Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 31


__ADS_3

"Kamu sama Pak Angga tadi mirip orang pacaran lagi berantem," celetuk Karina sambil memakan buah mangga hasil petikan Hana. Mereka bertiga masih berada di belakang sekolah. Bedanya, kini sudah tak ada lagi Angga yang kalah berdebat dengan Hana lalu memilih pergi. Siswa yang lain juga sudah banyak yang memilih beristirahat di belakang sekolah.


Hana yang mendengarnya merasa was-was, tapi ia mampu menguasai keadaan. Ia bisa terlihat biasa saja meskipun dalam hatinya merasa tak karuan. Takut diinterogasi.


"Tadi kami sempat mengira kalian pacaran," ucap Lila. Hana menahan napas sebentar. "Tapi kayaknya enggak mungkin," lanjut Lila.


Huhhh.. Hana merasa lega.


"Kenapa?" Tanya Hana mencoba memancing Lila. Bagaimana mungkin mereka bisa berkata kalau Angga tak mungkin berpacaran dengan Hana? Andai mereka tahu yang sebenarnya, kira-kira bagaimana reaksi mereka?


"Iya enggak mungkin. Masak guru pacaran sama muridnya sendiri," jawab Lila enteng. Tidak tahu saja dia kalau hal itu memang terjadi.


"Aku ke toilet dulu," Hana beranjak dan pergi meninggalkan Karina dan Lila.


Setelah menyelesaikan hajatnya, Hana mencuci kedua tangannya di wastafel lalu mengelapnya dengan tisu gulung yang disediakan di dekat wastafel.


Saat Hana hendak keluar, Vera dan kedua temannya menahan langkahnya. Vera menatap Hana tajam. Berjalan pelan mendekati Hana, membuat Hana otomatis memundurkan tubuhnya. Naas, tubuhnya kini sudah membentur dinding toilet.


"Mau apa, Ver?" Tanya Hana dengan santai. Tidak ada ketakutan disana karena memang Hana tidak pernah merasa takut dengan Vera si tukang bully.


"Mau menyelesaikan apa yang belum terselesaikan," ucap Vera yang membuat Hana memutar bola matanya. Bingung.


"Apa?" Tanya Hana tak mengerti.


"Soal kamu yang bisa pulang bareng sama Pak Angga."


Deg! Soal itu lagi. Hana pikir Vera sudah melupakannya. Tapi ternyata belum.


"Jelasin!" Perintah Vera.


"Kenapa aku harus jelasin sama kamu?" Hana mencoba melawan.


"Udah jangan banyak omong__"


Vera mengangkat sebelah tangannya memberi kode pada Ega agar Ega tak ikut campur.


"Jelasin sekarang juga. Atau aku seharian berita itu ke seluruh penjuru sekolah," ancam Vera.


Hana menghela napas jengah. Sebenarnya Hana sudah bersiap untuk hal ini dari jauh-jauh hari. Oleh sebab itu Hana tak harus mencari-cari alasan terlebih dahulu didepan Vera.


"Papaku mau pesan baju untuk karyawan sama Pak Angga atas rekomendasi kakakku. Kakakku itu teman Pak Angga. Papa mau ketemu Pak Angga tapi Pak Angga belum tau dimana rumahku. Akhirnya kakakku menyuruh Pak Angga mengajakku pulang bersama agar Pak Angga tahu dimana rumahku," jelas Hana. Hana tak sepenuhnya berbohong kan? Hanya sedikit membumbui cerita agar lebih meyakinkan.


"Jadi Pak Angga udah kerumah kamu?" Teriak Vera dengan nada tak suka didalamnya.


"Emang kenapa? Udah, ah. Aku mau keluar. Minggir kalian!"


Hana berjalan keluar meninggalkan Vera yang masih memendam amarah. Mendengar Angga sudah memiliki pacar saja sudah membuat hati Vera terasa panas, kini ditambah lagi dengan Angga yang ternyata sudah berkunjung ke rumah Hana, bahkan dekat dengan keluarga Hana.


Vera kalah telak. Dia kalah dari Hana dan juga kalah dari pacar Angga.


