
Angga tak dapat menyembunyikan wajah bahagianya setelah ia berhasil mengucapkan ijab qobul dalam satu tarikan nafas. Momen yang begitu sakral dan mendebarkan itu telah terlalui dengan lancar. Kini, statusnya telah berubah. Dia telah menjadi suami dari Hana. Mantan muridnya semasa ia masih mengajar.
Jodoh memang tak ada yang bisa mengira-ngira. Sejauh apapun jarak memisahkan, kalau memang takdir mengatakan mereka berjodoh pasti akan bertemu juga. Sebaliknya, walaupun mencoba mempertahankan hubungan, kalau takdir tidak berpihak, maka akan berpisah juga.
Dan Angga bersyukur takdir memihak kepadanya. Doanya agar dapat bertemu dengan Hana kembali diijabah oleh Allah. Bahkan Allah menambahnya dengan menjadikan mereka suami istri. Suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Kini, tanggungjawab atas diri Hana berpindah padanya. Surga neraka Hana ada pada dirinya. Lapar dan kenyangnya Hana menjadi urusannya. Segala kebutuhan Hana ia yang menanggungnya. Tapi tidak dengan biaya kuliah Hana. Anang tetap membiayai kuliah Hana meskipun Angga sempat menolaknya secara halus.
Bagi Anang, keberhasilannya adalah saat ia bisa membuat anak-anaknya bahagia dan mampu meraih cita-cita mereka. Kalau Ikhsan saja kuliah dengan biaya hasil jerih payah Anang, maka begitupun dengan Hana. Bagi Anang, Hana juga harus mendapatkan hal yang sama dengan kakaknya.
Mata Angga memandang lekat Hana yang menunduk dan berjalan menuruni anak tangga dengan di apit Kinan dan Santi.
Hana yang aslinya sudah cantik, kini kecantikannya bertambah berkali-kali lipat karena riasannya yang terlihat natural.
Senyum dibibir Hana dan Angga tak dapat di sembunyikan lagi. Terlebih saat Angga menyambut Hana dan membantu Hana untuk duduk untuk menandatangani berkas pernikahan terlebih dahulu.
Hana dan Angga di arahkan untuk berfoto bersama mahar mereka yang dibentuk cantik dalam sebuah bingkai.
Kemudian Angga memasangkan cincin di jari manis Hana.
"Tahan.." instruksi fotografer.
"Istrinya cium tangan suaminya, ya?" Instruksinya lagi setelah foto pertama berhasil di abadikan.
Hana gugup luar biasa. Memang bukan yang pertama kalinya Hana mencium tangan Angga. Dulu, ia sering melakukannya. Tapi kini, untuk pertama kalinya Hana mencium tangan Angga saat status mereka sudah menjadi suami istri.
"Sekarang Mas-nya cium kening, ya?"
Badan dan pipi Hana semakin panas dingin. Terlebih saat kedua tangan Angga menangkup kedua pipinya dan mulai mendekatkan wajahnya.
Mata Hana otomatis terpejam saat merasa napas Angga menyapu wajahnya. Perlahan, benda kenyal itu menempel sempurna pada keningnya.
"Ciyeee.. Pak Angga.. Hana.."
Suara sorak sorai dari teman-teman keduanya pun menambah kegugupan Hana. Mereka semakin menggoda keduanya hingga Angga dan Hana pun tak dapat menyembunyikan senyum malu-malu mereka.
Semua momen sakral itu, terangkum dalam prosesi sungkeman yang begitu mengharukan dan menguras air mata.
Anang dan Widia yang selama ini terlihat begitu antusias nyatanya tak dapat menyembunyikan air mata haru dan bahagia mereka melihat anak gadis mereka satu-satunya telah di persunting lelaki pilihannya.
Mereka sadar bahwa sekarang Hana bukanlah gadis kecil mereka. Tapi Hana sudah beranjak dewasa dan kehidupannya bukan lagi tanggung jawab Anang dan Widia.
