Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

POV : HANA


Pernahkah kalian merasa marah, tapi tak tahu harus kepada siapa kalian harus melampiaskan?


Pernahkah kalian merasa diperlakukan berbeda tapi tak tahu harus bagaimana untuk menyuarakan unek-unek kalian?


Pasti pernah, kan?


Rasanya bagaimana? Sudah tentu sebal, dada terasa sesak. Ingin menangis tapi tak ingin terlihat lemah. Ingin berteriak tapi ini masih dilingkungan sekolah. Malu.


Aku jelas merasakan Pak Angga membedakan aku dengan yang lainnya. Perihal ujian yang seharusnya seorang guru bisa berlaku adil pada muridnya, Pak Angga justru pilih kasih.


Sudah jelas aku bisa mencapai batas lompat jauh yang sudah ditentukan. Tapi kenapa masih disuruh mengulang?


Ancaman horornya pun ia keluarkan ketika aku memprotes ucapannya. Nilai lima!? Bayangkan saja! Apa kata papa sama Mama kalau raporku nanti ada nilai lima yang nyempil disana? Apalagi Mas Ikhsan, bisa berhenti aliran uang jajanku darinya kalau sampai itu terjadi.


Akhirnya mau tak mau, aku menuruti Pak Angga. Walau pada akhirnya aku harus menerima sakit pada kakiku yang terkilir saat aku mendaratkan kakiku diatas tanah.


Untung saja hanya terkilir, bukan patah.


Aku sengaja menghiraukan Pak Angga saat Pak Angga mencoba membantuku berdiri. Biar tahu rasa? Makanya jadi guru jangan semena-mena dengan muridnya. Malu sendiri, kan?


Denis mengantarku pulang dengan mengendarai motornya. Untung saja jadwal hari ini hanya ujian olahraga saja, jadi aku bisa pulang cepat.


Berboncengan dengan Denis, membuat jantungku seperti lari dari tempatnya. Dag Dig dug tak menentu. Apalagi ucapan manis tapi menggelikan tadi sebelum naik ke motor. "Hati-hati naiknya, pegangan tas aku aja, ya? Aku bawa motornya pelan, kok. Bawa bidadari yang baru saja jatuh, soalnya." Aaww.. Aku hanya tersipu mendengarnya.


'Oh, ayolah! Kita masih kelas sebelas menuju kelas dua belas. Belum pantas gombal-gombalan seperti itu'. Teriakku dalam hati.


Yakin. Percaya sama aku. Aku benar-benar tidak mau jadi budak cinta diusia ku yang masih dibilang dibawah umur. Tujuh belas tahun masih beberapa bulan lagi.


Janjiku, setelah ini, aku akan sedikit menjaga jarak dengan Denis. Ini demi hatiku, dan yang utama demi prestasiku. Impianku masuk kedokteran lewat jalur beasiswa harus terwujud.


Sesampainya dirumah, kalian sudah tahulah bagaimana hebohnya mama melihat anak gadisnya pulang dengan keadaan pincang dan diantar cowok pula.

__ADS_1


Setelah berbasa-basi sedikit dengan Denis dan diakhiri dengan pamitnya Denis untuk pulang, mama menuntunku ke kamar.


Mama tak berhenti mengomel kendati tangannya dengan lembut memijat kakiku menggunakan minyak pijat.


"Makanya, jadi perempuan Ojo kakean polah!" (Read : jangan terlalu pecicilan). Gini akibatnya, keseleo. Yang sakit siapa? Kamu sendiri, to? Yang rugi juga siapa? Kamu sendiri. Merepotkan orang lain. Pakai diantar pulang segala." Omelnya.


"Ini bukan karena Hana kakean polah, bunda ratu. Ini tuh gara-gara guru Hana yang.."


"Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan kamu sendiri, Hana! Introspeksi diri dan memperbaiki diri." Potong mama cepat sebelum aku menyelesaikan ucapanku.


"Hana enggak nyalahin orang lain, Ma. Ini tuh tadi pas ujian lompat jauh, Hana masih disuruh ngulang. Padahal Hana udah bener. Udah mencapai batas, tapi masih disuruh ngulang lagi. Hasilnya ya gini, Hana jadi keseleo."


