Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 51


__ADS_3

Dengan kecepatan tinggi Angga menjalankan mobilnya menuju tempat kerja Ikhsan. Angga akan bertanya dimana Hana dan kenapa ponselnya tak bisa dihubungi sama sekali.


Sudah seminggu rumah Hana kosong. Angga berfikir bisa saja Hana pergi hanya ditemani oleh kedua orangtuanya. Dan Ikhsan sengaja menginap di tempat kerjanya demi menghindari Angga.


"Ikhsan ada?" Tanya Angga dengan terburu-buru kepada salah satu pegawai Ikhsan.


"Maaf, Mas. Sudah seminggu Mas Ikhsan nggak datang kesini," jawab pegawai tersebut.


'Sial!' umpat Angga dalam hati. Hana benar-benar menghilang tanpa jejak. Bahkan Karina dan Lila yang notabene adalah sahabat Hana pun tak tahu dimana Hana sekarang.


"Dimana kamu, Hana!?" Gumam Angga frustasi sambil meremas rambutnya. Kepalanya ia telungkupkan di atas setir mobil.


Angga sudah berniat untuk pergi saat mobil Ikhsan baru saja memasuki area parkir. Secercah harapan bagi Angga tumbuh kembali. Angga berharap Hana juga akan turun dari mobil Ikhsan. Sayang, Angga harus menelan kekecewaan. Lagi-lagi tak ada Hana bersama Ikhsan.


"Ikhsan!" Angga memanggil membuat pemilik nama itu menoleh ke arahnya. Ikhsan tak lagi terkejut dengan kehadiran Angga. Ikhsan sudah mengira bahwa Angga akan mendatanginya untuk menanyakan keberadaan Hana.


"Hana dimana?" Tanya Angga tanpa basa-basi yang justru di sambut dengan kekehan sinis dari Ikhsan.


"Aku sudah bilang, jangan cari Hana lagi! Apa kurang jelas?"


"Aku mau minta maaf sama Hana, San. Please! Kasih tahu aku dimana Hana sekarang?"


"Tidak akan! Kami tidak perlu tahu dimana Hana. Silahkan pergi! Aku masih banyak pekerjaan."


Angga hanya bisa terdiam saat Ikhsan meninggalkannya yang berdiri terpaku. Angga menghela napas lelah. Satu-satunya sumber informasi tentang Hana ternyata tak mau mengatakan dimana Hana sekarang. Lalu bagaimana Angga bisa bertemu dengan Hana kalau dimana Hana saja dia tak tahu? Bahkan nomor ponsel Hana tak aktif sama sekali. Begitupun dengan semua sosial medianya. Hana menghilang bak di telan bumi.


Angga mengambil ponselnya dan membuka galeri. Dimana ratusan foto Hana tersimpan disana. Dari foto gaya konyol, sedih, tertawa, semua ada. Angga benar-benar merindukan tawa Hana saat bersamanya. Entah kapan terakhir kali Angga bisa menikmati tawa lepas Hana.


🌹🌹🌹


Hallo, Surabaya!


Sudah seminggu Hana di Surabaya. Tinggal di rumah Ratih yang merupakan Budhenya yang rumahnya berdekatan dengan panti asuhan yang Ratih kelola.


Hari-hari baru Hana di Surabaya, Hana habiskan untuk bermain dengan anak-anak panti asuhan yang begitu lucu dan menggemaskan.


Ikhsan sudah lebih dulu kembali ke Karanganyar. Sedangkan kedua orangtua Hana masih di Surabaya untuk membantu Hana dalam mengurus pendaftaran kuliahnya di salah satu kampus ternama di Surabaya.


Seminggu di Surabaya, Hana tak pernah sekalipun memegang ponselnya yang hanya berisi nomor telepon keluarganya dan Kinan.


Banyak pelajaran yang Hana ambil selama ia tak memegang ponsel. Hana lebih banyak merasakan quality time dalam hidupnya. Yang biasanya Hana melampiaskan kejenuhannya dengan bermain ponsel, kini Hana lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengajari anak-anak panti belajar atau bermain bersama mereka.


