70


__ADS_3

Angga memarkirkan mobilnya di garasi rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang. Matanya memicing melihat keadaan rumah yang masih gelap. Lampu depan bahkan lampu dalam rumah tidak ada satupun yang menyala.


"Kemana Hana? Perasaan tadi bilangnya udah dirumah." Gumamnya pelan sambil menutup pintu mobil.


Angga membuka pintu rumah yang terkunci menggunakan kunci cadangan yang selalu ia bawa.


"Hana?" Panggilnya. Hening, tak ada jawaban.


"Sayang, Mas pulang." Angga sedikit mengeraskan suaranya. Namun lagi-lagi tak ada jawaban.


Setelah menghidupkan semua lampu rumah, Angga berjalan menuju kamarnya bersama Hana. Keadaan di dalam kamar sama gelapnya. Namun ia masih dapat melihat bahwa tubuh Hana sedang meringkuk di bawah selimut tebal.


Angga menghembuskan napas lega. Bersyukur bahwa Hana berada di dalam rumah dan sedang tidur. Angga pikir Hana masih di luar atau mungkin ada keperluan lain.


"Sayang.." Angga mengusap pelan dahi Hana untuk membangunkannya. Hana terlihat begitu pulas dalam tidurnya.


"Hana.. bangun, yuk. Udah maghrib."


"Emmh..." Hana mulai bergerak. Matanya memicing untuk menyesuaikan cahaya lampu yang sudah dinyalakan oleh Angga.


"Maghrib dulu, yuk.."


"Eh? Udah maghrib, Mas?" Hana mulai bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di kepala ranjang untuk mengumpulkan nyawanya. "Ya Allah.. maaf Hana ketiduran. Mas Angga baru pulang?"


Angga mengangguk. "Iya, kamu udah mandi?"


"Udah, dong." Keduanya tertawa pelan. Angga mengacak pelan rambut Hana. "Mas mandi dulu, habis itu kita jama'ah, ya? Mau ke masjid kayaknya udah telat."


Hana mengangguk. Angga beranjak dan berjalan memasuki kamar mandi. Sedangkan Hana memutuskan untuk berwudhu di kamar mandi lain setelah sebelumnya menyiapkan pakaian ganti untuk Angga.


***


Hana menyalami dan mencium tangan Angga sedangkan Angga mencium kening Hana setelah mereka selesai sholat berjamaah. Hal yang selalu mereka lakukan usai sholat berjamaah.


"Ada yang sedang kamu pikirkan?"


Hana mendongak dan matanya bertubrukan dengan mata Angga.


Bukan tanpa alasan Angga bertanya akan hal itu. Pasalnya, sebelum membangunkan Hana, Angga menemukan jejak-jejak air mata di wajah Hana. Mata Hana juga terlihat sembab dan hidungnya yang sedikit memerah. Hana juga terlihat banyak diam dan lebih murung.


Hana tak menjawab. Namun Hana bergerak mengambil sesuatu yang sejak tadi ia kantongi. Sebuah tespeck yang ia pakai untuk mengecek urine-nya.


Angga mengernyit bingung menerima benda yang diberikan oleh Hana. Ia masih menatap tespeck tersebut sebelum akhirnya ia memeluk erat tubuh Hana.


🥀🥀🥀


Entah harus merasa kecewa atau bahagia ketika pagi harinya ia mendapati dirinya tengah datang bulan. Ia memang belum berharap untuk hamil secepatnya. Namun entah kenapa ia merasa sedikit kecewa karena hal yang berhari-hari ia tunggu telah datang.


Semalam Angga meyakinkannya bahwa bisa saja hasil test tersebut negatif karena di cek pada sore hari. Aturan pada petunjuk pemakaian di pakai di pagi hari. Dengan optimisnya Angga menyuruh untuk kembali mengecek esok hari.

__ADS_1


"Kok nggak mandi?" Tanya Angga heran saat Hana keluar dari kamar mandi dan langsung kembali bergelung dengan selimutnya. Isakan kecil lolos dari bibir Hana.


