
Hana dan Angga memandang bahwa hati mereka yang berada dalam dekapan Hana. Bayi mungil itu menyusu dengan kuat. Setelah dokter Renata membersihkan bayi mereka, dokter memberikan bayi mereka kepada Hana untuk melakukan inisiasi menyusui dini.
"Bayinya sehat, ganteng sekali. Berat badan 3,5 kg, panjang 51cm. Lengkap dan sempurna," ucap dokter Renata dan disambut senyum haru Hana dan Angga.
Bayi laki-laki itu benar-benar tampan. Berkulit putih kemerah-merahan dan memiliki pipi yang gembul. Ketampanan Angga, kecantikan Hana dan juga putih kulit Hana menyatu dalam tubuh bayi mereka.
"Ganteng." Ucap Hana dengan mata yang berbinar.
"Kayak ayahnya, ya?" Angga menimpali dengan percaya diri.
Hana terkekeh dan mengangguk kuat. Keturunan dari siapa lagi kalau bukan dari ayahnya.
"Tapi mirip sama ayah, ya, dek?" Ucap Angga yang di balas anggukan oleh Hana.
"Iya, loh. Ini Hana yang hamil, Hana yang bawa dia sembilan bulan, Hana yang nglahirin kenapa pas lahir mirip bapaknya, sih?"
Ucapan Hana disambut tawa dari Angga, Renata dan juga beberapa perawat yang membantu persalinan Hana.
"Katanya kalau bayi baru lahir bisa berubah-ubah, Dok." Dita, perawat itu masih saja memanggil Hana dengan sebutan dokter. Padahal Hana sudah melarangnya.
"Berubah-ubah bagaimana, mbak Dita?" Tanya Hana tak mengerti.
"Iya gitu, Dok. Nanti gedean sedikit berubah jadi mirip ibunya, atau kakeknya, atau neneknya."
"Yang penting bukan tetangganya, ya, Dit?" Semua tertawa pelan mendengar ucapan dokter Renata yang menyela ucapan Dita yang cerewet itu. Walaupun waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari namun tak membuat dokter Renata, atau dua perawat yaitu Dita dan Rani terlihat lelah.
***
Keesokan harinya, tepat pukul sebelas siang, Hana sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Karena persalinan Hana berlangsung secara normal, jadi Hana tidak perlu dirawat berhari-hari di rumah sakit. Hanya diminta untuk kontrol seminggu kemudian.
"Pelan-pelan, sayang."
Angga membantu Hana turun dari dalam mobil dan membantunya berjalan memasuki rumah. Bayi mereka ada di gendongan Widia.
Didalam rumah sudah ada Kinan dan Ikhsan, Anggi dan Damar, lalu kedua mertuanya. Semua menyambut kehadiran anggota baru dalam keluarga mereka dengan penuh kegembiraan.
"Jadi namanya siapa?" Tanya Anggi mengalihkan perhatian mereka.
Angga dan Hana saling berpandangan lalu tersenyum. "Nanti aja sekalian pas aqiqah kita kasih tau namanya."
"Yaaahhh..." Semua orang mendesah kecewa karena Angga dan Hana masih merahasiakan nama jagoan baru mereka.
🥀🥀🥀
Malam-malam berikutnya, Angga menjadi ayah dan suami yang siaga. Ketika jagoan mereka menangis karena popoknya telah penuh, dengan sigap Angga menggantinya.
Pun ketika bayi mereka sedang kehausan. Angga rela menemani Hana yang terjaga karena harus menyusui anak mereka. Terkadang ia memijat pelan punggung dan pundak Hana saat bayi mereka tak kunjung menyelesaikan acara menyusunya. Dimana sekali minum ASI bisa satu sampai dua jam lamanya.
"Ayah tidur aja enggak apa-apa. Besok, kan, harus kerja." Mereka membiasakan diri untuk saling memanggil ayah dan bunda jika didepan anak mereka sekalipun bagi mereka sedang tidur.
__ADS_1
"Ayah temenin kalian dulu enggak apa-apa, kok."
Hana tersenyum. Dalam hati ia sangat bersyukur telah di beri anugerah seorang suami yang begitu luar biasa seperti Angga.
**
Hari yang di nanti pun tiba. Setelah berusia satu minggu, Angga dan Hana mengadakan acara aqiqah untuk anak mereka.
Acara diisi dengan pemotongan dua kambing di pagi harinya. Lalu setelah semua matang dan siap dibagikan ke para tetangga dan kerabat. Dan sore harinya diadakan pengajian dan santunan anak yatim dirumah mereka.
"Jadi namanya siapa, dong?" Tanya Anggi tak sabar. Pasalnya, selama seminggu setelah kelahiran bayi Angga dan Hana, mereka hanya memanggilnya dengan sebutan adik bayi atau dedek bayi.
Semua orang tertawa melihat Anggi yang tak sabaran. Mereka juga merasakan hal yang sama. Penasaran.
"Baiklah, karena kakak saya yang satu itu sudah tidak sabar, maka saya akan menyebutkan nama anak kami." Jeda sekian detik. "Nama anak kami, Fatih Azzam Raditya."
Setelah Angga memberikan kata sambutan dan meminta doa untuk Fatih dan juga keluarganya, acara dilanjutkan dengan memotong beberapa helai rambut Fatih yang hitam dan lebat.
🥀🥀🥀
Fatih telah berusia dua bulan. Bayi kecil itu kini tumbuh dengan cepat dan sehat. Tubuhnya juga begitu gembul membuat siapapun yang melihatnya merasa gemas. Hana lebih memilih ASI eksklusif di enam bulan pertama Fatih.