"Itu pasti karena ada yang salah, Na. Entah dari tekniknya, atau pas mendaratnya. Gini-gini Mama juga dulu pernah ujian lompat jauh. Atau karena kamu enggak ikhlas pas disuruh ngulang lagi jadi kamu cuma asal-asalan ngerjainnya. Jadinya kamu malah keseleo."


See? Hana tetap salah. Maha benar bunda ratu dan Pak Angga. Kompak!


Lebih baik kamu diam, Hana.


🌺🌺🌺


Kali ini mama berbaik hati mengantarku berangkat sekolah. Kalau saja kakiku tidak terkilir dan jalanku tidak pincang, aku yakin mama tak akan mengantarku.


Mama sama papa itu punya mobil sendiri-sendiri, tapi kalau untuk berangkat sekolah aku harus naik angkutan umum. Bangun lebih pagi, sarapan lebih pagi, dan berangkat lebih pagi agar tak tertinggal angkutan umum langganan. Kata mama biar aku bisa belajar mandiri.


"Hana, kaki kamu gimana? Udah enakan?" Tanya Karina yang begitu heboh ketika melihatku turun dari mobil. Tentu saja setelah Karina menyapa dan menyalami mama.


"Lebih nyeri daripada kemarin."


"Biasa kalau gitu, Na. Besok atau lusa pasti udah berkurang, kok."


Aku sudah menyelesaikan ujianku lima menit yang lalu. Sedangkan Karina dan Lila masih nanti karena absen mereka yang berada ditengah-tengah.


O iya, aku juga sudah bertemu dengan Denis. Dia hanya sekali menyapaku, itupun untuk menanyakan bagaimana keadaanku. Denis berlalu setelah mendengar jawabanku yang mengatakan kalau sudah baikan.

__ADS_1


Aku memutuskan untuk pergi ke toilet yang dekat dengan ruang kesenian. Toilet itu berada di samping gudang.


Dari jauh, aku melihat seseorang yang saat ini aku tidak ingin melihatnya. Orang yang dengan menyebutkan namanya saja aku merasa kesal.


Aku berbalik dan mencari jalan pintas untuk pergi ke toilet dekat gudang. Meskipun dengan tertatih, aku mencoba untuk berjalan cepat.


Merasa orang itu tak lagi melihatku, aku berhenti dan bersandar pada dinding. Nafasku terengah-engah karena ternyata berjalan cepat dalam keadaan kaki pincang itu begitu melelahkan.


Kressss..


Tiba-tiba aku mendengar suara daun kering yang terinjak. Aku menoleh ke sumber suara.


"Bapak mau ngapain!?" Teriakku tertahan karena melihat Pak Angga yang berada ditempat yang sama denganku. Sepertinya Pak Angga melewati jalan yang lain untuk ke gudang.


"Tunggu, Hana," ucapnya menahan ku saat aku mulai melangkahkan kakiku untuk pergi.


Aku menoleh ke arahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku menatapnya datar. Entahlah, aku masih merasa sebal dengan Pak Angga.


"Saya minta maaf. Gara-gara saya, kaki kamu terkilir. Sudah baikan?" Ucapnya pelan sambil menatapku. Tapi aku lebih memilih memalingkan wajah. Kalau dianggap tidak sopan, biarlah.


"Na.." panggilnya lagi karena aku tak juga bersuara.


"Saya sudah baikan, Pak. Anggap saja kemarin itu kecelakaan. Jadi Pak Angga tidak perlu menyalahkan diri Bapak sendiri. Saya permisi."


Pak Angga tak lagi menahan ku saat aku berjalan meninggalkannya. Aku juga tak menoleh lagi untuk melihatnya.


Biarlah Pak Angga belajar dewasa dan bisa mengambil pelajaran dari ini semua. Aish.. sok dewasa kamu, Na! Ingat, Pak Angga itu guru.


Iya, dia guru. Tapi sikapnya yang kadang uring-uringan tak jelas itu lebih mirip ABG labil. Sepertinya sikapnya yang uring-uringan itu hanya akan muncul saat bertemu denganku. Dengan yang lain Pak Angga biasa saja. Bahkan akhir-akhir ini aku sering melihatnya mulai bercengkrama dengan para siswa disini.


"Cewek kegenitan! Habis ngapain berduaan sama Pak Angga digudang!?"


🌺🌺🌺

__ADS_1


udah panjang πŸ˜… spesial Buat pembaca setia 😘


jangan lupa like nya ya πŸ€—


__ADS_2