***


My Angga : Nanti pulang dijemput Mama, ya? Mas ada urusan. Enggak bisa nganter.


Me : Oke.


Hana mengerucutkan bibirnya setelah membaca pesan dari Angga.

__ADS_1


Walaupun harus bermain petak umpet agar bisa pulang bersama, tapi Hana senang. Hana tak pernah merasa keberatan, malah menikmatinya. Tapi hari ini Angga tak bisa mengantarkannya.


'Biarlah. Mas Angga juga punya banyak urusan.' ucap Hana dalam hati.


***


Angga duduk diatas sofa berseberangan dengan Rajiman, ayahnya. Saat Angga masih disekolah, Rajiman meneleponnya untuk segera pulang karena ada hal yang harus dibicarakan.


"Bagaimana keputusan kamu, Le?" Tanya Rajiman pelan setelah menyesap kopi hitam buatan Ningsih, ibu Angga.


"Apa Angga boleh menolak, Pak?" Angga bertanya balik.


"Bapak sudah menyuruhmu untuk memikirkan secara baik-baik, Le."


"Angga juga sudah memikirkannya, Pak."


"Lalu?" Rajiman meminta kepastian.


"Angga tidak mau," ucap Angga tegas membuat Rajiman mengetatkan rahangnya.


"Bapak tidak pernah mendidik kamu untuk menjadi orang yang tidak tahu terimakasih, Le. Kalau bukan karena keluarga Pak Ratno, mungkin sekarang kamu sudah tidak ada," ucap Rajiman yang membuat Angga teringat akan masa lalu. "Pak Ratno hanya meminta kamu membantu mengurus yayasan yang beliau miliki. Apa susahnya?"


Tidak perlu diingatkan, Angga selalu mengingat hal itu. Masalahnya, Angga merasa belum mampu. Yayasan yang Pak Ratno miliki mengelola beberapa sekolah Islam dan juga sebuah pesantren yang berada di pinggiran utara kabupaten Sukoharjo. Dulu, semasa kuliah, Angga juga tinggal di sana atas permintaan orangtuanya.


"Angga sudah cukup nyaman di tempat mengajar Angga yang sekarang, Pak. Lagipula Angga merasa belum pantas kalau harus memegang tanggung jawab sebesar itu."


Selain karena sudah nyaman, Angga juga tak ingin jauh-jauh dari Hana.


"Kamu bisa belajar, Le. Kalau kamu belum mampu, Pak Ratno tidak mungkin memilih kamu untuk menjadikan tangan kanan beliau."


Angga menghela napas berat. Apa yang ada di hidupnya selalu diatur oleh kedua orangtuanya. Sejujurnya Angga sudah merasa bosan dengan sikap kedua orangtuanya terutama ayahnya.


"Akan Angga pikirkan lagi," Angga beranjak dan meninggalkan kedua orangtuanya menuju kamar.


"Bapak mau secepatnya kamu mengurus kepindahan kamu."


Masih dapat Angga dengar ucapan Rajiman sebelum menaiki tangga menuju kamarnya.


Angga merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. Pikiran Angga menerawang jauh kendati pandangannya hanya sebatas langit-langit kamarnya.


Kalau Angga harus mengundurkan diri dari SMA Harapan Bangsa, bagaimana dengan Hana? Apakah dia akan mendukung atau justru akan marah. Angga tak sanggup membayangkan apabila harus jauh dari Hana.


Ketika di sekolah saja Angga ingin selalu bisa melihat Hana. Bagaimana kalau berjauhan?


Meskipun mereka tak perlu lagi backstreet tapi pasti mereka juga akan jarang bertemu. Yayasan milik Ratno yang diamanahkan padanya berada di daerah Wonogiri. Sangat jauh dari rumah Hana.


Mereka juga pasti akan lebih sibuk. Angga sibuk dengan pekerjaannya, Hana juga akan sibuk dengan sekolah, pelajaran tambahan. Belum lagi kalau Hana mengambil les untuk persiapan ujiannya.


Angga meringis membayangkan bagaimana reaksi Hana kalau nanti Hana mengetahui rencananya. Emosi gadis itu suka meledak tiba-tiba.