Terkadang Hana juga ikut memasak dengan petugas dapur. Lebih tepatnya belajar memasak. Karena selama ini Hana hanya mampu memasak air, menggoreng telur ceplok ataupun telur dadar, dan juga memasak mie instan. Selebihnya, Widia-lah yang turun tangan menangani dapur dan perut keluarganya.


"Kak Hana, gimana caranya biar Angel bisa bertemu lagi dengan Papa dan Mama Angel?" Pertanyaan Angel, salah satu anak panti, membuat Hana gelagapan. Mulutnya terkunci tak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan Angel.


Angel, anak yang baru berusia 8 tahun yang baru sebulan yang lalu ditinggalkan oleh kedua orangtuanya karena kecelakaan tunggal. Untuk sementara waktu Angel dititipkan di panti asuhan sambil menunggu kerabat dari kedua orangtuanya datang menjemput. Sayangnya, sampai sekarang tak ada satupun kerabat yang datang untuk menjemputnya.

__ADS_1


Menurut cerita, Angel dan kedua orangtuanya merupakan pendatang baru di kota Surabaya. Mereka baru dua bulan berada di Surabaya.


Miris. Hati Hana ikut merasakan kesedihan yang Angel rasakan. Selama ini Hana terlalu banyak mengeluh atas hidupnya. Kenyataannya, banyak yang lebih susah dibandingkan dengan hidup Hana yang permasalahannya hanyalah perkara teman dan pacar.


Hana merasa malu kepada Angel yang masih berusia belia tapi sudah harus menjalani beban hidup yang berat. Ditinggalkan kedua orangtuanya, kerabatnya pun tak ada yang mau mengasuhnya.


"Kalau Angel mau bertemu dengan Papa dan Mama Angel, Angel harus jadi anak yang baik. Harus selalu mendoakan Papa dan Mama. Biar nanti, suatu saat Angel bisa bertemu dengan Papa dan Mama."


Angel menatap Hana dengan tatapan kosong. Ada gurat kesedihan yang mendalam di setiap tatapan mata Angel.


"Kenapa Papa sama Mama nggak ngajak Angel pergi, ya, kak? Angel kan nggak mau sendiri."


Hana terdiam cukup lama untuk menjawab pertanyaan Angel yang begitu polos.


"Siapa bilang Angel sendiri? Kan disini teman-teman Angel banyak. Lagian Papa dan Mama Angel itu tidak pergi. Mereka hanya berpindah tempat. Siapapun suatu saat juga akan pergi ke tempat yang sama dengan Mama dan Papa Angel. Kita hanya menunggu giliran saja kapan Allah akan membawa kita ke tempat yang sama dengan tempat Papa dan Mama Angel sekarang. Angel tau nggak tempat Papa dan Mama Angel sekarang?"


Gadis itu menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Hana.


Hana tersenyum sambil membelai rambut lurus Angel. "Tempat Papa dan Mama Angel itu di surga. Mama sama Papa juga bisa lihat Angel, kok. Tapi kita belum bisa melihat mereka."


"Surga itu dimana, kak?" Tanya Angel polos.


"Surga itu hanya Allah yang tahu dimana tempatnya. Jadi biar kita juga bisa tahu dimana surga itu, kita harus jadi anak yang baik. Oke, cantik?"


Angel tersenyum dan mengangguk mantap. Matanya seperti memancarkan harapan baru.


"Jadi sekarang Angel tau kan Angel harus apa?"


"Anak pintar!"


Hana memeluk gadis kecil itu. Dalam hati sebenarnya Hana merasa malu. Dia mampu menasehati orang lain tapi tak mampu menasehati dirinya sendiri. Itulah salah satu kelemahan manusia.


***


"Cantik banget, sih, anak Mama?"


"Eh, Mama? Ehm...!"


Hana merasa malu saat Widia memergokinya. Pasalnya, Hana baru saja mencoba memakai jilbab pashmina yang membuat Hana terlihat begitu menawan.