Hana tersentak saat dua buah tangan kekar memeluk perutnya dari belakang. Membuat Hana menghentikan aktifitas mencuci piringnya. Sejak pagi tak ada yang menjaga Fatih karena Bu Parmi sedang merawat anaknya yang sedang sakit. Jadi Hana baru sempat membersihkan rumah setelah Fatih bersama Widia. Beruntung mamanya datang di saat yang tepat.
"Mas Angga nggak salam dulu mau masuk rumah?"
Napas Angga terasa dekat dan terasa panas di tengkuknya. Jantung Hana berdebar kencang. Delapan tahun mereka bersama, namun debaran di hati Hana saat berdekatan dengan Angga tak pernah hilang.
Hana merasa tak enak sendiri karena ia tak menyambut kepulangan Angga dari sekolah karena terlalu sibuk membereskan rumah yang belum sempat ia bereskan.
"Maaf, ya, Mas. Hana beneran nggak denger Mas ngucapin salam."
"It's oke, sayang. Fatih mana?"
"Diajak Mama kerumah, Mas. Nanti sore kita jemput, ya?"
Hana tak khawatir karena ia sudah membawakan berbotol-botol ASIP yang sebelumnya sudah ia simpan di dalam freezer.
"Oke, sayang."
"Istirahat dulu, sayang. Nanti bisa dikerjakan lagi."
Angga mencegah Hana yang akan mencuci piring bekas makan siang mereka.
"Sedikit ini, Mas. Kalau ditunda pasti menumpuk. Sebentar aja, kok."
Angga tak membantah. Kalau Hana sudah berkemauan seperti itu, Angga tak bisa mencegah. Lagi pula ada benarnya, pekerjaan sedikit apabila ditunda dalam mengerjakannya lama-lama akan menumpuk.
Hana menyusul Angga ke kamar setelah selesai mencuci piring. Di lihatnya Angga yang sedang memilih baju ganti di lemari. Hana memeluk Angga dari belakang seraya bertanya, "Mas enggak kangen sama Hana?" Tanya Hana dengan lembut.
__ADS_1
"Banget. Tapi Mas bisa apa kalau kamu saja masih masa nifas?"
"Hana udah mandi keramas, kok, tadi pagi."
Mata Angga terbelalak. Terkejut mendengar ucapan membahagiakan Angga dari Hana. "Serius!?" Pekiknya antusias.
Hana mengangguk dan terkekeh pelan. "Duarius!"
"Kalau gitu kita sholat dhuhur jama'ah kalau begitu." Putus Angga sebelum dia semakin tergoda dengan Hana.
Setelah sholat, keduanya berbaring diatas ranjang sambil berpelukan. Sejak kelahiran anak mereka, mereka jarang memiliki waktu untuk berdua saja sekedar untuk melepas rindu.
Namun kedua orangtua baru itu mencoba saling memahami satu sama lain. Menjadi ibu dan ayah baru membuat mereka belajar hal banyak. Bukan lagi mementingkan ego masing-masing tapi lebih ke memahami satu sama lain.
Angga sendiri tak sungkan berbagi tugas dengan Hana. Mulai dari mengganti popok, menjaga Fatih ketika Fatih bangun padahal tidak sedang meminta ASI.
"Kangen.." Hana merengek manja. Sudah lama ia tak bermanja-manja kepada Angga. Bisa dibilang sejak Fatih lahir. Karena Hana sendiri masih nifas, ia tak berani mendekat dengan Angga. Takut kalau Angga tergoda padahal Hana belum bisa melayaninya.
"Sama, sayang. Selama Fatih lahir belum pernah kita bisa berduaan seperti ini."
Hana semakin mengeratkan pelukannya. Ia kecup pipi Angga singkat.
"Sudah berani menggoda, ya?"
Hana tak malu-malu lagi untuk menggoda Angga. Bukankah menggoda suami sendiri bisa mendatangkan pahala? Dan suami pun akan semakin sayang ketika melihat istrinya menggodanya dan membahagiakan hati dan pandangannya. Rumah tangga pun akan semakin harmonis.
"Berarti sekarang bisa bikinin adik buat Fatih, dong?"
Hana merengut tak terima. "Mas, ih. Hana mau napas dulu. Belum mau hamil lagi." Protesnya kesal.
"Kita lihat bulan depan aja, sayang."
Untuk selanjutnya, Hana membiarkan Angga berbuat semau Angga tentu juga membahagiakan Hana. Keduanya larut dalam rindu yang lama tak tersalurkan. Keduanya saling membisikkan kata cinta dan rindu yang tak ada habisnya.
Maka di akhir kegiatan mereka, Hana berucap pelan. "I love you, Mas Angga. Aku tak percaya bisa terjebak sekian dalamnya pada guru olahraga yang dulunya menyebalkan ini."
Angga terkekeh pelan. "I love you too, mantan murid kesayangan. Aku bahagia kamu bisa terjebak dalam cintaku. Terjebak yang membahagiakan, bukan?"
Hana mengangguk membenarkan. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Angga. Saling mengeratkan pelukan tak ingin terpisah walau sedetik saja.
Keduanya berharap hanya maut yang akan memisahkan mereka.
Hana-Angga.
END
🥀🥀🥀
Diakhir part agak hot tapi dikit ya 😅 jujur aku bingung gimana mau kasih endingnya. jadi begini saja mudah-mudahan bisa suka ya teman-teman.
__ADS_1