***


Angga memarkirkan mobilnya didepan sebuah bangunan berlantai tiga yang didominasi dengan warna hijau pupus dan hijau tua di bagian-bagian tertentu. Disampingnya kanan kirinya ditumbuhi pepohonan yang rindang menambah suasana begitu adem.


Disinilah Angga sekarang, didepan bangunan yayasan Al-Firdaus milik Ratno, atas perintah ayahnya. Karena itu Angga terpaksa ijin tidak mengajar di SMA. Untunglah Hana tidak terlalu ingin tahu dengan urusan yang bukan urusannya, jadi Hana hanya berpesan pada Angga untuk berhati-hati dan juga meminta Angga memberi kabar kalau urusannya sudah selesai.


Angga memasuki bangunan tersebut dan bertanya kepada petugas resepsionis dimana ruangan Ratno.

__ADS_1


"Di lantai dua, Pak. Nanti ada tulisan nama Pak Ratno di pintunya," petugas resepsionis memberinya petunjuk.


Setelah mengucapkan terimakasih, Angga berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Angga tersenyum membalas sapaan beberapa orang yang ia temui.


"Assalamualaikum, Pak," Angga mengetuk pintu yang terbuka setengahnya dan mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam. Nak Angga? MasyaAllah, Bapak senang akhirnya kamu datang," Ratno menyambut Angga dengan pelukan hangat, seperti pelukan seorang ayah kepada anaknya yang telah lama tidak bertemu. Angga hanya tersenyum dan menyalami tangan Ratno.


"Apa kabar kamu? Bapak dan ibu kamu sehat?" Tanya Ratno seraya membimbing Angga untuk duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.


"Alhamdulillah saya baik, Pak. Bapak dan ibu juga sehat. Bapak dan ibu Marni sehat?" Angga bertanya balik.


"Ya, seperti yang kamu lihat sekarang. Alhamdulillah saya sehat. Istri saya juga sehat, Alhamdulillah."


Ya, Ratno memang masih terlihat segar dan bugar di usianya yang menginjak lima puluh tahun.


Ratno beranjak dan keluar lalu meminta tolong kepada seorang stafnya untuk membuatkan minuman untuk Angga. Tak lama kemudian, Ratno kembali ke ruangannya dan duduk di samping Angga.


"Jadi, kapan kamu akan pindah kesini?"


***


My Angga's Calling..


Hana tersenyum sumringah melihat nama pujaan hatinya terpampang di layar ponselnya. Setelah seharian tidak ada kabar, akhirnya Angga menghubungi Hana.


"Assalamualaikum, Mas," sapa Hana sumringah.


"Waalaikumsalam. Ceria banget suaranya," ucap Angga di seberang sana.


"Seneng. Akhirnya Mas Angga ingat sama Hana juga. Hana kangen, Mas. Mas Angga seharian enggak ada kabar," keluh Hana manja membuat Angga tersenyum senang.


"Mas juga kangen sama kamu."


Ahh.. Baru sehari saja tidak bertemu mereka sudah saling merindukan. Bagaimana kalau mereka berjauhan nanti?


"Urusannya sudah selesai, Mas? Tadi kemana?"


Angga dibuat gelagapan dengan pertanyaan Hana. Bingung sendiri apakah harus jujur saat ini juga.


"Mas?" Panggil Hana karena Angga diam tak menjawab pertanyaan Hana.


"Eh, Mas mandi dulu, ya. Baru pulang belum sempat mandi. Hehe," Angga mencoba mengalihkan perhatian.


"Iih, ternyata Mas Angga belum mandi?"


Angga tertawa.


"Ya udah cepet mandi sana! Jorok, ih."


Hana tercenung setelah Angga berpamitan dan menutup teleponnya. Merasa seperti ada yang ditutupi oleh Angga.


Namun Hana tak ingin bertanya lebih jauh lagi. Biarlah dia menunggu sampai Angga bercerita. Hana tak ingin dibilang terlalu ingin tahu dengan urusan Angga. Hana takut Angga merasa tidak nyaman.


🌹🌹🌹


**uhukkk!! test test 😅

__ADS_1


tolong author jangan di keroyok habis baca ini. 🤣**


__ADS_2