
POV : HANA
"Anak gadis, jam segini baru bangun?" Tegur Mama saat aku berjalan menuju meja makan. Menarik kursi, lalu mendudukinya.
"Libur, Ma. Biarin sekali-kali Hana bangun siang," aku membela diriku sendiri.
Hari ini hari libur, tanggal merah memperingati maulid nabi Muhammad SAW. Jadi aku bermalas-malasan saja dikamar. Habis sholat subuh aku tidur lagi, sampai saat ini jam 10 aku baru keluar kamar. Masih acak-acakan, dan belum mandi. Tapi sudah gosok gigi, dong.
"Mama enggak ke salon?" Tanyaku pada Mama yang sedang sibuk memasak. Mama memiliki beberapa salon yang sudah cukup terkenal di Surakarta. Mama merintisnya sejak Mas Ikhsan masih kecil. Sudah sangat lama.
"Mama juga ikut libur, dong. Hari ini papa ada tamu yang mau datang. Kamu libur, masak Mama kerja?" Jawab Mama.
"Siapa tamunya Papa, Ma?" Tanyaku penasaran sambil memakan tempe mendoan hangat dengan lalapan cabai. Huh hah..
"Mama kurang tahu. Yang jelas Papa mau pesan baju buat karyawan sama dia," jelas Mama.
O iya, aku belum mengatakan pada kalian apa pekerjaan Papaku. Papa mempunyai minimarket yang sudah memiliki lima cabang. Tersebar di Karanganyar dan Sukoharjo.
"Mari, Mas. Silahkan masuk!" Terdengar suara Papa mempersilahkan seseorang untuk masuk ke dalam rumah.
Selanjutnya, Papa menyuruh aku membuatkan minum untuk tamu Papa. Kenapa aku?
"Mama aja yang nganter keluar," pintaku pada Mama setelah aku selesai membuat jus mangga dan meletakkan diatas nampan.
"Mama masih goreng ikan, takut gosong. Kamu aja sana!" Yaelah, Mama. Enggak lihat anakmu ini masih muka bantal?
"Hana masih acak-acakan ini, Ma," aku mencoba beralasan.
"Cuma sebentar aja, Na. Enggak apa-apa. Udah sana!"
Mau tak mau, aku yang mengantarkan minuman ke ruang tamu. Aku berharap tamunya perempuan, jadi aku tak begitu malu dengan tampang acak-acakan begini.
"Jadi mau warna apa, Pak?"
Deg.. Suara itu?
Jangan ya Allah.. Semoga hanya mirip, bukan dia.
Mulutku komat-kamit berdoa agar bukan dia pemilik suara familiar itu.
Ya Allah.. Kenapa dia?
Mata kami sempat bertubrukan saat aku masuk ke ruang tamu. Dia sempat terdiam, lalu terlihat seolah menahan tawa.
Demi apa? Rambutku ku gelung asal-asalan. Muka masih muka bantal, baju juga masih baju tidur lengan pendek bergambar kartun Masha and the Bear. Iya, kartun yang tokoh utamanya gadis kecil nan usil itu. Enggak banget!
__ADS_1
Aku tak menyangka kalau tamu Papa adalah dia. Dunia sesempit ini ternyata. Dimana-mana yang ku temui itu-itu saja.
Aku melihat papa yang sedang menatapku geli. Setengah malu mungkin karena anak gadisnya keluar menemui tamu dengan penampilan yang enggak banget seperti ini.
"Anak gadis saya, Mas. Namanya Hana," Papa memperkenalkan aku pada tamunya. Udah kenal kali, Pa...
"Saya sudah mengenalnya, Pak. Kebetulan dia murid di SMA tempat saya mengajar," ucap Mas Angga tanpa menutup-nutupi semuanya. Iya, tamu Papa adalah Mas Angga alias Pak Angga. Kenapa bisa? Ya aku enggak tau-lah.
Papa melotot tak percaya. Matanya menatapku meminta penjelasan. Aku mengangguk pelan dan membuat papa menggelengkan kepalanya.
"Masuk ke kamar lalu mandi. Enggak perlu dandan yang penting pantas buat ketemu guru. Wangi, enggak bau iler kayak gini," bisik Papa pelan. Tanpa berpikir lama, aku berlari kedalam dan menuruti ucapan Papa.
