Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)

Terjebak Cinta Guru Olahraga (REVISI)
PART 32


__ADS_3

Hana mematikan diri didepan cermin, bersiap untuk sekolah. Seperti biasa, rambutnya dikuncir kuda. Kemudian Hana mengoleskan pelembab yang ringan untuk kulit seusianya dengan tipis. Memakai lip balm berwarna pink alami agar bibirnya tidak terasa kering.


Hana memang selalu berusaha untuk tetap sederhana dalam berpenampilan. Mengingat dirinya yang masih SMA, rasanya tak pantas kalau harus berdandan berlebihan kalau hanya untuk bersekolah. Sering Hana temui beberapa temannya atau bahkan adik kelas yang sudah menggunakan lipstik dan bedak saat ke sekolah. Sering Hana berpikir apakah orangtua mereka tidak memperingatkan sama sekali?


Keluar dari kamar, Zee merasa heran melihat mamanya membersihkan kamar Ikhsan secara total. Dari mulai membersihkan lantai, kasur, mengelap lemari, mengganti gorden, dan lain-lain. Pasalnya, kamar Ikhsan hanya disapu atau dibersihkan kasurnya untuk menghilangkan debu-debu yang menempel.


"Tumben Ma kamar Mas Ikhsan dibersihin sampai kayak gini bersihnya?" Hana masuk ke kamar Ikhsan sambil mengamati seisi kamar Ikhsan.


"Masmu mau pulang. Sudah ingat rumah dia. Mau menetap disini katanya."


"Whattt?" Hana memekik kegirangan mendengar ucapan mamanya. "Mama serius?" Tanya Hana meyakinkan yang dibalas anggukan oleh mamanya.


"Kapan Mas Ikhsan pulang, Ma?"


"Nanti sore katanya sampai rumah."


"DOUBLE WHATTTT!!??" Kali ini bukan teriak karena senang, tapi karena kaget. Hana berpikir kenapa kakaknya itu tak pernah bilang apapun tentang rencananya ini. Hana berencana akan membuat perhitungan dengan Ikhsan.


"Ini dua bidadari kenapa pagi-pagi sudah ribut begini, sih?" Anang berdiri didepan pintu sambil berkacak pinggang. Penampilannya masih fresh from bantal. Alias baru bangun.


"Mama, sih, enggak berisik, Pa. Anak gadismu tuh," Widia menunjuk Hana dengan dagunya.


"Papa, beneran Mas Ikhsan mau pulang dan menetap disini?"


Anang mengangguk. "Seperti yang bunda ratu bilang, sayang. Usaha Masmu yang disini sudah lumayan maju. Mau dikelola sendiri katanya. Rencana mau buka cabang," jelas Anang.


Setahun lalu, Ikhsan memulai usaha dengan membuka tempat modifikasi mobil dan motor. Dibantu Anang untuk mengelolanya karena kontrak kerja Ikhsan di Bandung belum selesai. Kini saat kontraknya sudah habis, Ikhsan memutuskan untuk pulang ke Karanganyar.


"Sudah, sarapan dulu. Habis itu Papa antar kamu sekolah," Hana mengangguk menuruti perintah Anang.


***


POV : HANA


Memang senang kalau bisa kumpul bersama saudara satu-satunya. Aku senang kalau Mas Ikhsan akan pulang dan menetap di Karanganyar. Tapi ada satu yang mengganggu pikiranku. Kalau ada Mas Ikhsan, itu berarti zona backstreet-ku bersama Mas Angga menjadi lebih luas. Memang, sih, papa dan mama tak masalah kalau aku berpacaran dengan Mas Angga. Tapi Mas Ikhsan mungkin akan mempermasalahkan. Mas Ikhsan itu begitu sensitif kalau sudah menyangkut aku dan kisah cintaku. Uluuhh.. Gaya bener! Padahal pacaran juga baru sekali ini.


"Lagi mikirin apa, sih, Na?" Pertanyaan Mas Angga membuyarkan lamunanku. Saat ini aku memang sedang berada di ruangan Mas Angga. Aku sengaja memakai sepatu warna biru agar punya alasan untuk bertemu Mas Angga. Hukuman tetap jalan, tapi tak masalah selama aku bisa bertemu Mas Angga dengan leluasa. Dasar kamu, Na!!


