
POV : HANA
"Diaaammm!!"
Hah! Aku cuma mimpi!
Ya ampun, ini semua sampai terbawa mimpi. Ini pasti karena aku terlalu memikirkan bagaimana besok menghadapi teman-teman yang masih saja penasaran.
Iya pasti lah mereka masih penasaran. Mereka belum dapat jawaban dari apa yang mereka ingin tahu.
Aku melihat jam dindingku masih menunjukkan pukul satu dini hari. Aku kembali merebahkan tubuhku.
Ceklek..
"Kamu ngapain jam segini teriak-teriak?" Mas Ikhsan membuka pintu kamarku tanpa mengetuknya.
"Bisa ketuk pintu dulu enggak, sebelum masuk?" Aku merengut tak suka.
"Habis jam segini kamu teriak-teriak. Aku pikir kuntilanak."
"Enak aja! Udah sana! Hana mau tidur lagi!" Aku mengusir Mas Ikhsan.
***
Pagi ini aku merasa tidak ada semangatnya sama sekali. Jujur saja, mimpi semalam masih menghantui. Bagaimana kalau hal itu benar-benar terjadi? Mas Angga beneran mau bantu jelasin apa enggak, ya? Ya ampun, aku takut banget kalau di sidang sama anak-anak yang lain. Atau fans-fans Mas Angga yang fanatiknya minta ampun itu.
"Hiiiii.."
"Kenapa, sayang?" Suara Mama.
"Eh?" Aku gelagapan. Ternyata aku masih duduk di meja makan. Parah, ya? Saking asyiknya melamun aku sampai lupa kalau sedang sarapan dengan Mama, Papa dan juga Mas Ikhsan.
"Enggak apa-apa, Ma," jawabku gugup.
"Beneran enggak apa-apa?"
Aku mengangguk. "Bener, Pa."
"Ngelamunin Angga kali," celetuk Mas Ikhsan.
"Enggaklah." Jawabku cepat. Aku tak mau Mama dan papa mengira kalau aku memikirkan Mas Angga terus menerus. Padahal sih memang iya. Hihi.
"Berangkat sekolah Hana mau diantar siapa?" Tanya papa tanpa menghentikan aktifitas makannya.
"Aku mau____"
"Assalamualaikum," belum selesai kau berbicara, ucapan salam memotong ucapanku.
"Waalaikumsalam, siapa ya pagi-pagi begini? Mama buka pintu dulu, deh," mama beranjak dan pergi ke depan untuk membukakan pintu untuk tamu yang datang di pagi hari disaat pemilik rumah sedang sarapan. Siapa ya kira-kira?
"Ikut sarapan dulu, Nak Angga!"
Suara Mama dari arah ruang tamu membuat mataku melotot sempurna. Apa-apaan Mas Angga ini?
"Ternyata udah di jemput pacar tersayang, Pa," Mas Ikhsan menggodaku. Papa meresponnya dengan tawa pelan.
Aku beranjak dan segera menyalami papa dan juga Mas Ikhsan. Aku akan membuat perhitungan dengan Mas Angga setelah ini. Bisa-bisanya dia datang tanpa mengabari aku terlebih dahulu.
"Mas Angga ngapain kesini?" Tanyaku tak suka melihat Mas Angga yang sedang duduk manis diatas sofa dan berbincang dengan Mama.
__ADS_1
"Hana nggak boleh gitu ngomongnya. Yang sopan. Ini Angga mau jemput kamu."
Ini anak Mama aku apa Mas Angga? Kenapa jadi Mas Angga yang dibela?
Enggak khawatir gitu akibat dari Mas Angga jemput aku itu apa?
Aku menghela napas dan menghembuskannya kasar. Meraih tangan mama lalu menciumnya takzim. "Hana pamit, Ma. Assalamualaikum,"
Tanpa menunggu Mas Angga, aku berjalan keluar dengan menghentakkan kakiku. Tak peduli dengan basa-basi apa yang mereka lakukan terlebih dahulu.
"Kenapa pakai acara jemput begini, sih?" Ucapku saat kami sudah duduk didalam mobil. Mas Angga mulai menyalakan mesin mobilnya lalu menjalankannya pelan meninggalkan rumahku.
"Kan Mas bilang mau bantu kamu jelasin ke teman-teman kamu," jawabnya dengan santai.
"Ya tapi enggak harus jemput Hana begini, Mas. Ketemu di sekolah kan bisa."
"Habis Mas udah kangen sama kamu."
Aku memutar bola mataku. Alasan yang sangat-sangat tidak masuk akal.
"Bukan waktunya buat becanda ya, Mas. Hana mau turun di halte depan aja."
Sungguh. Aku belum siap kalau harus datang berbarengan dengan Mas Angga, bahkan satu mobil begini.
"Kenapa, sih, kok takut banget begitu?" Tanya Mas Angga yang merasa heran dengan sikapku.
"Udah pokoknya berhenti di halte depan. Udah Deket juga dari sekolah. Minta ongkosnya aja buat naik angkot," ucapku yang membuat tawa Mas Angga pecah saat itu juga.
"Kenapa malah ketawa?" Tanyaku bingung.
"Kenapa malah minta ongkos buat naik angkot? Mending kan naik mobil, langsung sampai di sekolah."
"Udah, deh. Berhenti di depan!"
"Ongkosnya lupa," ucapku sebelum membuka pintu mobil.
"Nih," Mas Angga memberiku uang sepuluh ribu rupiah. "Matre, ya?" Candanya.
"Enggak matre, ya. Lagian ngasihnya juga cuma sepuluh ribu. Ini gara-gara Mas Angga jemput, aku nggak jadi diantar Papa. Karena aku nggak mau semobil sama Mas Angga sampai sekolah, aku lebih milih naik angkot. Dan aku nggak mau uang jajanku berkurang buat bayar angkot. Jadi Mas Angga yang tanggung jawab."