"Mama serius," ucap Widia sambil menangkup kedua pipi Hana. "Sebenarnya Mama dan Papa sudah berharap kamu seperti ini sejak lama. Tapi kami tidak mau memaksa. Kamu sudah dewasa dan sudah tau mana yang baik mana yang bukan. Biar kamu memutuskan sendiri dengan apa yang akan kamu lakukan. Karena mama yakin suatu hari pasti kamu akan berjilbab. Dan benar, doa Mama di ijabah oleh Allah."


"Maa..." Hana merasa begitu terharu.


"Mama senang. Kamu cantik banget. Papa harus lihat ini," ucap Widia dengan begitu semangat. "Pa.. Papa..!" Teriaknya memanggil Anang.


"Ada apa, sih, Ma?"

__ADS_1


"Ini lihat anak gadis kamu! Cantik, kan?"


Anang terdiam sesaat melihat penampilan Hana yang begitu berbeda. Tatapan penuh haru dan bangga anak gadisnya mulai mencoba memakai jilbab.


"Anak Papa cantik," puji Anang singkat. Namun sanggup membuat Hana tersipu.


"Yang istiqamah, ya?" Ucap Anang sekali lagi sambil memeluk Hana.


Hana mengangguk mantap. "Insyaallah, Pa, Ma.. Doakan Hana!"


***


Hari ini adalah hari pertama Hana menyandang status mahasiswi di fakultas kedokteran. Tentu saja setelah melalui masa-masa ospek yang begitu melelahkan tapi juga tak kalah menyerukan.


Dari hari pertama Hana masuk, Hana sudah memiliki seorang teman. Dia bernama Salsa. Salsa ini bisa dibilang teman yang baik bagi Hana. Sejak pertama kali berkenalan, Salsa begitu supel dan ramah kepada Hana.


"Eh, habis ini mau langsung pulang aja? Nggak mau jalan-jalan keliling sekitar kampus dulu?" Tanya Salsa.


"Aduh, kapan-kapan aja, ya? Aku ada janji sama anak-anak panti mau ngajak mereka jalan-jalan ke sawah dan lapangan yang ada di dekat panti. Haha.."


"Ya udah, deh.."


Hana dan Salsa berjalan menuju tempat parkir bersamaan. Sesekali mereka tertawa karena candaan yang mereka lontarkan.


"Aduh.." keluh Hana saat ia terjatuh karena bertabrakan dengan seseorang. "Hati-hati, dong, kalau jalan!" Padahal Hana sendiri yang kurang hati-hati karena terlalu sibuk mengobrol dengan Salsa tanpa melihat ke depan.


Hana mencoba berdiri dengan di bantu Salsa. Begitupun dengan si penabrak tersebut.


"Hana!!?"


"Kamu!!??"


***


"Jadi kamu kabur kesini dan kuliah di sini?" Tanya si penabrak Hana tadi. Meskipun Hana begitu terkejut, namun ia mencoba biasa saja. Susah-susah Hana mencari tempat yang ia kira tak seorang pun tahu kemana Hana pergi, nyatanya masih saja ada teman sekolah Hana yang ditemui Hana di tempatnya yang baru.


"Aku nggak kabur, ya! Sengaja aku pilih kuliah disini. Nah, kamu ngapain kuliah disini?" Tanya Hana judes.


"Ya suka-suka aku, dong, mau kuliah dimana."


"Kalau gitu aku juga suka-suka aku mau kuliah dimana!" Sahut Hana tak mau kalah.


"Btw, kamu cantik kalau pakai jilbab begini. Sejak kapan?"


Hana salah tingkah. Membuat teman ngobrolnya, atau si penabrak itu, atau teman sekolah Hana semasa SMA itu tertawa terbahak.


"Tapi judes dan galaknya nggak hilang, ya?" Godanya sekali lagi.

__ADS_1


"Iiih... Nyebelin!!" Hana merengut tak suka.


Kemudian Hana terdiam cukup lama sebelum akhirnya berucap, "kamu jangan bilang siapa-siapa kalau aku disini. Cukup kamu aja yang tahu. Jangan yang lain apalagi..... Pak Angga."


__ADS_2