"Mas Ikhsan mau pulang. Enggak balik lagi ke Bandung," ujarku pelan.


"Terus kenapa?" Mas Angga mengernyitkan keningnya sambil menatapku.


"Kok kenapa, sih? Itu artinya kita enggak bisa bebas, Mas. Mas Angga enggak mungkin bisa main ke rumah selama ada Mas Ikhsan. Dia itu enggak ngebolehin aku buat pacaran," gerutuku panjang lebar. Mas Angga cuma senyum-senyum menanggapinya. Nyebelin!!


"Kok malah senyum-senyum begitu, sih?" Protesku tak suka.


"Kalau masalah Ikhsan, kamu tenang aja. Itu urusan Mas," ucapnya mencoba menenangkan aku. Walaupun begitu, tetap saja aku masih merasa was-was. Membayangkan bagaimana ngerinya Mas Ikhsan nanti saat menceramahi aku.


"Kapan Ikhsan pulang?" Tanya Mas Angga.


"Sore ini. Biasanya habis ashar sudah sampai rumah," jawabku sambil bermain games di laptop Mas Angga. Sedang Mas Angga sendiri sedang sarapan dengan bekal yang dia bawa dari rumah. Tumben sekali... Tadi Mas Angga bilang dia tidak sempat sarapan. Jadilah ibunya memaksanya membawa bekal.

__ADS_1


"Kalau gitu nanti Mas antar pulang. Sudah, masuk kelas dulu sana. Sebelum saya cium kamu karena melongo begitu," ucapannya begitu mengerikan.


Baru saja aku ingin memprotes, Mas Angga sudah menunjukkan wajah tak ingin dibantah. Mau tak mau, aku menurutinya dan pergi kembali ke kelas.


***


Sebuah mobil Toyota Rush berwarna putih sudah terparkir manis dihalaman rumah. Aku sudah tau kalau itu mobil milik Mas Ikhsan. Mobil Mas Angga baru saja memasuki halaman rumahku. Aku meringis membayangkan bagaimana reaksi Mas Ikhsan nanti kalau tahu aku berpacaran dengan Mas Angga.


"Enggak perlu tegang begitu, Na!" Mas Angga mencoba menenangkan aku. Aku heran sama Mas Angga, apa dia enggak deg-degan, ya?


"Hana takut, Mas," ucapku lirih.


"Enggak perlu takut." Mas Angga menggenggam tanganku. "Kita ini cuma pacaran. Kita juga enggak macam-macam. Udah yuk, keluar," Mas Angga mengacak-acak rambutku lalu membuka pintu mobil. Aku pun mengikutinya.


Aku berjalan didepan Mas Angga menuju rumah. Baru saja mengucap salam dan membuka pintu, Mas Ikhsan sudah berdiri didepan pintu sambil menatapku dengan tatapan yang... Entahlah. Hanya Mas Ikhsan dan Allah yang tahu.


"Mas Ikhsan? Apa kabar?" Tanyaku basa-basi sambil sedikit tertawa pelan yang dipaksakan.


"Baik," jawabnya singkat. Wajahnya terlihat judes. Setelah itu beralih menatap Mas Angga yang berdiri dibelakang ku.


"San? Kapan sampia rumah?" Mas Angga menyalami tangan Mas Ikhsan lalu ikut berbasa-basi.


"Tadi jam 14.00 sampau rumah, Ga. Masuk dulu!"


Itu sama Mas Angga suaranya bisa bersahabat begitu kenapa sama aku ketusnya minta ampun. Nyebelin semuanya!


Mas Ikhsan mempersilahkan Mas Angga masuk. Tapi tidak mengucapkan sepatah katapun kepadaku. Mereka berdua berlalu saja meninggalkan ku didepan pintu. Aku sukses dibuat melongo dengan kelakuan mereka berdua.


"Mau duduk," jawabku polos.


"Enggak ada. Mas mau bicara sama Angga. Kamu masuk, dan jangan ngintip. Awas kamu," Mas Ikhsan berucap tegas. Aku sama sekali tak diijinkan untuk membantahnya. Mas Angga sendiri terlihat menahan tawa dengan melipat kedua bibirnya ke dalam.


Awas kalian!


Aku berjalan cepat menuju kamar. Tak ku hiraukan teriakan Mama yang memintaku untuk berjalan pelan-pelan.


