
POV : HANA
Sudah seminggu aku berada di Bandung. Itu artinya liburanku di Bandung tinggal seminggu lagi, atau bahkan lebih cepat. Itu semua karena Pak, eh, Mas Angga yang pamer voucher belanja di distronya. Bahkan akan ada diskon khusus buat aku.
Enak banget, ya? Belanjanya pakai voucher, masih dapat diskon lagi. Mudah-mudahan distro baru Mas Angga enggak bangkrut gara-gara aku kalap.
O iya, sekarang aku juga sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan "Mas". Dia juga sudah enggak sakaku kemarin-kemarin yang memanggil dirinya sendiri dengan sebutan "saya" dan sekarang menggantinya dengan "aku".
Aku tak percaya bisa seakrab ini dengan guru yang ku anggap super nyebelin itu. Tapi aku tak mau berbangga hati. Siapa tau bukan hanya aku yang juga akrab dengan Mas Angga seperti ini.
Hari minggu lalu adalah pertemuan terakhir kami. Sebenarnya Mas Angga ingin menemui ku sekali lagi sebelum dia pulang ke Solo. Tapi aku tidak bisa karena sedang menghabiskan waktu bersama kakek dan nenek di Puncak.
Mas Angga kemudian meneleponku, berpesan agar aku berhati-hati di kota orang. Selalu menjaga kesehatan, dan juga.... Memintaku untuk cepat kembali ke Solo. Uhuuyyy..
Soal Mas Ikhsan dan Teh Kinan, aku sudah tau kalau mereka ternyata berpacaran. Bahkan sudah sejak satu tahun yang lalu.
Informasi itu aku dapat dari Teh Kinan yang super duper polosnya mengatakan kalau mereka memang pacaran. Kalau aku langsung tanya pada Mas Ikhsan, sudah pasti Mas Ikhsan tidak akan menjawabnya.
***
POV : ANGGA
Sudah seminggu aku tak melihat Hana. Aku hanya menyapanya lewat pesan singkat di WhatsApp, atau menelponnya sebentar di malam hari. Mendengar suaranya meskipun lewat telepon membuat tidurku terasa nyenyak.
Aku juga mengiming-imingi voucher belanja di distroku yang baru buka kemarin. Menjanjikannya diskon khusus agar dia bisa cepat pulang ke Solo dan aku bisa kembali melihatnya.
Terdengar gila mungkin. Tapi aku benar-benar ingin melihatnya setiap hari.
Aku belum berani mengatakan kalau aku jatuh hati dengan gadis itu. Tapi aku merasa nyaman ketika dekat dengannya. Terasa ada yang kurang kalau aku belum melihatnya. Hariku menjadi lebih berwarna ketika bersamanya. Melihat tingkah manjanya, polosnya, celamitannya, tawanya.
Apalagi besok aku harus kembali ke sekolah untuk mengurus penerimaan siswa baru. Pasti akan terasa sepi tanpa Hana.
Aku ingin terang-terangan menyuruhnya pulang. Tapi aku tak mau kalau sampai Hana tau kalau aku merindukannya.
Ahh.. Angga! Akui saja bahwa kamu mulai ada hati dengan Hana!
"Pak Angga? Wah.. Kebetulan banget Pak Angga disini?"
Seorang gadis seusia Hana menghampiriku yang sedang membantu pegawaiku merapikan baju-baju yang menggantung.
__ADS_1
"Maaf, siapa, ya?" Aku mengerutkan kening mengingat siapa gadis yang wajahnya begitu familiar ini.
"Ih, Pak Angga masak enggak ngenalin saya, sih?" Keluhnya manja. "Saya Vera, Pak!"
"Vera?" Tanyaku mencoba memastikan.
"Vera murid bapak, masak sama murid sendiri lupa sama wajahnya,"
"Ow, iya. Sekarang saya ingat," matanya berbinar mendengar jawabanku. "Mau belanja?" Vera mengangguk antusias. "Ya sudah, silahkan! Semoga banyak yang disuka, ya?" lanjut ku ramah. Hal utama yang harus dipersembahkan untuk pembeli.
"Kita selfie dulu, yuk, Pak!" Vera berjalan mendekatiku. Sedikit menempelkan bahunya ke lenganku, lalu memposisikan ponselnya untuk mengambil gambar kami berdua.
"Buat apa?" Tanyaku yang sempat membuat gerakannya terhenti.
"Buat di-posting di IG, Pak. Followers aku, kan, banyak. Siapa tau mereka pada berminta buat belanja disini," ucapnya ceria.
Usulnya boleh juga. Aku akan sangat senang kalau Vera membantu mempromosikan distroku ini.