Lagi pula Mas Angga itu kenapa, sih? Bisa kan mengabari aku terlebih dahulu kalau dia akan datang kerumah. Ya walaupun dia datang sebagai tamu Papa. Tapi kan setidaknya aku bisa berpenampilan lebih baik, bukan seperti ini.
Ya Allah.. Hana kayak udah enggak punya muka buat ketemu sama Mas Angga.
Dasar Hana! Kamu lupa kalau semalam kamu mematikan ponselmu setelah baca pesan dari Mas Angga!
***
"Sudah mandi?" Tanyanya setengah mengejekku. Saat ini kami sedang duduk dibawah pohon mangga di samping rumahku sambil memberi makan ikan-ikan kecil yang ada di kolam.
Urusannya dengan Papa sudah selesai. Aku tak tahu bagaimana hasil akhirnya. Yang jelas, setelah makan siang bersama, Papa menyuruh kami untuk mengobrol berdua. Papa sama Mama didalam rumah sekarang. Entah sedang apa, aku tak tahu dan tak mau tahu.
"Puas banget ketawanya," ucapku sarkasme. Aku melempar makanan ikan sebutir demi sebutir sebagai pelampiasan ku. Duh.. Kasian itu ikan-ikan. Enggak kenyang-kenyang gara-gara aku.
"Papa kok bisa pesan baju sama Mas Angga?" Tanyaku setelah Mas Angga berhenti tertawa.
"Rekomendasi dari Ikhsan, katanya," jawabnya tanpa melihatku. Aku mengangguk mengerti, setelah itu kami diam lagi. Rasanya aneh, biasanya aku selalu cerewet kalau berada didekatnya, sekarang aku lebih banyak diam.
"Kamu masih marah?" Tanyanya memecah keheningan.
Aku menggeleng pelan. "Kenapa Hana harus marah, Mas?"
"Soal... Ucapan Mas di mobil waktu itu. Mas merasa kamu berubah setelah itu," ucapnya tepat sasaran. Aku memang membatasi jarak dengannya setelah hari itu. Itu semua juga demi perasaanku agar tak jatuh terlalu dalam.
"Kamu tahu, Na, ada banyak hal yang harus kita korbankan agar tak menyakiti orang lain," ucapnya sendu. Seperti ada beban berat yang harus ia bawa dipundaknya. "Apapun yang Mas ucapkan sama kamu, itu enggak pernah main-main. Kalau Mas bilang sayang, itu artinya Mas memang sayang," lanjutnya.
"Berarti yang waktu itu bilang kita hanya sebatas guru dan murid itu juga benar?" Aku menyela ucapannya cepat.
"Mas juga perlu tahu, kalau perempuan itu juga butuh kepastian. Hana pikir selama ini Hana itu lebih istimewa, Mas. Ternyata Mas menganggap Hana sama dengan murid yang lain. Lalu apa arti kebersamaan kita selama ini? Ucapan sayang Mas Angga? Perhatian Mas Angga? Kenapa Mas melakukannya kalau Hana ini enggak ada spesialnya?" Berondongku dengan berbagai pertanyaan yang membuat Mas Angga diam. Entah keberanian dari mana aku bisa mengatakan itu semua. Mungkin karena aku yang sudah merasa lelah dengan hubungan kami yang begini-begini saja. Sebentar marah, sebentar sayang. Padahal tak lebih dari guru dan murid.
"Hana, jujur kamu memang lebih istimewa dari yang lain dihati Mas," ucapannya membuatku sedikit senang. Namun aku belum ingin menanggapinya. Ku biarkan Mas Angga mengatakan apa yang ia ingin katakan selanjutnya. "Mas hanya takut akan menyakiti kamu suatu saat nanti. Mas takut kamu kecewa."
"Kalau orang mau berlayar sudah takut ombak duluan, kapan dia akan sampai ditempat tujuan?" Mas Angga menatapku lekat. "Setiap perjalanan pasti akan ada ujiannya, Mas. Setiap hubungan pasti akan ada cobaannya, dan harusnya itu bisa menguatkan. Kalau kita belum mulai saja sudah takut dengan rintangan didepannya, kita enggak akan pernah bisa mencapai tujuan kita, Mas."