Setelah prosesi sungkeman, Angga, Hana, dan keluarga melakukan sesi foto keluarga. Pertama dengan keluarga Hana, lalu dengan keluarga Angga, dan yang terakhir dengan teman-teman mereka.
Tawa bahagia terlukis di wajah keduanya. Setelah apa yang mereka lewati, setelah apa yang terjadi pada hubungan keduanya, kini mereka di satukan dalam ikatan yang halal dan berkah.
Keduanya saling menggenggam erat. Tangan mereka saling bertaut seolah tak ingin terpisah.
***
Angga memasuki kamar Hana dan mendapati Hana sedang tertidur. Bahkan mukenah yang Hana pakai untuk melaksanakan sholat dhuhur belum sempat di lipat dan masih tergeletak di atas sofa di kamar Hana.
Acara mereka selesai tepat pada pukul satu siang. Dan Hana langsung pergi ke kamar untuk mengganti gaunnya dan menghapus make up yang menempel di wajahnya. Sedangkan Angga melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di musholla depan rumah Hana.
Angga menggeleng pelan melihatnya. Senyuman tipis terukir di wajahnya kala melihat wajah Hana yang tertidur pulas.
"Tidur aja bisa cantik begini," gumamnya pelan sambil merapikan rambut Hana yang terurai menutupi sebagian wajahnya.
Sekali lagi, Angga merasa bahwa saat ini ia seperti bermimpi. Dulu setelah kepergian Hana ke Surabaya, berkhayal untuk mendapatkan kesempatan dari Hana pun ia tak berani. Namun siapa yang menyangka kalau pertemuan mereka setelah lama berpisah, akan berujung pada akhir bahagia. Dimana bukan hanya maaf dari Hana yang ia dapat, tapi juga kesempatan untuk memiliki Hana selama-lamanya.
Angga turut merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong. Hana tak terusik sama sekali. Mungkin karena ia terlalu lelah dan mengantuk. Hana sempat mengatakan bahwa semalam ia tak bisa tidur dan baru bisa memejamkan mata pada pukul tiga dini hari dan Widia membangunkannya saat adzan subuh berkumandang.
Efek deg-degan, katanya.
Angga menatap wajah Hana. Mereka tidur saling berhadapan tanpa pembatas apapun. Angga menggeser tubuhnya pelan menjadi semakin dekat dengan Hana. Tangannya terulur untuk memeluk pinggang Hana. Semakin lama, Angga pun turut memejamkan mata dan tertidur.
🌹🌹🌹
__ADS_1
POV : HANA
Adzan ashar yang berkumandang menarik kesadaranku untuk segera membuka mata meskipun terasa sangat berat. Ini karena semalam aku hanya bisa tertidur selama satu setengah jam. Apa semua orang yang akan menikah juga sulit tidur seperti aku? Semalam baru pertama kalinya aku tak bisa tertidur. Aku adalah tipe orang yang asal nempel pasti molor.
Tubuhku terasa sulit untuk di gerakan. Aku merasa ada sesuatu yang berat menimpa pinggangku. Aku juga mencium bau parfum Mas Angga. Ahh.. ini kenapa mata terasa begitu lengket, sih?
"Hey, sudah bangun?" Suara seksi dan berat itu? Oh my God.. Itu suara Mas Angga. Dan aku langsung membuka mataku.
Ku dapati Mas Angga tersenyum manis menatapku. Dia tidur di sebelahku dan memelukku. Aku langsung menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Malu, Mas," rengek ku manja dan disambut kekehan pelannya. Yang benar saja, wajah bangun tidurku dilihat secara langsung oleh Mas Angga. Wajah kusut, wajah bantal, mata panda. Tapi bukankah selamanya juga akan begitu? Iya, kan?
Tapi wajarlah saat ini aku malu. Ini pertama kalinya aku bangun tidur dan langsung dilihat oleh Mas Angga. Jaga image sedikit, dong. Namanya juga pengantin baru. Aiish..
"Kenapa malu? Cantiknya alami kalau bangun tidur begini," Mas Angga justru menggodaku.