"Makasih, Pak. Vera mau pilih-pilih bajunya dulu, ya, Pak?" Ucapnya ceria setelah berhasil mengambil foto berdua kami.
πΉπΉπΉ
Hati Hana terasa panas saat melihat postingan Vera yang menampilkan foto berduanya dengan Angga dengan caption, "Beruntung datang ke @GaleryAngga hari ini, bisa bertemu owner-nya + guru kesayangan".
Dugaannya bahwa dirinya bukan satu-satunya murid yang akrab dengan Angga ternyata benar adanya.
Hana terlanjur bahagia, terlanjur terbang ke langit tapi kemudian dijatuhkan ke dasar jurang. Sakit, kesal, marah, itu sudah pasti. Hana sendiri tidak mengerti kenapa bisa merasakan perasaan seperti itu dengan hanya melihat foto Angga dengan Vera.
Hana melirik ponselnya yang berdering berkali-kali. Nama Angga tertera disana. Tapi Hana enggan untuk mengangkatnya. Hana sedang tidak ingin diganggu apalagi diganggu oleh orang yang menjadi tersangka utama yang membuat mood-nya ambyar.
"Na, ada telepon buat kamu!" Hana begitu terkejut tiba-tiba Ikhsan memberikan ponselnya pada Hana. Saat ini Hana sedang duduk menikmati suasana malam di balkon kamarnya. "Kalau marahan di urus sendiri lah. Jangan ngerepotin orang," gerutu Ikhsan sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Hana melihat nama yang terpampang pada ponsel kakaknya.
Mas Angga?
"Halo?" Ucap Hana enggan.
"Hana.. Sejak tadi aku telponin kamu tapi kamu enggak angkat-angkat. Kamu oke?" Tanya Angga dengan suara yang begitu mengkhawatirkan keadaan Hana.
__ADS_1
"Sudah selesai urusannya sama Vera?" Ucap Hana ketus.
"Maksud kamu apa, Hana?"
"Bapak ngapain telepon ke hp mas Ikhsan segala?"
"Kok manggilnya Bapak lagi? Aku telepon ke hp Ikhsan karena telepon ke hp kamu berkali-kali enggak kamu angkat. Aku khawatir kamu kenapa-napa,"
Hati Hana sedikit senang mendengar penjelasan dari Angga. Tapi egonya masih terlalu tinggi, Hana tak bisa langsung berubah kembali baik kepada Angga.
"Baru ingat setelah puas foto-foto sama Vera?"
"Maksud kamu apa, Hana?"
"Udahlah, Pak. Saya capek mau tidur, enggak usah ganggu saya lagi,"
Angga yang mendengar nada bicara Hana yang begitu ketus menjadi geram sendiri. Awalnya Angga ingin mendengar suara manis dari Hana untuk mengobati rasa lelahnya setelah seharian mengurus distro yang alhamdulilah sangat ramai.
Berkali-kali mencoba menelpon tapi Hana tak kunjung mengangkatnya. Hal itu membuat Angga merasa khawatir dan memutuskan untuk menelpon Ikhsan. Angga bisa bernafas lega saat Hana mau menerima teleponnya meskipun melalui ponsel Ikhsan.
Tapi bukannya sambutan manis yang ia dapatkan, justru ucapan ketus dan judes yang ia terima dari Hana.
"Hana, saya tidak tau salah saya apa. Saya mencoba menelepon kamu karena awalnya saya hanya ingin mendengar suara kamu sebagai obat lelah saya hari ini. Berkali-kali saya mencoba tapi kamu tidak mengangkatnya. Saya begitu khawatir, itu sebabnya saya mencoba menelepon Ikhsan. Saya bersyukur kamu baik-baik saja. Dan saya senang saat kamu mau berbicara dengan saya. Tapi saya tidak menyangka kalau respon kamu seperti ini. Kalau kamu mau saya tidak mengganggu kamu lagi, baiklah, akan saya lakukan. Maaf sudah mengganggu. Selamat malam."
Hana tertegun mendengar penuturan panjang dari Angga.
Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Matanya memanas, tak lama kemudian air matanya sudah berjatuhan dengan derasnya.
Sebenarnya semua akan baik-baik saja kalau mereka bisa saling memahami dan menyadari. Terbuka satu sama lain.
Tapi ego dan emosi lebih mendominasi perasaan mereka saat ini.
πΈπΈπΈ
**pendek dulu, ya. mumpung ide ngalir kek air keran. ππ
happy reading.. semoga suka π
support terus, ya. biar makin semangat nulisnya. π€π€**
__ADS_1