__ADS_1
Aduhhhh.. Sepertinya ini efek aku mandi terlalu siang sampai membuatku bisa bicara sedewasa ini didepan Mas Angga.
"Jadi? Kamu mau kita ini apa?" Tanyanya dengan senyuman menggoda. Pipiku terasa panas, padahal cuaca sedang mendung-mendung syahdu.
"Suka-suka Mas Angga aja," aku memalingkan wajahku ke arah lain. Menghindari tatapan mautnya.
Aku tersentak saat ku rasakan sentuhan lembut dipunggung tanganku. Seperti ini membuat aku merasa deg-degan. Sepertinya jantungku bekerja lima kali lipat lebih cepat dari biasanya.
"Mas sayang sama kamu, Na. Entah sejak kapan, Mas tidak tau. Dalam hati Mas itu cuma bagaimana caranya agar kamu tetap berada di samping Mas. Bahkan andaikan kamu sudah lulus, Mas akan menikahi kamu sekarang juga agar kamu tak pernah jauh dari Mas," aku tersenyum geli mendengarnya. "Apapun yang terjadi suatu saat nanti, Mas harap kamu tidak akan pergi. Apapun akan kita hadapi bersama, bukankah kamu bilang bahwa rintangan itu harusnya kita jadikan penguat? Kita lakukan itu bersama-sama," ucapnya semangat dan membuatku melongo tak percaya.
"Jadi?" Tanyaku gugup. Memastikan apa yang sudah Mas Angga ucapkan.
"Jadi apa?" Kali ini membuatku menghela napas kecewa. Aku pikir akan diberi kepastian. Tapi ternyata sama saja dengan yang dulu-dulu. Selalu menggantung setelah Mas Angga bilang sayang.
"Jadi Hana mau melanggar prinsipnya untuk tidak pacaran?"
"Eh? Pacaran? Siapa yang pacaran, Mas?" Ucapku terbata dan gugup. Apalagi tatapan Mas Angga yang begitu dalam. Membuat aku salah tingkah.
Mas Angga tersenyum menggoda. Genggaman tangannya belum juga dilepaskan. Hal itu membuatku merasa nyaman. Tangan besarnya menggenggam tanganku yang mungil ini. Terasa begitu pas dan serasi.
"Jadi, Farhana Aghnia, maukah kamu jadi pacar seorang Angga Raditya?"
Aku menahan napas mendengar ucapannya. Mulutku seperti terkunci, tak bisa lagi berkata-kata. Senang, sudah pasti. Takut? Ada, sih? Apalagi kalau suatu saat dari sekolah ada yang tau. Tapi aku juga sayang sama Mas Angga. Aku juga tak ingin berjauhan dengannya.
"Mas selalu berharap kalau suatu saat nanti kita bisa menikah. Biar Mas bisa lihat muka acak-acakan kamu pas bangun tidur setiap hari."
Refleks aku menepuk lengannya keras. Mas Angga tertawa terbahak melihat reaksiku. Sungguh, aku malu mengingat hal itu.
"Jadi?" Tanyanya sekali lagi meminta kepastian. Aku mengangguk pelan, malu-malu. Dasar Hana! Biasanya juga malu-maluin!
Tangan Mas Angga bergerak seperti ingin memelukku. Tapi sebuah suara menggagalkan rencananya. Haha, kasian, deh.
"Hana! Gerimis ini, itu Nak Angga diajak masuk ke dalam," teriak Papa yang berdiri didepan pintu. Bisa melihat keberadaanku bersama Mas Angga.
Aku terkikik geli melihat ekspresi Mas Angga yang kecewa karena tak jadi memelukku.
Gerimis yang turun perlahan mulai deras. Aku menarik tangan Mas Angga dan berlari menuju teras. Begitu bahagianya kami saat ini. Apapun yang terjadi nanti, aku berharap itu tak akan memisahkan kami.
πΉπΉπΉ
**hujan-hujan.. tak kasih yang anget-anget. π
jadi setelah ini kisah mereka nggak mudah ya. kalian tahu masih ada yang belum terungkap dari Angga.
dukung terus teman-teman. selalu berusaha memberikan yang terbaik. semoga kalian suka π€π**
__ADS_1