"Hey, kenapa, sayang?"


"Aku haid."


Angga tersenyum dan langsung memeluk Hana. Ia mengusap kepala Hana untuk menenangkan Hana. Ia membiarkan Hana untuk menangis melepas segala yang ia rasakan.


"Maaf." Ucap Hana di sela isakannya.


"Kenapa minta maaf? Kamu nggak salah, sayang." Angga mencoba menguatkan meski hatinya sendiri merasa sedikit kecewa. Namun ia berusaha menutupi karena kalau ia juga merasa sedih, sudah pasti Hana akan bertambah sedih dan merasa bersalah.


"Aku yang salah, Mas. Kemarin-kemarin aku berdoa agar aku tidak hamil. Nggak tahunya Allah mengabulkan doaku. Mas Angga pasti kecewa sama aku."


"Nggak ada yang salah dan disalahkan, sayang. Semua sudah Allah tentukan. Mungkin kemarin kamu telat itu karena kamu terlalu stres memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Mas nggak marah apalagi kecewa. Karena Mas tahu itu semua bukan kuasa kita. Ambil hikmahnya saja, mungkin Allah mau kita pacaran dulu. Sambil kita mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak kita nanti."


Setelah mendengar ucapan Angga, hati Hana merasa sedikit tenang. Angga mengurai pelukannya dan menghapus jejak-jejak air mata di pipi Hana.


"Jangan nangis lagi, ya? Mas sholat dulu ke masjid." Hana mengangguk.


Sebelum Angga beranjak, Angga berbisik pelan di telinga Hana. "Nanti setelah selesai haid, kita bisa usaha lagi. Non stop."


"Iiihhh.. Mesum!!"


Angga tertawa dan berlari keluar kamar.


🥀🥀🥀


Pernikahan Angga dan Hana kini sudah memasuki tahun ke tujuh. Kini Hana sudah menjadi seorang dokter spesialis kandungan termuda yang bekerja di salah satu rumah sakit besar di Surakarta.


Usaha yang Angga rintis sejak ia masih bujangan sekarang juga sudah mulai besar bahkan sudah memproduksi baju dan memiliki brand sendiri. Sudah setahun Angga kembali mengajar di salah satu SMA favorit di Karanganyar.


"Ilmu itu harus di sebarkan, sayang. Mas punya ilmu dan sayang sekali kalau tidak di manfaatkan dan di ajarkan." Itu jawaban Angga setiap Hana bertanya kenapa Angga kembali mengajar. Padahal dia sudah sangat mapan dan mempunyai usaha sendiri. Tinggal ongkang-ongkang kaki, uang sudah mengalir ke rekening pribadi.


Namun Hana tak bisa melarang kalau Angga punya keinginan seperti itu. Lagipula apa yang di lakukan Angga itu adalah hal yang mulia. Mengamalkan ilmu yang ia miliki. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya. Selama masih bernapas dan masih mampu, jangan pernah berhenti untuk menebar manfaat kepada sesama.


Rumah tangga mereka terlihat bahagia meskipun belum ada anak diantara mereka. Berkali-kali mereka memeriksakan diri dan mereka dinyatakan sehat. Hanya saja Allah belum mempercayakan pada mereka untuk memiliki seorang anak.


"Bayi tabung saja, Nduk, biar cepat hamil." Saran Ningsih saat ia dan suaminya berkunjung ke rumah Angga dan Hana yang berada di sebuah perumahan elit.


"Kami sehat, kok, Bu. Memang belum dikasih saja sama Allah." Jawab Angga sebelum Hana merasa bahwa orangtuanya terlalu memaksa Hana untuk segera hamil.


"Bener, kan, selama ini kalian nggak menunda kehamilan?" Tanya Ningsih curiga.


"Benar, Bu. Kami tidak pernah KB atau memakai alat kontrasepsi apapun."