Aku sudah tak punya banyak waktu, Ma. Aku begitu kepo dengan apa yang akan Mas Ikhsan bicarakan dengan Mas Angga.


Melepas sepatu, lalu mengganti baju. Aku melakukannya dengan kecepatan ekstra. Setelah selesai aku kembali keluar dan berlari menuruni tangga. Karena Mas Ikhsan tidak menginginkan aku untuk duduk di ruang tamu, jadi aku memilih menguping dibalik dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga. Ya ampun! Itu Mama dan papa juga ada disana. Aku semakin penasaran.


"Hana! Mas tau, ya, kamu ada disitu?" Teriak Mas Ikhsan membuatku terkejut.


"Hana kan cuma pengen tahu, Mas," rengekku manja. Masih berdiri dibalik tembok.


"Ini urusan laki-laki," sahutnya tegas.


"Tapi Mama juga ada disitu, lho, Mas," aku tak mau kalah.


"Mama sama papa sudah sepaket, sayang. Kalau kamu sama Angga belum jadi paket," Mama menyahut cepat. Ucapannya membuatku memutar bola mata jengah.


Dengan gelisah aku menunggu mereka selesai berbicara. Aku sama sekali tak mendengar pembicaraan mereka. Aku jadi curiga, jangan-jangan mereka bicara lewat telepati.

__ADS_1


*Bagaimana kalau Mas Angga dimarahin Mas Ikhsan?


Itu didepan sana Mas Angga enggak di apa-apain, kan?


Mas Angga kan sendiri. Bagaimana kalau di keroyok Mama, papa, dan Mas Ikhsan*?


"Mau kemana?"


Baru saja aku beranjak suara Mas Ikhsan menghentikan aku.


"Sudah selesai?" Tanyaku. Mas Ikhsan hanya mengangguk. "Mas Angga mana?" Aku bertanya lagi.


"Udah pulang."


"APAA!!?" Teriakku terkejut. Kenapa enggak pamitan denganku?


"Biasa aja cempreng. Masih di depan tuh kalau mau sayang-sayangan dulu," ucapnya ketus.


"Mulutnya, ya Allah.." aku langsung saja berlari keluar rumah. Bernapas lega ternyata Mas Angga belum pulang. Masih berbincang dengan Papa dan Mama di teras.


"Kami masuk dulu, Nak Angga. Hati-hati kalau pulang," pamit Mama setelah melihatku berdiri dan tersenyum manis didepan pintu. Sepertinya mereka paham, dan ingin memberiku waktu berbicara dengan Mas Angga.


"Iya, Bu," jawab Mas Angga sopan.


***


"Belum mandi, ya? Masih bau asem!" Mas Angga mengejekku, sambil mengendus-endus.


"Emang," jawabku jujur. Mas Angga tertawa renyah. "Habis takut Mas Angga dikeroyok sama Mas Ikhsan, papa dan mama," jawabku polos. Mas Angga tertawa terbahak. Aku segera membungkam mulutnya. "Jangan keras-keras ketawanya," aku mengingatkan.


"Habis kamu lucu," ucapnya.


"Tadi kalian ngomongin apa, sih?" Tanyaku penasaran.


"Kamu kok kepo," jawabannya terdengar menyebalkan.


"Mas Angga enggak dimarahin, kan? Kita enggak disuruh putus, kan?" Aku tak sabar. Mas Angga tak mau menjawab juga. Malah tersenyum manis. Tapi aku sedang tak ingin terpesona dengan senyumannya.


"Menurut kamu?"


"Ih, Mas Angga aku serius!"


Mas Angga tertawa sekali lagi. Setelah itu, berubah menjadi tersenyum dan menatapku lembut.


"Menurut kamu, kalau keluarga kamu meminta kita buat putus, apa kita masih bisa sebaik saat ini?" Tanyanya. Aku diam dan menunggu ucapan Mas Angga selanjutnya.


"Kamu dengar, ya? Apapun rintangannya, Mas tidak akan melepaskan kamu. Seperti janji kita dulu, apapun rintangan kita ke depannya, itu akan menjadi penguat hubungan kita."


Ya ampun! Aku meleleh dengan ucapan manisnya. Aku hanya bisa tersenyum menatapnya. Tak tahu lagi harus bicara apa.


Aku sayang kamu, Mas Angga.

__ADS_1


***


__ADS_2