"Gombal banget, sih!" Aku langsung bangun dan bersiap untuk ke kamar mandi. Tapi Mas Angga justru menarik tanganku dan membuatku jatuh tepat di atas dadanya.
Mama.. Papa.. Hana deg-degan.
"I love you..." Ucapnya manis.
Aku melipat bibirku kedalam menahan senyumku. "I Love you too.." balasku pelan.
Mas Angga menarik tengkuk ku dan mendekatkan pada wajahnya. Satu tangannya memegang erat tanganku yang ku jadikan tumpuan diatas dadanya. Please, aku bukan anak kemarin sore yang tak tahu dengan apa yang akan Mas Angga lakukan.
Perlahan wajah kami saling mendekat. Harum dan hangatnya napas Mas Angga mulai menerpa bibirku. Aku memejamkan mataku bersiap untuk sesuatu yang akan terjadi. Dan....
Tok tok tok
"Angga.. Hana.. Ashar dulu, Nak."
Suara ketukan pintu disusul suara Mama membuat kami segera bangkit dan merapikan penampilan seolah takut kalau Mama akan melihat apa yang kami lakukan. Padahal pintu kamarku dalam keadaan terkunci. Wkwkwkwk.
Aku menghembuskan napas lega setelah Mas Angga menutup pintu kamar mandi. Aku menyentuh dadaku dimana didalam sana jantungku sedang bekerja keras. Ya, aku deg-degan luar biasa. Meskipun tadi sesuatu itu belum terjadi, tapi itu sudah membuatku deg-degan tak menentu.
Setelah mandi dan sholat ashar, aku turun ke bawah untuk mencari makan. Aduh-aduh.. pengantin kelaparan ini mah. Pagi aku hanya memakan satu buah apel karena aku sama sekali tak bernafsu makan. Sedangkan siang aku hanya sempat minum tanpa makan dan lebih memilih tidur.
Suasana rumahku sudah sepi karena mungkin para tetangga juga sudah pulang kerumah mereka masing-masing. Hanya tersisa budhe Ratih dan suaminya yang memang berencana untuk menginap di rumah.
"Nggak sabar banget nunggu malam? Siang-siang udah kunci pintu aja," sindir Mas Ikhsan yang bernada menggoda. Aku pura-pura tak mendengar dan lebih memilih mengambil nasi dan lauk pauknya.
"Mas Angga mau makan?" Tanyaku pada Mas Angga yang baru saja masuk ke ruang makan. Aku tak memperdulikan Mas Ikhsan yang menatapku kesal karena aku tak memperdulikannya. Haha, rasain! Siapa suruh iseng?
"Boleh." Mas Angga langsung duduk di kursi dan menungguku selesai mengambilkan makanan untuknya.
"Cuma Angga yang ditawarin?" Protes Mas Ikhsan. Aku menghembuskan napas kesal.
"Mas Ikhsan juga mau makan?" Aku menawarinya dengan senyuman yang aku paksakan.
"Enggak. Aku udah makan."
"Kalau gitu kenapa minta di tawarin?" Aku langsung ngegas, dong. Serasa bola bekel cuma dimainin doang.
"Kapan aku minta? Kan aku cuma tanya kenapa cuma Angga yang ditawarin?"
Iya juga, ya?
Ahh.. tapi aku terlanjur kesal. Aku lebih memilih duduk dan memulai acara makan ku yang tertunda karena keisengan Mas Ikhsan. Mas Angga tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya melihat tingkahku dengan Mas Ikhsan.
***
Keluargaku yang dulu hanya berempat, sekarang sudah berenam. Ditambah Teh Kinan dan Mas Angga. Kami duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Setelah seharian kami disibukkan dengan acara akad nikahku dengan Mas Angga, kami memilih untuk bersantai malam ini untuk menyiapkan tenaga untuk acara resepsi besok. Acara resepsi akan di adakan pukul satu siang.