Mas Angga tertawa terbahak mendengar penuturan ku. Mas Angga sepertinya kebanyakan obat. Pagi ini dia banyak tertawa. Padahal perasaanku saja sudah dag dig dug tak menentu karena bentar lagi dihadapkan dengan fansnya Mas Angga.
"Hana," Mas Angga memegang tanganku. Dia menatapku lembut dan tersenyum manis. "Jangan takut, ya? Pelan-pelan aja jelasin ke teman-teman kamu. Kamu boleh bilang kita pacaran atau enggak. Lagi pula cepat atau lambat mereka juga akan tahu. Kalau kamu belum siap, kamu bisa beralasan lain," ujarnya pelan.
Sekarang aku yang bingung. Mau kasih alasan apa ke mereka? Secara kemarin posisiku saat itu Mas Angga menarik tanganku dengan paksa. Mirip orang pacaran yang sedang berantem. Eh, emang lagi berantem kan, ya?
"Kok malah melamun?"
"Eh, iya. Nanti Hana pikirin lagi Mas. Hana keluar dulu," aku mencium tangan Mas Angga. Mas Angga mengelus puncak kepalaku pelan.
***
Seperti dejavu, kejadian kali ini sangat persis dengan apa yang ada didalam mimpiku. Aku berjalan dengan menunduk di koridor sekolah. Semua menatapku dengan tatapan yang... Entahlah. Aku tak mau menanggapi.
Menaiki tangga menuju lantai dua dimana kelasku berada. Ditikungan tangga aku dihadang oleh Rasyid.
"Why?" Tanyaku sok pakai bahasa Inggris.
"Jelasin!" Rasyid membuka ponselnya, lalu menunjukkan sebuah video saat Mas Angga menarik tanganku. Aku menghembuskan napas pelan.
__ADS_1
"Masih saja di uber-uber. Udah kayak artis aku tuh,", ucapku jumawa.
"Ya pasti lah. Mereka enggak akan diam kalau belum mendapatkan penjelasan dari kamu. Apalagi si Vera tuh, udah marah-marah karena kamu nggak datang-datang."
"Nanti aku jelasin!" Aku kembali melanjutkan langkahku yang semoat terhadang oleh Rasyid.
Sesampainya di kelas, aku pura-pura tak peduli dengan tatapan mata teman-temanku. Dengan santainya aku berjalan menuju tempat dudukku, lalu mengambil sebuah novel dari dalam tas. Oke, cara pertama berhasil.
Aku fokus membaca novel. Sebenarnya hanya pura-pura, sih. Dalam hati aku khawatir kalau tiba-tiba mereka menyerangku. Si Karina dan Lila juga diam saja dan menatapku tajam. Tapi aku tetap pura-pura tak peduli.
Aku bisa melihat satu persatu temanku berjalan mendekatiku. Aku? Masih tetap dalam mode pura-pura fokus pada novel. Semakin lama, semakin banyak. Dan aku juga semakin gugup.
"Ehm!!!"
Suara deheman siapa itu?
"Enak ya yang pura-pura nggak peduli?" Lila menyindirku. Aduuhh.. Apa Lila marah sama aku?
"Kalian ngapain?" Tanyaku berpura-pura polos seolah tak mengerti apa-apa.
"Masih bisa tanya ngapain?" Karina meninggikan suaranya. Dia ikut marah juga? Kalau iya temanku siapa, dong?
Aku meletakkan novelku ke atas meja. Membenarkan posisi dudukku yang semula bersandar pada sandaran kursi jadi lebih tegak. "Kita bicara baik-baik teman-teman. Aku akan jelaskan semuanya. Tanyanya satu-satu, ya. Biar konferensi pers ini berjalan lancar," ucapku narsis.
Gila, ya? Di saat seperti ini aku masih bisa mencoba mengajak mereka becanda. Tidak tahu saja kalau hatiku sudah tak karuan rasanya.
"Jelasin sekarang, ada apa antara kamu sama Pak Angga!" Ucap Karina tajam. Ya ampun, Karina. Masih ingat kan aku sahabatmu?
Aku harus jawab gimana dong? Aku belum siap kalau harus mengatakan kalau aku pacaran sama Mas Angga.
"Aku dan Pak Angga enggak ada apa-apa," ujarku pelan.
"Jangan bohong! Kemarin Pak Angga narik-narik tangan kamu itu maksudnya apa?" Tanya Shinta kemudian.
"Kemarin itu Mas Angga__" asem! Aku malah keceplosan memanggilnya Mas. Aku menutup mulutku cepat. Teman-temanku melotot mendengar panggilanku yang tak biasa pada guru kesayangan mereka itu.
"Itu malah manggilnya Mas Angga bagitu. Enggak mungkin kalau nggak ada apa-apa!" Ucap Lila yang langsung mendapatkan kompor meleduk dari yang lain.
"Iya, bener itu."
"Bener yang dibilang Lila."
"Lila bener."
Aku pusing pemirsaaa..!!!! Bisa nggak Hana ke Pluto sebentar saja. Sampai mereka lupa tentang semua ini.
"Oke! Aku jujur."
Aku menghirup napas sejenak. Mencoba menghilangkan kegugupanku. Tapi nihil, tak berefek apapun. Raut wajah mereka sudah tidak sabar menanti jawabanku.
Aku menunduk. Menghirup napas pelan, lalu menghembuskannya.
"Aku..... Aku.."
"Aku apa?" Tanya Lila tak sabaran. Ini Lila kenapa bisa jadi galak begini, sih?
"Aku sama Pak Angga... Pacaran."
"APAAAA!!!!"
__ADS_1
πΉπΉ
πππ