Perihal anak bukan lagi menjadi masalah besar bagi mereka kendati mereka sudah sama-sama menginginkannya. Mereka hanya fokus berdoa dan berusaha.


🥀🥀🥀

__ADS_1


Hana memakai pakaian kebanggaannya sebagai dokter yang berwarna putih itu sebelum melakukan visit ke kamar rawat inap pasiennya. Sebelumnya Hana sudah melakukan empat operasi caesar untuk mengeluarkan kehidupan baru ke dunia. Hal yang selalu membahagiakan bagi Hana saat mendengar tangis bayi begitu melengking saat ia baru saja di keluarkan dari rahim ibunya.


"Pagi, ibu. Bagaimana keadaannya?" Tanya Hana ramah kepada salah satu pasien.


"Pagi, dok. Alhamdulillah sudah lebih baik."


Hana tersenyum sambil membaca rekam medik yang di bawa oleh perawat.


"Sudah bisa duduk ya, Bu?" Tanya Hana sambil menempelkan stetoskop di dada pasiennya.


"Sudah, dok."


"Semua bagus, Bu, Alhamdulillah. Ikuti instruksi perawat ya, Bu. Belajar duduk, lalu belajar berjalan. Bayinya sudah mulai menyusu, Bu?" Tanya Hana sambil membelai pipi halus seorang bayi yang sedang tertidur di dalam box bayi.


"Alhamdulillah sudah, dok. Hanya saja ASI-nya belum deras."


"Enggak apa-apa. Semakin sering menyusui, ASI akan semakin banyak. Yang optimis ya, Bu. Saya permisi dulu."


"Terimakasih, dok."


Tanpa Hana sadari, Angga memperhatikan semua gerak Hana. Hana yang begitu lembut, sabar dan juga telaten dalam menangani pasiennya. Senyum manisnya tak pernah lepas ketika berhadapan dengan para pasien.


Hana tersenyum mendapati sang suami berdiri tegak di depan pintu. Beruntung pasien yang baru saja ia cek adalah yang terakhir hari ini sebelum ia memasuki ruang USG untuk melayani para ibu hamil atau ibu yang mempunyai keluhan untuk periksa.


"Sudah lama, Mas?" Tanya Hana sambil menyalami dan mencium tangan Angga.


"Belum. Tadi pas mau ke ruangan kamu dokter Danu bilang kamu lagi visit. Ya sudah Mas susul."


Keduanya bergandengan tangan berjalan menuju ruang USG. Hari ini Angga tidak pergi mengajar karena sekolah libur. Hari pertama Ramadhan sampai hari ke empat biasanya sekolah-sekolah akan di liburkan.


Banyak pasang mata memandang keduanya dengan perasaan takjub. Yang perempuan sangat cantik dalam balutan hijab panjang dan jas dokternya, yang laki-laki terlihat tampan dan kekar dengan celana jeans di padukan dengan kemeja berwarna navy dan digulung sampai siku.


"Ada berapa yang mau periksa, sus?" Tanya Hana pada suster bagian pendaftaran di poli kandungan.


"Hari ini ada lima belas, dok."


Hana mengangguk kemudian memandang Angga. "Mas mau nunggu disini atau gimana?"


"Nunggu disini saja enggak apa-apa?"


"Enggak apa-apa, Mas. Aku kerja dulu, ya? Nggak lama, kok."


"Oke, sayang." Angga mengecup singkat pelipis Hana dan mengusap kepala Hana pelan. Hal itu tak luput dari pandangan para suster dan juga pasien yang sedang mengantri. Hana malu dibuatnya. Apalagi saat beberapa dari mereka terang-terangan menggoda keduanya. Pipi Hana semakin memerah seperti kepiting rebus.


🥀🥀🥀


ada yang baper nggak? wkwkwk. aduh, kayaknya mau di tamatin aja ceritanya. 😂😂


pada setuju enggak? 🤣

__ADS_1


__ADS_2