"Rencana kapan kalian akan ke Surabaya?" Tanya Papa padaku dan Mas Angga. Aku dan Mas Angga saling berpandangan. Jujur kami belum membicarakan hal ini sebelumnya.
__ADS_1
"Hana masuk lagi kapan?" Tanya Mas Angga kemudian.
"Dua Minggu lagi, Mas."
"Mungkin senin depan kita berangkat, Pa. Biar Hana bisa istirahat sebelum kuliah lagi," Mas Angga menjawab pertanyaan Papa. Ngomong-ngomong, dia tak canggung lagi memanggil papa dengan sebutan Papa. Iyalah, papa aku kan papa Mas Angga juga sekarang.
"Ya sudah kalian istirahat sana. Besok kan masih banyak acara," perintah Mama.
Aku dan Mas Angga mengangguk kemudian berpamitan untuk masuk ke dalam kamar. Mas Angga berjalan di depanku, dan aku mengikutinya.
"Hana!" Panggil Mas Ikhsan sebelum aku benar-benar menaiki tangga. Aku berhenti, Mas Angga juga ikut berhenti.
"Apa?" Jawabku ketus.
"Awas! Jangan jerit-jerit kesakitan!" Ucapnya diiringi tawa dari semua orang.
Pipiku sepertinya sudah memerah dan terasa panas. Langsung saja kita dorong tubuh Mas Angga agar melanjutkan perjalanan kami.
***
Kami berbaring saling berhadapan. Tangan kami saling bertautan. Kami saling memandang. Sesekali aku menunduk dan menyembunyikan senyumku karena terlalu gugup dilihat sedemikian lekat oleh Mas Angga.
"Kamu tahu enggak?"
"Nggak tahu!" Aku menyela cepat ucapan Mas Angga.
"Mas belum selesai bicara."
Aku terkekeh pelan. Namun sedetik kemudian aku terdiam menunggu Mas Angga melanjutkan ucapannya.
"Rasanya masih seperti mimpi kita bisa seperti ini."
"Sama." Aku menimpali dengan cepat.
"Apa yang buat kamu yakin terima Mas lagi, Na? Bahkan mau menikah dengan Mas."
Aku belum juga menjawab pertanyaan Mas Angga. Ku rasakan genggaman tangannya semakin erat.
"Karena memang tak ada keraguan di saat aku berkata "iya", Mas. Semua terasa ringan saat aku menerima Mas Angga kembali."
Mas Angga tersenyum manis. Kemudian melepas tautan tangannya. Namun setelahnya Mas Angga justru mencubit hidungku pelan.
"Sejak kapan kamu romantis begini?" Tanyanya gemas.
"Sejak aku terjebak cintamu, mantan Pak guruku."
Kami tertawa bersama. Sungguh, aku benar-benar merasa bahagia bersuamikan mantan guruku ini.
Entah siapa yang memulai, kami mulai meniadakan jarak diantara kami. Sesuatu yang sempat gagal karena ketukan pintu di siang tadi, kini benar-benar terjadi.
My first kiss..
Jantungku berdebar kencang saat Mas Angga memperdalam ciumannya. Kami berhenti di saat kami merasa mulai kehabisan oksigen. Napas kami saling bertubrukan. Mas Angga memandangku lekat.
"Bolehkah?"
Aku mengangguk. Aku bukan lagi anak polos yang tak tahu arti dari pertanyaan Mas Angga.
Untuk selanjutnya, biar hanya kami dan Allah yang tahu. Yang pasti, aku merasa bahagia karena Mas Angga seperti membawaku terbang ke atas awan. Segala perlakuannya begitu lembut dan membuatku merasa diinginkan.
"I love you, my Hana.." ucapnya yang hanya ku dengar samar-samar karena aku sudah luar biasa lelah dan mengantuk.
Malam ini, aku tertidur lelap di pelukan Mas Angga. Suamiku tercinta.
🌹🌹🌹
Ada yang masih nungguin nggak? 😅 Hana sama Angga udah malam pertama tuh. tapi biar mereka aja yg tahu gimana prosesnya 🤣🤣
__ADS_1